Di kamar hotel, Hanin masih menangis meringkuk di kamar mandi. Ia terus menggosokkan tubuhnya, agar hilang semua pelecehan yang di lakukan Kenan tadi. Mata Hanin sudah bengkak karena tak berhenti menangis. Ia pun tak memperdulikan ketukan pintu yang mengantar makan siang. Ia hanya membukaan suara wanita yang mengantarkan pakaian. Ia juga menghiraukan dering telepon yang sudah ratusan kali berbunyi. Telepon itu datang dari Lani dan Tio, karena hari ini Hanin tidak masuk kerja tanpa kabar.
“Jangan nangis, Hanin! Ini pelajaran buat kamu, agar hati-hati memilih kekasih.” Kata Hanin, pada diri sendiri. Ia menatap dirinya di cermin.
Hanin berusaha menguatkan diri.
Lalu, ia pun segera memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi itu. ia kembali melihat dirinya di cermin. Ia dekatkan lehernya dan bagian dadanya yang di gigit oleh menakutkan itu. Hanin sangat hafal sorot matanya dan rahangnya yang kokoh. Keluarga Aditama memang tida bisa di lawan, apalagi Hanin hanya rakyat jelata dan bukan siapa-siapa. Ia lebih memilih untuk mengalah dan pergi sejauh-jauhnya dari keluarga itu.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponselya kembali berbunyi. Di sana tertera nama Lani. Hanin meraih ponselnya dan kembali di letakkan. Ia sedang ingin sendiri. Ia masih tidak bisa bicara dengan siapapun, karena apabila ia menceritakan apa yang tadi di alami, mungkin ia akan menangis dan itu akan menambah kekhawatiran teman-temannya.
Hanin keluar dari kamar itu. Di luar hotel, sudah ada orang yang mengawasi gerak gerik Hanin. Orang itu pun memberitahu Kenan bahwa tepat pukul tiga sore, Hanin baru keluar dari kamar hotel. Orang suruhan Kenan juga memberitahu bahwa Hanin tidak menyentuh makanan sedikitpun.
Di kantor, Kenan memijat pelipisnya. Sebenarnya, ia tidak ingin membuat Hanin ketakutan seperti itu. Entah setan apa yang merasuki otaknya, hingga ia bisa sebrutal itu terhadap Hanin. Untung saja ia segera di sadarkan. Jika tidak, ia tak tahu apa yang akan terjadi dengan Hanin.
“Hah, mengapa aku terlalu memikirkan wanita penggoda itu? mungkin itu hal biasa untuknya. Mungkin dia pura-pura menangis saat aku sentuh.” Gumam Kenan sembari menggelengkan kepalanya.
“Ken.” Tiba-tiba Vicky membuka pintu ruangan Kenan.
“Vick, lu tuh kalo masuk ruangan gue ketuk dulu.” Ujar Kenan dingin.
“Ini penting. Apa yang udah lu lakuin sama cewek itu?” Tanya Vicky.
“Siapa?” Kenan balik bertanya.
“Halah, lu pasti tahu maksud gue.”
“Gue ngga ngapa-ngapain dia. Emang menurut lu gue mau apain dia? Hah?” Kenan berdiri dan berhadapan dengan Vicky.
“Gue cuma khawatir lu melakukan hal bodoh. Ingat Ken, reputasi lu sebagai pengusaha muda tuh udah bagus dan selama ibi lu juga udah menjaga reputasi keluarga lu dengan baik. Jadi jangan hancurkan itu!”
“Iya, gue tahu. Otak gue masih waras. Lagian gue ngga bakal bodoh hanya karena wanita.”
Vicky menarik nafas. Ia sadar bahwa Hanin adalah wanita yabg cantik dan cukup bisa menggoda Kenan. Hanya saja pria itu terlalu sombong untuk mengakuinya.
"Ya udah sana! lu terusin kerjaan lu.” ia mengusir Vicky untuk kembali ke ruangannya.
Kenan memastikan bahwa dirinya tidak akan bodoh hanya karena wanita, apalagi jika wanita itu adalah Hanin.
****
Hanin sampai di depan rumahnya. Sebelumnya, ia ke ATM dan mengambil beberapa uang tunai yang cukup banyak. Walau ia masih tak tahu akan kemana, tapi yang jelas saat ini ia ingin berkunjung ke rumah sang kakak di Kuala Lumpur. Walau baru tahun lalu ia ke sana, pasti Nida akan senang lagi dengan keberadaan sang adik.
Di dalam rumah, Hanin memasukkan pakaian ke dalam koper. Ia juga memesan tiket. Lalu, mengabarkan Nida melalui pesan whatsapp.
“Kak, besok siang aku terbang ke KL.”
Hanin terus memegang ponselnya untuk menunggu sang kakak menjawab pesan yang ia kirimkan.
“Kok dadakan, Dek. ”
“Kamu baik-baik aja ‘kan?”
Hanin membaca balasan pesan Nida.
“Aku sedang tidak baik, Kak. Aku lagi banyak masalah di sini. Hiks..hiks.. hiks..” Hanin memberikan emot menangis.
Ia sudah tak tahan dengan apa yang di alaminya beberapa hari terakhir ini. Hanya Nida, tempatnya berkeluh kesah.
“Kamu kenapa? Ada masalah sama kerjaan kamu? Apa sama pacar kamu?” Tanya Nida
Hanin kembali mengetik pesan.
“Semua, Kak.”
Hanin terdiam menunggu lama, Nida membalas pesannya.
“Ya udah, kakak tunggu di sini. Seperti biasa, sesampainya di bandara langsung naik taksi aja, soalnya kakak ngga bisa jemput, terus Kak Emran juga ngga bisa jemput kalau dadakan begini.”
Hanin langsung membalas pesan itu.
“Iya tidak apa, Kak. Lagian Hanin juga ngerti kok jalan menuju ke rumah kakak, walau sendiri.”
“Oke kalau begitu. Sekarang kamu istirahat saja dan tenangkan pikiranmu.”
“Makasih, Kak.”
Hanin meletakkan ponselnya, setelah selesai memberi kabar pada Nida. Lalu, ia mengambil kembali ponsel itu. Ia lihat nomor Gunawan. Banyak juga pesan yang datang dari nomor itu, tapi tak satu pun Hanin jawab. Kemudian, Hanin memblokir nomor Gunawan, apalagi Kenan bilang bahwa istri Gunawan saat ini sedang hamil. Ia semakin tidak ingin ada komunikasi lagi dengan pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 195 Episodes
Comments
Muji Lestari Tari
hanin pasti baik2 saja
2025-01-21
0
Syahna Amira sy
ya bagus Hanin pergi dari situ lupakan itu kluarga lucknut yg seenaknya aja kelakuan'a
2024-05-11
6
Nartadi Yana
pergi yang jauh nin biar si Kenan juga tidak bisa menemukan kamu dan kelimpungan karena bucin
2024-03-28
1