Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Suci
Dan benar satu minggu ini, Mersi menjaga Max, ketakutannya Max akan meninggalkannya bersama Arnold anak mereka. Karena dia tahu sampai hari ini, Max belum mencintai dia. Tetapi dia perna bilang, bahwa dia akan bertanggung jawab akan perbuatannya.
Persiapan pernikahan kudus sudah mulai rampung sembilan puluh persen. Dan hari ini keluarga Rehata dari Jakarta sudah tiba di kota Biak Papua, sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan oleh Ino dan Cia. Dan pagi - pagi sekali mereka sudah menjemput dan membawa keluarga mereka ke hotel yang sudah disiapkan dengan pemandangan pantai.
"Kamu pucat sayang."
Mendengar suara mami yang mengatakan keadaan Cia. Ino pun mulai meraba susu tubuh Cia dan membenarkan apa yang di katakan maminya tentang kondisi Cia . Maka dengan cepat mami dan papinya Ino sudah memeriksa Cia di kamar tempat mereka nginap.
"Mungkin kelelahan." Maka mami pun mulai menyuntik vitamin ke tubuh Cia, setelah itu Cia sempat tertidur di kamar itu dengan di jaga oleh papi dan mami. Sementara Ino lagi kembali ke kesatuan.Dua jam lebih Cia tertidur, ketika dia bagun sudah di kamar itu ada mertua dan calon suaminya.
Acara lamaran keluarga Rehata akan dilakukan hari ini. Bersamaan dengan itu juga diantar seserahan buat Gracia Anastasya. Ada lebih dari sepuluh boks antaran yang di atur rapi. Di rumah pak Rudi, sudah berkumpul saudara dari mamanya dan juga dari papanya. Semua anggota Intel turut mengikuti acara lamaran itu. Pemberian kalung berlian di leher Cia, sebagai syarat bahwa Cia resmi menjadi anak mantu dari keluarga Rehata. Di sudut tenda yang terpasang di rumah Cia, Letda Onesimus Max sedang menyendiri duduk, tak terasa air mata penyesalan keluar dari mata seorang tentara.
Gracia Anastasya menggunakan gaun putih panjang beserta tutup kepala yang panjang. Dengan memegang bunga tangan hidup yaitu mawar putih, Cia berjalan dengan di iringi suara musik. Di depan meja altar sudah menunggu Kapten Marinir Martinus Revelino Rehata.
Janji suci pun terucap dari kedua pengantin untuk hidup selama - lamanya sampai maut memisahkan. Karena acara pemberkatan di gereja mulai jam satu siang, maka tepat jam tiga acara resepsi dilaksanakan dengan mengusung tema pesta taman. Yang pemandangannya menuju ke pantai.
Pasukan pedang pora sudah bersiap untuk upacara pedang pora pagi perwira yang menikah. Taman sebelah gereja di sulap oleh wedding organizer yang khusus datang dari Jakarta. Pesta pernikahan antara anak pengusaha rumah sakit Siloam dan anak perempuan dari perusahaan ikan.
Acara berjalan sangat lancar, kesan yang tidak terlupakan waktu mereka meniup lilin yang ada di kue pengantin, dan di akhiri dengan wedding kiss. Dengan gagahnya Ino menutup mulutnya dan Cia istrinya, agar orang - orang tidak melihat adegan itu. Ketika Ino memberi kecupan di bibir dia melepaskan tangannya.
Pemandangan saat matahari terbenam menambah kesan mewah pernikahan Ino dan Cia. Semua tamu undangan menikmati setiap hidangan yang tersedia. Pesta selesai Ino dan Cia memilih bermalam dua hari di hotel bersama keluarganya. Karena rumah dinas belum siap di tempati. Masih ada renovasi kecil.
Ijin nikah Ino masih dua minggu lebih, Ino rencana mau menghabiskan waktu liburnya itu dengan mengeksplor kota tempat tugasnya ini, kota tempat istrinya lahir dan tumbuh besar. Dia tahu bahwa Cianya rindu kota ini, namun karena banyak masalah yang dia pikirkan, wujud pelariannya adalah bekerja di Jakarta seorang diri jauh dari keluarga. Namun takdir berkata lain, perempuan yang dia sayang meninggal.
Dua hari Ino dan Cia menghabiskan waktu di hotel bersama. Semua keluarga Ino sudah kembali ke Jakarta.
"Mas, kita ke rumah dulu ya."
"Rumah mana sayang."
"Rumah yang mas akan membawa adek tinggal bersama mas." Cia memeluk suaminya. Ino tersenyum.
Mereka langsung ke rumah dinas selesai cek out dari hotel. Bagian - bagian yang di renovasi sudah selesai di kerjakan dan rumah sudah bersih. Sisa tuan rumah menata sesuai selera mereka. Ino dan Cia bekerja sama membereskan. Yang pertama ada kamar tidur mereka. Selesai rapi dan bersih, beralih ke ruangan selanjutnya sampai semua beres diselesaikan.
Karena sudah pukul tiga sore, Cia langsung mandi dan tidur. Sedangkan Ino masih pergi membeli makanan kesukaan istrinya. Pulang membawa makan mendapati istrinya sudah tidur. Ino hanya merapikan makanan yang dibeli, kemudian dia mandi dan tidur bersama istrinya. Di peluk tubuh istrinya sangat erat.
"I love you sayang. I love you."
"Mas... Sudah dari tadi."
"Mas pulang kamu tidur, mas sudah rapikan makanannya, mandi dan sekarang ada di samping kamu..... Kamu seksi sayang, mas bisa satu ronde sayang." Muka Cia sudah memerah, menahan malu. Dia pasti tidak akan menolak permintaan suaminya. Karena sebelum menikah mereka sudah membahas semuanya ini waktu mereka berlibur ke Jepang.
"I am your honey."
Ino tersenyum dan langsung mencium istrinya mulai dari kening, seluruh wajah dan bibir, keleher dan tempat sensitif lainnya. Sampai Juniornya lolos didalam rahim istrinya. Satu ronde permintaan suami menjadi dua ronde yang terjadi di kamar mandi. Selesai membersihkan diri mereka, Ino mengendong istrinya di bawa ke kamar.
"Terima kasih sayangku. Kamu segalanya mas."
Selesai makan, membersihkan perabot yang kotor. Ino dan Cia ke rumah masa kecil Cia untuk membawa baju dan seserahan waktu keluarga Ino melamarnya. Di rumah ada papa dan om dan tantenya. Cia merapikan barangnya dibantu oleh mama Icenya sedangkan Ino sedang ngopi bersama papa Rudi, papanya cia dan omnya papa Buce saudara mamanya Cia almarhum.
"Bagaimana dengan kerja Cia di Jakarta nak."
"Cia sudah resign papa. Kebutuhan Cia tanggung jawab Ino, tetapi kalau Cia mau bekerja disini Ino tidak marah."
"Cia akan bekerja sambil mengurus rumah tangga Cia, terlebih suami Cia." Ino tersenyum. Cia sudah bergabung bersama suami, papa dan papa Buce, mama Ice juga.
"Adek bisa urus perusahaannya adek kan. Ngak usah lama disana. Tetapi ade harus tahu perusahan yang mama dan papa bangun buat kamu. Iya kan bung." Om Buce berbicara sambil melihat ke arah iparnya. Karena sekarang Cia tahu bahwa selingkuhannya papanya juga sedang bekerja di perusahaan itu. Ino hanya melihat ke arah istrinya.
Sebenarnya Ino tidak mau mengijinkan. Namun dia tahu bahwa perusahaan yang bergerak di bidang perikanan itu adalah milik istrinya. Dia tidak mau orang asing seenaknya mengambil apa yang menjadi usaha mamanya.
"Ino tidak keberatan." Papanya hanya mengangguk. Dia tahu maksud pembicaraan iparnya itu. Dan dia tidak marah.
"Mobilnya adek juga bisa di bawa. Kan papa punya ada, papa Buce juga ada. Jadi lebih baik selama adek disini gunakanlah mobil itu."
Cia sedih mengingat bagaimana dia mendapatkan mobil itu yang merupakan hadiah dari mama waktu itu mama berkata bahwa hadiah ini diberikan buat anak mama, karena sudah kuat menjalani hari - hari hidupnya yang rumit bersama semua masalah mami. Cia mengingat itu langsung menangis. Om dan tantenya langsung memeluknya.
"Adek ingat mama papa Buce. Terima kasih selalu ada buat adek."
Ino yang melihat keadaan istrinya langsung menciumnya dan memeluk. Papa Rudi, hanya terdiam menangisi apa yang dia perbuat.