Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak perlu mengurus hidup saya
Semuanya seolah membayang, kalimat yang baru saja didengarnya dari sang dokter tentang kondisi Alena mulai menggoyahkan keyakinannya. Meskipun awalnya begitu ragu untuk menyampaikan hasil diagnosa dan pemeriksaan Alena. Dokter harus tetap profesional walau nyawa atau posisinya akan terancam karena ketidakpuasan Althaf, dia tahu pria dihadapannya sangat memiliki kuasa dan arogan.
‘‘Mohon maaf Tuan Althaf, saya harus menyampaikan sejujur-jujurnya tentang kondisi istri Anda," ucap Dokter pasrah.
Tubuh Althaf terasa lemas, kaki seolah tak menapak jejak pada bumi. Kedua tangannya gemetar, pikirannya melayang. Bagaimana tidak, Alena divonis mengalami trauma pada saraf otaknya dan kondisi kesadarannya semakin menurun.
“Apa tidak ada harapan istri saya untuk sembuh. Dokter?" tanya Althaf penuh harap. Padahal dia tahu Dokter telah mengatakan jika hanya ada 20% kemungkinan saja.
“Peluangnya secara kedokteran maksimal 20% Tuan. Saat ini kondisi istri Tuan sudah dalam tahap kronis namun kita bisa berharap pada doa dan keajaiban dari Tuhan,” ungkap Dokter sedikit ragu.
Kedua tangannya terkepal kuat, dadanya terasa sesak. Tak lagi mampu membayangkan Alena yang kehidupannya harus ditopang berbagai jenis alat medis. Bahkan buruknya Alena tak mampu diprediksi kapan akan kembali sadar. Trauma pada saraf yang dapat berakibat kelumpuhan pada batang otaknya membuat akan mengakibatkan Alena dalam kondisi vegetatif atau koma.
"Saya akan membawa Alena pengobatan di Amerika!" seru Althaf sambil berdiri.
“Maaf Tuan, bukannya saya tidak menginginkan kesembuhan pasien, tetapi kondisi istri Anda saat ini tidak memungkin. kan untuk melakukan perjalanan udara." Buru-buru Dokter mencegah Althaf yang hendak keluar dari ruangannya.
“Tekanan udara yang sangat besar saat berada di ketinggian. dapat memperburuk, keadaan pasien. Jika terjadi kejang atau pecah pembuluh darah, selama dalam perjalanan maka istri Tuan tidak akan bisa diselamatkan,” lanjut Dokter memberikan penjelasan.
Althaf semakin lelah, dia tak membalas ucapan dokter Dengan langkah gontai dan wajah lesu Althaf berjalan meninggalkan ruangan praktek Dokter. Di lorong koridor yang kosong tubuh Althaf longsor, bersandar pada tembok sambil memeluk kedua kakinya. Kondisi perusahaannya telah stabil berkat bantuan Alena namun kini pikiran Althaf kembali harus bekerja keras. Jika boleh memilih. Althaf lebih rela kehilangan seluruh harta bendanya yang penting Alena sehat dan selalu ada disampingnya. Untuk saat ini Althaf ingin sendiri, kembali ke ruang perawatan hanya akan membuat dadanya semakin sesak.
Terlihat Althaf mulai membuka matanya kepalanya terasa berat dan sakit di bagian belakang. Selain itu tubuhnya terasa lemas dan kehilangan tenaga. Dia juga lupa kapan terakhir makan perutnya yang keroncongan sejak semalam tak dihiraukannya. Pandangan matanya pertama kali tertuju pada wajah Alena, kedua matanya masih setia terpejam. Helaan nafas Althaf begitu dalam, sesakit itu melihat kondisi Alena yang tak kunjung membaik.
“Gil..!” Suaranya lirih namun terdengar tegas
“Maaf Tuan," jawab Gilbert tak kalah lirih
"Sudah saya bilang, jika bukan berkaitan dengan kondisi istri saya jangan pernah mengganggu." Althaf sudah terlalu lelah untuk berfikir.
"Maaf jika saya lancang, tapi Tuan harus makan," jawab Gilbert tegas meskipun nantinya Althaf akan menghukum dirinya.
"Tidak perlu mengurus hidup saya!" bentak Althaf.
“Al. tak usah keras kepala. Apa dengan kamu seperti ini Alena akan langsung sembuh. Jika Alena bisa mendengar mungkin dia akan kecewa. Jika ingin Alena cepat sadar dan sembuh, makan!!! Urus kesehatan dirimu sendiri. Jangan sampai besok, lusa kamu yang sakit, siapa yang akan menjaga Alena,” seru Gilbert sudah terlalu geram. Biarlah setelah ini Althaf marah atau bahkan memukul dirinya. Gilbert sudah muak dengan Althaf yang cengeng.
Makanan yang dia bawa begitu saja di atas nakas lalu pergi meninggalkan Althaf di ruangan Itu rasanya Gilbert butuh penyegaran otak mencari kesenangan di luar sana.
Ucapan Gilbert yang sedikit keras membuat pikirannya terbuka, Althaf mulai menyadari kesalahannya telah melalaikan kesehatan tubuhnya. Jika dia lemah dan sakit siapa yang akan menjaga Alena. Dengan tangan yang bergetar Althaf mengambil makanan tersebut, sesuap demi sesuap makanan itu dia santap meski rasa perih mulai timbul pada lambungnya.
“Sayang makanan ini tak seenak masakan buatanmu. Besok kamu harus sadar dan bangun ya lalu buatkan ayam bakar kesukaan suamimu ini," ucap Althaf diiringi derai air mata yang tak terbendung.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Tak terasa setelah 18 jam perjalanan udara, Yasmin sampai juga di Jakarta. Rasanya tak sabar ingin melihat bagaimana kondisi Jakarta setelah bertahun tahun dia tinggalkan. Namun yang paling dirindukannya adalah kakak angkatnya Althaf, tak sabar ingin mengetahui kabar dan bagaimana sosok Althaf saat ini.
“Kakak Al… I miss you so much. I am coming,” seru Yasmin dalam hati dengan wajah yang sumringah.
Yasmin mengambil ponselnya dan merubah pengaturan agar dapat menelepon seseorang. Dia tak memberitahu siapapun akan kedatangannya ke Jakarta, sengaja untuk memberikan kejutan. Yasmin mulai mencari nama Althaf pada kontaknya namun setelah mencoba menelpon nomor tersebut rupanya tidak aktif. Namun dia tidak menyerah mencoba menghubungi beberapa kali tetapi tetap hanya dijawab oleh operator. Yasmin memutuskan untuk langsung saja menuju ke rumah Althaf, dia yakin Althaf masih dirumah itu.
Sebuah koper besar diseretnya menuju pintu keluar bandara. Namun matanya tertuju pada seorang pria yang wajahnya begitu familiar. Setelah berpikir sejenak, Yasmin mengetahui siapa pria itu. Tak ingin berpapasan. Yasmin memutar arah dan melalui jalan lain. Jangan sampai pria itu mengenali dan menyadari keberadaannya. Sayangnya, tindakannya saat ini susah terlambat.
maka ny cepat2 sadar diri ,,
sblum jatuh ny harga diri ,,
/Smug//Smug//Smug//Chuckle/
Pak su diam dlu aj yx ,, sayangi nyawa anda yx Pak su ,, 🤭🤣🤣🤣
nama udh keren2 di panggil ny kodok buruk ,, 🤣🤣🤣
lah suaminya ngga ada fungsinya.
aturan Alena Ama Gilbert aja.