NovelToon NovelToon
TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author:

Alea, seorang wanita muda dan cantik, terpaksa menikahi Rian melalui perjodohan. Namun, kebahagiaan yang diharapkan pupus ketika Rian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan Gina. Patah hati, Alea memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan Rian. Takdir berkata lain, bis yang ditumpangi Alea mengalami kecelakaan tragis. Di tengah kekacauan, Alea diselamatkan oleh Ben, seorang pria berkarisma dan berstatus sebagai bos besar yang dikenal dingin dan misterius. Setelah sadar, Alea mendapati dirinya berada di rumah mewah Ben. Ia memutuskan untuk berpura-pura hilang ingatan, sebuah kesempatan untuk memulai hidup baru. Ben, yang ternyata diam-diam mencintai Alea sejak lama, memanfaatkan situasi ini. Ia memanipulasi keadaan, meyakinkan Alea bahwa ia adalah kekasihnya. Alea, yang berpura-pura hilang ingatan tentang masa lalunya, mengikuti alur permainan Ben. Ia berusaha menjadi wanita yang diinginkan Ben, tanpa menyadari bahwa ia sedang terperangkap dalam jaring-jaring cinta dan kebohongan. Lalu, apa yang akan terjadi ketika ingatan Alea kembali? Apakah ia akan menerima cinta Ben, atau justru membenci pria yang telah memanipulasinya? Dan bagaimana dengan Rian, apakah ia akan menyesali perbuatannya dan berusaha merebut Alea kembali?

INGATAN YANG KEMBALI

Mobil Ben berhenti dengan derit ban di halaman. Tanpa pikir panjang, ia langsung lari ke kamarnya. Dua pengawal berjaga di depan pintu. Suasana rumah terasa aneh, terlalu banyak pengawal. Ben membuka pintu kamar, dan di sana, Alea sudah duduk di ranjang.

Mata Alea langsung menatapnya, merah padam. "Kamu..." desisnya, nada suaranya penuh dengan kebencian yang menusuk.

"Kamu sudah sadar?" tanya Ben, suaranya tercekat. Ia memberi isyarat pada David untuk segera memanggil dokter.

"Jangan sentuh aku!" bentak Alea, menepis tangan Ben. "Aku nggak mau diperiksa!"

Amarah Ben tersulut. Ia mencengkeram dagu Alea, memaksa bibirnya bertemu dalam lumatan kasar. Setelah melepaskan ciumannya, Ben menatap Alea tajam. "Dengar, Alea," desisnya, "Patuhi aku. Jangan sampai aku bersikap lebih kasar dari ini."

Alea merosot, air mata mengalir tanpa suara di pipinya. Saat itu, dokter masuk dan mulai memeriksa Alea, menjelaskan efek dari obat bius yang diberikan.

"Obat bius?" bisik Alea lirih, menatap Ben dengan nanar. Jadi, selama ini ia tidak sadar karena Ben membiusnya? Kemarahan Alea kembali membuncah, kali ini bercampur dengan rasa dikhianati yang begitu dalam.

Setelah dokter meninggalkan kamar dengan wajah prihatin, Ben menutup pintu dan berbalik menghadap Alea. Tatapannya tajam, menusuk, membuat Alea semakin menciut di ranjang.

"Kenapa kamu berani pergi tanpa sepengetahuan aku?" Ben memulai interogasinya. Suaranya dingin, tanpa emosi. "Kenapa kamu nekat mengendap-endap keluar rumah saat semua orang sudah tidur? Apa sesulit itu untuk kamu menerima semua yang aku berikan? Apa sesulit itu untuk kamu aku sayangi?"

Alea hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tidak menjawab. Ia terlalu lelah, terlalu sakit untuk berdebat.

"Kamu tahu betapa khawatirnya aku? Betapa paniknya aku saat tahu kamu hilang?" Ben melanjutkan, kali ini nada suaranya sedikit melembut, namun tetap terdengar getir. "Aku sudah memberikan segalanya untukmu, Alea. Harta, perlindungan, cinta... Apa itu semua tidak cukup?"

Alea menggeleng pelan. "Bukan itu masalahnya, Ben," bisiknya lirih.

"Lalu apa? Apa yang kurang?" Ben mendekat, berlutut di depan Alea dan meraih tangannya. "Katakan padaku, Alea. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bahagia? Agar kamu tetap di sisiku?"

Alea menarik tangannya, menjauh dari Ben. "Kamu tidak akan mengerti," jawabnya pelan. "Ada hal-hal yang tidak bisa kamu paksakan, Ben. Perasaan... kebebasan..."

Ben terdiam, mencerna kata-kata Alea. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa Alea benar. Ia tidak bisa memaksakan cinta, tidak bisa mengurung Alea dalam sangkar emasnya. Tapi, bagaimana mungkin ia melepaskan wanita yang sangat dicintainya?

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Alea," ucap Ben akhirnya, dengan nada tegas. "Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia. Apa pun."

Air mata Alea mengalir deras, membasahi pipinya. Ia menatap Ben dengan tatapan penuh luka dan amarah. "Kamu gila, Ben! Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku sebelumnya. Kamu memanfaatkan aku saat aku hilang ingatan. Kamu bilang aku adalah kekasihmu, padahal aku bahkan tidak mengenalmu! Kamu memaksa aku untuk menikah denganmu, memaksa aku bersetubuh denganmu, mengurungku, mengekangku... Apa itu cinta, Ben? Apa itu yang kamu sebut cinta?" Suara Alea bergetar, namun setiap kata yang ia ucapkan menusuk hati Ben seperti pisau.

Ben terdiam sejenak, lalu seringai tipis muncul di wajahnya. "Jadi, kamu sudah ingat semuanya?" tanyanya santai, seolah tidak ada yang terjadi.

Alea menatapnya tajam. "Jangan pura-pura bodoh, Ben. Kamu tahu persis apa yang aku bicarakan."

"Oh, aku tahu," jawab Ben sambil melangkah mendekat. "Dan sejujurnya, aku tidak peduli."

Alea terkejut. "Apa maksudmu?"

Ben berhenti tepat di depannya, menatap Alea dengan intens. "Maksudku, kamu sudah menjadi istriku, Alea. Istriku yang sah. Apa pun yang terjadi di masa lalu, tidak ada yang bisa mengubah fakta itu."

"Kamu gila!" desis Alea. "Aku tidak akan pernah menjadi istrimu dengan sukarela. Pernikahan ini didasari kebohongan dan paksaan!"

"Mungkin," jawab Ben dengan nada meremehkan. "Tapi tetap saja, kamu adalah istriku. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Ben mencengkeram dagu Alea, rahangnya mengeras. "Kau milikku," desisnya sebelum membungkam bibir Alea dengan ciuman kasar dan menuntut. Ia melumat bibir Alea dengan brutal, mengabaikan setiap penolakan yang diterimanya.

Alea meronta, tinjunya memukuli dada Ben dengan sia-sia. Ia menggigit bibir Ben sekuat tenaga, merasakan darah mengalir di lidahnya.

Ben tersentak mundur, mengusap bibirnya yang berdarah dengan kasar. Matanya menyala marah, menatap Alea dengan tatapan membunuh. "Kau berani..." geramnya, suaranya rendah dan berbahaya.

Ben mencabut dasinya dengan kasar, matanya gelap. "Kau akan belajar, Alea," desisnya sebelum mengikatkan dasi itu di pergelangan tangan Alea, mengikatnya kuat-kuat ke kepala ranjang.

Alea tersentak, panik. "Ben! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Ia meronta, mencoba menarik tangannya, tapi ikatan itu terlalu kuat.

Ben menindihnya, menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak. "Diam!" bentaknya. "Kau milikku, dan aku akan memperlakukanmu seperti yang seharusnya."

Alea menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tidak! Ben, kumohon, jangan lakukan ini!" Ia berteriak, berharap ada yang mendengar, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

"Ini semua salahmu, sayang," bisik Ben dengan nada mencela, namun tangannya bergerak kasar. "Kenapa kau begitu sulit menerimaku? Padahal aku sudah menjadi suamimu."

Dengan sekali sentak, Ben merobek blus yang dikenakan Alea, kancing-kancingnya berhamburan ke lantai. Terpampanglah dada Alea yang hanya tertutup bra berwarna merah muda. Tanpa ragu, Ben menarik bra itu dengan paksa, membuat Alea tersentak dan semakin histeris.

Ben meremas kasar dada Alea, membuatnya meringis kesakitan. Tanpa ampun, ia menciumi setiap jengkal tubuh Alea, dari leher hingga perut, meninggalkan bekas merah keunguan di kulitnya. Alea hanya bisa menangis dan meronta dalam diam, tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya.

Bibir Ben menerjang dada Alea, mencium dan melumatnya dengan kasar, seolah ingin menghancurkan setiap inci dari tubuhnya. Gigitan-gigitan kecil yang menyakitkan diselingi dengan isapan kuat yang meninggalkan bekas merah keunguan. Sementara bibirnya terus menyiksa, tangan Ben yang lain meremas kasar dada Alea yang menganggur, menambah rasa sakit dan ngeri yang tak tertahankan.

Ben melakukan nya dengan amarah. Karena kecewa dengan Alea. Lalu ia menarik celana alea hingga terlepas. Menyisakan celana dalam yang senada dengan bra yang ia kenakan. Ia melucuti semua nya. Ben memainkan area sensitif Alea. Bibir nya turun ke area kewanitaannya. Tangannyapun bermain di area itu. Dengan ganas dan lincah baik bibir dan tangan nya bermain di area itu.

"Stop, Ben! Tolong berhenti... maafkan aku," lirih Alea dengan suara bergetar, air mata mengalir deras di pipinya. "Ampun, Ben... kumohon."

Ben tak menggubris permohonan Alea. Matanya gelap, rahangnya mengeras. Ia justru semakin mempercepat gerakannya, seolah tuli terhadap rintihan dan air mata yang membasahi pipi Alea.

"Jangan... jangan begini, Ben," bisik Alea, air mata semakin deras membasahi pipinya.

Ben tidak menjawab, hanya suara napasnya yang memburu dan gerakan tangan dan bibir Ben yang semakin intens.

"Ben... sakit," lirih Alea, mencoba mendorong tubuh Ben menjau dengan kakinya.

Desahan lolos dari bibirnya, semakin lama semakin keras, bercampur dengan isakan tangis. "Aah... Ben... ampun... aah..."

Seolah tanpa sadar, tubuh Alea mulai bergerak mengikuti irama Ben. "Aah... Ben... jangan... aah..."

Ben menghentikan gerakannya, menatap Alea dengan seringai sinis. "Lihat dirimu," desisnya, tawanya terdengar hambar. "Bibirmu menolakku, tapi tubuhmu menginginkanku, kan?"

1
Vash the Stampede
Aku sudah jatuh cinta dengan karakter-karaktermu, thor.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️
total 1 replies
emi_sunflower_skr
Ceritanya keren, bahasanya juga mudah dimengerti!
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
Ichigo Kurosaki
Ceritanya menghibur sekali.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!