NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Ibu Tiri / Slice of Life / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.

Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Penuh teka-teki

Setelah mendengar apa yang terjadi, Nadine langsung memeluk erat Zaskia. Gadis itu melampiaskan tangisnya di pelukan sahabatnya. Nadine tidak bisa melakukan banyak hal selain mengelus punggungnya, mencoba menenangkan. Baru kali ini ia melihat Zaskia menangis sekeras itu.

Meski sama-sama masih memiliki keluarga, dan tak tingg bersama, kehidupan mereka jauh berbeda. Orang tua Nadine lengkap dan masih memperlakukannya dengan baik—menghidupi dan menafkahi Sementara Zaskia, sejak SMP sudah tidak lagi diberi nafkah oleh ayahnya hanya karena ia memilih hidup terpisah. Sejak itu rasa hormatnya pada sang ayah menipis, padahal ia punya alasan: ia tidak sanggup menerima ibu tiri dan ingin mencari ibunya entah sampai kapan.

Namun siapa sangka, saat dewasa hidupnya justru makin pahit. Adik yang ia sayangi pun kini menjauh hanya demi uang dan popularitas.

Tetap saja, Nadine tidak habis pikir. Setelah disakiti keluarga dengan kata-kata tajam, Zaskia masih membela adiknya.

“Aku jahat, Nad...” suara Zaskia pecah. “Tangan aku jahat...aku berani nampar adikku sendiri.”

Nadine cepat menggenggam kedua tangannya, menghentikan gerakan gelisahnya. “Kia, udah. Denger aku. Kamu nggak jahat. Kamu kaget, kamu kelelahan, dan ucapannya tadi...siapa pun bisa kebawa emosi. Kamu bukan orang jahat.”

Zaskia menunduk, pundaknya turun naik menahan napas yang tidak stabil. Nadine memeluknya lagi, kali ini lebih erat. Ia sendiri ikut meneteskan air mata karena tak tega melihat sahabatnya yang biasanya kuat, kini selemah itu.

“Dia pasti benci aku sekarang” gumam Zaskia lirih, bibirnya gemetar.

“Nggak. Rania cuma lagi marah. Dia nggak akan benci kakaknya.”

Tapi Zaskia tiba-tiba bangkit. Gerakannya cepat, seolah ada sesuatu yang memaksa hatinya untuk segera pergi. Wajahnya pucat dan matanya kosong.

“Kia? Kamu mau ke mana?” Nadine berdiri ikut panik.

“Ke rumah Mama Ratna. Aku harus minta maaf.” Zaskia langsung menuju motor.

“Kia, turun!” suara Nadine meninggi. Sorot matanya tegas, hampir putus asa. “Turun dulu, Kia. Dengerin aku.”

Namun Zaskia hanya membalas dengan tatapan yang sama keras. Ia menyalakan motor dan melaju. Nadine tersentak mundur.

“Aduh ya ampun...keras kepala banget kamu, Kia,” desisnya.

Dengan terburu-buru ia meminjam motor tetangga, dan setelah mendapat izin, ia mengikuti dari jauh. Tidak terlalu dekat, agar Zaskia tidak sadar. Perutnya terasa mengerut—perasaan yang tidak enak sejak awal itu kembali lagi.

Setengah jam berlalu.

Zaskia tiba di rumah Ratna. Nadine berhenti beberapa meter di belakang, bersembunyi di balik pohon kecil di pinggir jalan, mengamati.

“Gila sih...kayak terdakwa ajah, Kia,” bisiknya pelan.

Ayah, Ratna, dan Rania berdiri di depan. Tatapan mereka sama, dingin.

“Ngapain kamu ke sini? Masih nggak puas nampar adik sendiri? Kamu itu lembut, tapi sekarang? Kasar banget. Ini nih akibat nggak terpantau orang tua,” ucap Ratna tajam.

Zaskia terdiam. Wajahnya lesu, bekas tangisnya jelas terlihat. Ia menatap ayahnya sebentar—seolah berharap ada pembelaan kecil saja. Tapi Alim tetap diam. Bahkan tidak bergeser sedikit pun.

Zaskia meraih tangan Rania.

“Aku nggak sengaja...serius. Kakak kelepasan. Aku minta maaf.”

Rania tidak menjawab. Bahkan menatap pun tidak.

Ratna mendengus. “Kamu udah marahin dia, itu sudah cukup menyakiti Rania. Ditambah kamu menamparnya, dia nggak bakal bisa maafin kamu meski sujud di kakinya sekalipun. Kamu juga udah berani berkata kasar denganku. Udahlah, mending kamu pulang saja. Bisa sakit mata saya tuh lihat kamu.”

Dari jauh, Nadine menggigit bibirnya, tangan mengepal.

“Mulutnya licin banget, sumpah... Si Zaskia juga diem ajah, kalau aku yang di sana udah tak tabok duluan. Tak kira ibu tiri macam itu cuma di fiksi, ” desisnya.

Akhirnya ayahnya bicara.

“Kamu kasar ke adikmu, ke Mama Ratna. Siapa yang ngajarin kamu begitu?”

Ratna tersenyum kecil, seolah itu kemenangan baginya.

“Ayah...aku marah bukan tanpa alasan.”

“Ayah tahu. Tapi caranya bukan begitu. Kamu kakaknya. Harus lebih lembut.”

“Aku udah nasihatin dan mengingatkan Rania berkali-kali, Ayah. Dia yang melanggarnya.”

Zaskia kembali menatap Rania. Adiknya itu hanya melirik sekilas sebelum masuk ke dalam, Ratna mengikutinya dari belakang. Pintu menutup perlahan, menyisakan keheningan di teras.

Kini hanya ada ayah dan anak sulungnya. Pertemuan pertama setelah Zaskia pergi dari rumah ini. Rindu itu sebenarnya menumpuk, hampir membuatnya ingin memeluk lelaki itu—tapi rasa kecewa jauh lebih kuat.

“Ayah nggak ngebelain aku? Dan kenapa ayah ngasih izin Rania? Ayah tahu aku benar… mungkin caranya aku yang masih salah.” Suara Zaskia melemah. Ia buru-buru mengusap air mata yang jatuh lagi. “Ayah berubah sejak nikah sama Mama Ratna. Ayah kayak...budak di rumah ini. Selalu nurut apa pun kata Mama Ratna. Padahal Kia yakin ayah nggak setuju. Jujur....Kia kecewa, Yah. Kenapa ayah terus diam?”

Alim tidak langsung menatap putrinya. Bukan takut, tetapi rasa bersalah yang terlalu berat untuk ia tampung. Zaskia melihat mata ayahnya mulai menggenang, dan perlahan air itu jatuh membasahi pipi.

Refleks, Zaskia meraih tangannya. “Ayah nangis? Ayah nggak mau ngomong sama Kia?”

Alim hanya menghela napas panjang. Wajahnya tampak rapuh; melihat kedua anaknya retak seperti ini membuatnya runtuh dari dalam, namun ia tetap tak tahu harus bagaimana.

Beberapa detik hening berlalu sebelum akhirnya ia berbisik pelan, “Sekarang kamu pulang dulu. Jangan temui Rania. Biarkan dia nenangin diri.”

Tangannya terangkat, mengusap pucuk rambut Zaskia dengan lembut—seolah itu satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan—lalu ia masuk ke dalam rumah.

Di kejauhan, Nadine yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon langsung beranjak pergi begitu melihat Zaskia menaiki motornya. Ia melesat cepat agar tak ketahuan.

......................

Keesokan paginya, Zaskia datang lebih awal dari biasanya. Kantung matanya sedikit membengkak—sisa malam panjang yang tak memberinya jeda. Meski begitu, ia tetap berusaha tersenyum ketika memasuki pabrik. Harus terlihat profesional, apa pun yang ia rasakan.

Di depan ruangan Pak Irwan, ia berhenti. Menarik napas perlahan, menahannya sejenak. Jemarinya sempat bergetar kecil sebelum akhirnya mengetuk pintu. Ketika suara dari dalam mempersilakan masuk, ia membuka pintu pelan, menunduk sopan.

“Duduklah, Zaskia.”

Ia mengangguk dan duduk. Napasnya pendek-pendek, jemarinya saling meremas—seolah menyiapkan diri kalau-kalau dimarahi.

“Pak... maaf,” ucapnya akhirnya, suaranya turun setingkat. “Hari ini aku nggak bisa bikin kue.”

Kepalanya kembali menunduk, seperti takut menatap reaksi di hadapannya.

Irwan terdiam, tapi tatapannya jelas melihat lebih dari sekadar kata-kata. Wajahnya yang terlihat sedih namun berusaha tersenyum justru menegaskan bahwa ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Ada masalah?” tanyanya pelan, tapi nada perhatiannya terasa jelas.

Ia menyandarkan kedua tangannya di atas meja. “Saya tidak sembarangan memasukkan orang ke pabrik saya, Zaskia.” Ucapannya memecah keheningan yang dari tadi terasa menekan.

Zaskia mengangkat wajah perlahan, matanya bingung. “Maksudnya gimana, Pak?”

“Setiap orang yang saya izinkan masuk ke sini, saya harus tahu latar belakangnya terlebih dulu.”

Zaskia menelan ludah. Ada sesuatu yang bergerak di dadanya—antara penasaran dan takut. “Termasuk saya, Pak?”

Irwan mengangguk tipis. “Benar. Saya tahu siapa kamu, dan saya tahu kamu sedang tidak baik-baik saja.”

Zaskia mengerutkan kening, meringis kecil. “Bapak bercanda, ya? Dari mana Bapak tahu...saya nggak pernah cerita apa pun.”

“Saya tidak bercanda,” jawab Irwan tegas, nada suaranya datar tapi kuat. “Dan saya bisa menjelaskannya, kalau kamu mau.”

Ruangan terasa lebih hening dari sebelumnya. Kedap suara membuat napas Zaskia sendiri terdengar jelas di telinganya. Ia menunduk sedikit, tidak ingin menggali lebih jauh.

“Pak...kalau Bapak marah sama saya, saya siap menerima. Kalau kerja sama ini mau diputus, tidak apa-apa. Memang ini kelalaian saya. Saya minta maaf.”

Irwan menghela napas tipis. “Saya tidak marah. Tapi saya tidak suka orang yang tidak profesional. Sebesar apa pun masalahnya, pekerjaan tidak seharusnya dicampur dengan urusan pribadi.”

Deg.

Jantung Zaskia melompat keras. Bukan karena ucapan itu kasar—tapi karena ia takut kehilangan satu-satunya pemasukan paling stabil yang ia punya saat ini. Selain itu, dalam pikirannya penuh tanda tanya. Mengapa Pak Irwan tahu jika dirinya saat ini sedang ada masalah, dan latar belakang yang ia maksud? ah.. apa benar dia tahu semuanya.

“Saya mengerti, Pak. Ini salah saya. Maaf.”

Irwan menatapnya lama sebelum berkata, “Mulai besok kamu nggak perlu lagi kirim kue ke pabrik ini.”

Napas Zaskia jatuh—seperti ada pintu yang menutup di hadapannya. Tapi ia tetap mencoba tersenyum kecil. “Baik, Pak. Tidak apa-apa.”

Irwan kemudian membuka laci. Tangannya mengambil sebuah amplop coklat yang rapi. “Tapi bukan berarti saya lupa jasamu di sini. Ini.”

Zaskia menatap amplop itu. Tidak mengulurkan tangan.

Ada keraguan, ada ketakutan.

“Ambil,” ucap Irwan, mengulurkannya sedikit lebih dekat.

Zaskia akhirnya mengambil dengan kedua tangan, sopan. “Apa ini, Pak?”

“Buka saja.”

Ia membuka amplop itu perlahan. Begitu melihat isi di dalamnya—angka yang terlalu besar untuk ia bayangkan—mulutnya sedikit terbuka. “Pak...”

“Itu uangmu,” jelas Irwan. “Dari penjualan desain kemarin. Rendi sangat menyukainya, dan berkat itu pabrik dapat rating terbaik. Sebenarnya itu belum seberapa. Kamu bisa dapat lebih dari itu...kalau kamu mau cerita apa yang sedang kamu hadapi.”

Zaskia membeku sejenak.

Masalah apa hubungannya dengan uang? Masalah itu bukan sesuatu yang bisa dibeli... gumamnya dalam hati.

“Em...saya tidak mengerti maksud Bapak,” ucapnya hati-hati. “Tapi terima kasih. Sepertinya saya tidak perlu mengambil uang ini. Apa yang saya lakukan tidak sebesar kesalahan saya hari ini.”

Ia meletakkan amplop itu kembali ke meja.

Irwan langsung menggesernya lagi, mendekatkan. “Saya harap kamu tidak lupa, saya tidak pernah mengambil kembali apa yang sudah saya kasih. Lagian ini bukan pemberian cuma-cuma. Ini hasil dari pikiranmu.”

Zaskia sadar, ia tidak bisa menolak. Bukan dengan cara Irwan menatapnya. Tapi kejadian ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Akhirnya Zaskia mengambil amplop itu.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya pamit.”

Irwan mengangguk singkat.

Zaskia berdiri, tersenyum sopan walaupun wajahnya masih menahan banyak hal. Baru dua langkah menjauh, suara Irwan memanggil.

“Zaskia.”

Ia menoleh cepat. “Iya, Pak?”

“Pikirkan ucapan saya tadi. Kalau kamu mau dapat lebih dari itu...kamu tinggal jujur dengan saya.”

Zaskia tersenyum tipis—tanda sopan, bukan setuju. “Baik, Pak. Saya permisi.”

Irwan menatap punggungnya sampai pintu itu tertutup kembali, pelan dan hening.

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!