Ayu menatap wajah Farhan yang terlihat kesal akibat dirinya sendiri, hingga tak sadar jika mobil telah terpakir di Mansion. Farhan turun dari mobil dengan sangat cepat membuat Ayu menggaruk kepala yang tidak gatal itu, mencoba memahami situasinya karena salah bicara.
“Gadis itu selalu saja membuat aku kesal,” ucap pelan Farhan yang berlalu pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita cantik yang akan di jodohkan dengannya.
“Ada apa dengannya? Dia terlihat sangat kesal, apa itu karena cara bicaraku? Ck, selera humornya sangat buruk, padahal aku hanya becanda saja." Monolog Ayu yang menatap punggung Farhan yang menghilang dari balik pintu dan seketika mengangkat bahunya karena tidak peduli.
Ayu membuka pintu mobil dan melangkah keluar, berjalan dengan santai menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama untuk nya sampai di kamar, membuka pintu dan melenggang masuk ke dalam dengan melemparkan tasnya sembarang arah.
“Aku sangat lelah sekali, lebih baik aku menggosok gigi dan mencuci wajahku.” Lirihnya yang melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan handuk kecil di bahunya, aktivitas yang sering dia lakukan sebelum tidur.
Setelah mengganti pakaian, Ayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang seakan menanggil-manggil namanya. “Uhh...sangat nyaman sekali,” gumamnya seraya mengangkat selimut hingga menutupi separuh badannya dan menutup mata.
Di pagi hari yang sangat cerah, Ayu mengerjapkan mata dengan meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. Menatap sekeliling kamarnya yang terlihat nyaman itu, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke kantor dengan semangat baru. Setelah semuanya telah selesai, Ayu menuruni tangga dengan sangat elegan menuju meja makan. Ayu duduk di kursi yang tersedia di hadapannya tanpa menghiraukan tatapan Wina dan Laras seakan menerkamnya hidup-hidup, mereka saling melirik satu sama lain.
“Tante ingin sekali ke butik, apa kau ingin ikut?” Ucap Wina yang menoleh ke samping menatap keponkannya itu.
“Tentu saja, aku ingin mengoleksi pakaian dengan perancang busana favorit ku dan yang pastinya sangat berkelas dan sangat indah jika aku pakai.”
“Apapun yang kau pakai itu tetap terlihat sangat cantik,” tutur Wina. Sementara Ayu hanya menghela nafas sembari menggeleng dengan pelan melihat sikap Wina dan Laras yang seperti mengasingkannya. Ayu hanya terdiam dan kembali melanjutkan sarapannya sambil memutar bola matanya dengan jengah melihat drama di pagi hari.
“Aku sangat yakin jika gadis kampung tidak pernah memakan makanan mewah,” ujar Laras yang menyindir Ayu.
“Tentu saja dia akan memakannya dengan sangat lahap,” sambung Wina.
“Tidak ada gunanya jika aku membalas mereka, lebih baik aku fokus dan kembali bekerja,” gumamnya di dalam hati. Ayu hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan dari kedua wanita itu, menyuapi mulutnya dengan makanan di atas piring. Setelah selesai, dia berangkat ke kantor untuk kembali bekerja sebagai sekretaris.
Di kantor, Ayu menghirup nafas dengan dalam dan meregangkan otot-otot jari tangannya untuk memulai bekerja dengan sangat teliti dan juga cekatan, mengerjakan beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya yang bertumpuk. Jari-jarinya menekan tombol dan mata menatap layar laptop dengan fokus yang tak di ragukan lagi, kinerja Ayu di saat bekerja sangatlah bagus, hingga dia bisa mengerjakan semua pekerjaannya di pagi hari.
Pekerjaan yang telah di selesaikan dengan cepat membuatnya bisa bernafas lega, menyandarkan punggung di kursi sambari meregangkan otot-otot yang kaku. “Akhirnya pekerjaanku telah selesai, jika begini aku bisa beristirahat dengan tenang,” gumamnya yang tersenyum bahagia.
Ayu menatap layar ponselnya. “Hah, sebentar lagi istirahat siang. Aku akan ke toilet dulu,” monolog nya yang berdiri dari kursi, dia meninggalkan ruangannya dan pergi menuju toilet.
“Ahh...akhirnya lega juga.” Ayu yang keluar dari toilet menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
Dia kembali ke ruangannya, langkah kaki dengan penuh kenyakinan. Tak sengaja dia melihat ada beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya.
“apa aku salah meja? Bukankah sebelumnya dokumen ini tidak ada? Siapa yang melakukan ini kepadaku? Sial, siapa yang mengerjaiku?” batin Ayu dengan beberapa pertanyaan yang ada di pikirannya yang sangat kesal dengan pemandangan dokumen yang menumpuk di atas meja kerja.
Ayu kembali memikirkan siapa yang menjadi pelakunya, hingga dia mengetahui jika pelakunya adalah Maudi, ketua sektretaris yang tidak menyukainya. “Aku sangat yakin, jika yang melakukan ini adalah Maudi, si ketua sekretaris itu. Ck, memanfaatkan jabatan hanya untuk mengerjaiku,” Ayu sangat kesal hingga meremas jari tangannya.
Seseorang tersenyum tipis saat melihat raut wajah Ayu yang sangat kesal. “Ini sangat menarik, aku akan memotretnya dan mengirimkan ke teman baruku itu,” lirih pelan Maudi yang diam-diam memotret Ayu.
Maudi berjalan mendekati Ayu. “Ada apa denganmu? Mulail bekerja dengan baik,” ucapnya.
“Kenapa dokumen ini ada di meja kerjaku?” Tanya Ayu yang menatap Maudi dengan tajam.
“Itu adalah pekerjaanmu.”
“Aku sudah mengerjakan seluruh pekerjaan ku tadi, kenapa kau mengirimkan tumpukan dokumen itu kepadaku?” Protes Ayu.
“Tentu saja pekerjaan tambahan, semua data-data ini harus di input hari ini juga,” titah Maudi yang tersenyum samar. Sedangkan Ayu menghela nafas dengan kasar dan berusaha meredam emosinya. "*T*enanglah Ayu, kerjakan pekerjaan ini dengan sangat cepat dan kau bisa beristirahat,” batin Ayu yang menyemangati dirinya sendiri.
Ayu kembali duduk dan memulai pekerjaan dengan sedikit terpaksa,tatapan matanya menuju Maudi yang masih berdiri di hadapan nya. “Kenapa kau masih berdiri di sini? Pergilah, karena aku tidak bisa fokus jika seseorang melihat kinerjaku dalam bekerja." Cetus Ayu yang mengusir Maudi dengan halus di hadapan semua orang.
“Eh, aku hanya ingin melihat bagaimana kau mengerjakannya.”
“Benarkah, jangan mencampuri pekerjaanku. Urus saja pekerjaanmu dan selesaikan dengan baik,” jawab Ayu yang tersenyum.
“Aku hanya ingin lihat bagaimana pekerjaanmu saja, nada bicaramu seperti mengusirku?!" Tukas Maudi yang menaham rasa kesal di hatinya.
“Aku tidak pernah mengatakan hal ini, tapi jika kau merasa itu juga bagus. Jika mengerti maksudku, bisakah kau pergi, ku mohon!” ujar Ayu yang menyatukan kedua tangannya dengan raut wajah yang memelas, semua orang menatap drama itu secara langsung. Sorot mata yang menuju sang ketua sekretaris membuat sang empunya sangat malu dan memutuskan untuk pergi dari sana.
“Sial, gadis itu benar-benar membuat aku di permalukan di hadapan semua orang,” umpatnya dengan kesal.
Ayu menatap kepergian ketua sekretaris dengan senyuman tipis di wajahnya, dia kembali melirik dokumen itu dengan menghela nafas dengan kasar. Jari jemarinya kembali berkutat di atas keyboard dan memfokuskan pekerjaan agar terselesaikan dengan cepat, semua karyawan yang menyorotnya kembali menyelesaikan pekerjaan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Hartin Marlin ahmad
jangan remehkan Ayu
2022-07-13
1
Aska
ayu di lawan ,,,,
2022-05-18
1
🍁K3yk3y🍁
semangat ayu
semangat thor
2022-04-02
1