"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Akrab
Selamat membaca!
Setelah insiden yang terjadi beberapa jam lalu, Melani tetap bersikekeh untuk membawa Revan ke klinik terdekat, walau pria itu menolak dengan alasan bisa mengobati lukanya sendiri menggunakan beberapa obat yang berada di kotak P3K dalam mobilnya.
Di sana Revan baru saja mendapatkan penanganan oleh dokter dengan mengobati luka-luka yang ada di siku dan juga dahinya menggunakan obat antiseptik dan terakhir menutupnya dengan perban putih yang ditempel plester.
"Tuan, gimana keadaanmu, apa sudah baikan?" tanya Melani yang sejak tadi selalu setia menemani Revan di dalam ruang dokter, sedangkan Diana menunggu di luar.
Revan tersenyum untuk mengurai kecemasan Melani yang sejak tadi menaungi paras cantiknya. "Mel, udahan ya cemasnya. Saya itu baik-baik saja kok, ini cuma luka ringan dan sekarang sudah selesai diobati. Kita keluar yuk!" ajak Revan yang tinggal menunggu dokter kembali dengan resep obatnya.
"Tapi 'kan obatnya belum Tuan?" Melani menjawab dengan rasa cemas yang masih bertahta dalam pikirannya.
"Mel, ngapain pakai obat segala sih? Saya tuh sudah baikan dan enggak perlu minum obat segala. Lagian saya tuh paling enggak suka minum obat. Sudah yuk, kita keluar dan temui Mama Diana!" jawab Revan sambil menggenggam lengan Melani dengan erat dan beranjak keluar dari ruangan tanpa menunggu dokter itu kembali ke ruangannya.
Melani sempat terhenyak karena genggaman tangan itu seketika membuat debaran jantungnya berdetak tak karuan. "Tuan..." Belum sempat Melani menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Revan menempelkan jari telunjuknya di permukaan bibir wanita itu. Hingga membuat langkah mereka terhenti di depan pintu sebelum keluar dari ruangan.
"Jangan panggil saya Tuan lagi mulai sekarang. Kamu boleh panggil nama saya atau apa saja selain Tuan!" titah Revan membuat Melani kesulitan menelan salivanya sendiri karena bibirnya disentuh oleh jari Revan.
Setelah beberapa detik wanita itu terdiam dan hanya menatap wajah atasannya itu, kini Melani pun mulai mengurai keterbungkamannya dengan melepas jari telunjuk Revan yang masih menempel erat pada bibirnya dan langsung melontarkan sebuah pertanyaan.
"Tapi, kamu 'kan atasan saya di kantor, Tuan, bagaimana mungkin saya bisa memanggil Tuan dengan nama lainnya?" tanya Melani dengan kening yang mengerut dalam.
Menanggapi pertanyaan Melani, Revan pun tersenyum sambil menampilkan sisi baik dalam dirinya. "Nurut sama saya ya, Mel! Mulai sekarang saya mau kamu tidak canggung lagi dan santai ketika berbicara dengan saya. Bisa 'kan?" tanya Revan sambil menatap dalam wajah Melani yang saat ini ada di hadapannya.
Wanita itu pun menghirup napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Revan. "Baiklah, saya akan menuruti permintaan kamu, Revan," ucap wanita berparas cantik itu, walau lidahnya terasa kelu saat mengatakannya.
Revan bertepuk tangan lalu mencubit pipi Melani dengan gemas. "Betul sekali. Kamu memang wanita yang sangat cerdas. Kalau sudah begini, kita akan semakin santai saat berbicara di depan Mama Diana atau di depan keluarga saya! Terima kasih ya, Mel karena kamu selalu menuruti apapun permintaan saya."
Melani tersenyum hangat menanggapi perkataan Revan. "Harusnya saya yang bilang makasih. Makasih ya karena kamu sudah menyelamatkan Mama, saya enggak tahu apa jadinya kalau sampai Mama kenapa-kenapa tadi," ucap Melani dengan raut sendu di wajahnya saat mengatakan kalimat terakhir yang tak bisa ia bayangkan, seandainya ibu yang sangat dicintainya sampai terluka dan tertabrak mobil.
"Sama-sama, Mel. Sekarang kamu enggak sedih lagi karena Mama kamu baik-baik saja. Ya sudah yuk, kita keluar dan temui Mama Diana!" ajak Revan melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Setelah keluar dari ruang dokter, kini keduanya langsung disambut dengan sebuah pertanyaan dari Diana yang sejak tadi sudah merasa cemas menunggu kabar dari keduanya.
"Nak Revan, gimana keadaan kamu?" tanya Diana dengan rasa cemas yang sejak tadi terus bertahta di dalam pikirannya.
"Mah, Revan sudah baikan kok. Sekarang Mama jangan cemas lagi ya. Oh ya, aku antar Mama makan kerak telor dan selendang mayang yuk!" ajak Revan yang masih mengingat, bahwa Diana sangat menginginkan makan makanan khas Betawi.
Kini Diana dapat bernapas dengan lega setelah mendengar penuturan dari Revan. "Lupain aja ya soal makanan itu, Mama bisa makan lain waktu kok, yang terpenting sekarang kamu pulang dan harus banyak istirahat karena tinggal beberapa hari lagi kalian akan pergi ke Paris untuk pre-wed. Oh ya, Mel, kamu antar Revan pulang ya!"
Melani menatap wajah Diana dengan sorot mata yang tak setuju karena Melani masih memiliki rencana untuk mengajak Diana berbelanja di salah satu mall elite yang memang akan menjadi destinasi berikutnya setelah dari Kota Tua.
"Mel, sekarang giliran kamu yang antar calon suamimu pulang karena dia lagi sakit. Kita bisa ke mall kapan-kapan ya, masih banyak waktu kok," ucap Diana yang sudah mengerti sorot mata anaknya yang mengisyaratkan ketidaksetujuan atas ucapannya.
"Terus Mama pulangnya gimana?" tanya Melani karena mobilnya hanya berkapasitas dua orang penumpang saja.
"Mama bisa pesan taksi online, kamu jangan cemaskan itu Mel!"
"Biar Mama dijemput sama supirku aja ya. Sebentar aku telepon Beno dulu," ucap Revan yang ternyata diam-diam sangat setuju atas permintaan Diana yang meminta Melani untuk mengantarkannya pulang ke apartemen karena memang ada sesuatu yang ingin dibicarakan juga dengan Melani.
Saat Revan pamit keluar untuk menghubungi supirnya, Diana mengajak Melani untuk duduk bersamanya dan ia pun mulai mengusap punggung putrinya yang saat ini wajahnya terlihat masam.
"Mel, kamu harus ikhlas ya antar calon suamimu pulang, jangan cemberut gitu dong. Kamu 'kan bisa ajak Mama ke mall Minggu depan karena ada yang lebih penting untuk kamu pikirkan sekarang yaitu Revan, kalian 'kan beberapa Minggu lagi akan menikah dan orang yang harus kamu utamakan adalah suamimu bukan lagi ibumu, kamu harus berbakti padanya agar mendapat ridho Allah dan inilah waktunya kamu latihan untuk bisa menjadi istri yang baik, dengan mengantarkan Revan pulang karena dia sudah berkorban untuk menyelamatkan nyawa Mama."
Melani mulai tersadar setelah mendengar ucapan Diana, ia pun segera menyingkirkan raut wajahnya yang masam karena rencana yang telah tersusun rapi kini berubah tak sesuai dengan harapannya. "Iya Mah, sekarang aku paham. Makasih ya karena Mama selalu mengingatkanku tentang hal-hal yang baik," ucap wanita itu seraya menampilkan seulas senyuman hangat.
Setelah 20 menit berlalu, kini Revan kembali masuk bersama Beno, supir yang sudah bekerja selama tujuh tahun di rumah kediaman keluarga Haditama.
"Mah, ini Beno sudah datang karena kebetulan dia lagi antar Kakak aku ke Mangga Dua Square yang enggak jauh dari sini, jadi sekarang Mama diantar pulang sama Beno naik mobilku ya! Mah, nanti kalau sudah sampai di rumah, Mama langsung istirahat ya, nanti aku bakal kirim sesuatu ke rumah!" ucap Revan dengan sangat ramah.
"Ah, enggak perlu kirim apa-apalah, Van. Kamu juga harus banyak istirahat ya, makasih karena kamu sampai repot-repot nyuruh Beno untuk anterin Mama pulang. Mama jadi enggak enak sama Kakak kamu, Van."
"Sama-sama, Mah. Reva bisa nyetir sendiri kok, jadi dia akan aman pulang bersama anak-anaknya." Revan pun mulai mengajak Melani dan Diana untuk keluar dari klinik, lalu memerintahkan Beno untuk mengambil mobilnya yang masih terparkir di cafe dan menjemput Diana di depan klinik.
Beberapa menit kemudian, mobil mewah milik Revan yang kini dikendarai oleh Beno sudah tiba di pelataran klinik. Revan pun mulai membukakan pintu dan mempersilakan Diana untuk masuk.
"Ben, jangan ngebut-ngebut ya. Habis antar Mama Diana ke rumahnya, mobil ini langsung bawa pulang aja ke rumah Daddy, besok saya ambil."
"Siap, Tuan." Beno menjawab dengan tegas, lalu ia mulai melajukan kendaraan meninggalkan pelataran klinik.
Kini tinggallah Revan dan Melani berduaan di sana, keduanya pun saling menatap singkat sebelum akhirnya Revan mulai melontarkan sebuah pertanyaan kepada Melani. "Mau jalan sekarang?" tanya Revan yang membuat Melani jadi tertegun dari lamunannya.
Melani menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis. "Ayo, biar saya yang nyetir ya!" jawabnya sambil melangkah menuju Lamborghini yang terparkir di seberangnya dan segera disusul oleh Revan.
Akhirnya keduanya pun mulai menyebrangi jalan dengan hati-hati dan saat mereka sudah tiba di dekat mobil milik Melani, ponsel milik Revan berdering dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Mel, sebentar ya saya jawab telepon dari teman saya dulu."
"Iya Van, saya tunggu di dalam mobil ya." Melani pun membuka pintu mobil mewahnya untuk duduk di kursi kemudi.
Di luar mobil, Revan mulai menjauhi mobil Melani agar saat ia berbicara dengan seseorang di sambungan teleponnya, wanita itu tak dapat mendengarnya.
Setelah merasa jaraknya cukup aman, Revan pun mulai menjawab panggilan telepon yang masuk di ponselnya.
📱"Thanks ya Bro karena lo sudah mau bantuin gue," ucap Revan mengawali percakapannya.
📱"Tapi gimana keadaan lo? Sorry ya Bro, kalau seandainya tadi gue hampir saja bikin celaka lo, lagian lo ada-ada saja pakai ngelakuin itu segala."
📱"Santai, gue baik-baik saja kok. Lagian dengan begitu semua jadi terkesan bukan settingan, Bro. Ya sudah ya Bro, nanti gue telepon lagi deh. Pokoknya thanks berat ya, Bro."
Revan pun memutuskan sambungan teleponnya dan kembali menyimpan benda pipih miliknya ke dalam saku jasnya.
"Untung saja Rafi mau bantuin aku, tapi bisa kebetulan banget Melani dan Mama Diana ada di Kota Tua, jadinya 'kan aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk meluluhkan hati Melani, agar nanti saat aku memintanya untuk melakukan nikah kontrak, aku tidak perlu menawarkan apapun lagi padanya. Lagipula untuk kontrak selama dua bulan ini saja aku sudah mengeluarkan banyak uang untuknya, belum lagi apartemen dan mobil mewah itu," batin Revan menyeringai penuh rencana.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak.