"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"
"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"
"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."
"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"
"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."
Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG TERBAIK
“Adel, kita mau jalan-jalan ke mana?”
“Mana aja, Pa. yang penting Adel sama Nenek,”
“Nggak mau sama, Papa?”
“Biar Papa bayarin naik permainan, Adel jalan-jalannya sama Nenek,”
“Kita ke Dufan ya?”
Adelia menggeleng, “Nggak mau, Papa. Mau ke mall aja, beliin boneka yang banyak buat Adel, sama mainan rumah-rumahan,”
Sebagai orang tua yang selalu ingin menemani tumbuh kembang si kecil. Maka permintaan seperti itu tidak ada salahnya dituruti. Apalagi Adelia yang lebih betah di rumah jika banyak mainan. Walaupun sebenarnya mainannya di kamar sudah begitu banyak. Bahkan kamar yang dahulu hanya ada mereka berdua dan juga barang-barang mereka berdua. Kini kamar tersebut penuh oleh mainan Adelia. Sebenarnya, Raka sudah menyiapkan kamar untuk putri kecilnya itu. Akan tetapi anaknya lebih sering bermain di kamar mereka berdua sambil menunggu kepulangan Raka.
Sambil menunggu sang istri mengambil tas dan berdandan. Ia bersama sang Mama di luar menunggu Fania keluar. Adelia yang ikut dengan Fania ke kamar untuk mengganti pakaiannya. “Raka, nggak niat gitu Adelia kamu pisahin tidurnya,”
“Nanti aja, Ma. Kalau dia sudah masuk TK, Raka nggak tega kalau sekarang dipisah,”
“Kamu juga perlu waktu ngobrol sama istri kamu,”
“Nggak apa-apa, Ma. Kasihan juga nanti kalau dia tidur dikamar yang beda. Terus tengah malam tiba-tiba listrik mati, hujan, petir gitu. Raka nggak sanggup, Ma. Walaupun nanti dia tidur sama pengasuh. Pengin jadi orang tua yang bisa ngasuh anak dengan baik, toh walaupun punya pengasuh, soal pendidikan kan Raka sama Fania yang punya tugas. Nggak mungkin dong kalau kepribadian Adelia dibentuk sama pengasuhnya, misalnya ini itu harus di didik sama pengasuh. Lalu tugas orang tua apaan? Cuman nyari uang gitu? Nggak juga kan, Ma. Tentu saja sebagai orang tua pasti ingin mendidik anaknya dengan baik,”
“Iya sih. Tapi kalau bisa kamu sering-sering komunikasi sama istri kamu kalau ada waktu. Jangan sampai kamu lupa tanggung jawab kamu. Terus kamu jarang komunikasi sama istri, lebih fokus nyari uang, terus lupa sama yang dua itu,”
“Nggak mungkinlah, Ma. Mama tahu sendiri kan, sebelum Mamanya Adelia dulu nikah sama orang lain. Dia itu pacaran sama Raka. Cuman dijodohin sama Tuhan waktu dia udah nggak jadi milik orang lain,”
“Setiap kali ada masalah sama istri kamu, lihat Adelia! Mama bilang begitu bukan karena Adelia satu-satunya yang kamu sayangi. Itu karena anak adalah penguat bertahannya orang tua. Banyak orang yang berselisih dengan pasangan kemudian memberi makan ego sendiri, terus berpisah. Nggak mikirin perasaan anak. Lebih baik mencari yang lain dibandingkan bertahan dengan orang yang sama, itu yang mereka pikirkan. Tapi, apa salahnya berusaha untuk memperbaiki, banyak yang bertahan demi anak meskipun hatinya sakit. Itu adalah orang tua yang nggak mau lihat anaknya hancur, dan Mama lihat kegagalan yang pernah Fania alami pasti sangat berat. Sekarang, Mama lihat dia berubah semenjak kamu sama dia. Dia yang jadi perempuan ceria, belum lagi nurutin kemauan kamu. Ditambah lagi Mama salut sama dia yang memilih ngasuh Adelia, meskipun ada pengasuhnya gitu, tapi dia memilih untuk tetap jaga anaknya sendirian,”
“Itulah, Ma. Kenapa aku sayang banget sama dia,”
“Nggak salah kamu nikahi perempuan sebaik dia. Cuman pria brengsek yang mau lepasin istri sebaik dia, belum lagi dia itu pintar banget urusin suami, terus dia juga pintar urusin Adelia,”
“Dia perempuan paling baik, Ma,”
“Mama setuju sama yang itu, Nak. Mama senang juga lihat kamu yang berubah semenjak nikah. Dulu, kamu nggak pernah mau pulang, sekalinya pulang malah mabuk. Mama kesepian di rumah kamu nggak pernah peduli, Mama kangen, kamu nggak pernah peduli,”
“Bukannya nggak peduli, Ma. Tapi kan emang sibuk kerja dulu,”
“Sekarang nggak sibuk lagi?”
“Kan semenjak nikah, Raka coba buat perusahaan sendiri. Raka sayang sama mereka berdua, jadi usahakan semaksimal mungkin bisa luangin waktu buat keluarga sebelum ada orang ketiga nyosor,”
“Papa mau nyari perempuan lain?”
Raka langsung menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan istrinya barusan. “Nggak sayang. Siapa yang mau nyari perempuan lain lagi?” mana mungkin dia mengkhianati istrinya. Dia tahu betul bagaimana usahanya dulu membuat perempuan itu begitu baik dalam membuka hati dan kepercayaan.
“Papa jangan main-main, awas!” ucap Fania saat mendekati mereka berdua.
“Tuh dengerin istri kamu. Jangan macam-macam! Mama juga bakalan jadi musuh kamu kalau kamu macam-macam, Nak,”
“Adel juga, hehe,” ucap anak itu yang membuat Raka gemas dan langsung menyambar putri kecilnya yang sudah berganti pakaian. Anak itu lebih suka menggunakan rok dan baju panjang. Rambut yang di kepang membentuk ekor kuda serta poni yang menggantung. Kulit putih, wajah tembam yang benar-benar menjadi anugerah paling sempurna di rumah tangga mereka berdua.
“Anak Papa ini lucu banget sih, hmmm. Papa pengin makan tahu nggak,”
“Ih, Papa. Nggak boleh makan orang,”
“Boleh kalau Papa makan Adelia,”
“Mama bantuin!”
“Nggak, biarin Adelia di makan sama Papa. Biar Adelia nggak susah disuruh makan lagi,”
“Ampun, Mama. Nggak bakalan susah lagi di suruh, makan,” pinta anaknya. Raka yang masih menggelitiki anaknya dan mencium putrinya itu benar-benar merasa sangat gemas dengan tingkah lucu anaknya yang selalu ikut campur saat mereka berbicara. Itulah kenapa Raka dan Fania harus pintar-pintar mengatur waktu dan juga bicara sembunyi-sembunyi.
“Papa, beneran beliin Adelia mainan ya!”
“Anak Papa minta apa aja pasti dibeliin,” ucapnya.
“Beneran Papa?”
“Iya, yang penting kan muat di mobil. Kalau terlalu banyak, Papa nggak mau,” jawab Raka sambil menurunkan Adelia. Anak itu langsung memperbaiki poninya yang berantakan tadi.
“Pa, Adel cantik, kan?”
“Kecil-kecil centil banget sih, hmmm?”
“Soalnya Papa tuh sering bilang kalau Mama cantik. Jadi, Adel tanya sama Papa kalau Adel cantik, kan?”
Fania langsung berjongkok dan memperbaiki poni anaknya dan juga merapikan baju Adelia. “Anak Mama sama Papa itu selalu cantik kok. Buktinya Papa tuh selalu sayang sama Adelia,”
“Tapi kenapa belum punya adik?”
Fania juga sebenarnya ingin memiliki keturunan lagi. Dia begitu menyayangi Adelia, Fania dan Raka belum mencoba untuk membahas mengenai keturunan lagi.
Sedikit demi sedikit, Fania sudah tidak terlalu membahas mengenai Rania seperti dulu. Beruntunglah anak pertama dari pasangan baru itu diberkati anak perempuan yang sedikit lebih bisa melupakan Rania. “Papa, kenapa?” tanya Adelia yang membuat Raka tersadar dari lamunannya barusan.
“Pa, mikirin apa sih?” tanya Fania yang ikut menanyakan hal yang sama seperti Adelia.
“Nggak, Papa nggak mikirin apa-apa,” jawabnya singkat kemudian mengajak anak, istri dan juga mamanya untuk berangkat mengajak Adelia bermain seharian ini.
aku cuman ingin Reza sadar Thor
FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,
FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬