Arthur adalah seorang anak yang terlahir dengan Mana atau energi sihir yang cacat.
ia lahir di dunia sihir dimana dunia tersebut sihir sangat dibutuhkan. ia memiliki cita cita untuk menjadi Penyihir terhebat di kerajaan dan juga mencari tahu tentang ingatan-ingatan samar yang sering ia lihat dalam mimpinya.
Akankah ia mampu menjadi penyihir terhebat dan menguak semua pertanyaan mengenai ingatan tersebut?
Note:
Main character tidak dibuat langsung overpower. akan ada developement character atau pembangunan karakter agar lebih menarik oleh karena itu Alur akan berjalan sedikit lambat.
ini adalah karya pertama saya. bila ada kesalahan atau kurang seru tolong di maklumi yaa.
agar author semangat lanjutin jangan lupa like dan komen.
mohon dukungannya yaa terimakasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandu Diwanata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kebangkitan Sang Dewa
Elina menghampiri Arthur keatas. Ia melihat sebuah pemandangan yang benar-benar berada di luar nalar.
Salah satu tubuh Roger yang terpisah mengeluarkan darah dan darah tersebut mengalir mendekati tubuh yang satunya. Kemudian darah itu masuk dan menarik masing-masing tubuhnya itu untuk bersatu kembali.
"Pergilah dari sini sekarang!!!!!" Teriak Arthur. Ia menyuruh Elina untuk meninggalkannya.
Roger berdiri kembali.
"Hampir saja aku terbunuh." Ucap Roger sambil menoleh ke arah Elina.
Arthur pun langsung berlari untuk menyerang Roger. Namun dengan cepat sebuah tombak yang terbuat dari darah muncul dari pundak Roger dan melayang terbang menembus dada sebelah kanan Arthur sehingga ia tertancap di tembok sambil mulutnya terus mengeluarkan darah.
"Kau diam dan lihat bagaimana aku menyiksa perempuan ini" Ucap Roger sambil menunjuk ke arah Arthur. Ia begitu marah akibat serangan yang diberikan Elina barusan.
Kini perhatian Roger kembali ke Elina. Ia perlahan berjalan mendekatinya sambil tersenyum jahat.
"Pergilah Elina!" Teriak Arthur. Ia meronta-ronta mencoba melepaskan tombak itu.
Elina sendiri tak bisa meninggalkan Arthur. Ia memaksakan dirinya yang telah lelah untuk tetap bertarung. Ia berlari ke arah Roger dan menghunuskan pedangnya ke arah dada Roger tanpa Mana.
Tentu saja dengan sangat mudah Roger menangkap pedang itu. Ia pun menarik pedangnya kemudian melemparkan pedang itu ke samping. Kini Elina tak memegang senjata apapun.
Dengan cepat Roger langsung mencekik Elina dengan tangan kanannya dan membantingnya dengan sekuat tenaga ke lantai hingga Elina mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Sihir Darah Iblis: Penjara kematian!"
Sontak telapak tangan Elina tertusuk oleh tombak darah yang muncul dari tanah sehingga membuatnya tersalib di lantai. Ia hanya bisa menendang-nendangkan kedua kakinya kepada Roger.
Rogernya pun mencekiknya dengan keras. Ia berniat ingin membunuh Elina dengan cara yang menyakitkan yaitu membiarkannya kehabisan nafas.
Elina pun hanya bisa menangis sambil meronta-ronta. Wajahnya memerah karena tak bisa bernafas. Ia juga tak bisa berbicara.
"Hentikan!!!" Teriak Arthur. Ia sendiri pun kesulitan untuk melepaskan tombak yang menancap membuatnya menancap di tembok.
Disaat Roger melihat wajah Elina yang cantik. Tiba-tiba terbesit pikiran kotornya.
"Sepertinya jika aku memperk*sa kakaknya di depan adiknya akan lebih menyenangkan hehehehehe." Gumam Roger.
Ia pun segera melepaskan cekikannya agar Elina tak tewas.
"Sayang sekali kalau wanita secantik dirimu harus langsung dibunuh. Bagaimana jika aku menikmati dirimu dulu hehehehe." Ucap Roger.
"Hei adik! Lihatlah caranya bagaimana aku memuaskan kakakmu ini hahahaha" Roger mulai membuka paksa celana milik Elina.
Elina pun memberontak namun tetap celananya dapat dilucuti oleh Roger.
Terlihatlah sebuah pemandangan yang amat indah. Sebuah paha mulus yang sangat putih dan juga halus. Yang tersisa hanyalah c*lana dalam berwarna hitam yang menutupi kehormatannya
Roger pun memegangi kedua kaki Elina agar diam dan akhirnya mulai menjilati kaki Elina mulai dari betisnya naik ke atas hingga ke paha.
Arthur yang melihatnya hanya bisa diam. Ia tak bisa melakukan apapun saat kakaknya sedang dilec*hkan. Pandangannya pun terlihat begitu kosong.
Sebuah mimpi akhirnya kembali terlintas di benaknya.
Ia melihat dirinya sedang berada di sebuah kamar yang begitu mewah. Namun ia sedang terluka dan tubuhnya dipenuhi oleh banyak pedang yang menancap. Ia merasakan tubuhnya seperti sedang sekarat.
Ketika Arthur menoleh kesamping, Ia melihat seorang wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Elina sedang dirudapaksa oleh tiga orang diatas kasur dengan sangat kasar.
"Zeus, Odin, Horus. Aku bersumpah akan membunuh kalian semua dengan kedua tanganku sendiri." Begitulah ucapan yang terdengar dari mimpi Arthur.
.
.
.
.
Kini setelah puas menjilati paha milik Elina hingga penuh dengan air liur miliknya, Roger langsung menggigit c*lana dalam Elina dan ingin menarik c*lana dalam itu dengan mulutnya.
Ia pun perlahan menarik c*lama dalam itu.
Ketika c*lana dalam itu sudah setengah terbuka tiba-tiba saja sebuah angin menghempasnya dan bertiup sangat kencang dari arah belakang.
"Aduh padahal tinggal sedikit lagi. Sepertinya anak itu berulah kembali. Aku harus menghabisinya terlebih dahulu sebelum menikmati gadis ini." Ucap Roger. Ia melepaskan gigitannya dan menampar kehormatan Elina. Sehingga membuat Elina sedikit mengejang kaget.
Roger pun berdiri dan berbalik ke arah Arthur. Dia kaget karena melihat Arthur sudah berdiri dan terlepas dari tombak itu.
Sekelilingnya pun terlihat aneh. Angin terus-menerus bertiup dengan sangat kencang. Terdengar gemuruh petir dimana-mana. Awan pun terlihat membentuk sebuah gelombang pusaran yang sangat besar diatas sana seperti akan terjadi badai yang luar biasa.
"A-ada apa ini?!" Roger sedikit ketakutan melihat keanehan fenomena yang terjadi.
Tubuh Arthur dikelilingi oleh kilat berwarna hitam. Suasana disana semakin buruk.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi kembali." Ucap Arthur dengan lirih dan kepala yang tertunduk.
"Apanya yang terjadi kembali?!" Roger pun langsung menyerang Arthur.
Belum sempat mendekatinya tiba-tiba saja tubuh Roger tak bisa digerakkan.
"A-apa yang terjadi padaku?! T-tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali." Ucap Roger. Ia terlihat sangat panik.
Arthur pun mengangkat wajahnya dan menatap Roger.
Mata Arthur berubah menjadi berwarna merah permata yang menyala. Kemudian muncul sepasang sayap lebar berwarna hitam di belakangnya.
Pemandangan tersebut tentu membuat Roger semakin ketakutan.
"Kau?! Siapa kau?! Kau bukan seorang manusia!!" Teriak Roger yang tubuhnya masih tak bisa digerakkan.
Arthur pun mengangkat tangan kanannya ke arah Roger.
"Kepala mu terlalu tinggi." Ucap Arthur sambil menunjuk ke bawah. Suaranya berubah.
Seketika itu juga Roger langsung jatuh tiarap dengan sendirinya seperti ada sihir yang memaksanya melakukan itu.
Tak terima, ia pun mencoba untuk bangkit meskipun kesulitan karena merasa seperti ditekan dengan sangat keras dari atas punggungnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa." Teriak Roger mencoba untuk bangkit berdiri.
Arthur pun menoleh ke arah Elina. Ia melihat Elina hanya diam saja terpaku melihat apa yang sedang terjadi.
Arthur pun teringat bagaimana Roger menyiksa Elina barusan.
Arthur pun kembali menoleh ke arah Roger yang terus berusaha untuk berdiri.
"Kau tidak ku izinkan untuk bernafas." Ucap Arthur.
Sontak Roger kehilangan haknya untuk bernafas. Ia pun langsung memegangi lehernya.
"Arrghhhh tidakk. A-aku mohon ampuni aku." Ucap Roger yang kelojotan sambil memegangi leher dengan kedua tangannya akibat tak bisa bernafas.
"Sihir Langit: Kubus Penyiksa Para Dewa." Ucap Arthur.
Sebuah kubus besar tercipta. Roger berada di dalamnya terkurung dalam kubus itu.
Arthur pun mengepalkan tangan kanannya. Seketika itu juga kubus tersebut perlahan menyusut menjadi kecil.
"T-tidak!! A-aku mohon! Jangan bunuh aku!" Roger sedang menahan kubus itu yang terus mengecil dan membuat tubuhnya tertekan.
Namun apalah daya. Arthur yang berada di depannya kini bukanlah Arthur yang seperti biasanya. Ia juga terlihat seperti kehilangan kesadarannya.
Akhirnya kubus itu pun terus mengecil hingga membuat tubuh Roger yang ada di dalamnya ikut hancur. Kubus itu pun kini telah mengecil hingga seukuran kepalan tangan saja.
Kubus berwarna merah itu pun terbang menghampiri Arthur dan masuk ke dalam telapak tangannya.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya
finally
semangat terus thor 💪
semangat terus Thor 💪
thank's. up nya cerita ini makin menarik
👍👍👍👍👍
tunggu kelanjutan kisah ini .......!!!
buat author semangat terus 💪
maaf. ya Thor. 🙏🙏🙏 komentar aku julid ....
semangat Thor 💪
Arthur adalah seorang dewa kematian karena itu aku mengingatkan pada author tentang kekuatan Arthur.
seorang dewa kematian haruslah kuat dan tak tertandingi kekuatannya tapi disini kekuatan Arthur masih lemah .
next Arthur harus kuat
jangan bikin pembaca jadi malas baca alias bosan karna MC nya lemah.
apa lagi MC disini adalah dewa kematian yaitu dewa yg paling ditakutkan bahkan oleh para dewa .
oke Thor semangat terus ya...💪😘😘💖💖👍👍