Uuuuhhhhh.....
Betapa lelahnya diriku, seharian bekerja dengan gambar-gambar yang harus diselesaikan sesuai target dari proyek yang kupegang.
Demi menghilangkan rasa stress yang menghantuiku, kuputuskan untuk berjalan-jalan disekitaran apartemen yang kutinggali.
Tiba-tiba seseorang menabrakku...
Bruuukkk...
"Auuu.. Maaf.." kata gadis itu tanpa menatapku.
Sesaat kulihat mata gadis itu, dan betapa terkejutnya aku. Satu kata yang terlintas dibenakku tentangnya "Cantik".
Aku begitu terpesona dengan gadis yang menabrakku barusan. Saat kuperhatikan kembali, gadis itu benar-benar cantik, dengan gamis yang menutupi keindahan tubuhnya.
"Astaghfirullah..." Batinku. Ada apa denganku, biasanya aku tak tertarik dengan wanita manapun. Tapi kenapa berbeda dengan gadis yang ntah ku tak tau siapa namanya. Baru saja melihatnya membuat rasa penasaranku memuncak.
"Maaf, aku tidak sengaja... Permisi" Ucap gadis itu membuyarkan lamunanku.
"Ehh.. Ehh.... Tunggu" Teriakku tetapi tak dihiraukan oleh ga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Farliana P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINDU
Assalamualaikum...
Selamat pagi, siang, sore dan selamat malam bagi pembaca setiaku..
Semoga sehat selalu dan dilancarkan segala urusan.
Maaf atas segala keterlambatan updatenya. Semoga para pembaca ku yang setia menunggu cerita ini dapat memaafkan nya.
Selamat Membaca ceritaku yang biasa saja ini yaaa, tolong dukungannyaaa agar aku selalu semangat untuk mengupdate tiap babnya...
Happy reading
*******************
Di kamar yang terlihat mewah itu, terlihat sepasang suami istri yang sedang berbicara mode serius.
"Pa, Bagaimana progress pekerjaan yang sedang ditangani oleh Zaril Pa?" Tanya wanita paruh baya yang wajahnya terlihat masih sangat muda padahal diusia yang terbilang sudah tidak muda.
"Untuk saat ini masih terbilang aman ma, dia belum bertingkah sama sekali sejak terakhir perdebatan itu" Ucap lelaki paruh baya yang tepatnya orang tua Zaril.
"Syukurlah kalau dia tidak bertingkah, mama sempat khawatir kalau dia akan bertingkah yang aneh-aneh seperti terakhir kali" Ucap wanita itu, wajahnya menunjukkan kelegaan atas ucapan yang dikeluarkan oleh suaminya.
"Jangan khawatir ma, semuanya akan baik-baik saja" Ucap lelaki paruh baya itu menenangkan sang istri.
"Hanya saja satu yang papa khawatirkan" Ucap lelaki itu kepada istrinya.
"Apa pa? apa yang papa khawatirkan?" Tanya sang istri.
"Papa khawatir tentang janji yang sudah papa ucapkan demi membuat anak kita tenang" Ungkap sang suami
"Hingga sekarang papa belum juga menemukan dimana posisi Alisya dan kedua orang tuanya berada" Ucap sang suami.
"Terakhir papa dapat informasi dari orang kepercayaan papa, mereka ada di negara yang sama dengan anak kita Nazril, hanya saja itu beberapa Minggu yang lalu" Ucap lelaki paruh baya itu kembali.
"Mereka pasti masih di negara itu pa, papa jangan khawatir" Sang istri mencoba memberikan ketenangan kepada sang suami. Pasalnya dia sangat tau apa inti dari kegelisahan yang suaminya rasakan, lebih tepatnya suaminya pasti gelisah dengan janji yang akan di tagih oleh sang anak. Jika nanti Zaril bertanya dimana keberadaan Alisya dan sang suami tidak tau, pasti anak sulung mereka akan sangat marah dan merasa dibohongi. Jika hal itu terjadi, ntah masalah apalagi yang akan muncul nantinya akibat dari kemarahan Zaril.
"Hufftt... Semoga saja dalam beberapa hari ini orang kepercayaan papa bisa secepatnya menemukan posisi terkini Alisya" Ucap lelaki paruh baya itu kembali.
"Aamiin... semoga secepatnya kita mendapatkan kabar baiknya pa" Ucap sang istri.
--------------------*********----------------------
"Pak, Sudah waktunya makan siang" Ucap Alex, sekretarisku.
"Hmm..." Jawabku.
"Bapak mau saya pesankan makanan atau mau makan diluar pak?" Tanyanya kembali.
"Kita makan diluar saja, kamu siapkan mobil" Ucapku padanya.
"Baik pak" Balasnya sambil menungguku keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sebuah restoran yang menyediakan makanan khas Korea favoritku.
Saat sedang menikmati makanan yang sudah kami order, sekretarisku yang lebih tepatnya juga merangkap sebagai sahabatku bertanya sesuatu yang sangat kuhindari selama beberapa hari ini.
"Bagaimana keadaanmu Zaril?" Tanyanya.
"Karna kita sedang jam istirahat, maka aku akan berbicara sebagai teman okey?" Ucapnya kembali yang ku tanggapi dengan anggukan saja.
"Apakah sudah ada kabar dari dia?" Tanyanya, aku tau dia yang dimaksud oleh Alex. Hanya saja mendapat pertanyaan seperti itu membuat rasa rindu yang sudah ku pendam menjadi semakin parah.
"Maaf jika mungkin pertanyaanku membuatmu kurang nyaman, Abaikan saja yaa, anggap kamu tidak dengar" Katanya, setelah melihat wajahku yang agak keruh setelah pertanyaan yang dilontarkannya barusan.
************
"Aku belum dapat kabar apapun tentang dia semenjak putusnya pertunangan kami" Ucapku kepada Alex.
"Saat ini yang bisa ku lakukan hanya menuruti segala perkataan papa dan mama agar mereka menepati janjinya untuk memberikan informasi tentang keberadaan Alisya" Ucapku kembali.
"Boleh aku berbicara jujur Ril?" Alex kembali akan bertanya tntang sesuatu yang kuyakini akan sulit untukku menjawab.
"Iyaaa silahkan" Balasku kembali, mempersilahkan Alex untuk bertanya.
"Jika seandainya Om dan Tante memberitahukan segala informasi tentang Alisya yang selama ini kamu cari-cari informasinya, lalu apa selanjutkan tindakan yang akan kamu lakukan setelah kamu tahu?" Tanyanya.
"Katakanlah kamu akan menemuinya, apakah kamu sudah yakin bahwa hatimu tidak akan goyah kembali? Kalau sudah meyakinkan diri tidak masalah, tapi jika kamu bahkan belum bisa meyakinkan dirimu sendiri, aku sarankan sebaiknya kamu mundur Ril. Kasihan Alisya jika kamu sekarang datang menemuinya dengan kondisi hatimu yang keyakinannya pun dirimu sendiri tidak tau" Ucap Alex dengan panjang lebar. Perkataannya membuatku tertampar sangat keras, sebab apa yang dia katakan sangatlah benar. Apakah hatiku tidak akan goyah jika orang dimasa lalu datang kembali? apakah aku sudah benar-benar bisa menganggap masa lalu hanya sebagai masa lalu yang tidak ada pengaruhnya sama sekali? Huffftt aku tiba-tiba pusing dengan diriku sendiri. Aku belum punya keyakinan bahwa masa lalu tidak berpengaruh sama sekali, aku masih ragu. Dan Alex yang melihat keterdiamanku menghela nafas dengan pasrah.
"Dilihat dari respon yang kamu berikan hanya diam, aku dapat menyimpulkan bahwa kamu masih ragu Ril" Ucap Alex kembali.
"Karena sepertinya kamu belum yakin dengan perasaanmu, aku sarankan jangan menemuinya dahulu, hingga kamu benar-benar yakin" Ucapnya kembali.
"Kasihan Alisya Ril, jika sekarang kamu memperjuangkannya seolah-olah hatimu hanya tertuju kepadanya namun saat masa lalumu tiba-tiba datang, kamu bahkan tidak ingat dengan semua perjuanganmu untuk mendapatkan Alisya" Terang Alex yang membuatku kembali terdiam. Aku paham maksudnya, sangat paham. Hanya saja aku benar-benar sangat ingin menemui Alisya. Aku tau bahwa itu adalah tindakan yang sangat egois, tapi aku benar-benar ingin memastikan bahwa Alisya baik-baik saja. Aku hanya ingin gadis itu selalu bisa ku lihat dan selalu berada dalam jangkauanku, hanya itu.
"Jangan sakiti dia lagi Ril. Sudah cukup kamu menyakiti gadis baik-baik seperti dia. Jika kamu masih belum bisa melupakan wanita dimasa lalumu itu, maka jalinlah kembali kisah yang belum usia itu atau sudahi jalinan masa lalu yang belum kamu tuntaskan itu. Hanya itu pilihan yang dapat kamu lakukan Ril. Jangan melukai Alisya lebih banyak lagi dengan keegoisanmu" Katanya memberikan pengertian kepadaku. Aku hanya bisa diam termenung mendengarkan segala kebenaran yang di ucapkan oleh Alex.
---------------------- NEXT CAP ----------------------
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like, komen dan follow yaaa.
Maaf terlalu lama update, Ceritanya segini dulu ya guys..
Terima kasih telah membaca guys...
Salam Sayang untuk kalian semua...
semangat nulis ya kak
janji datang ke karya kak sudah terpenuhi. semangat berkarya kak. aku mulai meraton like 🔥
eh, selalu begini ya
Selamat Sore
aku mampir kak
jadi pengen maraton sampe bab akhir.
semangat buat karya lainnya mbak. aku mnunggu