Apa yang sudah digariskan oleh takdir maka tak ada yang bisa mengubahnya.
Vevina, gadis imut dengan segala pemikiran nya yang random serta tingkah nya yang konyol tapi menyimpan rasa sakit hati atas cinta pertama yang salah.
Luke, seorang aktor muda multitalenta didunia industri hiburan. Terkenal akan keramahan dan wajah tampan nya namun sangat tertutup rapat akan kehidupan pribadi nya terutama akan cerita tentang masa lalu nya.
Sempat terpisah jauh sampai takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara nya..!!
Akan kah takdir bisa menyatukan mereka dan berdamai dengan masa lalu yang ada??!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenariansy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Potong puzzle
Luke masih duduk diam didalam mobil sampai lewat tengah malam, sampai bunyi gawainya berbunyi nyaring dikesunyian dan dinginnya malam. Luke tak menghiraukan suara gawainya, dia seakan tau siapa yang menghubunginya dan dia tak berminat untuk menggubris panggilan yang datang kembali kegawainya itu. Dan lebih memilih mematikan gawai pintar nya dengan tujuan tak ada lagi yang menganggu atau bahkan melacak keberadaan nya sekarang.
Luke menyandarkan kepala nya ke sandaran kursi kemudi mobil, dipikirannya sekarang penuh dengan memori saat bersama sang ibu kala dirinya masih kecil, saat ini ingatan Luke sedang memutar memori paras sang ibu yang sangat cantik dengan kulit yang putih bersih serta senyuman yang selalu menghangatkan hatinya.
Yang dia tau hanya sang ibulah yang begitu menyayanginya dengan kelembutan serta cinta yang besar untuknya, pelukan hangat sang ibu adalah kekuatan terbesar untuknya dikala dirinya jatuh dan terpuruk oleh perlakuan buruk serta bully yang dia terima dimasa kecilnya.
Luke masih betah menatap rumah itu dari balik kaca mobilnya, ada potongan ingatan yang terlintas kala dimana sang pengasuh bercerita saat sang ibu berjuang melahirkannya kedunia, kala dirinya terlahir dalam keadaan prematur karena harus dilahirkan pada usia kandungan sang ibu masih berada diusia tujuh bulan.
Dan sang ibu pun harus melewati operasi sendirian tanpa seorang suami yang mendampingi, hanya ada sang pelayan yang sudah dianggap layaknya saudara yang mendampingi dan merawat sang ibu dan juga si bayi yang masih merah. Mana kala sang bayi pun harus dirawat dan menginap dirumah sakit tepatnya diruang NICU* selama 3 minggu lama nya.
Sang pelayanlah yang menyaksikan Luke bertumbuh dari bayi merah yang terlahir prematur hingga dia bisa tumbuh besar, sehat dan kuat hingga bisa berlari kencang bermain dihalaman rumah tersebut. Didalam rumah itu lah Luke menghabiskan masa-masa indah masa kecilnya bersama sang ibu.
Luke tersenyum dengan air mata yang masih setia mengalir, dia memejamkan mata berusaha menenangkan diri dan tubuh yang mulai bergetar. Luke membuang nafasnya kasar beberapa kali, seolah-olah beban nya pun ikut terbuang, dia pun mendesah nyaris berteriak seperti ingin melepaskan rasa berat yang terasa menghimpit dada nya.
Tapi disaat diri nya berusaha untuk tenang dan mengontrol emosinya mulai yang tak stabil tiba-tiba sekelebat ingatan kenangan dimana Luke mendapatkan trauma ikut hadir dipikirannya trauma mendalam akan sang ayah. Sang ayah yang apabila pulang pasti akan bertengkaran dengan sang ibu dan dimana akan membuat sang ibu yang dia kenal lemah lembut bisa berteriak histeris bahkan sampai mengamuk menghancurkan apa saja yang ada didekat nya.
Pernah suatu malam Luke yang tidak bisa tidur karena takut akan mimpi buruk keluar dari kamar nya, dengan tujuan hendak pergi ke kamar sang ibu untuk bisa tidur disana seperti biasa nya. Saat itu usia Luke baru tujuh tahun, saat hendak membuka pintu kamar sang ibu Luke mendengar suara dari dalam kamar sang ibu lalu iya pun mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat ternyata sang ibu dan sang ayah sedang bertengkar.
Pada saat itu Luke melihat sang ayah menghempaskan tubuh sang ibu diatas ranjang kemudian menampar keras pipi sang ibu dimana terlihat ada darah disudut bibir sang ibu dan terdengar tangisan dari sang ibu setelah nya, Luke yang menyaksikan nya hal tersebut seketika gemetar dan takut.
Luke jatuh kelantai dengan posisi duduk sambil menangis dalam diam kemudian pelan-pelan merangkak kembali ke kamarnya karena kaki nya terasa lemas untuk bisa berjalan. Itu adalah pertama kalinya Luke menyaksikan kekerasan sang ayah kepada sang ibu, setelah itu acap kali Luke harus melihat dan mendengar pertengkaran dan teriakan yang menggema dari dalam kamar sang ibunda apabila sang ayah pulang ke rumah tersebut.
Lalu memori disaat Luke sudah berusia sepuluh tahun pun tiba-tiba ikut melintas diingatan Luke, dimana saat itu Luke tidak sengaja melihat tangan sang ibu berlumuran darah dengan pisau ditangannya terduduk lemas dihadapan tubuh sang ayah yang tergeletak dihadapannya diruang tamu rumah mereka.
Sang ibu tersenyum menyadari Luke yang melihat kearahnya disana seolah-olah tak terjadi apa-apa, sang pelayan yang juga merangkap sebagai pengasuh yang melihat Luke yang gemetaran dengan sigap menarik Luke dan membawanya ke halaman belakang untuk ditenangkan dan bersembunyi.
Tak lama Luke melihat dari kejauhan ada beberapa orang datang membawa sang ayah pergi dan juga ada seorang wanita yang berhadapan dengan sang ibu, sang wanita itu nampak berteriak histeris lalu menampar keras wajah sang ibu hingga sang ibu jatuh tersungkur terduduk.
Semua kenangan bermunculan seperti sekelebat banyangan dalam memori Luke saat ini seperti potongan puzzle yang berhamburan, banyak potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap bermunculan dari ingatan akan kenangan yang indah bersama sang ibu sampai masa-masa dimana trauma nya dimulai tapi semua ingatan tersebut tidak datang secara utuh.
Luke lagi-lagi meremas rambutnya dan membenturkan kepala belakangnya beberapa kali ke sandaran kursi kemudi mobil, hal tersebut dilakukan Luke untuk mengurangi rasa sakit dikepalanya akibat trauma yang kembali kambuh yang mana juga disertai dengan badannya yang kali ini bergetar hebat, nafas yang mulai tersengal juga air mata yang tak berhenti mengalir sejak tadi yang membuatnya kehilangan kesadaran tak lama setelah nya.
...----------------...
Ditempat lain, Anna dibuat gelisah dan juga frustasi dikarenakan Luke yang tidak dapat dihubungi. Setelah tadi dirinya dihubungi oleh beberapa orang kepercayaannya yang ditugaskan untuk selalu mengawasi dan mengikuti Luke kemana pun.
Mereka melaporkan kehilangan jejak Luke karena GPS dari gawai pintar serta mobil yang digunakan oleh Luke tak dapat terlacak. Mereka yang tadi mengikuti Luke dijalan pun tidak dapat mengejar laju mobil yang Luke kemudikan yang diatas kecepatan rata-rata karena kalau mereka ikut mengejar dengan kecepatan yang sama akan sangat membahayakan pengguna jalan yang lain dan mereka sendiri tentunya.
"Hei... Ada apa, kenapa kamu sepertinya gelisah hah?" Jack menarik Anna masuk kedalam ke pelukan nya.
"Luke.. Dia tidak bisa dihubungi dari tadi, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada nya." Anna menangis dalam pelukan Jack.
Vina dan Yuna yang ada disana pun saling pandang, mereka tau Anna bukanlah tipe gadis yang mudah menangis seperti ini. Anna menangis sesenggukan di pelukan sang kekasih, Jack dan Yuna berusaha menenangkan Anna sedangkan Vina sendiri tidak mengerti kenapa hatinya terasa sedih dan sangat mengkuatirkan kan Luke yang sekarang entah bagaimana nasib nya.
Setelah Anna bisa ditenangkan, Jack meminta sang adik dan juga Yuna untuk kembali ke kamar sekaligus membawa Anna untuk beristirahat setelah dirinya berjanji kepada sang kekasih besok pagi dirinya akan membantu mencari dimana keberadaan Luke.
Jack tak mengerti kenapa Anna begitu ketakutan sampai menangis, Jack mencoba berpikir positif bisa saja Luke hanya sedang ingin sendiri tanpa ada yang menganggu dan tau dimana diri nya sekarang. Mungkin ingin sendiri menjauh dari bayang-bayang pekerjaan nya mungkin, yah Jack hanya mencoba berpikir positif saja.
Sedang kan didalam kamar orang tua mereka, kini ayah David sedang duduk diatas tempat tidur dengan badan nya disandarkan di headboard, mamah Laura yang tadi nya sudah tidur kembali membuka mata dan juga ikut duduk sambil memeluk suami nya tersebut.
"Ayah sedang memikirkan apa?"
Tanya mamah Laura sambil memainkan jari-jarinya di dada sang suami.
"Sayang, aku sedang memikirkan putra dari Dipto. Mata itu sangat mirip dengan nya." Jawab ayah David pelan sambil menghela nafasnya pelan.
Tak lama terdengar isak tangis sang istri yang lirih, ayah David memeluk sang istri dan diam tak berbicara lagi. Dia tau ada luka yang dalam karena rasa bersalah masih menganga lebar di hati sang istri hingga saat ini masih yang masih menghantui nya.
"Maafkan ayah sayang, ayah tidak bermaksud membuat mu sedih." Sesal ayah David dengan masih memeluk sang istri dan mengusap punggung istri nya lembut.
"Sudah-sudah ayo kita tidur, tidak usah dipikirkan lagi. Itu sudah lama berlalu sayang, harapan kita mereka sudah tenang sekarang. Kita hanya bisa mendoakan mereka, semoga semua baik-baik saja dan yang harus kita perhatikan sekarang adalah kebahagian anak-anak kita." Hibur ayah David yang dibalas anggukan pelan oleh mamah Laura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
* NICU atau ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit adalah ruang perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan. Umum nya bayi dimasukkan keruangan NICU pada 24 jam pertama setelah lahiran, namun tidak menutup kemungkinan bayi akan dirawat lebih lama. Beberapa kondisi bayi yang masuk ruangan NICU adalah bayi dengan gangguan pernafasan, bayi yang terlahir prematur, memiliki riwayat penyakit kuning dan masih banyak lagi.
💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕💜💕
Terima kasih untuk dukungannya 💜borahe💜
panjang bnget narasi nya..
kok gk di pisah2