Farhan yang awalnya sangat bergantung harapan menjadi pupus saat Ayu mengatakan tidak, mendengar jawaban yang keluar dari mulut Ayu membuat Farhan terlihat kecewa. Dia sangat berharap jika gadis kecilnya dulu adalah Ayu, apalagi mereka berdua sangat mirip.
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Ayu yang penasaran.
"Tidak apa-apa."
"Hem," sahut Ayu yang hanya bergidik bahu dan kembali menatap ke luar jendela. Farhan mengemudikan mobilnya menuju Mansion, di sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka yang hanya terdiam.
****
Keesokan harinya, Ayu ingin berangkat ke kantor setelah mempersiapkan dirinya. Baru saja melangkahkan kakinya menuruni tangga, seseorang mendekatinya. "Kau mau kemana?" Tanya Wina yang berjalan mendekat.
"Seperti yang biasa aku lakukan," jawab Ayu tanpa menoleh.
"Aku memberimu undangan ini, ambillah." Wina menyerahkan kartu itu dengan gaya yang begitu sombong. Dengan cepat Ayu mengambil kartu dari tangan Wina dan membukanya. "Undangan ulang tahun?" Tanyanya yang mengerutkan kedua alisnya.
"Benar, lebih tepatnya undangan ulang tahun dari Kakek Vanya ke 70 tahun. Kau harus datang, tapi ingat! jangan mempermalukan keluargaku," ucap Wina dengan penuh penekanan dan berlalu pergi. Tentu saja acara seperti ini Ayu dan Farhan harus pergi dalam acara besar itu, mengingat jika Farhan berteman baik dengan Vanya.
"Apa maksudnya berkata seperti itu? tidak ada feadahnya aku melakukan hal itu," gumam Ayu yang melihat punggung Wina yang menjauh. Dia juga meninggalkan tempat itu dan menuju kantor sesuai rutinitas hariannya.
****
Acara ulang tahun di gelar dengan sangat mewah, dekorasi yang indah dan juga para tamu undangan yang tampil glamour. Ayu datang bersama keluarga Hendrawan ke acara itu, Wina mendekati Ayu sambil berbisik. "Aku akan mengingatkanmu sekali lagi untuk tidak mempermalukan keluarga Hendrawan."
Ayu hanya mengela nafas dengan kasar. "Ya, baiklah." Wina tersenyum miring dan berlalu pergi meninggalkan Ayu sendirian, begitupun dengan Farhan yang bergabung dengan rekan bisnisnya. Sementara Ayu menikmati hidangan yang tersedia untuk mengisi perutnya yang kelaparan, untuk beberapa saat dia memperhatikan para tamu dari kalangan rekan bisnis. Tidak ada yang menarik dalam acara ulang tahun yang begitu mewah dan tak membuatnya begitu menikmatinya. "Acara ini begitu membosankan, sebaiknya aku ke rootrof untuk merilekskan pikiran, " lirih pelannya yang keluar dari kerumunan pesta.
Baru saja Ayu ingin menaiki tangga, tiba-tiba di tahan oleh tangan seseorang. Ayu menoleh dan melihat siapa yang menghalangi jalannya, dan ternyata adalah Vanya dan kedua temannya.
"Ada apa?" Tanya Ayu dingin.
"Tidak ada, hanya berbincang saja denganmu. Apa kau masih mengingatku?" Ujar Vanya.
"Bukan hanya namamu saja yang aku ingat, bahkan kedua penjagamu aku juga ingat," ketus Ayu yang melirik kedua teman yang selalu mengikuti Vanya.
"Kenapa kau tegang sekali, bagaimana dengan pestanya? Apa kau menyukainya? Secara pesta yang begitu mewah ini tidak pernah kau lihat dan menikmati sebelumnya," sindir Vanya.
"Aku akui pestanya sangat mewah dan berkelas, hanya saja sangat membosankan. Tidak ada yang menarik di pesta ini," jawab Ayu yang ingin melangkahkan kakinya, namun Jenni dan Clara memegang lengan Ayu.
"Kenapa kau terburu-buru? Aku masih ingin berbincang dengan mu," ucap Vanya membuat Ayu menghela nafas dengan kasar.
Vanya menyelipkan rambut di sela telinganya di hadapan Ayu, dia bertujuan memperlihatkan cincin mahalnya. "Wah, cincin mu sangat bagus sekali," puji Jenni yang menatap cincin yang tersemat di jari Vanya dengan berbinar.
"Apa ini koleksi barumu?" Tambah Clara.
Vanya mengangguk dengan sangat antusias, memperlihatkan cincinnya di hadapan Ayu dan tersenyum. "Bagaimana pendapatmu mengenai cincin ini?"
"Bagus," sahut Ayu yang mengangguk kepalanya dengan pelan.
"Ini adalah koleksi terbaruku, dan cincin ini limited edition." Sombong Vanya yang terus memperlihatkan cincin mahalnya kepada Ayu, sedangkan Ayu hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Tidak ada yang menarik di cincin itu."
"Cincin yang ku pakai limited edition dan bahkan jika kau bekerja seumur hidupmu juga tak akan mampu membelinya," tutur Vanya yang tersenyum mengejek.
"Sangat tidak penting, membuang-buang waktuku saja." Ayu menerobos ketiga wanita yang sangat kesal dengan ucapan Ayu yang monohok.
Dia mendengarkan umpatan dari ketiga wanita yang menghalangi jalannya, tapi Ayu bersikap cuek dan hanya acuh tak acuh. Berjalan menuju rootrof dan menikmati suasana disana yang jauh dari kerumunan orang-orang, kesendirian membuatnya bisa menikmati waktu dan suasana yang menenangkan pikiran.
Cukup lama dia berada di sana dan memutuskan untuk turun dan kembali bergabung dengan suasana pesta, menuruni tangga dengan sangat anggun. "Kenapa aku merasa jika mereka menatapku?" Gumamnya yang menuruni tangga, hingga Vanya mendekatinya dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Dialah pencuri nya dan aku sangat yakin!" ucap Vanya yang menunjuk Ayu.
"Ada apa dengan wanita ini? Dan apa yang aku curi?" Batin Ayu yang berusaha memahami situasinya saat ini dan hanya pasrah dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Vanya.
"Ayo mengakulah, apa kau yang mencuri cincinku?" Tuduh Vanya yang membuat semua orang melihat kejadian itu.
"Apa kau cemburu dengan Vanya? Karena kau tidak memiliki cincin dengan edisi terbatas itu?" Sambung Jenni yang menatap Ayu dengan sarkas.
"Tunggu dulu, aku tidak mengerti apa yang kalian maksud. Aku mencuri?" Ujar Ayu yang menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan bingung.
"Ya, kaulah yang mencuri nya. Aku tahu jika kau iri dengan Vanya," cetus Clara.
Ayu baru memahami situasinya. "Oho, sepertinya mereka ingin menjebakku!" batin Ayu yang menatap beberapa orang yang juga menatapnya dengan menyelidik.
"Cepat, kembalikan cincinku yang telah kau curi itu," desak Vanya yang meninggikan suaranya seraya mengadahkan tanganya.
"Sudah berapa kali aku katakan tidak tahu mengenai cincinmu itu," jawab Ayu yang juga meninggikan suaranya.
Yudistira yang mendengar keributan di acara ulang tahunnya dengan cepat berjalan ke sana untuk menghampiri cucunya. Vanya melihat sang kakek tersenyum tipis dan berlari sembari memeluk Yudistira, menangis dan melaporkan Ayu dengan tuduhan palsu.
"Kakek, cincin ku telah di curi dan wanita itulah yang menjadi tersangka. Kakek tahu, jika dia sangat iri denganku." Adu Vanya yang terlihat sedih.
"Tenanglah, Kakek akan menyelesaikannya. Jangan bersedih," kata Yudistira yang menenangkan cucunya itu.
"Aku ingin cincin itu kembali."
"Baiklah, jangan menangis lagi. Vanya kakek terlihat jelek jika menangis," ucapnya.
"Baiklah," jawab Vanya dengan manja sembari mengelap air matanya.
Yudistira berjalan mendekati Ayu dengan raut wajah yang dingin, tidak ada ketakutan yang terselip di wajah Ayu. Pandangannya kepada Vanya semakin buruk. "Aktingnya hampir sempurna, hanya saja kurang menjiwai," gumam Ayu di dalam hatinya.
"Aku ingin menanyakan ini dan jawab dengan jujur, apa kaulah yang mencuri cincin Vanya?" Tanya Yudistira dengan penuh penekanan dan tatapan menyelidik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Memyr 67
thor, "rooftop. hayahh belibet bener ya othor nulisnya
2022-09-02
1
Aska
semoga kebenaran terungkap siapa yang memfitnah ayu
2022-05-18
1
Yusni Ruri
makin seru
2022-05-18
1