Untuk Viana seorang mahasiswa semester pertama menolak di jodohkan dengan seorang dokter muda dengan wajah tampan pilihan kedua orang tuanya tanpa tau siapa pria itu. Apalagi Viana masih muda dan masih butuh kebebasan saat ini.
Namun, setelah perjodohan itu ia malah bertemu dengan dokter sombong yang membuatnya benci. Putra Bagus Rahardian yaitu dokter dari rumah sakit ternama. Pertemuan dimana Viana tidak sengaja menabrak Putra dilorong rumah sakit.
Hingga, mereka menyadari bahwa ternyata dokter yang selama ini dia jodohkan adalah Putra dokter sombong yang selalu emosi setiap kali bertemu Viana.
Akankah Viana bisa menerima dokter Putra sebagai jodohnya? Dan apakah Viana dan Putra bisa saling mencintai? Karena kebencian yang mereka rasakan akan berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIMBANG
Selamat membaca
Jangan lupa vote, komen dan jempolnya (👍)
***
Setelah dua hari acara kondangan, Viana maupun Putra belum bertemu kembali karena sibuk dengan tugas masing-masing. Viana sibuk akan kuliah dan Putra sibuk sebagai Dokter dengan pasiennya yang membutuhkan jasa pria itu. Sebenarnya Viana tidak rindu akan Putra hanya saja ia merasa kehilangan sosok Pria sombong dan galak yang selalu membuat Viana naik darah kalau bertemu. Dan tidak pekanya tidak ada satu chat pun dari Putra.
Viana tidak mengharapkan perhatian darinya. Untuk pria dewasa macam Putra harusnya mengerti apa yang harus di lakukan, bukan? dan mereka ingin kenal satu sama lain? Tapi mana tidak ada sedikitpun niat pada Putra.
Pria macam apa dia? Bundanya pernah bilang kalau Putra sempat akan menikah dengan kekasihnya, tapi dengan teganya wanita itu pergi saat acara resepsi.
Viana yakin keluarga Rahardian saat itu pasti sangat malu. Apalagi keluarga mereka cukup terpandang.
Viana heran apa yang kurang dari Putra, dia tampan dan mapan, hanya sifat kurangnya banyak, dia pria dingin dan angkuh. Galak iya, judes iya ditambah bisanya ngatur orang, kalau orangnya diatur malah marah, kan nyeselin.
“Lo dengerin gue nggak?” Viana tersentak kaget. Mengangguk kepalanya sembari tersenyum meski tidak tahu apa yang di bicarakan Laudy.
“Yakin? Kayaknya lo lagi mikirin sesuatu,” ujar Laudy menekankan kalimat terakhir.
“Iya, benar kok.”
“Bohong, jujur aja, tadi gue ngomong apa coba? Kalau emang lo dengerin gue.”
Mati lo, Via! Dia sama sekali tidak mendengar omongan sahabatnya, semua gara-gara Putra yang menyebalkan dan sejak kapan ia terus memikirkan pria itu. Please, jangan sampai dibaperin dokter sombong.
“Uhm…itu tentang… ” Viana berpikir cukup lama dan sampai ia menyerah. “Sorry deh, gue gak dengerin omongan lo, Lau.”
Laudy mencubit pipi Viana gemas. “Lo mikirin apa sih, cerita dong sama gue.”
Mereka berdua duduk di bangku halaman kampus sejenak karena memang jadwal kuliah kedua hanya ada satu mata pelajaran sisanya mereka hanya bisa berkeliaran di area kampus sampai kedua gadis itu menemukan hal yang mereka lakukan selanjutnya.
“Jujur, gue masih bimbang sama pernikahan ini. Lo tau, pernikahan bukan sesuatu yang di anggap permainan. Ini sakral cuy. Gue takut. Sewaktu-waktu gue sama Putra dan nggak ada kecocokan terus pernikahan gue nggak berjalan mulus, kita pisah dan gue jadi janda. Gue nggak mau.” Keluh Viana akan ketakutan akan selama ini. Belum memulai dan terjadi saja sudah berpikir negatif.
Pernikahan yang di awali perjodohan tidak semua berhasil. Seperti dalam novel yang Viana baca ada kisah dimana pernikahan perjodohan berakhir bahagia. Itu di novel.
Dalam kehidupan nyata? Apa bisa berakhir seperti dalam novel?
Bagaimana dengan Viana dan Putra mereka berdua berbanding jauh bagaikan negara api dan negara air yang saling bermusuhan.
Dimana air dan api tidak akan pernah bisa di satukan.
“Lo kena sindrom bridezilla.”
“Apa tuh?”
“Sindrom pra-nikah. Meski lo sama Putra nggak saling cinta. Wajar kalau pikiran lo sensitif. Belum aja di coba udah mikir jauh. Dimana-mana coba dulu, kalian kan belum begitu saling mengenal, kenapa nggak coba pacaran setelah menikah untuk membuat sebuah hubungan erat. Dari situ kalian akan tahu karakter kalian masing-masing. Lo juga jangan egois, lo harus bisa menjadi seorang istri yang baik untuk dokter ganteng.” Tukas Laudy kemudian mengelus bahu Viana agar sahabat bisa berpikir logis dan positif akan segala sesuatu yang akan terjadi kedepan.
Viana tidak percaya kalau sahabat gesrek bisa bicara benar dan tepat. Sesuatu yang mukjizat.
“Gue bisa aja sih, tapi Putra, kayaknya bakal rumit bin ribet. Tiada hari tanpa omelan dari dia. Apa gue bisa bertahan hidup sama dia.”
“Lo bisa kok!”
“Kenapa lo yakin gue bisa?”
“Menurut penerawangan gue, lo bakal mudah buat jatuh cinta sama dia. Secara dia ganteng dan berduit siapa yang nggak suka sama dia, coba? Bukan itu doang, dia cowok pertama dalam hidup lo nanti, dia suami lo, selama ini lo nggak pernah dekatkan sama cowok selain Arfan sama Rasya.”
Viana mengangguk. Pacaran belum pernah. Kalau jatuh cinta dia pernah tapi tentu saja berbeda. Hanya bisa cinta dalam diam.
“Tapi gue juga nggak akan semudah itu jatuh cinta sama dia. Lo tau sendiri kan.” Desisnya pada Laudy paham akan maksudnya.
Laudy menghela. “Susah punya sahabat yang belum bisa move on. Inget kalian nggak akan bersatu. Lagian memang dia tahu perasaan lo, nggak kan. Lo nggak usah banyak pikiran hal lain. Pikirin pernikahan lo beberapa hari lagi.” Katanya pusing membantu jalan keluar untuk sahabatnya. sudah tahu Laudy sendiri pusing dengan kehidupannya yang gini-gini saja.
Viana mengangguk. Laudy memang benar dan Viana mengubris pikirannya dan lebih fokus pada pernikahan didepan mata.
“Ngomong-ngomong soal Rasya besok dia balik dari Thailand. Gue harap dia bakalan bawa oleh-oleh banyak buat kita.”
Bicara soal Rasya, pria gemulai yang baik hati sedang melakukan liburan ke Thailand. Orang tua Rasya tinggal disana, urusan pekerjaan.
Dia tinggal dengan Dara一adik ibu Rasya. Dan setelah dua minggu mengajukan cuti Rasya akan kembali ke tanah air. Sejuta cerita yang pasti akan pria gemulai itu ceritakan nanti.
“Gue kangen, Rasya.” Viana menyandarkan kepala pada bahu Laudy. “Sama gue juga, nggak ada Rasya nggak asyik. Cuma Rasya yang bisa bikin kampus hidup.”
***
Kembali dari kampus Viana sudah di cecar saudara dan sepupunya yang baru sampai di rumahnya. Ada, Si cantik Sera dan Diaz pria single parent alias duda yang banyak wanita mengincarnya. Namun sayang belum ada yang bisa membuat Diaz klepek-klepek. Om satu ini susah digoda.
Viana duduk dengan Sera di sebelahnya dan melihat area dapur sudah penuh sesak akan kehadiran keluarga besar.
“Onty, selamat ya mau menikah.” Seruan Sera membuat Viana tersenyum. Sera begitu polos mengucapkan selamat dan lantang.
“Terima kasih, cantik.” Balas Viana mengelus lembut pipi Sera.
“Nanti Onty bakal didandani cantik, kayak cinderella?”
“Iya dong. Malah lebih cantik lagi.”
“Sera nggak sabar deh pengen lihat Onty pake baju pengantin sama Uncle.” Kata Sera begitu antusias dan apa katanya, Uncle, memang dia pernah bertemu Putra?
“Sabar dong.”
Viana dan Sera tertawa akan obrolan mereka, tidak lama. Seseorang datang menghampiri.
“Masih kecil udah mau nikah aja.” Kata Diaz angkat suara. Om paling Viana sayang. Diaz duduk kemudian Sera mengambil posisi dan duduk dekat Papa-nya dengan menyandar kepala pada paha Diaz. Sedangkan tangan Sera sibuk dengan ponsel.
“Kenapa, Om. Merasa dilangkahi sama aku?” ledeknya sambil menggoda duda satu anak yang bikin Viana tergelak.
Diaz melempar bantal ke padanya. “Dih, siapa yang melangkahi siapa sih. Om sudah pernah menikah, by the way. Coming soon, Om bakal nyusul kamu. Doakan saja biar dapet Mama yang baik buat Sera.” Jawab Diaz sekilas dia menatap Sera dan mengelus rambut anaknya.
Selama ini mencoba dekat dengan wanita dan semuanya Sera tolak. Makanya Diaz tidak lagi mendekati wanita manapun sekarang. Fokus Diaz adalah Sera.
“Amin. Aku doakan semoga cepat dapat jodoh deh buat Om duda.”
Diaz mengacak rambut keponakannya. “Kamu ledekin terus.”
“Bercanda, Om.” Kata Viana merapikan anak rambutnya.
Ardiaz adalah Adik Ayahnya selain Arfan yang menggeluti di bidang firma hukum terbesar di Indonesia. Makanya Viana bermimpi menjadi Lawyer seperti Ayah dan Om-nya. Yang bisa memecahkan segala kasus.
“Arfan nggak bisa datang, sibuk buat tugas akhirnya. Kamu nggak apa-apa kan?” Diaz membahas Arfan sedikit curiga. Viana dan Arfan memang dekat. Tapi mereka berubah dingin entah karena soal apa. Mereka saling menjauh.
Viana tampak ragu. “Nggak apa-apa, Om Diaz. Via ngerti kok kalau Arfan sibuk belajar. Yang penting doanya aja.” Viana sedikit gugup tapi bisa mengontrol. Ia juga memanggil nama Arfan tanpa embel-embel Om seperti pada Diaz. Karena umur mereka tidak jauh beda.
“Sebenarnya―Arfan…” ucapan Diaz terhenti saat seseorang tiba-tiba datang dan duduk untuk bergabung. “Kalian lagi ngomongin Arfan?” tanya Ardan ikut bergabung.
“Arfan kenapa, Diaz?” tanya Ardan penasaran akan ucapan Diaz. Malah berhenti saat ada dirinya.
“Oh itu, Arfan bilang mau kirim paket buat Viana sebagai kado pernikahan.” Kata Diaz berdusta.
“Itu anak benar-benar nyebelin disuruh pulang malah ogah-ogahan. Kayaknya Arfan punya pacar di sana sampai nggak mau pulang ke Indonesia.” Ucap Ardan asal menebak. Sudah hampir dua tahun Arfan tidak pulang. Kalau pulang pas hari perayaan.
Apa Om Arfan sudah punya pacar? Viana merasa hatinya sakit, tangannya mengepal tidak suka mendengar kalau Arfan memiliki kekasih. Tapi harus rela karena Viana sendiri akan menikah. Arfan adalah Om bukan pria seperti pada umumnya.
“Arfan belum punya pacar, Mas. Dia masih fokus buat study. Aku tahu kalau dia sedang tidak menjalani hubungan dengan siapapun.” Sanggah Diaz membela adik bungsu yang beda empat tahun dengannya.
“Mas hanya tidak mau kalau Arfan berbuat aneh di sana. Tahu sendiri pergaulan diluar. Kamu yakin dia nggak menjalani hubungan dengan siapapun? Arfan itu normalkan?” tanya Ardan malah asal menuduh adiknya.
Viana terlonjak kaget begitu pula dengan Diaz. Ardan menuduh kalau Arfan berbelok dan jelas Diaz sebagai kakaknya juga tidak terima.
“Ya ampun Mas, nuduh sembarang sama adiknya sendiri, dia normal, normal. Hanya saja kisah cinta dan perasaan Arfan amat rumit.” bela Diaz.
“Bukan menuduh tapi cuma wanti-wanti loh. Arfan belum pernah pacaran apalagi bawa perempuan.” Ardan bukan menuduh hanya saja dia cemas akan adik bungsu.
“Masih ingin sendiri kali, lagian dia suka sama perempuan tapi nggak bisa dimiliki.” Kata Diaz keceplosan.
“Maksud, Om?” tanya Viana penasaran begitu pula dengan Ardan.
“Nggak bisa dimiliki? Maksud kamu dia suka sama istri orang?” beo Ardan.
Viana serasa jantungnya berhenti saat Ardan mengatakan hal yang memang tidak mungkin untuk seorang Arfan lakukan. Apalagi Arfan harus merusak rumah tangga orang.
Diaz mengusap dadanya. Astagfirullah...“Mas Ardan, jangan suudzon begitu dong. Tanyain langsung sama Arfan kalau mau jelas, kenapa jadi Diaz yang dicecar sih! ” Cetusnya geram.
Diaz menggendong tubuh Sera, berjalan cepat meninggalkan keduanya. Lama-lama kalau mengobrol dengan Ardan bisa-bisa darting.
Kedunya hanya bisa melihat kepergian Diaz dan Sera yang digendong. Mereka bertukar pandang.
“Kenapa tuh Duda?”
Viana mengangkat bahunya. “Pengen nikah kali, Yah.” Mereka terkekeh akan tingkah Diaz yang sensitif.
***
Gimana suka ga? Aku sebenarnya suka sama dua tokoh ini tapi masih bingung alurnya jadi beberapa bulan hiatus setelah udah tau mau kemana alur ceritanya. Bakal aku lanjut. Tapi slow respon.
Terima kasih kalau kalian masih setia menunggu.
jan lama² doonkk thoorrr