Happy Reading 😔
Sandi mengajak Aulia masuk ke dalam mobil yang berada di parkiran rumah sakit.
"Mas pelan-pelan..! tangan Aulia sakit...! Kenapa menarik Aulia seperti ini!" Sandi melepaskan tangannya dari pergelangan tangan istrinya. Sebenarnya sandi tidak bermaksud untuk menyakiti Aulia.
Tapi entah kenapa melihat sikap Aulia yang membujuk nenek untuk menerima Renata membuat sandi tidak suka.
"Maaf Lia, mas tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Sandi berusaha meraih tangan Aulia, tetapi tidak bisa karena Aulia langsung menyingkirkan tangannya.
Sandi merasa bersalah karena membuat Aulia merasa sakit.
"Maaf, tadi mas tidak sengaja."
"Lalu kenapa mas ngajak Aulia ke sini?" Tanya Aulia langsung to the point.
Sandi baru ingat kalau tadi dia ingin mengintrogasi Aulia yang tanpa sepengetahuannya telah bekerja sama dengan Renata untuk memberi tahu nenek bahwa Renata juga berhak mendapatkan kebahagiaan dengan menerima istri sirinya itu dan mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA.
"Kenapa kamu membantu Renata?" Tanya Sandi menatap tajam Aulia.
"Kenapa mas? apa kamu tidak suka? bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku, karena berkat diriku hubungan mu dan Mbak Renata bisa berjalan dengan lancar?" Jawab Aulia.
Ada sedikit rasa sakit ketika Aulia mengucapkan hal itu. Aulia tahu kalau Sandi tidak berani mengatakan kepada nenek tentang perselingkuhannya dengan Renata sampai membuat wanita itu hamil karena takut dengan kondisi nenek Sari. Meskipun nenek sudah tahu semuanya, tetapi cara Aulia dengan membujuk Nenek Sari agar bisa menerima Renata membuat Sandi tidak suka.
"Mbak Renata juga berhak bahkan lebih berhak menjadi istri sah mas Sandi."
Sandi mengeraskan rahangnya mendengar jawaban Aulia.
"Siapa yang mengizinkanmu, Aulia?" Tanya Sandi menahan amarahnya.
Entah kenapa Sandi merasa tidak setuju dengan tindakan istri pertamanya itu.
"Mas, sampai kapan kamu akan menyembunyikan pernikahanmu dengan mbak Renata? toh nenek sudah tahu kalau kamu memiliki 2 istri bahkan istri kedua mu itu sudah mengandung darah dagingmu, lebih cepat nenek menerima mbak Renata bukankah itu lebih baik untuk kalian berdua?" Hati Sandi mencelos. Bukan itu yang dia inginkan.
Sandi merasa bahwa keputusan Aulia tidak benar, meskipun memang seharusnya sudah dilakukan sejak dulu. Bagi Sandi saat ini Aulia adalah prioritasnya. Dengan Renata, Sandi hanya berusaha bertanggung jawab saja. Bukankah itu sangat egois??
"Tapi aku tidak suka kamu melakukan ini, Aulia!"
"Loh, kenapa mas? bukankah mbak Renata adalah wanita yang kamu cintai? bukankah sejak dulu kamu memang ingin mbak Renata di terima oleh nenek?" Sandi mengusap wajahnya kasar.
"Aulia, dengarkan mas,,," Sandi memegang bahu Aulia.
"Maafkan semua perbuatan yang telah mas lakukan, mas telah khilaf dan membuat semuanya menjadi rumit, tapi bisakah nanti saja kita memberitahu nenek. Aku masih belum siap?"
Aulia tertawa mendengar ucapan Sandi. "Kamu ini lucu mas, jangan bersikap seolah kamu tidak menginginkan mbak Renata, aku tahu semuanya, bahkan kamu sengaja menanam benih di rahim mbak Renata agar kalian bisa bersama dan ... emmmhhh!!" Sandi langsung mencium bibir Aulia agar gadis itu tidak meneruskan ucapannya.
Ucapan Aulia benar-benar seperti cambuk yang membuat hati dan tubuh Sandi remuk redam. Dulu dia memang menginginkan Renata, tetapi Sandi tidak pernah berfikir membuat kekasihnya itu hamil meskipun kenyataannya dia memang sudah melakukan hubungan terlarang dengan Renata.
"Sayang, maafkan mas, jangan berucap seperti itu, kamu salah kalau beranggapan bahwa aku sengaja melakukan hal itu agar bisa bersama Renata." Ucap Sandi setelah melepaskan ciumannya.
"Hahahaha, aku salah berucap? mas Sandi suamiku,, aku tahu semuanya, mbak Renata juga bilang kalau kamu akan menceraikan ku suatu saat nanti, jadi tidak mungkin kan kalau semua yang kamu lakukan itu karena tidak sengaja!" Aulai tertawa sambil menahan air mata yang akan jatuh.
"Cukup Aulia!! itu dulu, tetapi sekarang aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu, dan ingat Aulia, sampai kapanpun mas tidak akan pernah melepaskan mu!"
Aulia mengalihkan pandangannya, sudut matanya sudah berair, wanita itu mengerjap beberapa kali agar air matanya tidak jatuh dan berusaha membuat hatinya ikhlas.
Mungkin sekarang kesabaran seorang Aulia sedang di uji, harus rela berbagi suami dan melihat suaminya bahagia dengan kekasihnya dulu.
"Terserah, Mas." Aulia membuka pintu mobil tapi langsung di tahan oleh Sandi.
Tiba-tiba tubuh Aulia di tarik oleh suaminya itu ke dalam pelukannya. "Sayangku Aulia, mas sadar telah banyak menyakiti mu, mungkin inilah balasan dari Allah yang membuat hati mas meragu,, tapi jujur di dalam lubuh hati mas yang paling dalam, bahwa wanita yang saat ini sangat mas cintai adalah kamu, istriku!" Bisik Sandi di telinga Aulia yang tertutup hijab itu.
###
Renata sedang mencari Sandi dan Aulia, tadi Sandi membawa Aulia keluar dari ruang rawat nenek Sari dan meninggalkannya berdua dengan salah satu asisten rumah tangga yang bertugas menjaga sang nenek.
Kemana Sandi dan Aulia? apa Sandi marah pada istri pertamanya? sepertinya aku harus bergerak cepat,, sekarang nenek sudah bisa menerimaku, kalau begitu tidak ada alasan lagi untuk menahan Aulia menjadi istri Sandi. Mereka harus bercerai secepatnya.
Sepertinya obsesi Renata untuk menjadi istri Sandi satu-satunya semakin menggebu. Renata berasa di atas angin karena dia mempunyai kartu yang bisa dipakai kapan pun untuk menjerat sandi, yaitu kehamilannya.
Renata menekan nomor Sandi untuk mengetahui di mana keberadaannya.
"Halo sayang, kamu di mana?"
"Nenek mencarimu, cepatlah kemari!"
Tuut!
Renata menutup panggilannya. Dia akan menyuruh Sandi mentalak Aulia di depan sang nenek.
Setelah beberapa saat Sandi dan Aulia kembali, Renata langsung menghampiri Sandi dan menarik pria itu untuk masuk ke dalam ruang rawat nenek. Tidak ada siapapun di dalam sana karena Renata sudah menyuruh pembantu Sandi untuk keluar.
Sedangkan Aulia hanya di luar dan membiarkan Sandi dan Renata berbicara.
"Aku ingin kamu memenuhi janjimu untuk segera mentalak Aulia, sekarang nenek sudah bisa menerimaku, ceraikan Aulia di depan nenek, kita akan hidup bahagia bersama dengan calon anak kita." Ucap Renata merangkul mesra lengan Sandi.
Sandi yang mendengar semua itu langsung merasa emosi. "Jangan pernah mengatakan hal seperti itu Renata," ucap Sandi datar sambil melepaskan pelukan Renata.
"Kenapa?"
"Kalau sampai aku menceraikan Aulia di depan nenek, masalah yang di timbulkan akan menjadi semakin besar," jawab Sandi menahan gejolak di hatinya.
Renata merasa kecewa dengan jawaban Sandi.
"Apa kamu sudah mulai mencintainya?" Tanya Renata.
"Ya,, aku sudah mulai mencintainya!" Jawab Sandi mantap.
Renata merasa sakit hati mendengar jawaban Sandi. Bagai di tusuk pisau tajam yang menghujam tepat di jangungnya.
"Sandi, kamu bohong kan?" Renata berusaha mencari kebohongan di mata pria itu.
"Tidak Renata, aku memang sudah mencintai Aulia."
Renata menutup mulutnya tidak percaya, dia telah mendengar sendiri jawaban itu dari mulut Sandi. Padahal selama ini Renata berusaha untuk tidak berfikir negatif dengan pria itu.
"Kamu jahat Sandi!!"
Renata langsung berlari keluar karena tidak kuat menahan sakit hatinya sambil menangis.
Bersambung.
Pasti pada gedek sama Sandi kan? 🤭
Egois dan kurang tegas, othor aja sampe ngebul otaknya buat bikin karakter Sandi seperti itu. Sedangkan untuk Aulia pasti lama-lama juga tidak akan kuat ya, secara dia juga mendapatkan penekanan dari Renata.
Rumit gak sih😂
Jujur othor sebenarnya gak suka cerita yang rumit dan bertele-tele, tapi ya gimana lagi, di cerita ini harus seperti itu..
Mohon terus dukungannya ya, biar othor tambah semangat gak puyeng2 mulu🤧
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Juan Sastra
apa sudah terbukti renata hamil anak sandi..
2023-05-25
0
R_3DHE 💪('ω'💪)
serakah
2023-01-25
0
Ririn Nursisminingsih
terserah atuhor e wess meski bacane gregeten..a.
2022-11-03
0