Maudi yang tidak ingin meninggalkan kesan buruk di mata atasannya, terpaksa meminta maaf. Membalikkan badannya dengan menatap Ayu dalam. “Aku ingin meminta maaf kepadamu, tolong maafkan aku,” ucap Maudi dengan pelan.
“Kau berkata apa? Apa kau mengatakan sesuatu?” Tanya Ayu yang meletakkan tangannya di telinga sembari mendekati sumber suara.
“Aku berkata, jika aku meminta maaf kepadamu,” ulang Maudi dengan pelan.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” Balas Ayu yang berpura-pura tidak mendengarkan ucapan maaf dari sang ketua sekretaris, dia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Maudi kesal dan kembali berbuat kesalahan. Citra baik yang melekat dengan wanita di sampingnya, akan terlihat buruk, begitulah yang di pikirkan oleh Ayu.
“Apa kau itu wanita tuli, yang tidak bisa mendengarkan aku dalam berbicara, aku mengatakan untuk meminta maaf kepadamu,” pekik Maudi yang mengeraskan suaranya.
“Di mana sopan santunmu, ketua sekretaris. Apa kau tidak belajar tentang tata krama yang benar?” Tegas Farhan yang memberikan peringatan keras.
“Maaf Tuan, aku sudah meminta maaf kepadanya, tapi tidak di dengarkan olehnya.” Maudi dengan cepat menundukkan kepalanya, tatapan tajam dari Farhan membuatnya tidak berani berkontak mata secara langsung.
“Apa begitu caramu meminta maaf? Suaramu bahkan tidak keluar sama sekali dan kau menyalahkan aku.”
Maudi menghirup udara dengan sangat dalam sembari tersenyum paksa. “Maafkan aku mengenai permasalahan semalam,” ucapnya dengan sopan. “Terima kasih untuk kemurahan hatimu,” tutur Maudi yang bergegas keluar dari ruangan itu. Dia berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, menahan rasa amarahnya yang sebentar lagi akan meledak. “Aku akan membalas perbuatanmu berkali-kali lipat, lihat saja nanti,” gumamnya yang tersenyum smirk.
“Semua permasalahan sudah selesai, aku akan ke ruangan untuk mengerjakan pekerjaan yang hampir tertunda, terima kasih untuk semuanya.” Pamit Ayu yang juga meninggalkan ruangan itu setelah mendapatkan izin dari Farhan. Dia menatap punggung Ayu yang menghilang dari balik pintu, dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Ayu kembali mendudukkan dirinya di kursi kerja, memfokuskan pandangannya dengan mengerjakan dokumen yang ada di atas mejanya. Kedua tangannya menekan keyboard dengan sangat cepat dan sesekali menggunakan kursor untuk mempermudah pekerjaannya.
Tak butuh waktu lama baginya dalam mengerjakan dokumen di atas meja, prestasi yang patut di acungi jempol. Ketelitian dan kecepatan yang dia miliki membuat semua pekerjaan menjadi mudah. “Akhirnya selesai juga, ini masih jam kantor. Apa yang harus aku kerjakan?” Ucapnya dengan pelan.
Sontak dia sangat terkejut saat mendengar suara yang sangat keras tepat di hadapannya, dengan cepat dia melihat siapa pelakunya. “Ck, kau lagi. Apa yang membuatmu datang kesini?” tanya Ayu yang sangat malas.
“Selesaikan pekerjaanmu dengan benar, semua dokumen ini harus selesai hari ini juga. Apa kau mengerti?” Titah Maudi yang memerintah. Ayu hanya menghela nafas, karena dia tidak ingin berdebat yang menurutnya hanya membuang-buang waktu saja.
“Baiklah, aku akan mengerjakannya.”
“Bagus, ingat! Selesaikan hari ini juga dan aku tidak ingin ada masalah sedikitpun.” Tegas Maudi menatap menusuk ke arah lawan bicaranya.
“Apa kau sudah selesai?”
“Apa maksudmu?” Tanya Maudi yang menautkan kedua alisnya.
“Jika sudah selesai, maka pergilah dari sini atau pekerjaanku tidak akan selesai.”
“Tidak perlu mengusirku, aku juga akan pergi tanpa kau usir.” Maudi berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu, dia tersenyum senang karena kembali menyusahkan Ayu dengan pekerjaan tambahan.
“Aku tahu jika ketua sekretaris hanya menyulitkan aku dengan pekerjaan tambahan, akan aku buktikan kemampuanku dalam mengerjakan ini.” Tekad Ayu yang kembali mengerjakan semua dokumen yang bertumpuk di atas meja kerjanya. Membaca dan juga mempelajarinya lebih dulu, barulah dia mengerjakan dengan menginput data.
Satu persatu karyawan pulang meninggalkan kantor, Ayu yang tidak ingin kejadian semalam terulang kembali dengan cepat menyelesaikan semua pekerjaannya. “Selesai,” ujar Ayu yang sangat antusias dan dengan cepat mengambil tas untuk pulang.
“Ayu.” Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan kantor tiba-tiba Ayu mendengar seseorang memanggilnya.
“Ada apa?” Sahut Ayu yang berbalik.
“Ayo pulang bersamaku,” ajak Farhan.
“Aku tidak ingin pulang bersamamu, pulang saja sendiri!” tolaknya.
“Apa kau yakin? Aku tidak menjamin jika kejadian semalam terulang kembali, dan siapa yang akan menolongmu nanti?” Sindirnya.
“Apa kau berusaha untuk menakutiku?” Ketus Ayu yang sangat kesal dengan pria tampan di hadapannya.
“Tidak, aku hanya berusaha untuk memperingatimu mengenai kejadian semalam. Wajah yang pucat dan tubuh gemetaran, apa kau ingin itu terjadi?”
“Semua masalahku terjadi karena mu, karena para wanita menyukaimu dan membuat aku tersiksa,” sindir balik Ayu. Farhan yang biasanya kurang peka, karena di hatinya hanya ada gadis kecil yang pernah menyelamatkannya, dan sekarang dia tersenyum saat melihat raut wajah Ayu yang tampak menggemaskan. “Apa kau cemburu?” Ujar Farhan yang dengan cepat menarik tangan Ayu untuk masuk ke mobil tanpa mendengarkan penuturan dari wanita cantik itu.
“Hei, lepaskan tanganku. Jangan berbuat seenaknya kepadaku,” tukas Ayu kesal.
Farhan tak menghiraukan ucapan Ayu dan membantunya untuk masuk ke dalam mobil, sebelum mobil dikemudikan, Farhan menatap Ayu dengan seksama.
“Jangan salah paham dengan tindakanku ini, aku melakukannya karena telah berjanji kepada kakek.”
“Aku bukanlah tipe wanita yang terbawa perasaan, jangan percaya diri dengan menjelaskan maksudmu,” jawab Ayu sarkas.
“Hanya menjelaskan saja! Oh ya, satu lagi yang harus kau ketahui. Mulai saat ini dan seterusnya, aku yang akan menjamin keamanan mu dalam kurun waktu tiga bulan saja.”
“Aku akan menerima hal itu! Jika tiga bulan ini berakhir, kau dan aku tidak akan saling mengenal satu sama lain. Anggap saja kita tidak pernah bertemu layaknya orang asing,” tutur Ayu yang menatap Farhan dengan dalam.
“Ya, terserah kau saja,” jawab Farhan yang acuh.
“Bagaimana aku akan melewati selama tiga bulan? Pasti itu sangat sulit,” lirih pelan Ayu yang masih terdengar oleh Farhan.
Tiba-tiba Farhan membantunya memasangkan seatbelt, sontak membuat Ayu sangat terkejut. “Kenapa pria ini tiba-tiba menjadi perhatian?” Gumamnya di dalam hati.
Farhan memenfaatkan kesempatan itu dan membuatnya dekat dengan wanita cantik di sebelahnya. Dia menghirup aroma yang sangat dia rindukan, aroma gadis kecil yang sangat persis seperti aroma di tubuh Ayu. “Apakah dia orangnya? Ayu juga sangat takut dengan kegelapan dan aroma mereka juga sama persis,” batin Farhan yang sedikit melamun.
Ayu yang merasa aneh dengan pria di sampingnya, “apa kau ingin mengambil kesempatan?” Ucapnya yang meninggikan suara membuat lamunan Farhan terhenti. Dengan cepat Farhan kembali duduk. “Maaf.”
“Aku memaafkanmu.”
“Ada yang ingin aku tanyakan,” Tanya Farhan yang sangat penasaran dengan Ayu.
“Katakan saja.”
“Apakah kau pernah menjadi korban penculikan?” tanyanya dengan penuh hati-hati dan juga sedikit gugup.
“Tidak,” jawab Ayu singkat, padat, dan jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Hartin Marlin ahmad
apakah benar jawaban Ayu itu 🤔🤔🤔🤔
2022-07-13
1
Aska
hemm
2022-05-18
1
Yusni Ruri
😂😂
2022-05-18
1