Farhan merasa kesal saat mendengarkan perkataan Ayu mengenai kesalah pahaman, dengan cepat dia pergi dari tempat itu. Ayu menatap kepergian Farhan, dia kembali mengingat kejadian semalam yang menimpanya.
"Ketua sekretaris itu sudah mempermainkan aku, ini karena ulahnya. Aku tidak akan melepaskannya dengan mudah, berani sekali dia mengerjaiku. Lebih baik aku membersihkan diri dan sarapan, perutku sangat lapar sekali. " Ayu beranjak dari ranjangnya sembari memegang perutnya yang keroncongan.
Ayu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritualnya membersihkan diri, tak butuh waktu lama baginya untuk mandi. Lima menit telah berlalu dan Ayu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sangat segar, memakai pakaian dan sedikit polesan tipis di wajahnya.
Farhan menuruni tangga, dua pasang mata menyorotnya dengan penuh pertanyaan. Seperti biasa, Wina dan Laras tersenyum manis saat berhadapan dengan Farhan. "Duduklah, kita akan sarapan bersama," ucap Wina.
"Hem," sahut Fathan yang hanya berdehem dan menarik kursinya ikut bergabung.
"Bagaimana dengan urusan kantormu? Apakah lancar?" Tanya Wina yang mengambilkan sarapan untuk anaknya.
"Sangat baik." Farhan menyuapi mulutnya dengan roti yang sudah di olesi selai dan menikmatinya.
"Oh ya, semalam kenapa Kakak pergi dengan terburu-buru? Kami sudah memanggil Kakak tapi tidak ada sahutan," tutur Laras yang menyuapi mulutnya dengan roti.
"Sepertinya keadaan mendesak, bisa kau ceritakan kepada Mama apa yang terjadi dengan kalian?" sambung Wina yang semalam melihat Farhan menggendong tubuh Ayu dan mengantarkannya menuju kamar.
"Kalian tidak perlu tahu itu urusan pribadi." Belum sempat Farhan menjawab, tiba-tiba seseorang menyela pembicaraan dengan cibiran, yang tak lain adalah Ayu, semua orang mengalihkan perhatiannya ke asal suara.
"Dia anakku, apa aku salah menanyakan hal itu," balas Wina yang juga mencibir.
"Sudah aku katakan jika itu bersifat pribadi," jawab Ayu dengan enteng.
Laras yang mendengarkan ucapan Ayu merasa kesal dan juga iri secara bersamaan. "Kenapa laki-laki sempurna seperti kak Farhan harus menikah dengan gadis kampung itu? Perbedaan mereka sangatlah jauh, bagai langit dan juga bumi. Apa yang ada di pikiran kakek untuk menjodohkan mereka," batinnya sembari menatap Ayu dengan sinis.
Gadis cantik itu melangkahkan kaki nya menuruni tangga dengan senyuman tipis di wajah karena berhasil membuat kedua wanita itu kesal kepadanya, dia ikut bergabung sarapan pagi bersama dengan keluarga Hendrawan. Walau dia tau jika Wina dan Laras tidak menyukai keberadaannya, tapi dia tetap tidak peduli dan lebih memikirkan perut yang keroncongan.
Farhan menatap Ayu yang ada di hadapannya. "Aku sudah meminta supir untuk mengantarkanmu ke kantor." Farhan mengelap bibirnya dengan tisu dan melangkah pergi menuju kantor, dia merasa bersalah dengan kejadian semalam dan memastikan jika Ayu tidak akan mengalami kesulitan lagi. Hingga dia meminta salah satu supirnya untuk mengantarkan gadis cantik itu.
Terbesit di pikiran Wina yang sangat tidak menyukai Ayu dan berencana untuk mempersulit wanita yang akan di jodohkan dengan putranya.
Selesai sarapan Ayu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil dan meminta sang supir mengantarnya, tapi dengan cepat Wina menerobos. "Antarkan saya ke Mall," titahnya. Sementara Ayu hanya mendengus kesal dengan tatapan jengah yang dia lontarkan.
"Maaf nyonya, saya di minta oleh tuan Farhan untuk mengantarkan nona Ayu ke kantor." Tolak halus sang supir yang sedikit gugup dengan situasinya.
"Kau menolak perintahku? Akulah nyonya di rumah ini dan wanita yang kau antarkan itu hanyalah orang asing yang datang dari kampung, tidak akan cocok jika dia menaiki mobil mewah." Ucap Wina yang melirik Ayu dengan sinis.
"Ta-tapi ini perintah dari tuan Farhan," lirih sang supir yang gugup.
"Aku kau ingin di pecat, hah?" Ketus Wina.
Ayu menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Turuti saja Pak, antarkan saja Nyonya Wina ke Mall. Aku bisa sendiri," sela Ayu yang pasrah menerima hal itu karena tidak ingin masalah semakin besar dan berbuntut panjang.
"Tapi bagaimana dengan Nona?" Tanya sang supir.
"Aku bisa naik taksi."
Wina tersenyum kemenangan saat melihat Ayu keluar dari mobil dan mencari taxi untuk berangkat ke kantor.
"Cepat jalankan mobilnya sesuai yang saya perintahkan," titah Wina dengan angkuh.
"Baik Nyonya."
Ayu celingukan di pinggir jalan untuk mencari taksi yang lewat. "Tumben sekali tidak ada taksi yang lewat, apa mereka sudah kaya dan tidak ingin bekerja menjadi supir?" Gumam Ayu sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
Dia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya dan memeriksa jadwalnya, tak perlu menunggu lama, taxi yang di tunggu pun akhirnya telah tiba untuk menjemput.
Ayu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. "Antarkan saya ke perusahaan HR Grup."
"Siap, Neng!" jawab sang supir taxi yang mengangguk pelan.
Di sepanjang perjalanan, Ayu menikmati suasana dengan membuka jendela mobil, angin yang menerpa wajahnya membuatnya rileks. "Hentikan taksi nya!" ucap Ayu dengan mendadak langsung di turuti oleh sang supir yang juga mengerem mendadak.
"Ada apa, Neng?"
"Tunggu sebentar," ucap Ayu yang keluar dari taksi karena melihat seekor anjing liar, dia tersenyum lembut dan mulai mendekatinya. Ayu sangat menyukai seekor anjing saat dia masih kecil, karena sang kakek sering memelihara anjing yang terlantar di jalanan.
"Sayang sekali anjing liar itu, dia pasti kelaparan dan juga kedinginan. Aku akan memelihara nya dan menjaganya dengan baik," monolognya yang sangat tersentuh dengan kondisi anjing jalanan. Ayu menyebrangi jalan dan melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi ingin menabrak anjing itu. Tanpa berpikir panjang, dengan cepat Ayu melompat bak pahlawan kesiangan untuk menyelamatkan hewan liar dan menolongnya tepat pada waktunya.
Ayu mengatur nafasnya yang tersenggal dan mengusap kepala anjing jalanan. "Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ayu yang menatap hewan yang ada di pelukannya.
Seseorang keluar dari mobilnya akibat aksi heroik yang di lakukan Ayu saat menyelamatkan seekor anjing jalanan. "Apa kau ingin bunuh diri dan mendapatkan uang ganti rugi?" Tanya seseorang pemilik mobil yang hampir menabrak anjing liar itu. Ayu dengan cepat menoleh ke asal suara, menatap orang itu dengan seksama. "Sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya," batinnya.
"Maaf, aku hanya menyelamatkan anjing liar yang hampir saja kau tabrak," ucap Ayu.
Orang itu pergi dalam keadaan kesal karena perbuatan Ayu, jika dia sampai menabrak sudah pastinya akan berurusan dengan polisi dan dia tidak ingin itu terjadi.
Ayu kembali menarik perhatiannya ke anjing liar, bahkan pakaiannya menjadi kotor dan sedikit berlumpur, tapi dia tidak mempedulikan hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Aska
siapa ya kira-kira orang itu 🤔
2022-05-18
1
Yusni Ruri
👍👍
2022-05-18
1
Wulan Margareth Legi
lanjut
2022-04-13
0