Alex masih terdiam melihat layar ponselnya. Sudah sangat lama sekali Deva pergi meninggalkannya. Alex bahkan sudah lupa padanya dan asyik dengan banyak wanita di luar sana.
"Bos kok gak diangkat?" tanya Kenan kepo.
"Gak penting," jawab Alex.
"Kalau begitu reject aja Bos, hempaskan ke Gurun Sahara biar gak balik lagi," ujar Kenan sok tahu. Padahal dia gak tahu siapa yang menelpon Bosnya.
"Kau saja yang antar dia ke Gurun Sahara," ucap Alex.
"Ampun Bos, minta jin botol aja, Kenan masih ingin hidup Bos, anak istri di rumah," sahut Kenan.
Trik yang sudah biasa dilakukan Kenan saat terjepit mendapatkan penindasan emosional dari Bosnya.
Tak lama panggilan itu berhenti juga. Alex tak memperdulikan lagi dan mengambil handphone-nya. Alex mengeluarkan kartu handphone-nya lalu melempar begitu saja.
"Bos kok kartunya dibuang?" tanya Kenan.
"Tanya sekali lagi, kemasi barangmu!" ujar Alex.
Kenan langsung mengambil plaster di laci dan memplaster mulutnya, kemudian memberi kode pada Alex kalau dia akan mogok bicara selama Bos-nya tak membutuhkannya bicara.
***
Malam itu Deva kumpul bersama sahabatnya sesama model di Kafe Virgin. Sudah lama Deva tak bertemu dengan mereka. Deva duduk di kursi satu meja dengan mereka. Namun Deva terlihat bete, dia hanya diam tidak ikut ngobrol dan bercanda dengan teman sejawatnya itu.
"Dev, lo baru juga ketemu kita masa muka lo tekuk gitu."
"Bukannya lo seharusnya happy, impian lo jadi model internasional udah terwujud ya?"
"Iya nih, gak Deva banget."
Sahabat-sahabatnya melihat ekspresinya yang tak biasa membuat mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi padanya. Biasanya Deva kalau sudah ngumpul suka ngomong apa aja bikin suasana rame. Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
"Kalian kenal Sophia Thalia?" tanya Deva.
"Ya kenallah, siapa yang tak kenal dia."
"Bukannya Alex belum lama ini nikah dengannya."
"Eh, Alexkan pacar lo kan?"
Deva semakin kesal. Ternyata teman-temannya sudah tahu pernikahan Alex dengan Sophia. Bahkan mereka mengenalnya.
"Kalian kenal Sophia dari mana? Apa karena dia pengusaha?" tanya Deva.
"Kakaknya kan model kelas kakap di sini."
"Kakaknya? Siapa?"
"Nada Rahmuna."
Deva mulai mengingat siapa Nada. Dia langsung tersenyum. Sepertinya Deva mengenal Nada. Dulu mereka pernah berkarir bersama saat masih menitih.
"Emangnya kenapa kau tanya Sophia? Apa karena kau masih cinta sama Alex?"
"Udah, mundur aja, saingan lo berat."
"Sophia itu konglomerat, selain itu terkenal sholeha."
"Aku akan mengambil apa yang seharusnya jadi milikku," ujar Deva.
Sahabat-sahabat Deva menggeleng. Mereka tak habis pikir dengan Deva, padahal dulu dia yang meninggalkan Alex dan kini ingin kembali padanya.
"Dev jangan jadi pelakor, lo cantik bisa dapet yang lebih baik."
"Lagian Alex itu brengsek, temen kita aja pernah tidur sama Alex, habis itu dibuang gitu aja."
Deva hanya terdiam. Tak peduli ucapan dan nasehat sahabat-sahabatnya. Kali ini Deva benar-benar ingin kembali dengan Alex. Bukan cinta lagi tapi lebih berupa obsesi.
Malam itu Alex harus pulang ke apartemennya. Ada berkas perusahaan yang tertinggal di apartemennya. Meskipun dia galau karena Sophia belum mengangkat telponnya. Alex turun dari mobilnya. Berjalan menuju lift yang ada di basemant. Alex menekan tombol naik. Tak lama pintu lift terbuka. Alex berdiri sambil melihat-lihat layar handphone-nya berharap Sophia akan memberi kabar. Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
"Baru kali ini segininya nungguin ditelpon," batin Alex.
Setelah pintu lift terbuka, Alex ke luar. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Dengan wajah yang sumringah Alex langsung menekan tombol hijau saat tahu Sophia menelponnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex duluan. Tak sabar ingin mendengar suara lembut menyejukkan hati yang akhir-akhir ini menganggu telinganya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia.
"Say- ....," ucap Alex tapi malu.
"Apa Mas?" tanya Sophia.
"Aku sibuk Sophia," jawab Alex kesal gara-gara Sophia tadi tak mengangkat telponnya. Dia berpikir untuk membalasnya sekalian mengalihkan pertanyaan Sophia.
"Ya sudah aku tutup ya Mas, hati-hati di jalan, aku menunggumu di rumah," ujar Sophia akan mengakhiri telponnya.
"Sayang jangan ditutup dulu!" Alex keceplosan bilang sayang. Dia tidak ingin Sophia mematikan telponnya.
"Mas tadi bilang sayang?" tanya Sophia.
"Sial, malu gue," batin Alex.
Alex masih diam karena malu dan gengsi mengakui kalau dia bilang sayang.
"Aku mau denger lagi Mas," ujar Sophia.
"Kau salah dengar Sophia," sahut Alex.
"Tutup ya," ancam Sophia.
"Jangan sayang," sahut Alex.
"Lagi, aku ingin mendengarnya berkali-kali Mas," ujar Sophia.
"Turun level gue, buaya jadi cicak," batin Alex. Dia tak punya pilihan mesti menurunkan levelnya, lupakan gengsi demi mendengar suara lembut yang menyejukkan hati.
"Sayang ... sayang ... sayang ...," ucap Alex.
"Makasih Mas," jawab Sophia.
"Kau tahu nomor ini dari mana sayang?" tanya Alex sambil membiasakan memanggil Sophia sayang padahal lidahnya masih kaku dan panas dingin saat kata-kata itu diucapkan.
"Siapa lagi kalau bukan sekretaris Mas yang baik itu," jawab Sophia.
"Kenan siap-siap dapet bonus, pinter juga dia hampir saja ku hempaskan," batin Alex.
Alex terus berjalan sambil menelpon Sophia. Hingga dia masuk ke dalam apartemennya. Baru beberapa langkah ke dalam kamar, Alex terkejut saat mendapati Deva dengan bikini dilapisi kain tipis yang transparan berbaring di ranjang. Handphone masih di telinganya. Alex menatap Deva yang tersenyum menggodanya. Tiba-tiba handphone-nya terjatuh ke lantai.
Praaak ...
Handphone masih aktif. Sophia masih mendengarkan dan memanggil Alex. Namun Alex masih berdiri terpaku.
"Sayang kau baru pulang," ucap Deva mulai berdiri menghampiri Alex.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Alex.
Deva tersenyum licik.
"Kau lupa dulu saat aku ulang tahun, kau sendiri memberiku kunci apartemen ini, dan satunya kau pegang," ujar Deva.
Alex terdiam. Dia mengingat masa itu. Memang benar, Alexlah yang memberikan salah satu kunci apartemennya untuk Deva sebagai tempat untuk mereka tinggal bersama.
"Untuk apa kau di sini?" tanya Alex. Dia terlihat tak suka melihat Deva ada di kamarnya.
"Untukmu sayang," jawab Deva sambil melenggok-lenggokkan pinggulnya. Melepas kain tipis yang menyelimuti tubuhnya. Deva menghampiri Alex meraba dada bidangnya.
"Hentikan! Kau pikir aku akan tergoda?" ujar Alex dengan tatapan dingin.
"Sayang, kita pernah melakukannya, betapa malam itu penuh cinta, bahkan kau tak ingin menyudahinya hingga pagi," ujar Deva yang sengaja mengeluarkan kata-kata mesumnya agar Sophia cemburu. Dia tahu handphone milik Alex masih aktif. Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
"Kau ingin tahu seperti apa kau di mataku Deva?" tanya Alex.
"Seperti apa sayang?" ujar Deva yang menggerakkan tangannya ke atas hingga ke pipi Alex.
"Sampah," ucap Alex.
"Sayang kau?" Deva kesal Alex menyebutnya sampah.
"Kau pikir perasaanku akan sama seperti dulu, bahkan banyak wanita sudah ku cicipi, kau tak ubahnya seperti mereka. Tak ada harganya," ucap Alex sambil tersenyum licik. Memandang Deva tak ada harganya lagi di matanya.
Plaaak ...
Deva menampar Alex sekuat tenaga. Melampiaskan kekesalannya. Dia tak menyangka Alex tak lagi peduli padanya.
"Tampar lagi! Kau tetap seperti sampah di mataku," ujar Alex.
Deva menangis. Dia memukuli dada Alex beberapa kali.
"Kenapa? Kenapa kau melupakanku? Hik hik hik," keluh Deva sambil menangis. Dia benar-benar menyesal meninggalkan Alex saat itu demi karirnya.
"Heh! Kau sendiri yang meninggalkanku, untuk apa kau kembali. Bukankah karir lebih penting untukmu?" ujar Alex membiarkan Deva memukuli dadanya. Pukulan itu tak keras hanya pukulan-pukulan kecil diselingi tangisan Deva.
"Aku menyesal Alex, kembalilah padaku ku mohon," ujar Deva.
Alex memegang kedua tangan Deva hingga dia berhenti memukul dadanya.
"Deva, Sophia jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini, tak ada wanita yang menerimaku dari sisi burukku," ungkap Alex.
"Jadi kau jatuh cinta padanya?" tanya Deva.
"Aku tak perlu mengatakannya padamu," jawab Alex.
"Alex kembalilah, ku mohon." Deva melepas tangannya dari tangan Alex. Berlutut di kakinya memegang kedua kaki lelaki yang dicintainya. Memohon agar Alex kembali padanya.
"Seharusnya kau lakukan ini dulu, perasaan orang bisa berubah. Tapi ketulusan akan tetap bertahan," ucap Alex. Dia melepas tangan Deva. Melangkah meninggalkannya. Alex mengambil handphone yang tadi terjatuh di lantai. Kemudian mengambil berkas di lacinya. Dia berjalan menuju pintu. Menghentikan langkahnya sesaat.
"Jangan pernah menemuiku lagi, aku lelaki beristri," ujar Alex. Kemudian berjalan kembali meninggalkan Deva.
Di dalam kamar, Deva menangis sambil terduduk. Menyesali keputusannya dulu meninggalkannya. Ternyata Alex sudah sangat berubah. Tak ada sedikitpun dirinya di hati Alex sekarang. Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
***
Alex berjalan di lorong aoartemen lantai 25 sambil tersenyum. Dia tak menyangka Sophia sudah memberi pengaruh dalam hidupnya. Bahkan Deva yang begitu dicintainya dulu tak ubahnya seperti debu yang terbawa angin pergi tak kembali.
"Hallo sayang kau masih mendengar?" tanya Alex yang kembali meletakkan handphone-nya di telinganya.
Sophia tak memberikan respon. Membuat Alex merasa bersalah.
"Sayang?" Alex berusaha memanggilnya.
"Mas mau sup?" tanya Sophia.
Alex tersenyum mendengar tawaran Sophia. Hampir saja dia panik karena Sophia tak berbicara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
Cassanova jadi cassanudin 🤣🤣🤣
2024-04-04
1
Ida Lailamajenun
pede banget nanti jatuh sakit loh 😝🤣
2024-04-04
0
Ida Lailamajenun
asisten somplak 🤣🤣🤣
2024-04-04
0