Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumber Luka Terdalam
Joyce mengangguk pelan begitu mendapat arahan dari crew. Dengan langkah pelan namun elegan, gadis itu mulai naik ke arah stage. Senyuman manis tersungging di bibirnya, dan gadis itu berhenti sambil mengedarkan pandangan ke arah ballroom. Melihat salah satu crew memberi isyarat dengan jari telunjuk dan ibu jari dikaitkan, yang merupakan kode kesepakatan mereka, Joyce kembali melangkahkan kaki di atas stage. Dan begitu musik opening dimainkan, langkahnya berubah otomatis menjadi tenang dan penuh percaya diri. Senyum profesional itu kembali terpasang sempurna.
Lampu utama menyorot ke arah panggung.
“Good evening, distinguished guests, ladies and gentlemen…”
Suara Joyce mengalun jelas memenuhi ballroom, terdengar lembut namun bernuansa tegas, yang seakan menghipnotis tamu yang hadir di dalam ballroom..
“Tepat pada malam hari ini, merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk menyambut kehadiran Anda dalam acara launching eksklusif produk terbaru dari Aethera Corporation.”
Seluruh ballroom langsung hening memperhatikan. Joyce melanjutkan dengan artikulasi yang tenang dan elegan.
“Di era yang bergerak begitu cepat, inovasi bukan lagi sekadar pilihan… melainkan kebutuhan. Dan malam ini, kita akan menyaksikan bagaimana teknologi mampu membawa perubahan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.”
Tatapan beberapa tamu mulai fokus penuh kepadanya.
Joyce memang terkenal di kalangan event organizer sebagai MC yang mampu membangun suasana dengan sangat baik. Ia tidak hanya membacakan rundown, namun ia mampu menghidupkan ruangan.
“Without further ado, please welcome the visionary leader behind Aethera Corporation…”
Ia berhenti sejenak. Lampu ballroom meredup perlahan. Dan layar LED mulai menampilkan video company profile dengan musik sinematik yang megah. Joyce tersenyum tipis sebelum mengucapkan nama itu.
“Our respected CEO… Mister Ardian Mahendra.”
Tepuk tangan menggema memenuhi ballroom.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Joyce melihat Ardian berjalan naik ke atas panggung sebagai pusat perhatian semua orang.
Langkahnya tenang. Penuh wibawa.
Sorot lampu membuat sosoknya terlihat semakin karismatik dalam balutan setelan gelap mahal yang dikenakannya. Tatapannya lurus ke depan, namun sempat berhenti sepersekian detik saat melewati Joyce.
Seolah sadar…, bahwa perempuan yang berdiri di samping panggung itu adalah perempuan yang tadi sore menarik perhatiannya.
Ardian menerima microphone dari Joyce.
“Thank you, Ms. Joyce.”
Suaranya rendah dan tenang. Joyce sedikit mengangguk profesional.
“Pleasure to work with you, Sir.”
Namun entah kenapa, saat jemari mereka bersentuhan singkat ketika perpindahan microphone terjadi…, jantung Joyce berdetak sedikit lebih cepat.
Ardian berdiri di tengah stage dengan aura seorang pemimpin yang begitu kuat.
“Malam ini bukan hanya tentang peluncuran produk baru,” ucapnya di depan seluruh tamu.
“Tetapi tentang keberanian untuk terus melangkah maju… bahkan setelah kegagalan, tekanan, dan kehilangan.”
Kalimat itu membuat Joyce tanpa sadar menatap Ardian.
Entah mengapa…, cara lelaki itu berbicara terasa berbeda. Seperti bukan sekadar pidato seorang CEO. Tetapi seperti seseorang yang benar-benar pernah kehilangan sesuatu dalam hidupnya.
Dan malam itu, tanpa Joyce sadari…, pertemuannya dengan Ardian bukanlah kebetulan biasa. Tanpa dia sadari, tiba-tiba dadanya terasa bergemuruh. Perlahan Joyce menghela nafas...
"Sadar Joyce.. sadar. Baru dua hari lalu, kamu dikecewakan laki-laki." seperti tersentak, Joyce kembali mengatur nafasnya.
***********************
Ketika sesi acara inti, Joyce tetap berdiri anggun di sisi panggung sambil memperhatikan Ardian yang sedang menyampaikan presentasinya di depan para tamu undangan. Ballroom dipenuhi cahaya LED futuristik dan tepuk tangan sesekali terdengar ketika video demonstrasi produk diputar.
Namun fokus Joyce perlahan buyar, ketika tanpa sadar saat matanya menangkap dua sosok yang baru memasuki ballroom dari pintu utama. Tubuhnya langsung menegang, dan rahangnya terlihat mengeras. Tidak dipungkiri, masih ada rasa nyeri di sudut hati..
Arka.
Dan Celine.
Mereka datang bergandengan tangan.
Celine mengenakan gaun merah maroon dengan cincin pertunangan yang berkilau jelas di jarinya. Sedangkan Arka tampil rapi dengan jas navy gelap yang sangat familiar bagi Joyce, jas yang dulu pernah mereka pilih bersama saat berbelanja di sebuah mall tiga bulan lalu.
Napas Joyce tercekat seketika.
Kenapa dunia terasa begitu sempit?
Tangannya yang memegang cue card perlahan mengeras.
Di bawah cahaya ballroom, Arka terlihat sama tenangnya seperti biasa. Namun saat pandangannya tanpa sengaja bertemu Joyce yang berdiri di dekat panggung…, langkah lelaki itu berhenti sepersekian detik. Ekspresinya sesaat langsung berubah. Laki-laki itu merasa terkejut, dan terlihat panik. Ada rasa bersalah mebias di matanya.
Sedangkan Joyce setelah sadar, segera mengalihkan pandangan secepat mungkin sebelum luka itu kembali membuka dirinya mentah-mentah.
“Ms. Joyce, prepare for session two,” bisik salah satu kru.
Gadis itu sedikit kaget dan tersentak, kemudian melihat ke arah crew. Namun untungnya dengan cepat, gadis itu menguasai diri. Joyce mengangguk kecil sambil memaksa dirinya tetap profesional. Ia melangkah kembali ke tengah stage setelah presentasi Ardian selesai.
“Tepuk tangan yang meriah untuk Mr. Ardian Mahendra.”
Ballroom dipenuhi applause.
Namun saat Joyce berbicara di atas panggung, ia bisa merasakan tatapan Arka terus mengarah padanya dari meja VIP sebelah kanan. Dan itu membuat dadanya semakin tidak nyaman, namun dia harus tetap menunjukkan performa terbaiknya.
“Selanjutnya kita akan memasuki sesi media presentation…”
Suara Joyce tetap terdengar stabil. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya malam itu, ia sedang berusaha keras agar tidak runtuh untuk kedua kalinya.
Sementara itu, Ardian yang baru turun dari stage tampak memperhatikan perubahan ekspresi Joyce.
Tatapannya mengikuti arah pandang Joyce beberapa saat. Dan ia langsung menangkap sesuatu.
Seorang lelaki di meja VIP terus memperhatikan Joyce dengan tatapan yang terlalu personal untuk dianggap biasa. Ardian sedikit mengernyit.
Naluri tajamnya sebagai CEO yang terbiasa membaca situasi membuatnya sadar…, jika ada sesuatu yang tidak beres. Namun laki-laki itu tetap terlihat tenang, kemudian turun dan duduk di tempat yang disiapkan khusus untuknya. Terlihat dua pengawal, dan asisten pribadi tampak stand bye di sisinya.
Ketika sesi video berlangsung dan lampu ballroom sedikit diredupkan, Arka akhirnya berdiri dari kursinya. Ia berjalan perlahan menuju area backstage. Bahkan laki-laki itu seakan meninggalkan tunangannya tanpa pamitan.
Celine terlihat bingung.
“Arka? Mau ke mana?” gadis itu bertanya dengan khawatir.
Arka menoleh, dan tanpa tersenyum..
“Aku sebentar mau ke rest room.”
Tanpa kata lagi, Arka tetap berjalan ke arah backstage.
Sementara di sisi lain backstage, Joyce sedang mencoba mengatur napasnya sambil menunduk menenangkan diri. Seorang crew mengulurkan air mineral padanya, dan tanpa melihat ke arah crew, Joyce langsung menenggak minuman beberapa teguk.
Sampai suara itu, suara yang dilupakannya terdengar lagi.
“Joyce.”
Tubuh gadis itu langsung membeku. Ia berusaha menutup matanya perlahan sebelum akhirnya berbalik. Laki-laki itu, Arka .., saat ini berdiri beberapa langkah di depannya. Ternyata di dalam hatinya, Arka sepertinya masih menjadi lelaki yang dulu paling ia cintai.
Dan kini… juga menjadi sumber luka terdalamnya.