Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Selesai membuat sarapan Fiona naik ke atas untuk mengambil pakaian yang akan digunakan oleh Bara hari ini.
"Hmm sepertinya warna putih cukup bagus, dia menyukai warna netral bukan," gumam Fiona.
Selesai memilih pakaian, Fiona keluar dari kamar Bara dan mendekati anak tangga.
"Rumah ini sangat luas tapi aku belum pernah mengelilingi nya," gumam Fiona sembari berjalan pelan.
"Bagaimana jika kita berkeliling sedikit,"
Ide Fiona sekaligus waktu yang masih sangat pagi sangat mendukung untuk Fiona mengelilingi rumah Bara dilantai dua.
Dia berjalan sedikit cepat sembari membuka pintu pintu kamar yang tidak terkunci dan isinya sama saja seperti kamar lain.
Ceklek
Hanya kamar itu yang terkunci rapat, sepertinya tempat itu dilarang oleh Bara tapi karena rasa penasaran Fiona dia nekat menggunakan jepitan rambut untuk membuka ruangan terkunci tersebut.
Ttkk!!
"Berhasil!!"
Fiona tidak meragukan bakatnya dalam hal seperti ini, dia langsung masuk kedalam dan melihat isi ruangan tersebut.
Ruangannya cukup gelap sehingga Fiona harus menyalakan lampu terlebih dahulu.
"Ini..."
"Sayang," panggil Bara dengan sangat lembut.
Wajah Fiona berubah drastis menatap Bara yang sedang menatapnya juga.
"Kau.."
Fiona mengambil apapun untuk dilempar pada Bara, vas bunga didekatnya diambil lalu melemparkannya pada pria itu.
"Ck sayang kasar sekali," ucap Bara sedikit kesal.
"Jangan dekati aku!"
Fiona terus mundur sembari melempar apa saja yang ia bisa raih, Bara lelah menerima barang barang yang dilempar Fiona.
Pria itu menarik kekasihnya namun Fiona memberontak.
"Lepaskan aku!!"
"Sayang jangan seperti ini,"
Fiona menarik dirinya dengan keras hingga pegangan Bara terlepas dan Fiona terbentur ditembok.
"Aahh!!"
Darah keluar dari kepala Fiona sepertinya benturan itu sedikit keras.
"Sudah kukatakan jangan sayang kenapa kau membantah,"
Bara mendekati Fiona dengan senyum mengerikan.
Bughh!!
Fiona menendang kelemahan terbesar Bara.
"Aaww!!"
Bara tersungkur akibat tendangan keras dari Fiona.
"Hey jangan lari!!" Teriak Bara.
Fiona berlari menuruni anak tangga walau kepalanya sudah pusing akibat benturan tersebut.
Ceklek!!
Pintu utama sudah terkunci oleh Bara, melewati jendela tidak mungkin karena jendelanya menggunakan besi.
"Dia sudah merencanakan ini semua," gumam Fiona.
"Sayang!!"
Fiona melihat keatas dan sepertinya Bara sudah bisa berdiri, Fiona mencari tempat persembunyian agar Bara tidak menemukannya.
Tak!! Tak!! Tak!!
Tubuh Fiona gemetar dibawah meja dapur mendengar suara kaki Bara.
"Fiona where are you,"
Suaranya sangat menakutkan, Bara berubah menjadi monster saat mengatakan itu.
"Kau bersembunyi dimana sayang aku akan segera menemukan mu," ujar Bara sembari memainkan pisau ditangannya.
Fiona jelas melihat Bara sedang berjalan kesana kemari mencarinya, gadis itu menutup mata dengan sisa sisa ketakutan.
"Fiona? Fiona!" Panggil Bara.
Fiona hampir tidak bernafas mendengar panggilan pria itu.
Bara sudah tau dimana Fiona bersembunyi dan ia hanya senang bermain dengan gadis itu.
"Aku menemukan mu sayang," ucap Bara sembari menekuk lututnya melihat Fiona bersembunyi dibawah meja.
Fiona langsung pingsan setelah melayani Bara bermain petak umpet, darah karena benturan itu semakin deras keluar hingga membuat tubuhnya lemas dan tumbang.
"Kau nakal sekali sayang, kenapa melewati tempat yang seharusnya tidak kau lalui," gumam Bara sembari mengelus wajah mulus Fiona.
bara mengambil ponsel nya lalu menghubungi Rezza.
"sebentar lagi papa ku akan bahagia," ucap Bara dan mematikan sambungan.
"halo tuan?"
"jangan jangan nona Fiona..."
Rezza tidak segan menancap gas full kerumah Bara.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔