Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat penyakitnya di ketahuan
Mobil jenis sedan hitam melaju mulus membelah jalanan malam yang memancarkan pendar lampu kota. Di dalam kabin yang senyap, Celeste duduk kaku di kursi penumpang belakang. Malam ini, Eleanor mengajaknya melakukan pemeriksaan medis menyeluruh di rumah sakit swasta milik keluarga St. Claire.
Bagi keluarga konglomerat itu, ini adalah prosedur wajib sebelum acara pernikahan digelar. Calon menantu mereka harus dipastikan memiliki tubuh yang sehat dan bebas dari penyakit berbahaya. Selain itu, mereka juga menjadwalkan sesi fitting baju pengantin seusai pemeriksaan selesai.
Jantung Celeste berdegup kencang tanpa henti. Telapak tangannya terasa dingin dan basah oleh keringat. Ia gugup setengah mati. Rahasia penyakit langkanya Xeroderma Pigmentosum yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh keluarganya terancam terbongkar malam ini.
Celeste menunduk, memandangi gaun selutut berwarna krem yang dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang ia kenakan. Demi menyesuaikan status sebagai calon istri seorang St. Claire, ia dipaksa untuk tampil lebih modis dan anggun.
Celeste memberanikan diri melirik ke sampingnya. Eleanor duduk tegak, memancarkan pesona wanita paruh baya yang teramat cantik dan berwibawa, meski ada beberapa helai rambut peraknya yang menyelinap halus. Sifat Eleanor yang tegas dan belum menyunggingkan senyum ramah sejak awal pertemuan membuat Celeste merasa segan bukan takut, melainkan sungkan yang amat sangat.
"Pendidikan terakhirmu apa, Celeste?" suara Eleanor memecah keheningan kabin. Nada bicaranya datar namun sarat akan tuntutan.
Celeste tersentak kecil sebelum menjawab dengan jujur. "Saya... saya menamatkan pendidikan sekolah menengah lewat program homeschooling, Nyonya. Lalu melanjutkan kuliah daring jurusan Seni Rupa."
Eleanor mengangguk-angguk pelan, menyimak. "Lalu, keterampilan apa yang kamu kuasai? Keluarga kami menghargai wanita yang memiliki bakat."
"Saya bisa melukis, bermain piano, dan menyulam," jawab Celeste apa adanya, meremas jemarinya sendiri. "Segala hal yang bisa dikerjakan di dalam ruangan... saya menguasainya dengan cukup baik."
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa saat, sebelum Eleanor melontarkan pertanyaan berikutnya yang seketika membuat darah Celeste berhenti mengalir.
"Bagaimana dengan kesucianmu? Apakah kamu masih perawan?" tanya Eleanor tanpa basa-basi, tatapannya lurus menatap ke depan.
Deg!
Celeste mematung seketika. Lidahnya terasa kelu, dadanya bergemuruh hebat. Otaknya berputar keras mencari kebohongan, namun tatapan tajam Eleanor dari kaca spion tengah seolah mampu menembus isi kepalanya. Celeste menghela napas panjang dan menunduk pasrah.
"Saya... saya sudah tidak perawan, Nyonya," cicit Celeste jujur, suaranya hampir tenggelam oleh derum mesin mobil.
Eleanor menghentikan gerakan tangannya. Alisnya bertaut tajam. Mengingat syarat aneh Celeste kemarin yang mengatakan bahwa kehidupannya hanya ada di malam hari, Eleanor langsung menarik kesimpulan liar.
"Jadi, kamu wanita malam?" tanya Eleanor, nadanya mendadak dingin dan memprotes. "Siapa laki-laki terakhir yang tidur bersamamu?"
Muka Celeste memerah padam sampai ke telinga. Ia menyilang tangannya di pangkuannya, menggeleng cepat. "Bukan... bukan seperti itu, Nyonya! Itu bukan laki-laki 'terakhir'... tapi pria pertama dan satu-satunya. Kami melakukannya dalam pengaruh alkohol."
"Siapa pria itu?" desak Eleanor, menatap Celeste penuh selidik.
Dengan rasa malu yang memuncak dan bibir bergetar, Celeste berbisik, "Lucian... Pria itu adalah Lucian, Nyonya."
Seketika, raut wajah Eleanor yang tadinya dingin dan datar berubah total menjadi heboh. Wibawa mahalnya seolah luntur dalam sekejap.
"Apa?! Kapan itu terjadi?! Lucian yang melakukan itu padamu?!" cecar Eleanor dengan mata membelalak lebar.
Celeste terkaget-kaget melihat perubahan drastis pada calon ibu mertuanya itu. Namun, keterkejutan Eleanor justru membuat rasa tegang Celeste sedikit mengendur.
"Dua hari yang lalu, Nyonya..." jawab Celeste ragu-ragu. "Kami tidak sengaja bertemu di bar. Kami berdua dalam pengaruh alkohol dan... semuanya terjadi begitu saja di kamar hotel. Saya sangat malu untuk mengatakannya, tapi saya tidak tahu apakah Lucian menyadari bahwa wanita itu adalah saya."
Di balik raut terkejutnya, Eleanor diam-diam menyembunyikan senyum tipis yang merekah di bibirnya. Astaga, Lucian! batin Eleanor bersorak lega. Sekarang ia paham betul mengapa anak laki-lakinya yang dingin itu mendadak menerima perjodohan dan begitu mantap mengangguk tadi malam. Ternyata anak bujangnya sendiri yang telah merenggut kesucian gadis ini!
Eleanor membayangkan skenario terbaik di kepalanya. Jika Celeste sampai mengandung benih dari Lucian, pernikahan ini tidak hanya sekadar ikatan bisnis, melainkan pernikahan sungguhan yang akan awet karena kehadiran seorang cucu untuk keluarga St. Claire.
Tak lama kemudian, mobil mereka tiba di area parkir khusus rumah sakit St. Claire Medical Center. Celeste dituntun menuju ruang pemeriksaan eksklusif yang sangat tertutup.
Seorang dokter wanita paruh baya bertag nama dr. Helena menyambut mereka dengan senyum profesional. Sebelum pemeriksaan darah dan organ dalam dilakukan, Celeste diminta untuk melepas seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian dalam di tubuhnya.
Dengan wajah memerah akibat rasa malu yang luar biasa, Celeste membelakangi mereka dan perlahan menanggalkan gaun indahnya.
Eleanor yang berdiri di sudut ruangan meneliti sosok calon menantunya. Kulit Celeste terlihat sangat putih pucat hampir transparan, namun begitu mulus dan bersih tanpa cela. Bentuk tubuhnya sangat proporsional, pinggangnya ramping, dan dadanya terawat indah.
"Tubuhmu sangat cantik, Celeste. Proporsi yang sempurna," puji Eleanor tulus, membuat Celeste semakin menundukkan kepala seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Pemeriksaan awal berjalan lancar. Dokter memeriksa tekanan darah, sampel darah, dan USG organ reproduksi.
"Secara keseluruhan, kondisi rahim dan organ reproduksi Nona Celeste sangat subur dan sehat. Tidak ada tanda-tanda penyakit menular seksual," puji dr. Helena seraya membolak-balik lembar dokumen medis yang baru saja dicetak oleh mesin.
Celeste bernapas lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.
Dokter Helena mendadak menghentikan pembacaan berkasnya. Dahinya berkerut dalam saat membaca lembar hasil tes laboratorium lanjutan. Suasana di dalam ruang pemeriksaan yang tenang mendadak berubah menjadi sangat tegang.
"Ada apa, Dokter?" tanya Eleanor, menyadari perubahan ekspresi sang dokter pribadi.
Dokter Helena menatap Eleanor, lalu beralih menatap Celeste dengan tatapan prihatin dan terkejut.
"Nyonya Eleanor... ada hasil tes yang sangat mengkhawatirkan," ujar dr. Helena dengan suara berat. "Nona Celeste mengidap sebuah kelainan genetik yang sangat langka. Penyakit ini..."