Sebuah pertemuan yang tidak terduga terjadi pada Mariana purnama, yang akan mengubah hidup nya, akibat salah sasaran kebencian dan juga dendam dari seorang bos mafia, yang di kenal sebagai Hansen Deen.yang punya pengaruh dan kuasa besar di negara A.
pertemuan yang awalnya tidak di sengaja untuk Ana malah menjadi pertemuan yang akan membawa nya dalam masalah besar untuk hidup nya.
SELAMAT MEMBACA ,SEMOGA TERTARIK😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 5
"Apa keluarga mu ada di sini?" Tanya nya, matanya mencari.
"Aku tidak memiliki keluarga!
"lalu selama kamu terluka di rumah sakit siapa yang mengurus semua nya?"
"Aku mengurus diri ku sendiri!" Balas hansen, sandiwara nya begitu meyakinkan. Sehingga membuat Ana percaya.
"Kenapa para warga tidak menghubungi nomer ku," Keluh nya, kasihan.
"Apa kamu memberikan nomer mu pada mereka?"
"Iya, karna aku pikir jika mereka dalam masalah aku bisa membantu," balas nya. Menyesal.
Hansen terdiam, dalam pikiran nya. Ia tidak menyangka ternyata Ana tidak meninggalkan nya begitu saja saat itu.
Pada saat warga dalam perjalanan mengantar nya ke rumah sakit. Mereka bertemu dengan Ares sehingga warga tidak sampai membawa nya ke rumah sakit dan mereka lupa untuk memberikan nomer yang saat itu beri.
"Ada apa?" Tanya Ana bingung melihat nya melamun, ia melirik kembali luka di perut Hansen,
" Tuan sebaik nya kamu kembali ke rumah sakit. Luka mu bisa infeksi jika tidak di rawat dengan benar!"
"Tidak perlu aku bisa mengurus nya sendiri di rumah!"
"Mana bisa seperti itu, lihat darah nya semakin banyak! Ayo aku akan bantu kamu kembali ke rumah sakit!"
"Tidak perlu, aku bisa mengobati nya nanti!" Tolak nya.
"Tuan, rumah sakit adalah tempat terbaik untuk mengobati luka mu!" .
Hansen menghela nafas panjang expresi nya terlihat menyedihkan." Sebenar nya aku tidak punya uang lagi untuk tetap di rumah sakit!" Ucap nya,
Ana terpaku diam sampai tidak bisa berkata apapun lagi. Karena terlalu kasihan dengan pria yang ada di hadapannya itu
"Apa kamu benar-benar tidak punya kerabat yang bisa membantu mu?!" Tanya nya, berharap agar pikiran nya salah.
Hansen hanya menggeleng pelan menjawab kalimat Ana, sehingga membuat hati nya tersentuh, tidak tega jika membiarkan Hansen yang begitu menyedihkan ia tinggal begitu saja sendiri.
Ia menatap plastik obat yang ada di tangan Hansen.
"begini saja, aku akan bantu kamu kembali ke rumah sakit!" ucap nya,
"Tidak nona!"
"Kenapa? Lihat darah di perut mu terus terbuka!" menunjuk cemas.
Hansen hanya diam seakan ia tidak bisa kembali ke rumah sakit. Sehingga membuat ana semakin kasihan pada nya.
"begini saja, aku akan bantu membayar untuk rawat inap beberpa hari!"
Hansen tertegun kaget mendengar ucapan Ana." Nona, apa kau yakin?"
"Tentu, ayo aku akan mengurus semua nya!" ia menarik pergelangan tangan Hansen untuk kembali ke rumah sakit.
Hansen hanya tersenyum tipis melihat Ana yang begitu percaya diri ingin membayar semua tagihan rumah sakit.
"Nona, apa kamu tau satu hari rawat inap seharga 3 juta, untuk kelas bawah!" ucap nya, mematahkan semangat nya.
Langkah Ana seketika terhenti, ia berdiam diri dengan wajah malu. Setelah mendengar biaya rumah sakit untuk rawat inap yang sangat mahal. Bahkan uang tabungan yang ia miliki hanya ada 5 juta, sebelum nya ia juga memberikan 1juta untuk para warga yang mengantar Hansen ke rumah sakit.
Ana berbalik ke arah Hansen dengan wajah canggung "Apa semahal itu?" tanya nya, malu.
niat ingin membantu tapi malah gagal.
Hansen hanya mengangguk pelan.
Ana tidak menyangka kalau para warga membawa Hansen ke rumah sakit yang sangat mahal.
"Emm.. sebenar nya aku tidak punya uang sebanyak itu!" ucap nya, malu ia menatap pria di depan nya cukup lama, niat menolong nya sudah setengah jalan jika ia meninggalkan nya begitu saja itu terlalu kejam bagi Ana. Ia melihat Wajah pria itu terlihat tidak seperti orang jahat.
"kalau begitu Aku akan bantu merawat luka mu sampai sembuh!" Kalimat nya terucap tanpa ragu.
Hansen tertegun kaget melihat Ana langsung percaya dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal sebelum nya.
"Nona apa kamu serius!" Meyakinkan kan
"Aku lihat kamu seperti nya orang yang jujur!" Balas nya percaya diri.
Ana mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Nama ku Mariana, kamu bisa panggil aku Ana! "
Hansen tersenyum kecil menjabat tangan Ana. "Aku Hansen! Salam kenal, Ana!" Balas nya. Tegas ketika menyebut nama Ana.
Karena kepolosan Ana ia akhirnya masuk dalam perangkap Hansen yang sengaja sudah ia rencanakan sejak awal untuk mendekati nya.
Ana mengantar Hansen ke alamat tempat ia tinggal yang sebelum nya juga sudah ia siapkan sebelum rencana nya berjalan.
Sebelum itu ia menyelidiki identitas Ana serta mencari tahu Apartemen tempat ia akan tinggal nanti nya. Sehingga Hansen juga membeli salah satu Apartemen yang sama di sebelah Ana.
Ana sempat heran dengan kebetulan yang terjadi. Namun karna ia terlalu polos dan baik jadi ia tidak curiga dengan kebetulan yang terjadi..
"Kebetulan sekali, aku juga akan tinggal di apartemen no 34 Minggu depan!"
"Benarkah? itu berati kita akan bertetangga, bukankah ini takdir!"
"mungkin? Kalau begitu aku antar kamu pulang!" Ana tersenyum kecil.
Ia masuk kedalam mobil yang tadi sudah ia pesan lalu mengubah alamat tujuan nya ke apartemen.
Langkah Hansen mengikuti Ana masuk ke dalam mobil. Mereka duduk berdampingan.
Selama di mobil Hansen curi-curi pandang. Menatap Ana yang menurut nya sebagai gadis yang manis. Sayang nya ia mendekati nya hanya untuk sebuah dendam .
.
.
.
3 tahun lalu sebelum hari pernikahan nya. wanita yang akan menjadi istri nya harus tewas satu hari sebelum pernikahan mereka di langsungkan.
Calon istri nya yang baru saja keluar dari toko gaun pernikahan, tiba-tiba di tabrak oleh mobil yang hilang kendali sampai Tubuh nya terlempar cukup jauh dari lokasi kejadian. Saat itu Hansen sedang tidak bersama nya sehingga ia gagal melindungi orang yang paling ia jaga.
Ia hanya mendapat kabar kalau kekasih nya telah meninggal dalam kecelakaan.
Ia sangat terpukul mendengar kabar itu. Saat ia melihat jasad calon istri nya untuk terakhir kali, tanpa sengaja ia melihat ada bekas operasi besar di bagian dada. Ia curiga ada yang janggal dengan itu. Ia memaksa pihak rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan organ dalam. Namun karena panik dan takut. Akhirnya dokter yang merawat jasad calon istri nya mengaku.
Kalau sebelum pasien meninggal dia mengatakan ingin mendonorkan jantungnya pada seorang gadis SMA yang membutuhkan donor jantung.
Hansen mengamuk saat itu juga karena pihak rumah sakit melakukan kesalahan fatal dengan melakukan operasi besar tanpa persetujuan diri nya. Tapi pihak rumah sakit menepis tuduhan itu. Karena mereka mempunyai bukti langsung dari pihak pertama dan kedua, pendonor juga keluarga pendonor.
Karena bukti yang di berikan rumah sakit sangat kuat, Hansen tidak bisa menuntut nya.
Ia marah dengan diri sendiri karena saat itu ia tidak punya kekuasaan besar yang membuat nya kesulitan untuk menyelidiki kasus calon istri nya.
Karena tidak punya jalan lain. untuk terakhir kali nya ia meminta data penerima donor. Pihak rumah sakit memberikan data itu namun setelah di selidiki itu data palsu. Hansen sampai di buat murka oleh mereka namun pihak rumah sakit juga tidak tau kalau itu adalah data palsu. Jelas-jelas data penerima donor adalah asli.
Hansen sampai lelah berurusan dengan pihak rumah sakit yang tidak menemukan titik terang. Ia berhenti hari itu juga.
Namun ia tidak berhenti untuk mencari kebenaran sehingga selama 3 tahun ini ia terus membesarkan nama dan kekuasaan nya sehingga memiliki identitas besar juga koneksi yang kuat.
Setelah berjuang selama 3 tahun akhirnya ia bisa menemukan keberadaan si pendonor yang ternyata adalah ,Ana!
Saat itu usia Ana masih 19 tahun. Entah sejak kapan ia punya penyakit jantung yang serius sehingga ia harus segera mendapat donor jantung dalam waktu yang singkat jika tidak nyawa nya tidak akan tertolong.
Entah dari mana tiba-tiba dokter yang menangani penyakit Ana memberi kabar kalau ada pendonor yang cocok dengan nya. Sehingga hari itu juga kedua orang tua Ana pergi ke rumah sakit kota. Untuk menjalani operasi besar.
Namun Ana tidak tahu apapun tentang jantung milik nya saat ini sebab orang tua nya tidak pernah mengatakan apapun tentang itu.
Sejak saat itu keberadaan Ana terus di cari oleh Hansen. Sampai akhirnya ia menemukan Ana di waktu yang tak terduga.
.
.
.
Setalah sampai di tujuan mereka langsung naik ke lantai sepuluh dan berhenti di kamar no 35.
Hansen mempersilahkan Ana masuk kedalam. Ia mengambil kotak obat yang ana minta untuk mengganti perban yang sudah rusak.
Ana begitu hati-hati saat membersihkan luka di perut Hansen.
Setelah selesai mengganti perban, Ana meminta nomer ponsel Hansen, agar lebih mudah menghubungi nya saat akan mengganti perban lagi.
Setelah mendapat nomer ponsel nya, Ana langsung pergi meninggalkan Hansen yang masih berdiri di depan pintu apartemen menatap nya hingga menghilang di balik pintu lift.
Ia segera menelfon Ares untuk menjemput nya . Setelah memastikan Ana pergi.
Tidak lama Ares datang melihat Hansen yang menunggu di luar gedung apartemen.
Ares melirik Hansen dari kaca melihat nya bersandar memejam kan mata di kursi belakang. "Bos kenapa kamu mendekati nona Ana? Kenapa tidak langsung.." ia mengisyaratkan tangan di leher.
Yang berarti menghabisi .
" Aku ingin mempermainkan nya dulu sebelum mengirim nya bertemu dengan Alexa!" Bicara sambil terus terpejam.
"Tapi apa itu tidak terlalu kejam, aku jadi kasihan dengan gadis itu!" Keluh Ares.
Hansen membuka mata nya, terlihat sorot matanya tajam melirik Ares " jika kasihan Kamu bisa menggantikan nya!" Gertak nya dingin.
Ares langsung menutup mulut nya rapat-rapat ia tidak Bernai lagi berkomentar dan langsung fokus menyetir sampai mereka tiba di mansion.
Setelah melihat Hansen turun dari mobil Ares langsung pergi.
Sebenar nya Sejak Ares mengetahui Ana adalah gadis yang sangat baik ia jadi tidak tega jika melihat nya di permainkan oleh Hansen dengan sangat kejam. Namun ia juga tidak bisa membantah atau mengatur bos nya .
Ares hanya bisa berharap nasib gadis itu berubah baik meski itu mustahil.
Karena siapapun orang sudah berurusan dengan Hansen, hidup orang itu tidak akan berakhir baik.
.
.
.
.
Bersambung