"Assalamu'alaikum Mas," ucap Sophia.
Alex hanya terdiam tak membalas salam dari Sophia.
"Lihat Sophia, Alex bukan lelaki yang bisa kau perintah sesukamu," ujar Ibu Marisa.
"Wa'alaikumsallam." Alex membalas salam Sophia meskipun datar.
Ibu Marisa terkejut Alex ternyata mau membalas salam Sophia.
"Alhamdulillah," ucap Sophia.
"Kau jangan senang dulu Sophia, Alex bukan lelaki yang bisa setia padamu, kau itu hanya istri statusnya, jangan pikir Alex mencintaimu," ujar Ibu Marisa.
"Maaf Bu, seorang istri di mata Allah tetaplah istri, tidak ada istilahnya istri status," ucap Sophia.
"Lihat! Istrimu baru sehari saja sudah berani melawan mertuanya," ujar Ibu Marisa.
Alex hanya diam. Melihat ke arah Sophia dengan tatapan dingin.
"Alex semalam kau mabukkan? Sophia memang tak pandai mengurus suami, dari awal Mama sudah bilang Sophia tak pantas jadi istrimu," ujar Ibu Marisa.
"Iya Ma, istri itu harus bisa bikin suami betah di rumah, bukannya di malam pertamanya malah ninggalin ke klub malam," ujar Claudya yang baru datang menghampiri mereka bertiga. Ikut komentar mengkritik Sophia.
"Tuh dengerin Claudya, dia juga tahu mana istri yang bisa ngurus suami dan tidak," ucap Ibu Marisa.
"Sophia sayang tadi kau bilang mau memijatku?" ujar Alex.
"Ee ..., iya Mas," sahut Sophia. Dia tidak tahu kenapa Alex berkata seperti itu padanya.
Alex menghampiri Sophia, merangkul dan mencium pipinya di depan ibu dan adiknya.
"Jangan seenaknya komentar, aku memang gemar mabuk, bukan berarti Sophia tak bisa mengurusku," ujar Alex membela Sophia.
Ibu Marisa dan Claudya langsung terdiam saat Alex membela Sophia dan memarahi mereka.
"Alex," ucap Sophia pelan melihat ke samping. Melihat wajah suaminya. Dia tak menyangka Alex akan membelanya.
"Ayo sayang, kita naik, yang semalam belum tuntas," ujar Alex.
Sophia tersenyum. Mengangguk.
Alex merangkul Sophia sambil melewati ibu dan adiknya.
"Lain kali jangan berani memarahi Sophia, dia jauh lebih baik dari kalian," ujar Alex sambil melewati keduanya. Dia tidak rela Sophia dihina atau dimarahi ibu dan adiknya. Segera Alex membawa Sophia ke lantai atas.
"Lihat Bu, Kak Alex lebih membela wanita berhijab itu, siapa sih dia?" ujar Claudya.
"Paling dihempaskan Alex kalau bosan nanti," sahut Ibu Marisa.
"Dia belum tahu saja siapa Kak Alex, paling berakhir jadi sampah yang tak berguna nantinya," ujar Claudya.
"Sudahlah, lebih baik kita ke salon," ajak Ibu Marisa.
"Iya Ma," sahut Claudya.
Sementara itu Alex membawa Sophia masuk ke kamarnya. Kamar yang di dominasi warna silver, terlihat rapi, bersih, harum, dan tertata sedemikan rupa menandai si empunya kamar seorang pria metroseksual. Selain itu di dalam kamar foto model-model seksi terpajang di kamar Alex. Bukan hanya itu majalah XX dan minuman keras terpajang di bar mini yang ada di kamar Alex. Bahkan Sophia dikejutkan dengan alat pengaman yang cukup banyak di dekat laci. Ada juga DVD XX dan berbagai alat untuk hubungan suami istri ada di kamar Alex. Sophia tercengang. Beristigfar berkali-kali.
Karya Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
"Kenapa Sophia?" tanya Alex.
Sophia terdiam. Menguatkan hati dan emosinya sambil beristighfar.
"Inilah aku Sophia, kau menyesal?" tanya Alex.
Sophia menatap Alex dengan mata tajam.
"Tidak," jawab Sophia.
"Aku ini lelaki yang haus akan wanita, apa kau yakin ingin tetap menjadi istriku? Kau bisa mundur dari sekarang," ujar Alex.
"Aku akan bertahan sekuat tenaga hingga Mas menjadi imam untukku," ujar Sophia.
"Kenapa kau membuang waktumu untuk itu? Kau masih bisa meminta cerai dariku dan menikahi lelaki soleh," ujar Alex.
"Aku akan ada di sisimu sampai akhir hayatku," jawab Sophia.
Alex mendekati Sophia. Dia menelpon seorang perempuan dan berbicara mesra pada perempuan itu bahkan vulgar, kemudian menutup telponnya.
"Jika aku ingin menceraikanmu sekarang, bagaimana?" tanya Alex.
"Berikan waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku," jawab Sophia.
"Berapa waktu yang kau minta?" tanya Alex.
"400 hari," ujar Sophia.
"Jika dalam 400 hari kau gagal, aku akan menceraikanmu Sophia," ujar Alex.
Sophia mengangguk. Dia berharap bisa membuat Alex berubah. Meskipun waktunya terbatas. Namun dia akan tetap berusaha.
"Aku lelah pijati aku Sophia," ujar Alex.
"Iya, tapi bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Sophia.
"Apa?" tanya Alex.
"Bisakah, aku mengemasi barang-barang ini?" tanya Sophia.
"Kau ingin memaksaku berubah?" tanya Alex.
"Baiklah, aku akan menunggu saat di mana kau membuang barang-barang ini," sahut Sophia.
Alex hanya diam melihat Sophia kemudian berbaring di ranjang. Dia mengambil bantal untuk tumpuan dadanya. Tertidur dengan posisi tengkurap.
"Ayo, pijati aku Sophia!" pinta Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Segera Sophia memijati Alex. Setiap pijatannya dinikmati oleh Alex. Dia tak menyangka Sophia pandai memijat. Pijatannya lembut dan bertenaga.
"Apa Mas mau susu jahe yang diberi telur ayam mentah?" tanya Sophia.
"Kau bisa membuatnya?" tanya Alex balik.
"Iya bisa," jawab Sophia.
"Kalau begitu buatkan setelah kau memijatku," ujar Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia. Dia berusaha berbakti pada suaminya. Usai memijat Alex, Sophia membuatkan susu jahe untuknya. Di dapur Sophia bertemu seorang pembantu tua. Namanya Bi Inem. Sudah puluhan tahun bekerja di Keluarga Sebastian. Dia menceritakan masa kecil Alex dan hal yang disukainya.
"Tuan muda beruntung sekali menemukan bidadari seperti Nona Sophia," ucap Bi Inem.
"Terimakasih Bi," sahut Sophia.
"Semoga Allah mengetuk pintu hatinya, menjadikan imam yang terbaik untuk Nona Sophia," ucap Bi Inem.
"Amin," sahut Sophia sambil memegang susu jahe yang selesai dibuatnya.
Shopia membawa susu jahe itu ke luar dapur. Naik ke atas tangga. Tahap demi tahap. Namun kepalanya mulai pusing, tubuhnya lemas. Tangannya gemetar.
"Kenapa akhir-akhir ini aku ...," ucap Sophia. Dia menghentikan langkah kakinya. Berdiri di tepi menyandarkan ke besi di tangga. Sophia menahan rasa sakitnya.
"Ya Allah beri aku waktu, biarkan aku menyelesaikan semuanya," batin Sophia. Dia kembali berjalan menuju kamar Alex. Membuka pintu kamarnya. Masuk ke dalam. Sophia menahan sakit di tubuhnya tersenyum manis pada Alex.
"Mas minum dulu susu jahenya, mumpung hangat," ujar Sophia.
"Sophia kau pucat? Apa kau sakit?" tanya Alex melihat wajah Sophia yang pucat dan terlihat lemas.
"Tidak, mungkin hanya masuk angin aja," ujar Sophia.
"Maafkan aku Mas, ada hal yang tak bisa ku ceritakan padamu," batin Sophia.
Alex bangun. Berjalan ke arah Sophia. Mengambil susu jahe di tangan Sophia.
"Beristirahatlah!" perintah Alex.
"Iya Mas," ucap Sophia. Dia berjalan menuju ranjang.
"Sophia," panggil Alex. Langkah Sophia terhenti berbalik ke belakang.
"Iya Mas?" tanya Sophia.
"Makasih untuk susu jahenya," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Tersenyum manis. Kemudian berjalan kembali dan berbaring di ranjang. Dia benar-benar kesakitan. Berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dengan menutup matanya, sedangkan Alex meneguk susu jahe yang di tangannya.
"Enak juga susu jahe buatan Sophia," ucap Alex. Dia menghabiskan semua susu jahe itu. Meletakkan gelas di meja. Menghampiri Sophia. Menyelimutinya dan berbaring di sampingnya. Melihat wajah Sophia yang memejamkan matanya.
"Sophia kau dekat tapi terasa jauh, kau begitu bersinar tapi aku berada dalam kegelapan, kau begitu indah tapi aku akan mengotori keindahan itu," batin Alex.
***
Tiga hari sudah Sophia cuti dan tinggal di rumah Keluarga Sebastian. Dia ingin kembali beraktifitas mengurus kantor, perkebunan dan pertaniannya. Sophia berangkat ke kantor usai membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuk Alex dan keluarganya. Sophia duduk di kursi belakang sambil melihat tablet miliknya. Memeriksa laporan dari kantor yang beberapa hari ini belum diperiksanya. Tiba-tiba darah menetes ke layar tablet miliknya. Tangannya menyapu darah di layar handphone itu.
"Aku harus menemui Dokter Leon," ujar Sophia.
Dia memutuskan untuk pergi menemui Dokter Leon di rumah sakit. Sophia masuk ke ruang prakteknya. Dokter Leon merupakan Dokter Spesialis Kanker. Sudah lama Sophia konsultasi padanya. Sejak dua tahun lalu. Dulu Sophia pasien ayahnya Leon. Semenjak ayah Leon meninggal, Sophia jadi pasiennya.
Karya Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia ketika memasuki ruang pratek Dokter Leon.
"Wa'alaikumsallam," sahut Dokter Leon.
"Duduklah Sophia," ujar Dokter Leon.
Sophia mengangguk. Dia duduk dan menceritakan keluhannya. Dokter Leon memberi rujukan untuk melakukan beberapa pemeriksaan. Akhirnya Sophia mengikuti berbagai pemeriksaan itu. Setelah selesai, Sophia berbicara dengan Dokter Leon kembali di ruangannya.
"Sophia, kau harus mengikuti kemoterapi dan terapi radiasi lagi," ucap Dokter Leon.
"Tidak Dok," ujar Sophia.
"Sel kankernya akan menyebar jika kau tak mengobatinya," ungkap Dokter Leon.
"Aku hanya ingin menikmati akhir hidupku Dok," ucap Sophia.
Dokter Leon terdiam. Dia tahu selama ini Sophia sudah berusaha untuk sembuh namun belum ada hasilnya. Sejak SMP Sophia mengidap kanker hati seperti ibunya. Saat itu Sophia seharusnya berangkat ke final pertandingan bulu tangkis. Namun Sophia pingsan saat menuju lokasi. Sekretaris Wang membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu Sophia tahu dirinya mengidap penyakit yang sama dengan ibunya. Dia tidak ingin membuat paman dan bibinya cemas, Sophia meminta Sekretaris Wang menyembunyikan hal itu. Dan berobat tanpa sepengetahuan paman dan bibinya. Hingga sekarang penyakit itu belum kunjung sembuh. Untungnya Sophia wanita yang kuat, dia mampu bertahan.
Karya Andropist|Casanova Dipinang Sholeha|NT
Shopia ke luar dari ruangan Dokter Leon. Dia berjalan di lorong rumah sakit. Dari belakang Dokter Leon menyusulnya, ada sesuatu yang ingin disampaikan Dokter Leon, dia tak ingin menyesal dikemudian hari. Namun langkahnya terhenti saat bahunya di tepuk dari belakang.
"Dokter Leon ada yang ingin ku bicarakan," ucap Sekretaris Wang.
Dokter Leon berbalik. Melihat Sekretaris Wang di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 283 Episodes
Comments
Ida Lailamajenun
emg wanita kuat nih Sophia dari SMP dh kena kanker hati dan mampu bertahan smpai skrg.aku kira kena leukimia
2024-04-04
1
Ida Lailamajenun
leukimia spt nya
2024-04-04
0
Ida Lailamajenun
sakit parah nih Sophia kayak nya
2024-04-04
0