Diego masuk pelataran rumahnya dengan wajah masam. Hampir saja tadi dia menghujami Juliet dengan aset pribadinya, namun, harus terhenti saat suara dering ponsel nya berbunyi.
Sang ayah menelepon menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah. Diego yang kala itu sedang dilanda gairah pun harus mengurungkan niatnya itu. Setelah mengantarkan Juliet pulang barulah Diego menemui sang ayah.
"My honey sweetie!" pekik seorang wanita cantik paruh baya berlari memeluk erat tubuh Diego.
"Mom, aku sudah dewasa! Jangan memanggilku seperti itu. Malu bila ada teman-teman ku yang mendengarnya!" sungut Diego membuat wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Tari terkekeh geli.
"Bagi orang lain mungkin kamu sudah dewasa, tapi, bagi Mommy kamu masih tetap kecil, honey!" Tari mengecup pipi Diego membuat seorang pria paruh baya yang melihat hal itu pun mengepalkan tangannya erat.
"Sayang!" panggil pria paruh baya itu yang tak lain adalah David.
"CK … lihatlah Daddy mu yang masih saja cemburu bila mom mencium pipi mu!" ketus Tari dengan nada kesal melepaskan pelukannya lalu menghampiri David yang duduk di sofa. David langsung mendekap erat pinggang Tari posesif.
"Duduk! Ada hal penting yang ingin Daddy bicarakan padamu!" titah David tak ingin dibantah membuat Diego mau tak mau pun duduk di hadapan kedua orang tuanya itu.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya David dengan suara yang amat dingin.
"Tidak tahu!" jawab Diego tak kalah dingin.
"Kamu ini sebenarnya mau apa, huh? Umur kamu sudah matang untuk menikah Diego! Sampai kapan kamu akan melajang menghabiskan malam mu dengan wanita j*l*ng mu itu?" sentak David dengan suara yang amat tinggi membuat Tari langsung mengelus pundak pria paruh baya itu.
"Daddy kenapa sangat suka mengurus kehidupan pribadi aku, sih? Bukankah selama ini aku telah menjadi seperti yang Daddy inginkan? Jadi orang sukses seperti kriteria Daddy, masa kecil ku korbankan untuk belajar tentang perusahaan! Lalu sekarang Daddy juga ingin mengatur kapan aku menikah? Apa Daddy tidak sadar kalau Daddy sedang mendoktrin aku untuk menjadi seperti yang Daddy inginkan! Cukup mengaturku, Dad! Aku bukan lagi anak kecil yang bisa di atur ini itu. Aku memiliki kehidupan ku sendiri!" tegas Diego penuh pendirian.
Darah David bergemuruh mendengar ucapan Diego. Putra kandungnya yang amat Ia sayangi. David teringat akan masa lalunya yang sama persis seperti Diego, selalu menolak permintaan orang tuanya untuk menikah.
"Diego sayang … jangan berbicara seperti itu pada Daddy mu," ujar Tari lembut membuat Diego mengusap wajahnya kasar.
"Kali ini saja, Mom! Aku mohon … biarkan aku memilih kehidupan yang aku inginkan, biarkan aku menjalani hari-hari ku seperti yang aku inginkan! Aku lelah menjadi seperti apa yang kalian inginkan, Mom. Kali ini saja! Tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi diriku sendiri!" Diego menangkup kedua tangannya di depan dada membuat Tari meneteskan air matanya.
"Apa selama ini kamu merasa tersiksa dengan permintaan kami, Diego?" tanya Tari pelan membuat Diego termangu.
Mommy-nya itu tak pernah memanggil namanya saat sedang berbicara terkecuali bila sedang benar-benar marah.
"Mom, bukan begitu."
"Lakukan apa yang kamu inginkan, Diego. Jangan pikirkan lagi bagaimana keadaan dan perasaan kami orang tuamu! Kamu ingin punya hidup seperti yang kamu inginkan bukan? Jadi, lakukan saja apa mau mu tanpa merasa khawatir kalau kami akan melarang mu lagi! Satu yang mommy minta. Jaga kesehatan mu saja!" Setelah mengatakan hal itu Tari bangkit dari sofa berlari dramatis menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.
Brakk.
Diego dan David terlonjak kaget mendengar suara pintu kamar yang di banting oleh Tari.
"Kamu dengar apa yang istriku katakan! Mulai sekarang lakukan apa yang kamu inginkan! Kami tidak akan mencampuri urusan mu lagi!" ujar David dengan nada dingin lalu bangkit berdiri berjalan meninggalkan Diego yang termangu di ruang tamu.
Bukan ini yang Diego inginkan. Pria tampan itu merasa bersalah karena telah membuat wanita pertama yang ia cintai telah menangis karena perkataan nya.
*
*
"Bagaimana akting ku tadi, Sayang? Apa bagus?" tanya Tari semangat pada David yang baru masuk kamar.
"Bagus, Sayang! Kamu bisa memenangkan piala Oscar kalau jadi artis!" jawab David tersenyum lembut memeluk erat tubuh ramping Tari.
"Maafkan aku, semua ini salahku karena dulu tidak membiarkan Diego tumbuh seperti anak yang lain! Andai saja waktu itu aku tidak sakit-sakitan. Pasti Diego bisa fokus pada masa remaja nya!" ujar David penuh sesal.
Saat umur Diego berumur 14 tahun, David mengalami kelumpuhan sementara karena efek samping obat yang di konsumsi nya selama bertahun-tahun semenjak dirinya kecelakaan saat Tari mengandung Diego dulu.
Alhasil Diego di tuntut untuk bisa menjadi pria cerdas di usianya yang masih remaja. Dia di paksa dewasa oleh keadaan agar bisa menggantikan posisi sang ayah di perusahaan.
"Suttttt … kamu tidak salah, Sayang! Semua itu telah berlalu, mungkin ini sudah takdir Diego. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kita agar kelak hadir seorang wanita yang bisa mengubahnya!" balas Tari mengusap rahang tegas milik David.
*
*
*
Diego duduk di meja barista seraya menghisap rokoknya. Pria tampan itu menatap ke arah lantai dansa terlihat banyak sekali para wanita seksi memakai pakaian kurang bahan berlenggak-lenggok.
Seseorang menepuk pundak Diego membuat pria tampan itu terkejut.
"Ya Tuhan, kau mengagetkanku, Max!" sentak Diego mengelus dadanya menatap tiga sahabatnya yang baru saja tiba.
"Hey, apa kau dengar! Diego baru saja menyebut nama Tuhan?" tanya Max pada Alex dan Damian.
Mereka tak lain adalah the Bastard CEO. Empat CEO kejam, dingin, sadis dan penggoda bersatu dalam sebuah kelompok yang di beri nama The Bastard CEO.
Diego CEO penggoda, Max CEO kejam, Alex CEO sadis dan Damian CEO dingin.
"Kau juga mendengar nya? Oh ya ampun … aku kira telinga ku yang bermasalah!" jawab Alex dengan ekspresi terkejut membuat Diego berdecak sebal.
"Ya Tuhan, apa salahku di masa lalu? Kenapa bisa aku berteman dengan para pria sampah ini!" decak Diego frustasi mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa? Kamu baru saja bertanya pada Tuhan kenapa bisa memiliki sahabat setampan kami? Oh ya ampun, Diego! Itu merupakan sebuah keberuntungan untukmu. Seharusnya kau bersyukur berteman dengan kami sehingga wajah mu juga ikutan tampan seperti kami!" ujar Max menepuk pundak Diego membuat pria tampan itu semakin frustasi.
Niat hati ke club malam untuk menenangkan diri malah berakhir kacau karena bertemu dengan tiga sahabat anehnya itu.
"Hey, Diego! Kenapa wajah mu kau tekuk seperti pantat bebek? Apa kau punya masalah? Ceritakan saja pada kami!" ucap Alex meninju pelan bahu Diego.
"Apa kalau kalian mendengar cerita ku, masalah ku akan berkurang?" tanya Diego datar seraya menghisap rokoknya.
"Tentu saja tidak!" jawab Max, Alex dan Damian serempak.
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰🥰
Salem Aneuk Nanggroe Aceh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Fareza Gmail.Com
mak nya sengklek juga. anak sendiri di kerjain
2024-09-29
0
Darsini Bbt
lanjuuut,,😊
2024-04-13
0
happy~
aku kira tadi beneran cok🙂
2024-04-12
2