Gadis desa yang berasal dari kota kembang, Bandung. Dipersunting seorang Pria kaya raya atas permintaan Sang Ayah, si pria akhirnya menerima hanya untuk menutupi kekasihnya yang ditentang oleh Ayah si Pria dan juga karena sang Ayah sedang sakit parah.
Gadis desa bernama Jamilah, dibawa berbulan madu ke London yang terkenal dengan jam Big Ben-nya. Jamilah DITALAK di malam pertama tanpa disentuh pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Aku menalakmu, Jamilah! Talak 3 sekaligus!"
Di London pula Jamilah akhirnya bertemu bule berpenampilan gelandangan yang ternyata adalah seorang CEO yang akhirnya tergila - gila pada Jamilah.
Kepoin aja yuk>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 7 Bahagia Diatas Penderitaan Jamilah.
21+
Entah sampai kapan Jamilah terus menangis, Ia mengusap air matanya berjalan ke kamar mandi mengambil air wudhu agar lebih tenang. Dia ingin tidur sebentar untuk sholat tahajud, berjalan ke arah tas-nya disimpan ingin memeriksa waktu tapi ponselnya hilang.
"Kemana ponsel teh?" Jamilah membuka lebar tas-nya lalu mengosongkan nya, tapi ponselnya tetap tidak ada.
"Duh, apa terjatuh ya? Mana nggak pakai jam tangan lagi, gimana mau tau waktu disini? Pasti disini nggak akan terdengar adzan," Jamilah terus mencari di setiap sudut kamar, tetapi tetap saja zonk.
"Gimana eneng mau ngabarin Bunda sama Ayah, ya. Besok harus mencari telepon diluar, mudah - mudahan ada. Sekarang terpaksa seadanya aja," lirihnya pasrah.
***
Lain lagi dengan Jamilah yang sedang bersedih dan kebingungan, Arjun sedang menikmati berendam di bathtub bersama Diana, kekasihnya.
Ya, Diana yang merencanakan semuanya. Saat Arjun memberitahu akan menikahi seorang gadis desa atas desakan Ayahnya. Diana pura - pura bersedih dan menerima dengan ikhlas sampai meminta putus pada Arjun.
Arjun yang tidak terima Diana meminta putus, akhirnya meminta waktu pada kekasihnya untuk menceraikan Jamilah. Namun, Diana mengatakan tidak ingin menunggu Arjun jika Arjun menyentuh wanita lain selain dirinya, akhirnya perkataan Diana membuat Arjun merencanakan menceraikan Jamilah di malam pertama.
Kini mereka berdua sedang menikmati fasilitas bulan muda yang seharusnya untuk Jamilah dan Arjun.
"Kamu senang, sayang? Aku sudah bercerai dengan perempuan kampung itu, bahkan sesuai janjiku... aku nggak menyentuhnya sama sekali," bohong arjun, padahal dia sudah berniat ingin mengga uli dulu Jamilah.
"Kamu memang lelaki setia, nggak sia - sia aku juga setia padamu," Diana yang telanjang lalu mulai bergerak ke atas tubuh Arjun yang sama telanjangnya.
"Ayo kita menyalurkan hasrat kita, sayang. Aku merindukanmu, selama beberapa minggu ini karena persiapan pernikahan mu kita nggak bisa ketemu," manja Diana sudah mulai mengggesek - gesekkan tubuh bi nal nya.
"Tubuh mu semakin sexy sayang, apalagi kedua buah kenyal ini semakin menggiurkan," Arjun mulai menyesssap pucuk buah kenyal Diana, tangan besarnya meremas dengan lembut membuat Diana mengerrang diatas tubuhnya.
"Yahhhh... ahhhh... Arjun... kau membuatku semakin mencintaimu... ahhh..." errangnya.
Arjun mulai mengangkat pinggul Diana membantunya memposisikan milik mereka berdua untuk menyatu.
"Ahhhh~" errang mereka berdua bersamaan saat akhirnya si ujang dan si nyai bersatu.
"Milikmu masih saja terasa sempit, kamu pintar menjaga tubuhmu. Aku merasa beruntung mendapatkan mu, Dianaaa... " Arjun mulai bergo yang di bawah, Diana menyempurnakan penyatuan mereka menekan tubuh bagian bawahnya ke atas dan ke bawah mengikuti irama gerakan Arjun.
***
Empat hari berlalu, Jamilah gelisah menunggu Arjun di motel itu. Ia sudah berada di dalam kamar terus menerus, makanan diantarkan ke kamar oleh pihak motel mengatakan Arjun setiap hari menelepon untuk menyediakan makanan untuknya.
Memang benar Arjun sering menelepon pihak Motel, bahkan esoknya setelah Arjun menalak Jamilah lelaki itu menelepon Jamilah melalui telepon motel dan menyuruhnya untuk tidak berusaha mengadu pada orang tuanya atau orang tua Arjun dengan menelepon mereka.
Jamilah menanyakan ponselnya pada Arjun, tetapi lelaki itu menampik sudah mengambil ponselnya. Mengatakan mungkin saja Jamilah menjatuhkan ponsel di suatu tempat, dan Jamilah hanya bisa percaya.
Kini, empat hari telah berlalu. Jamilah sudah pengap berada di dalam kamar, ia berniat untuk mencari udara segar diluar lalu kembali ke motel.