Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keren!
💒 Dreamy International Highschool
“Apa-apaan ini! Lepasin dia!”
Suara Arsen terdengar keras dari ujung lorong. Ia datang dengan wajah penuh emosi setelah melihat Jeremy berdiri dekat dengan Ily.
Jeremy yang sebelumnya sedang berbicara dengan Ily langsung menoleh dengan ekspresi bingung.
“Hm? Kak… ada apa?” ujar Ily sedikit kaget. “Maaf ya, Kak. Aku tadi cuma ketiduran sebentar di sini.”
Arsen menatap mereka berdua dengan curiga.
“Ketiduran? Terus kenapa kamu kelihatan pucat begitu?”
Ily langsung menjawab cepat.
“Aku cuma lagi nggak enak badan. Makanya ke sini.”
Jeremy yang sejak tadi berdiri di sampingnya terlihat ragu.
“Kalau begitu… sepertinya aku harus pergi. Ada yang mencarimu.”
Ily langsung menahan langkahnya dengan suara cemas.
“Jangan dulu, Kak Jeremy.”
Jeremy berhenti sebentar, tapi wajahnya terlihat tidak nyaman.
“Aku cuma mau ganti pembalut dulu,” lanjut Ily pelan. “Aku takut rokku kotor.”
Arsen yang mendengar kata “darah” langsung salah paham.
“Apa? Darah? Ily, apa yang terjadi? Dia yang menyakitimu?” tanya Arsen dengan nada curiga sambil menatap Jeremy tajam.
Ily langsung menggeleng.
“Kak, jangan menuduh sembarangan. Kamu baru datang dan nggak tahu apa yang terjadi.”
Ia kemudian menatap Arsen dengan nada tegas.
“Lebih baik Kakak pergi dulu. Malam ini keluarga kita juga akan bertemu, kan? Kita bicara nanti saja.”
Namun Arsen tidak bergerak.
“Tidak. Kamu itu tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukanmu sembarangan.”
Ily menghela napas kesal.
“Tidak ada yang memperlakukan aku sembarangan.”
Jeremy yang melihat suasana mulai tidak nyaman akhirnya angkat bicara.
“Sepertinya ini urusan kalian berdua. Aku permisi.”
“Kak Jeremy, jangan pergi!” seru Ily cepat.
Namun Jeremy sudah melangkah pergi.
Dalam pikirannya muncul banyak dugaan. Ia mengira Arsen adalah pacar Ily. Perasaan kecewa tiba-tiba muncul tanpa bisa ia cegah.
Ia bahkan tidak menoleh lagi ketika meninggalkan lorong itu.
Di sisi lain, Arsen masih berdiri dengan wajah tidak senang.
Arsen memang dikenal sebagai siswa yang cukup disegani di sekolah itu. Ia sering terlihat bersama kelompok motor di luar sekolah. Sikapnya yang keras membuat banyak siswa memilih menghindarinya.
Meski begitu, tidak ada guru yang benar-benar berani menegurnya dengan tegas. Semua orang tahu ayah Arsen adalah salah satu pemegang saham terbesar di Dreamy International Highschool.
Sekolah elit itu memang terkenal dengan biaya yang sangat tinggi, dan banyak keluarga konglomerat terlibat di dalamnya.
✨
✨
✨
Keesokan harinya
💒 Dreamy International Highschool
Bel istirahat berbunyi.
Para siswa langsung keluar dari kelas menuju kantin sekolah yang luas dan ramai.
“Lo udah siap belum buat menjalankan rencana kita?” tanya Mia dengan suara pelan.
“Tunggu bentar. Gue mau selesaiin makan dulu,” jawab Lita sambil terus mengunyah.
Setelah meneguk minuman, Lita berdiri.
“Gue ke toilet dulu.”
Tak lama kemudian ia kembali dengan wajah penuh semangat.
“Nah tuh dia lewat. Ayo kita jalankan rencananya.”
Mia mengangguk.
“Baiklah.”
Di sisi lain kantin, Jeremy berjalan melewati kerumunan siswa.
Di belakangnya, Tiara masih terus mengikuti.
“Jer, aku serius. Aku suka sama kamu,” kata Tiara tanpa ragu.
Jeremy langsung berhenti berjalan dan menatapnya dengan ekspresi datar.
“Fokus sekolah dulu. Jangan buang waktu mengejar orang yang tidak tertarik.”
Tiara terdiam.
Jeremy melanjutkan dengan nada tegas.
“Aku tidak suka dikejar-kejar seperti ini. Mengerti?”
Tanpa menunggu jawaban, Jeremy langsung pergi meninggalkan kantin.
Tiara hanya bisa berdiri dengan wajah kecewa.
Di sisi lain koridor, Ily berjalan bersama sahabatnya.
“Kantin yuk,” ajak Ily.
“Ayo. Sekalian gue ajak Edo juga, ya?” kata Nora.
“Boleh kok.”
Mereka pun berjalan menuju kantin.
Namun langkah Ily tiba-tiba melambat ketika melihat seseorang dari kejauhan.
Jeremy.
Saat itu Tiara masih berdiri dekat dengannya.
Jantung Ily langsung berdebar.
DEG.
“Aduh, Nora… dadaku rasanya aneh,” gumam Ily.
Nora langsung menoleh.
“Tenang dulu. Kamu bahkan belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ily menggigit bibirnya pelan.
“Kalau dia punya pacar gimana?”
“Kalau benar begitu, ya sudah. Kamu mundur.”
“Dan kalau tidak?”
Nora tersenyum.
“Ya lanjut saja.”
Ily menghela napas panjang.
“Kenapa sih aku bisa suka banget sama dia… sampai deg-degan terus.”
Nora menepuk bahunya.
“Jangan langsung merasa kalah. Kamu itu cantik dan percaya diri.”
Ily mencoba tersenyum.
“Siapa sih cewek itu?” tanya Ily lagi.
“Tiara. Teman sekelas Jeremy. Dari dulu memang suka mengejar dia.”
“Jeremy suka?”
“Kelihatannya tidak.”
Ily terlihat sedikit lega.
“Ya sudah. Ayo makan dulu.”
Mereka berjalan menuju meja tempat Edo sudah menunggu.
“Lama banget,” kata Edo sambil tersenyum.
Nora langsung duduk di sebelahnya.
“Kamu sudah pesan makanan?”
“Sudah.”
Edo kemudian menatap Ily.
“Jeremy tadi kelihatan kesal. Dia pergi ke arah taman belakang.”
Nora langsung menatap Ily penuh arti.
“Itu kesempatanmu.”
Ily terlihat gugup.
“Sekarang?”
Nora mengangguk.
“Sekarang.”
Di tangga dekat kantin, Mia dan Lita sudah bersiap menjalankan rencana mereka.
“Kalau dia lewat, gue dorong kamu sedikit,” bisik Mia.
“Terus gue pura-pura jatuh?”
“Betul.”
Beberapa detik kemudian Jeremy berjalan melewati tangga itu.
“Sekarang!” bisik Mia.
Lita langsung berteriak.
“Tolong! Jeremy!”
Namun sesuatu terjadi di luar rencana mereka.
Seseorang tiba-tiba menarik Jeremy menjauh dari area tangga.
Jeremy terkejut ketika melihat siapa yang menariknya.
“Ily?”
Namun sebelum ia sempat bertanya, terdengar suara keras dari belakang mereka.
BRUG!
Lita benar-benar jatuh di tangga.
“Argghh… sakit!”
Para siswa langsung menoleh ke arah suara itu.
Jeremy dan Ily juga ikut menoleh dengan wajah terkejut.
DEG.
To be continued…