Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Berusaha menyadari.
"Disini saja. Nggak apa-apa" Ghara menarik tangan Nada yang akan menghindar darinya.
"Nada mau ke kamar mandi" kata Nada lalu berdiri menuju kamar mandi.
Ghara tersenyum simpul. Istrinya itu memang sungguh berbeda.
Tuhan, apakah ini jalan yang engkau tunjukan? Apakah Nada adalah hikmah di balik musibah?
"Hwaaa.."
Jeritan Nada terdengar di telinga Ghara membuat pria itu berjingkat dan langsung bangun.
"Ada apa dek?" Ghara melihat Nada berlompatan di depan pintu kamar mandi.
"Ada cicak lompat Bang"
"Ya ampun.. cicak aja sampai lompat begini. Bagaimana kalau buaya darat yang lompat" ledek Ghara.
"Ayo masuk.. Sudah nggak ada cicaknya" tanpa sadar tangan Ghara menggandeng Nada kembali masuk ke ruang tengah.
...
"Hmm.. dek. Mulai sekarang Abang pulang kesini"
"Tapi Bang.. bagaimana dengan Mbak Bianca?" tanya Nada.
"Kami jangan pikirkan dia. Seharusnya kamu pikir tentang kita saja" jawab Ghara.
Mendengar suaminya seperti tidak nyaman membahas hal tentang Bianca. Nada diam dan tidak berniat bertanya lagi meskipun ia juga penasaran.
"Lihat film apalagi nih?" tanya Ghara menghilangkan canggung.
"Film Korea Bang"
"Haahh.. berasa jadi oppa aja nih Abang" Ghara segera menyalakan drama Korea.
"Iya Bang.. Oppa gosong. Abang khan hitam" ledek Nada.
"Waahh.. jangan suka meledek, bisa-bisa kamu nanti suka sama black oppa." kata Ghara.
"Nggak lah.. " Nada merebahkan diri menghadap tembok.
Mana mungkin Nada bersaing dengan Mbak Bianca. Nanti ada saatnya Nada pergi dari hidup Abang. Nada nggak akan pernah mungkin mencintaimu Bang. Begitu pula Abang tidak akan mungkin mencintai gadis yang tidak sepadan dengan Nada.
***
"Kurang ajar sekali si Ghara. Kamu harus cari akal. Jangan mau kalah sama si Nada gadis kampung itu" ucap ibu Bianca dengan marah.
"Tapi aku sudah di ceraikan ma. Mana mungkin mas Ghara mau terima aku lagi setelah tau aku berdua dengan Jack" kata Bianca dengan cemas.
"Kamu yang bodoh bisa sampai ketahuan. Pokoknya mama nggak mau tau. Dia harus tetap jadi suamimu. Biar banyak orang takut karena suamimu perwira tentara" kata ibu Bianca.
"Kenapa kamu nggak coba hubungi Nada?" tanya Ibu Bianca.
"Mas Ghara sudah mengganti nomernya. Kita sulit menghubungi Nada" jawab ibu Bianca.
"Pintar-pintarnya kamu lah. Mama besarkan kamu bukan untuk jadi anak bodoh" ucap ibu Bianca.
"Iya Mama. Aahh mama"
***
Ghara memberi salam. Sore ini Ghara pulang kerja dengan badan lelah dan letih. Nada tidak berani bertanya kenapa setiap hari Ghara pulang ke rumahnya disini. Ghara segera mandi dan sholat agar tubuhnya terasa lebih segar. Ia hanya menduga jika suaminya berada disini berarti Bianca tidak ada di rumah berarti mereka sedang bertengkar.
Setelah mandi, Ghara langsung duduk membanting diri di sofa. Pernikahannya dengan Nada sudah tiga bulan lewat. Dan keputusan perceraian antara dirinya dengan Bianca sudah di kabulkan, hanya saja di hukum militer masih sedikit berbelit. Ia ingin sekali segera berpisah secara hukum militer dengan Bianca.
flashback on
"Kami harus mencari bukti kenapa istrimu sampai selingkuh. Mungkin kamu kurang bijak dalam urusan ranjang.. atau nafkah lahir yang kurang" kata Kapten Harun.
"Ijin Bang.. dalam hal ini tidak bisa saya utarakan semua. Yang bisa saya sampaikan hanya.. saya sudah tidak bisa bersama lagi" ucap Ghara dengan jelas dan tegas.
"Baiklah.. tapi kamu harus sabar. Dalam hal ini, tidak semudah membalikan telapak tangan"
"Siap Bang.. saya mengerti"
...
"Kamu dimana mas??? Kenapa kamu nggak hadir di sidang mediasi????? Aku nggak terima pisah sama kamu" teriak Bianca pada sambungan telepon.
"Ini sudah final.. Kita sudah bukan suami istri lagi..!!" kata Ghara menegaskan.
flashback off
"Abang mau kopi?" tanya Nada.
"Nanti saja, duduk di sebelah Abang." Ghara menepuk sofa di sebelahnya. Nada pun segera duduk di sebelah Ghara.
"Kamu sudah sholat?"
"Sudah Bang. Ada apa Bang?"
"Sudah menjelang empat bulan kita menikah. Kita baik-baik saja, aman dan tidak ada masalah. Abang ingin tanya sama kamu. Apa selama kebersamaan kita ini, kamu tidak ada rasa apapun sama Abang?" tanya Ghara.
"Apa maksud Abang? Nada hanya di minta melahirkan anak Abang saja dan setelah nada hamil, tidak ada hubungan lagi di antara kita.. juga setelah anak itu lahir.. Bayi itu adalah milik mbak Bianca dan Abang. Tidak ada nama nada lagi di tengah kalian" jawab Nada dengan suara tercekat.
"Apa alasanmu mau hamil anak Abang?"
"Sawah satu petak di kembalikan pada Nada juga biaya wisuda Nada. Itu harta Nada satu-satunya dari bapak dan ibu"
Ghara menunduk tak menyangka.
"Kamu menjual harga dirimu demi pengembalian sepetak sawah??"
"Iya Bang"
"Kapan kamu wisuda?" tanya Ghara.
"Bulan depan" jawab Nada.
"Berapa semua total uang yang kamu terima untuk dapat semua?"
"Dua puluh juta rupiah" Nada menunduk sedih.
Ghara mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu. Setelah selesai ia menelepon Bianca.
"Sudah saya kembalikan sebanyak dua puluh juta rupiah di rekeningmu. Jangan ganggu Nada lagi..!!"
"Tapi mas........"
tuuuutt....
Ghara memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.
"Abang kenapa lakukan itu. Mbak Bianca bisa marah sama Nada" kata Nada cemas.
"Kamu istri Abang. Biar Abang yang hadapi semua. Mulai sekarang bersikaplah sebagai istri Abang"
Nada menunduk, Ia seperti berjalan di jalan buntu.
"Nada sudah berusaha bersikap layaknya istri Abang. Nada pun berusaha mencintai Abang meskipun awalnya dalam hati Nada tidak ada cinta. Pernikahan ini.. seperti kata Abang.. hanya untuk menyelamatkan garis keturunan Abang"
"Seandainya Abang meminta hak Abang sebagai suamimu.. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Ghara.
"Nggak Bang.. Nada nggak keberatan"
Ghara bergeser mendekat pada Nada. Perlahan tangan itu mendekap Nada. Di ciumnya kening istrinya itu lalu turun ke bibir Istrinya.
Ghara pov
Sudah menjelang tujuh bulan lamanya aku tidak menyentuh hangatnya seorang wanita. Saat ini aku berhadapan dengan Nada. Niti Nada Bintari.. satu-satunya istriku. Aku tak paham dengan isi hatiku.. tapi dekat dengannya membuatku begitu nyaman. Aku yakin belum merasakan cinta, tapi mengapa wajahnya selalu terbayang, hanya dia.. dan dia.
"Kita ke kamar ya?" ajakku
Nada hanya mengangguk. Aku mengangkat tubuh istriku nada masuk ke dalam kamar. Aku menutup pintu kamar dengan rapat lalu segera kubaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Abang buka ya?" tanyaku. Aku mulai penasaran bagaimana saat istriku membuka auratnya di hadapanku.
"Iya Bang.." jawabnya dengan badan bergetar ketakutan.
Kubuka jilbab itu.
"Subhanallah.." ucapku melihat indahnya makhluk ciptaanMu ini.
Aku membaca doa lalu meniupkan di puncak kepala istriku Nada. Aku mencium bibir Nada. Hati-hati sekali. Tak ada balasan kurasakan, dengan sabar aku membimbingnya hingga ia mampu mengimbangi aku. Kutanggalkan pakaian atasku agar ia terbiasa merasakan sentuhanku. Perlahan kubuka pakaiannya. Nada memejamkan mata dan menangis tanpa suara. Hanya air mata berlelehan di sela pipinya. Kuhapus air matanya.. rasanya tak tega melihat Nada menangis sedih.
Ya Allah.. maafkan aku. Mungkin dia tersiksa sekali harus menyerahkan semuanya padaku. Pria yang mungkin sama sekali bukan kriteria dan keinginannya.
"Abang tanya sekali lagi.. kalau Abang melakukannya.. Apa hatimu sudah ikhlas? Abang tidak akan memaksa kalau kamu belum siap" tanyaku
"Maaf Bang.. Nada hanya masih takut" ucapnya menjawab pertanyaan ku. Nada memang masih gemetar dalam dekapanku.
Aku mengecupnya lagi untuk menenangkannya. Telapak tangannya begitu dingin.
.
.
.