Ayu sangat senang karena bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan sangat baik, membereskan meja kerja dan juga barangnya dan bersiap untuk pulang. Baru saja dia selesai mengemasi barang-barangnya, nada dering dari ponsel menghentikan langkahnya untuk pergi dari ruangan itu. Mengambil ponsel yang tersimpan di tasnya, dan melihat layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menghubunginya, Ayu mendengus kesal saat mengetahui jika si penelfon adalah ketua sekretaris, Maudi.
"Apa menunggu waktu yang lama untuk mengangkat telfonku?"
"Ada apa menelfonku?" Jawab Ayu dengan jengah.
"Aku hanya menanyakan bagaimana dengan pekerjaan yang kau lakukan."
"Kau sangat perhatian sekali kepadaku, katakan ada apa kau menelfonku?" Ucap Ayu to the point.
"Tentu saja, aku memperhatikan seluruh bawahanku dengan sangat baik dan juga memantaunya."
"Ya, terserah padamu saja. Aku akan menutup telfonnya."
"Berani sekali kau melakukan itu, aku menelfon untuk bertanya, apa pekerjaanmu telah di selesaikan dengan baik?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Ayu mengerutkan dahinya dengan ucapan dari Maudi.
"Hanya ingin tau saja."
"Aku telah menyelesaikan semua pekerjaanku dengan sangat baik, apa kau sudah puas?"
"Tentu saja aku sangat puas, jangan pulang dulu dan tunggu aku di sana. Aku akan memeriksa pekerjaanmu dan memberikan pekerjaan tambahan."
Ayu menjauhkan ponselnya sembari mengumpat. "Dia selalu saja membebani aku dengan pekerjaan." Kesal Ayu yang kembali melekatkan ponsel di telinganya.
"Apa kau masih mendengarku?" Ucap seseorang di ponsel.
"Iya, aku masih di sini."
"Kau tunggu aku di sana, sebentar lagi aku akan datang menemuimu."
"Yaya...baiklah."
Ayu memutuskan sambungan telfon sembari merutuki sang ketua sekretaris yang selalu menyusahkannya. "Sial, dia selalu saja memberiku pekerjaan tambahan. Memangnya berapa gaji akan aku terima?" Racaunya yang kesal, apalagi tidak ada orang di ruangan itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Monolognya yang tampak berpikir, seketika wajahnya menjadi cerah saat mendapatkan ide. "Lebih baik aku mendengarkan musik saja," gumamnya yang mengabiskan waktu, setelah bosan dia juga bermain game online kesukaan nya itu. Game yang membuatnya sangat rileks dan menikmatinya.
Suasana di dalam ruangan semakin sunyi saat hampir larut malam, dia tidak menyadari waktu. Baterai ponselnya hampir habis dan memutuskan untuk berhenti bermain game. "Kenapa ketua sekretaris itu masih belum sampai? Aku menunggunya satu jam lebih tapi dia belum juga datang." Ayu kembali menghubungi Maudi dan ingin menanyakan kapan sampai, hingga sambungan telfon tersambung.
"Halo!"
"Ya, ada apa?"
"Aku telah menunggumu Satu jam lebih, dimana kau sekarang?"
"Aku masih di jalan, sabarlah sedikit." Jawab seseorang di seberang telfon.
"Aku terlalu bersabar untuk ini, dimana kau sekarang?" cetus Ayu yang sudah bosan menunggu.
"Ck, kau ini sangat cerewet sekali. Aku masih ada di jalan."
"Apa? Ini sudah satu jam lebih dan kau masih di jalan? Aku akan menunggumu sepuluh menit lagi dan jika kau belum datang juga, aku akan menyalahkanmu untuk ini." Ancam Ayu yang sangat kesal dengan ketua sekretaris itu.
"Mau bagaimana lagi? Mobilku mogok di tengah jalan dan aku harus memperbaikinya dulu, tunggu saja aku di sana. Sebentar lagi aku akan sampai," ucap Maudi yang memutuskan sambungan telfon dan tersenyum senang karena bisa mengerjai Ayu. Dia berbohong kepada gadis malang itu dengan mengatakan ada di jalan, karena di saat yang sama Maudi tengah memakai masker di wajah sembari tiduran merebahkan dirinya di sofa empuk sembari mendengarkan musik untuk merilekskan pikirannya. Dia sangat bahagia karena bisa mengerjai seorang gadis kampung itu dan sepadan dengan apa yang dia peroleh, yaitu pertemanan dengan Vanya.
"Permainan akan di mulai dan akan sangat menyenangkan jika aku melihat raut wajahmu yang ketakutan secara langsung," gumam Maudi.
Ayu menatap sekeliling ruangan, dia memegang tengkuk lehernya karena sedikit ketakutan dengan suasana mencekam. "Firasatku sangat tidak nyaman, perasaan apa ini?" gumamnya. Hingga dia kembali menghubungi seseorang, tapi bukan ketua sekretaris melainkan seorang Hacker.
"Halo, ada yang bisa saya bantu nona?"
"Aku ingin kau melacak nomor yang sudah aku kirimkan kepadamu." Ucap Ayu yang langsung mengirimkan nomor itu.
"Baiklah, berikan aku waktu lima menit."
"Hem!"
Ayu memutuskan sambungan telfon dan menunggu hasil dari pencarian, hingga notif ponsel bergetar tanda pesan singkat masuk. Ayu membelalakkan kedua matanya saat mengetahui keberadaan Maudi yang ada di rumah, karena pikirannya yang polos membuat Ayu berpikir jika Maudi hanya menyusahkannya. Dia tidak tahu jika Maudi berpikiran buruk kepadanya, dengan memanfaatkan ketakutan akan kegelapan.
Dengan cepat Ayu mengambil tasnya dan ingin keluar dari ruangannya, tapi tiba-tiba lampu di ruangan itu mati membuat Ayu sangat terkejut dan takut secara bersamaan.
"Ya tuhan, kenapa di saat seperti ini lampunya mati," lirihnya yang ketakutan sembari menatap sekeliling yang hanya gelap tanpa sedikit cahaya membuatnya sangat gelisah.
Perlahan memundurkan langkah kakinya dan kembali ke meja kerja dengan perasaan campur aduk, dengan cepat mengambil ponsel di dalam tasnya dan menyalakan senter sebagai penerangan dan sedikit harapan. Dari kecil Ayu sudah takut akan keadaan gelap, hingga tangan dan kakinya bergetar hebat. Perasaan gelisah yang di rasakan oleh Ayu membuat keringat di dahinya mengucur hebat, seakan dia tidak bisa bernafas dalam keadaan seperti itu.
"Seseorang, tolong aku! siapa pun...tolong," lirih pelan Ayu yang meminta pertolongan, ingin rasanya dia berteriak namun ketakutan yang keluarkan seakan melemah. Dia kembali melihat ponselnya dengan baterai hampir habis, dengan cepat dia menulis pesan singkat kepada Farhan untuk segera datang dan menolongnya. Ingin sekali dia menelfon dan mengatakan masalah yang sedang dia hadapi, tapi terhalang oleh ponsel yang sudah kehabisan daya.
"Oh ya tuhan, masalah apalagi yang harus aku hadapi sekarang. Sekarang ponselku kehabisan daya dan mati, tidak ada alat penerang lainnya di sini. A-apa yang harus aku lakukan? Setidaknya aku telah mengirimkan pesan singkat di nomor ponsel Farhan, semoga saja dia membaca dan menolongku di sini," monolognya.
Sekarang Ayu berada di bawah meja kerjanya, memeluk kedua kakinya dan meringkuk seraya menunggu pertolongan dari orang lain.
"Seseorang tolong aku ada di sini," lirih Ayu pelan yang seakan sekarat dengan sesak nafas. Yah, dia tidak bisa bernafas dengan baik dalam keadaan gelap, memeluk kakinya dan menekukkan wajah ke bawah.
Rasa khawatir yang terlalu dalam membuat otaknya menjadi kosong dan blank, dia tidak bisa memikirkan cara apa pun. Perasaan takut akan kegelapan membuatnya mengenang masa kecil dan menjadi trauma akan kejadian yang menimpanya saat ini, keringat yang terus mengucur deras, bibirnya sangat pucat pasi, kaki dan tangan tidak bisa berhenti bergetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Hartin Marlin ahmad
beri saja hukuman Maudi itu nanti
2022-07-13
1
Aska
ayo Farhan ayu butuh bantuan mu
2022-05-18
1
Yusni Ruri
👍👍
2022-05-18
1