sebuah jebakan dilakukan Ghiffarry Azzam terhdap Lovena Saraswati, Ghiffary seorang pria kaya yang mengalami perampokan dirumah mewahnya, para perampok itu juga membunuh istri dan anak Ghiff yang masih bayi.
meski para perampok sudah tertangkap dan dihukum mati, namun tidak membuat dendam Ghiff hilang begitu saja, sakit hati karena kehilangan dua wanita yang ia cintai membuat hatinya dipenuhi dendam.
Lovena Saraswati adalah putri salah satu perampok yang mendalangi perampokan dirumah Ghiff.
Ghiff akan menikahinya dan membalaskan dendam yang pada gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab34 Gadis masa lalu
Semua orang lega Setelah dahan itu berhasil disingkirkan.
Ghiff dan kedua wanita yang bersamanya bisa melanjutkan perjalanan, meski mobil itu harus masuk bengkel sementara waktu, .
Beberapa kali Ghiff melirik Lovena melalui spion, mencuri pandang kepada istrinya, lovena sadar tetapi tak mengubrisnya.
Tiba dirumah setelah berganti pakaian dan sarapan, Ghiff langsung berangkat ke kantor. Sedangkan Nindya setelah sarapan memutuskan ijin libur dan beristirahat dikamar berpesan agar tak ada yang boleh mengganggu.
Lovena? jangankan memikirkan istirahat, bisa mandi dan makan pagi saja dia sudah sangat bersyukur, setumpuk pekerjaan menunggu sentuhan darinya.
Sani memberondong Lovena dengan banyak pertanyaan, penasaran bagaimana bisa Lovena pulang bersama Nindya dan Ghiff, bahkan memakai jas Mahal milik suaminya.
" Panjang ceritanya,.." Sahut Lovena.
" Saat ada waktu aku akan menceritakannya."
"Kemarin, Bi marni menunggu dan mengomel sepanjang hari...kau diminta pergi membeli obat tapi tidak kembali, bayangkan betapa takutnya Wanita tua itu Jika tuan Ghiff akan mengamuk, Belum lagi Nona Fiona yang ikut membuat Bi Marni kalut karena sakit kepala.Dia meraung- raung sepanjang hari meminta obat. sangat menyebalkan semua orang mengeluh dengan Sifatnya." Ucap Sani.
" Benarkah? apakah dia masih marah padaku? padahal aku pergi bukan karena kemauanku tapi karena tuan muda.."
" Maksudmu?"
"Sudah ku bilang panjang ceritanya."
Lovena tidak sadar Dua singa betina sedang berjalan mendekat memasang wajah garang siap mencabik dirinya
" Gadis kurang ajar!! masih ingat pulang rupanya!" Bentak Bi Marni suaranya menggelegar memenuhi ruang sempit tempat menyetrika baju.
Lovena dan Sani memghentikan pekerjaan, menoleh ketakutan dan mendapati Bi Marni dengan tatapan mata dipenuhi bara api kemarahan.
PLAK!
PLAK!
Dua kali tamparan mendarat di pipi mulus lovena meninggalkan jejak lima jari disana.
Marni memukul sekuat tenaga yang ia bisa.
Sani bahkan sampai menutup Mulut tak mampu berkata- kata.
Terbit amarah dan kesal di hati Lovena.
Dia memegang sebelah pipi, perih dan berdenyut, bahkan ia merasa kepalanya sedikit pusing dengan kuping berdenging.
" Kemana kau kemarin seharian..Aku menyuruhmu keluar bukan untuk membuat kau bisa pergi sesuka hati, Tahu- tahu malah pulang pagi! " bentak Bi Marni dengan wajah merah membara.
" Tapi Bi...Saya..pergi bersama Tuan Ghiff dan terjebak badai.."
" Terserah kau pergi bersama siapa seharusnya bisa mengabari aku, kau tidak tahu betapa takutnya aku saat kau tidak kembali tepat waktu..belum lagi obat itu sangat dibutuhkan Fiona..kau sungguh mengacaukan semua...kau dan ayahmu sama saja..Suka membuat masalah dan merugikan orang lain"
Nyut!
Hati loverna berdenyut karena sakit hati.
Kenapa dia selalu di kait- kait kan dengan kejahatan sang ayah.
" Bi jangan bawa- bawa ayah Saya,peristiwa kemarin tidak ada hubungannya dengan nya.." Balas love berani.
" Pakai ngebela ayahmu yang perampok itu.." Fiona tertawa sinis.
" Sudah bu, hukum saja dia..."
"Tentu....ibu akan menghukumnya." Melihat Lovena tajam.
" Ibu ingat semua gorden dirumah ini harus di ganti dan di Cuci" senyum jahat terukir dibibir Marni saat dia beralih melihat lovena.
" Tugasmu membuka dan membawanya ke loundry. Lalu Gorden yang sudah dibuka harus diganti dengan Gorden baru. tidak saya ijinkan siapa pun membantumu.. Tanpa kecuali..."Bi Marni tertawa puas. Senang sekali bisa melampiaskan Amarahanya yang dia tahan sejak kemarin.
Lovena coba mengingat berapa banyak Gorden dirumah itu. jendela cukup Tinggi dan ukuran Gorden hampir memenuhi tinggi jendela yang berukuran Tiga meter.
cukup banyak jendela serta Gorden yang ada disana.
" Astaga!!" Wajah lovena pucat pasi
" Tapi Bi, hukumannya keterlaluan, Biasanya Tuan muda membayar orang untuk membuka semua gorden dirumah ini dan itu butuh banyak waktu.. Mustahil lovi mampu mengerjakan semua sendiri."Protes Sani.
" Aku tidak minta pendapatmu, Sani..!" Hardik Bi Marni.
" Bibi keterlaluan."
Fiona menjadi berang melihat sikap Sani yang terus membela Lovi.
" Diamlah! pembantu kok banyak omong...Apa.kau mau ikut dihukum bersama dia..?".ancam Fiona melihat Sani tajam.
" Ibu dan anak Sama saja tak punya perasaan.." Balas Sani tidak perduli dengan ancaman Fiona
Tangan Fiona terangkat ingin menampar Sani. Dan Sani diam saja menantang Fiona.
" Ibu..pembantu ini menyebalkan.." rengeknya.
" Bila kau mau, kau boleh membantu nya..Cih! Cari masalah saja..." Bi Marni menarik Fiona pergi dari ruangan sempit itu.
" Huh! Dasar! Ibu dan anak sama- sama belagu,berasa jadi nyonya kali, Dasar Nenek sihir..!" Umpat Sani setelah kedua wanita itu pergi.
" Maaf Sani..kenapa kamu malah belain aku. Jadinya kamu ikut dihukum..?" Kata Lovena disela melepas gorden mereka menggunakan bantuan tangga lipat, Lovena yang memanjat, Sani yang memegang dibawah.
"Tidak Masalah... Kau tidak bisa bekerja sendirian melepas gorden- gorden ini. Buktinya kau butuh aku untuk memegangi tangga agar tidak jatuh!"
Lovena terkekeh
" Iya benar, aku pasti kesulitan jika melakukannya sendiri..Syukurlah! Terimakasih Sani.."
"Ok..."
Menjelang Sore pekerjaan Lovena dan Sani belum juga kelar.
mereka harus melepas Gorden lama kemudian memasang Gorden baru dari lantai satu hingga lantai tiga..
Setiap lantai memiliki beberapa ruang yang memiliki beberapa jendela.
Suara nyaring Bi Marni kembali mengganggu Lovena dan Sani.
Meski tangan Kebas, bahu sakit, leher pegal, Lovena terus berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
" Tuan Ghiff sudah kembali, Buatkan dua cangkir teh bawakan ke ruang kerja milik Tuan muda.."
" Tapi pekerjaan kami belum selesai, Bi...tinggal sedikit lagi.." protes Love.
Banyak pelayan lain dirumah itu kenapa Bi Marni suka sekali merepotkan Lovena.
" Aku tidak mau tuan Ghiff tahu kau yang sudah memang gorden- gorden ini.."
" Memangnya kenapa,Bi? Kami rasa Tuan muda pasti senang dengan hukuman Bibi.
Menyiksa lovena bukannya salah satu Hobby tuan muda?"
" Bukan urusanmu...jaga mulutmu Sani! Bentak Marni berlalu dari ruang tersebut.
" Tentu kau tidak mau Tuan tahu,supaya kau bisa mengambil uang nya. Seharusnya ada dana untuk membayar tukang bongkar pasang gorden ,tapi karena Lovi yang bekerja uangnya jadi tidak terpakai, Dasar Nenek peot! Uang sedikit saja di korupsi!" Sani mencemooh.
Lovena hanya memggelengkan kepala menanggapi omongan Sani yang memang benar adannya
" Sudahlah! Aku pergi dulu, takutnya tuan muda ikutan ngamuk.."
" Keluar dari kandang singa masuk lubang buaya..."
Lovena terkekeh dengan istilah yang diguanakan Sani. lalu mereka pergi bersama menuju Dapur.
Dua cangkir teh telah Siap, Lovena segera membawa ke ruangan Ghiffary.
Alangkah kagetnya ia mendapati Ammar ada bersama Ghiff diruangan itu.
Love menetralkan degup jantung, berusaha abai dengan pria yang pernah mengisi hatinya tersebut.
Berbeda dengan Ammar , kehadiran Lovena diruangan itu menjadi berkah Buatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum dan matanya tak bisa lepas menatap lekat gadis itu. Ghiff sampai kesal kepada pria yang berani memandangi istrinya tanpa berkedip.
Namun Ghiff tidak ingin siapa pun tahu kekesalan yang ia rasakan.
Ammar menyipitkan mata ketika melihat Sesuatu yang janggal di kedua sisi pipi Lovi.
Lima jejak jari masih berbekas disana, kulit lovi yabg putih membuat ia gampang memar.
Hingga jejak tamparan Bi Marni masih tertinggal disana.
" Love..pipimu kenapa..?" Tanya Amar berdiri tiba- tiba dengan wajah cemas menarik lovena menghadapnya
Ghiff pun ikut terpancing dengan pertanyaan Ammar, ikut melihat pipi Lovi.
Lovena bergerak Gelisah berusaha meloloskam diri dari Ammar.
" Bukan urusanmu Amar, lepaskan aku!".
Berusaha menjauhi Ammar.
" Lepaska dia tuan Ammar.." Kata Ghiff tak suka melihat Ammar memegang wajah lovi demikian rupa.
"Tapi..."
" Gadis itu salah satu pelayan saya, Biar saya yang mengintrogasinya nanti.."
" Lovi adalah kekasih saya, Tuan Ghiffary.."
" Ammar , Hentikan! semua hanya masa lalu.." Lovena memekik dengan wajah merah padam menahan marah.
" Permisi Tuan...masih ada pekerjaan lain menunggu.." Pamit Lovi pada Ghiff mengabaikan Ammar.
" Gadis itu tidak pernah berubah masih saja keras kepala.." Ujar Amar. sambil menyugar rambut.
" Setelah kesepakatan kerja ini selesai, bolehkan saya membawa Lovi bersama saya ke kota B, Tuan Ghiff?"
Ekspresi Ghiff berubah kaget
" Maksud Tuan Ammar, apa?"
" Saya akan menikahi Love setelah proses perceraian saya dengan mantan istri selesai. Sejak dulu saya mencintai Gadis itu, hanya saja orang tua tidak merestui kami. tapi setelah banyak yang terjadi saya yakin Lovi adalah pilihan terbaik untuk saya.."
"Lain saja kita bahas masalah itu,saat mari fokus pada masalah pekerjaan saja..." sahut Ghiff mengalihkan topik
" Oh, tentu saja ! maafkan saya Tuan yang terbawa perasaan.." Sahut Ammar tertawa.
Awalnya Ammar tidak menyangka bisa bertemu pengusaha sukses Ghiffary Malik Al- bashir dengan mudah.
Tujuan awalnya adalah mencari Nindya, karena ada rumor, Nindya akan di nikahkan dengan Ghiffary,menggantikan kembaran nya.
Beruntungnya sebuah kejadian membuat Ammar berubah pikiran, Dia lebih memilih mengikat kerja sama dengan Ghiffari dari pada bersiteru dengannya memperebutkan Wanita Matrealistik itu,dan Nindya juga tidak pernah terlihat dirumah Ghiff, setelah beberapa kali Ammar mengawasi rumah mewah itu hingga membawa nya bertemu cinta masa lalu, LOVENA SARASWATI.
apa yg ko takutkan dr nadya kah??
bos bodoh.
istri sj terus disakiti hatinya