Sandra terpaksa menikah dengan calon suami kakaknya saat sang kakak memilih kabur bersama pria yang katanya lebih mapan di banding kekasihnya di hari pernikahannya.
Dapatkan Sandra menjalani pernikahannya dengan baik? Apakah pernikahan itu akan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kembali Gara sibuk dengan berkas di depannya, dan ini sudah hampir satu jam dan pria itu tidak berniat meminta Sandra untuk duduk.
"Tuan Gara." panggil Sandra dan Gara terlihat seolah-olah tidak mendengar ucapan Sandra.
"Tuan Gara!" panggil Sandra lagi dan responnya tetap sama,
Masa bodo lah, dia pasti mendengarkannya kan ..., batin Sandra positif thinking.
"Terimakasih karena tuan Gara sudah membayarkan kuliah Sandra, kalau boleh tolong berikan KTP saya!"
Mendengar ucapan Sandra, kali ini Gara meletakkan. bolpoinnya dan menatap pada Sandra.
"Berani sekali kamu memerintahku!"
Hahhh, salah faham lagi ..., Sandra menghela nafas frustasi.
"Bukan seperti itu maksud saya tuan tapi_!"
"Jangan besar kepala, saya sengaja melakukan itu agar kamu semakin tidak bisa lepas dari ku, dan ku pastikan perlahan-lahan keluargamu akan meneri akibat dari kecerobohan dan keserakahan kalian." ucap Gara membuat rasa simpati Sandra yang sudah mulai tumbuh untuk Gara tiba-tiba kembali lenyap tak tersisa.
Aku pikir _, Sandra segera menggelengkan kepalanya.
"Maaf tuan jika saya berpikir terlalu jauh!" ucap Sandra kembali menundukkan kepalanya.
Brakkkk
Berkas yang berserakan di lantai membuat Sandra tersentak.
"Kamu pikir semua berkas ini sudah pantas untuk kamu serahkan pada saya!" sentak Gara. "Perbaiki lagi baru serahkan pada saya, kamu sudah membuang banyak waktuku!"
Sandra tidak berani menatap Gara, meski begitu ia tahu, pria itu sekarang tengah menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Tidak ada yang bisa Sandra lakukan selain berjongkok dan memunguti berkas-berkas yang berserakan itu hingga kembali rapi.
"Saya permisi tuan, saya akan memperbaikinya!" ucap Sandra sambil membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan Gara.
Sandra kembali ke ruangannya dan Sarah tersenyum mengejek, ia Sudja tahu apa yang akan terjadi pada Sandra.
Kamu salah berhadapan denganku..., batin Sandra. Ia tidak peduli dengan taupak Sarah. Ia duduk dan kembali memeriksa semua berkas itu dan ternyata benar sekali, banyak kesalahan di sana.
Bodoh, kenapa aku tidak memeriksa sebelum menyerahkan pada pria berdarah dingin itu ..., batin Sandra merutuki kebodohannya sendiri.
***
Suara musik yang bising itu sama sekali tidak membuat pria yang tengah duduk sendiri itu merasa terganggu.
Tampak Abimanyu tengah sibuk mencegah wanita-wanita seksi yang hendak mendekati pria itu.
Gara, dia mulai suka mendatangi tempat itu semejak menjadi pewaris. Meskipun begitu, musik yang memekakkan telinga itu nyatanya tidak mempu mengusir rasa sepi dalam hidupnya.
Kebiasaanya itu sudah mulai ia tinggalkan semejak beberapa bulan lalu, ia selalu pulang tepat waktu semejak menikah dengan adik kandung kekasihnya itu.
Tapi semakin ke sini, ia semakin mencoba menghindari Sandra. Awalnya ia pikir dengan menyiksa Sandra akan membuatnya puas. Tapi ternyata apa yang ia pikirkan salah. Semakin ia menyiksa Sandra, semakin ia merasa sakit.
"Hallo nona Sandra." ucap Abimanyu saat menerima panggilan dari seseorang.
"Hallo tuan Abi, apa tuan Gara akan pulang terlambat lagi?" tanya Sandra yang sudah kembali dari kampus.
"Sepertinya begitu nona, nanti jika tuan Gara sudah akan pulang, saya akan hubungi nona lagi!"
Abimanyu pun kembali mematikan sambungan telponnya. Sepertinya Gara menyadari siapa yang tengah bicara dengan tangan kanannya itu, tapi ia pura-pura tidak peduli. Ia kembali asik dengan minumannya.
Hingga tengah malam barulah Gara dan Abimanyu keluar dari tempat itu, mereka kini sudah berada di dalam mobil dengan Gara yang duduk di kursi belakang sedangkan Abimanyu duduk di balik kemudi.
"Jangan beritahu dia!" ucap Gara membuat Abimanyu menghentikan kegiatannya yang tengah memakai sabuk pengaman. Meskipun tanpa bertanya, ia tahu siapa yang di maksud oleh Gara.
"Baik tuan!"
***
Tampak Sandra tengah duduk di sofa kamar, sesuai perintah dari Gara, saat di rumah Sandra bahkan tidak boleh berkeliaran di rumah itu selain ke dapur dan kamar, ia boleh ke dapur hanya atas perintah dari Gara dan selainnya tidak.
Matanya sudah benar-benar tidak bisa di ajak kompromi tapi ia tidak boleh tidur jika tidak ingin di siksa oleh Gara.
"Memang dia pikir aku ini robot apa, bangun lebih awal tapi tidur belakangan!" gerutu Sandra sambil sesekali berusaha membuka matanya lebar dengan kedua tangannya.
Tok tok tok
Hingga suara pintu di ketuk membuat mata Sandra kembali terbuka lebar meskipun sudah sangat merah.
"Nona, ini saya. Bibi Jum!"
"Masuk, bi!" sahut Sandra dan sejurus dengan pintu yang terbuka. Ternyata bibi Jum sendiri.
"Ada apa, bi?" tanya Sandra yang tidak ingin beranjak dari tempatnya.
"Tuan Abi meminta nona untuk tidur dulu!"
"Maksudnya?"
"Nona Sandra tidak perlu menunggu tuan Gara pulang!"
Bukannya senang, Sandra malah terlihat bingung.
"Ini maksudnya gimana ya? Apa saya melakukan kesalahan lagi?" tanya Sandra yang mulai cemas.
"Tidak nona, tuan Gara sendiri yang meminta begitu!"
"Baiklah." ucap Sandra, "Tapi_!" lanjutnya, ia tampak kembali ragu.
"Saya hanya ingin menyampaikan itu nona, selamat beristirahat nona!" ucap bibi Jum sambil memundurkan langkahnya beberapa langkah baru berbalik dan meninggikan Sandra yang masih bingung.
"Ini serius kan?" Sandra bertanya pada dirinya sendiri.
Teringat, terakhir kali ia ketiduran dan tidak menyambut kepulangan Gara, dan pria itu begitu murka. Ia sampai mengangkat tubuh Sandra yang tengah tertidur pulas dan membawanya ke kamar mandi, merendah di air dingin dan tidak membiarkannya keluar dari bathub hingga pagi.
"Tapi kalau bibi Jum yang mengatakannya, masak ia bohong!" gumamnya lagi.
Akhrinya Sandra pun memutuskan untuk tidur karena memang matanya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.
Hanya dalam hitungan menit, ia benar-benar tertidur pulas di sofa. Semenjak ia sakit waktu itu, Gara merelakan Sofanya menjadi tempat tidur bagi Sandra.
Tepat setelah Sandra terlelap, Gara kembali.
"Langsung Lah pulang!" ucap Gara begitu melewati Abimanyu yang berdiri membukakan pintu untuknya.
"Baik tuan, selamat malam!" ucapnya sambil membukakan badannya dan membiarkan Gara berlalu dari hadapannya barulah ia kembali masuk ke dalam mobil.
Seperti biasa pelayan yang berjaga akan menyambut kedatangannya. Gara menatap satu per satu pelayan itu dan sosok yang ia cari benar-benar tidak ada di antara mereka.
"Apa tuan lapar? Biar bibi buatkan makanan!" bibi Jum segera menanyainya.
Gara memberi isyarat dengan mengangkat tangannya,
"Saya mau langsung istirahat!" ucapnya sambil berjalan mendekati tangga.
Tapi langkahnya kembali harus tertahan saat bibi Jum mengikutinya.
"Tuan," ucapnya membuat langkah Gara terhenti.
"Nona Sandra_!"
"Saya tahu!" ucap Gara dan ia pun berlalu dari hadapannya bibi Jum begitu saja.
Bibi Jum memang mencemaskan Sandra, karena memang dia yang bertanggung jawab terhadap Sandra. Apalagi ia mencium baik alkohol dari Gara, sudah bisa di pastikan pria itu baru saja minum-minum.
Gara membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu, ia mendapati lampu kamar masih menyala semua, ia pun menatap ke arah dinding di mana sebuah jam menggantung di sana. Sudah jam dua malam.
Kemudian tatapannya beralih ada wanita yang tertidur pulas di atas sofa dengan masih mengenakan pakaian pelayan itu.
Karena roknya yang berada di atas lutut dan tidak memakai selimut membuat paha mulus wanita itu terekspos lebih banyak.
"Ceroboh sekali dia!" ucapnya, ia pun berjalan ke arah Sandra, selimut yang seharusnya menutup tubuh wanita itu malah dibiarkan terlipat rapi di bawah kakinya.
Gara berencana menarik paksa selimut itu untuk menutup tubuh yang terekspos itu, tapi ternyata tarikan itu membuat tubuh Sandra hampir saja jatuh dan dengan reflek Gara menahan tubuh Sandra. Hingga kini. tubuh Sandra berada di dalam pelukannya.
Tangan Gara yang ia gunakan untuk menahan paha Sandra nyatanya menyentuh paha atas Sandra membuat tatapannya tercekat di pangkal paha yang hampir terbuka itu.
Tanpa di sadari, ia sampai harus menelan Salivanya dengan begitu berat. Bukannya menarik tangannya, ia malah sibuk menikmatinya.
Gila, kamu sudah gila Gara ..., dengan begitu keras Gara berusaha mengendalikan gejolak dalam tubuhnya yang semakin memanas.
Ia segera mengembalikan tubuh Sandra kembali ke posisi semula dan menutupinya dengan selimut.
Ia bergegas ke kamar mandi untuk menetralisir hawa panas dalam tubuhnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...