"Tak pernah kusangka, mencintaimu adalah sebenar-benarnya bencana, dan tak pernah kuduga, pria setampan dan sebaik dirimu bisa membuat luka yang sempurna." Aretha.
"Aku tidak mencintainya, lalu mengapa cemburu itu ada?" Reyhan.
"Kau mengatakan jika kau tidak mencintaiku, tapi reaksi tubuhmu begitu mudah jatuh dalam sentuhanku, Aretha." Fabrizio O'clan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mr. CEO marah
..."Ada rasa tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain selain diriku, namun apa hakku? Aku sendiri bingung kenapa aku merasakan hal itu?" Fabrizio....
***
Pagi yang suram, si brengsek itu menemuiku ke kantor padahal aku sudah berusaha menghindarinya, aku masih merasa kesal karena beberapa hari yang lalu telah kalah dalam permainan olahraga anggar darinya, hingga mengakibatkan lenganku terluka parah, sial, benar-benar sial, itu adalah pertama kalinya aku kalah bermain dari Emilio Cornelius O'clan, yah, adik kandungku sendiri, Emil. Ia baru saja pulang dari Paris Minggu lalu.
"Kau menyambutku dengan raut muka yang masam, brother...."
Tak kuhiraukan dia yang datang melihat sekeliling ruanganku, juga menggoda Mona yang tengah membacakan agendaku hari ini, Emil memelintir rambut panjang mona bahkan meniupkan nafasnya ke belakang telinga sekertarisku itu. Kelakuannya tidak berubah saat melihat mainan baru, selalu seperti itu sejak dulu.
"Pukul 10 perwakilan PT. VHS akan datang melakukan kunjungan, setelah makan siang ada meeting dengan divisi keuangan, pukul 3 sore peresmian O'c restauran." Mona membacakan agenda yang harus kulakukan hari ini.
Aku hanya menggerakkan tanganku menginstruksikannya agar cepat pergi setelah ia selesai, dan Mona sudah sangat faham dengan karakterku yang seperti itu.
"Terimakasih, nona cantik. Vous avez fait du bon travail en portant cette tenue sexy." ucap Emil sambil memukul cukup keras bagian belakang tubuh Mona yang menonjol padat.
"Aahh,,,," pekik Mona terdengar seperti sebuah de.sa.han. Wanita yang selalu berpakaian seksi itu justru tersenyum nakal menerima perlakuan Emil yang sebenarnya tidak sopan padanya.
Aku hanya tersenyum sinis menanggapi pemandangan yang sudah menjadi hal biasa dan lumrah di antar kami itu.
Emil adalah pria yang selalu mengobral kata cinta untuk mendapatkan wanita incarannya, dan setelah dia puas bermain, ia akan menyelesaikan hubungan secara sepihak.
Sedangkan aku? Aku tidak peduli dengan kata cinta dan ikatan sebuah hubungan, itu tidak ada dalam kamusku, karena sejak dulu, jika aku menginginkan seorang wanita, aku akan mengatakannya secara langsung untuk membawanya naik ke atas ranjang, namun begitu aku adalah seorang yang sangat pemilih, itulah kenapa aku lebih suka bermain dengan gadis perawan dan membayarnya mahal, selain itu, aku juga tidak suka bermain dua kali dengan orang yang sama, namun entah mengapa reaksi tubuhku berbeda saat aku berada dekat dengan Aretha, tak dapat kupungkiri aku menginginkannya, padahal kutahu dia adalah janda satu anak, tapi aku menginginkan Aretha mende.sah di bawah kungkunganku.
Oh, konyol sekali, kenapa aku mengingatnya sepagi ini? Membuat junior terbangun, padahal secara terang-terangan Aretha sudah menolakku kemarin. Memalukan.
***
Seperti yang Mona sampaikan, setelah jam makan siang aku meeting dengan divisi keuangan, dan meeting selesai setelah satu jam kemudian.
Aku keluar dari ruang meeting saat pukul 14.30, entah mengapa aku tiba-tiba teringat Aretha, gadis liar itu, di mana dia berada? Sejak pagi aku sama sekali belum bertemu dengannya, dan hariku mendadak terasa hambar tanpa Aretha, namun apa yang kulihat saat ini? Sesuatu yang membuatku merasa kesal. Sangat kesal.
Aretha berada di lantai divisi keuangan, ia tengah mengobrol dengan seseorang yang ingin sekali kuhajar. Emil. Awas saja jika dia mengganggu Aretha.
"Kau yakin tidak mau?" tanya Emil memastikan.
"Tidak, terimakasih, ini masih jam kerja," tolak Aretha.
Aku berjalan semakin mendekat ke arah mereka, dan tanpa aba-aba aku langsung menyambar tangan Aretha untuk ikut bersamaku.
"Ah, Mr. O'clan...." jerit Aretha kaget, ia sedikit meronta, tapi setelah menyadari bahwa aku yang menariknya, ia menurut dengan pasrah.
Aku membawa Aretha masuk ke dalam lift, si brengsek itu mengikuti kami namun dengan cepat aku mencegahnya agar ia tak sampai ikut masuk ke dalam lift, segera aku menekan tombol lift menuju lantai ruanganku, meninggalkan Emil yang menunjukkan tampang menyebalkan ingin dihajar.
"M-mister CEO? A-a apa yang anda lakukan?" tanya Aretha gugup, cara bicaranya bahkan terbata-bata, sepertinya ia masih cukup trauma dengan insiden kami kemarin.
"Bukan aku, tapi kau, apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan di lantai divisi keuangan? Dan mengobrol dengan seorang pria, hah? Kau ingin menggodanya?"
***
POV Aretha.
Dengar apa yang dia katakan? Aku ingin menggoda seorang pria? Justru pria yang mengaku sebagai adiknya tadi itu yang menggodaku terlebih dulu, mengajakku untuk datang ke peresmian restauran O'c, memangnya aku gadis lugu yang tidak tahu apa maksudnya? Sekarang kakaknya malah menuduhku sembarangan.
"S-sa saya datang ke kubikel keuangan untuk memberikan laporan pada Manager, tapi divisi keuangan ternyata sedang ada meeting, saya tidak tahu itu, dan pria itu, Emil, kami tidak sengaja bertemu, dan itu pertemuan pertama."
"Ohhh,,,, luar biasa, kalian baru bertemu dan sudah saling memanggil nama seperti telah mengenal cukup lama,"
Kalimat apa yang dia ucapkan itu? Apa dia marah karena aku tidak menggunakan kata Sir untuk menyebut nama adiknya? Benar-benar gila penghormatan.
"M-maaf, bukan maksud saya, Mr. Emil yang memintanya tadi untuk menyebut namanya saja, Emil."
"Berhenti menyebut namanya," bentak Mr. CEO membuat saya terkejut, ada apa dengan orang ini? Moodnya selalu rusak dan berubah-ubah, sangat sulit tuk ditebak.
"Atau pun pria lain," lanjut Mr. CEO membuat saya ingin bertanya, tapi mendengar nada bicaranya yang mulai melemah, kuurungkan niatku dari pada memperpanjang masalah.
'Ting' pintu lift terbuka.
Mr. CEO menyeretku keluar dari lift, aku berjalan tertatih karena ia melangkah sangat cepat dengan kaki panjangnya yang bergerak lebar, sedangkan aku? Apalah dayaku yang hanya berkaki pendek dan memakai sepatu hak tinggi. Sangat sulit untuk bisa mensejajari langkahnya.
Nona mona langsung berdiri menyambut kedatangan kami, ralat, dia sebenarnya menyambut kedatangan CEO, ia memberikan bow penghormatan yang tak mendapat tanggapan dari Mr. CEO, seperti biasanya, aku menganggukkan kepala cepat sebelum Mr. CEO menarikku masuk ke dalam ruangannya.
'Brakk!'
"Aaahh," dengan mudah Mr. CEO mendorong diriku, melepas kasar genggaman tangannya pada pergelangan tanganku, ia menatapku tajam penuh amarah.
"A-a apa salah saya? K-ke kenapa anda marah?" Aku mundur, merasa gugup dan takut, Mr. CEO mulai melepas jas yang ia kenakan, lalu melepas dasinya kemudian, jantungku berlompatan melihat tindakan Mr. CEO yang kuanggap telah hilang kewarasannya.
Ia melepas satu persatu kencing kemeja tanpa berpaling barang sedetik pun pandangannya dari diriku, aku mundur, berharap bisa menjauh dari dirinya yang sudah kesetanan.
"A-apa yang ingin anda lakukan? S-sa saya tidak mau?" jeritku cukup lantang sambil menutup mata saat ia melempar kemejanya tepat di wajahku, dan refleks aku menangkap kemeja itu.
"Berhenti berpikiran kotor dan obati lukaku!"
"Luka?" perlahan aku membuka mata yang tadi terpejam erat.
Mr. CEO sudah duduk di kursi kebesarannya, lagi, menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi tanpa tertutup apapun di hadapanku secara langsung, aku meneguk saliva kasar melihat tubuh indah itu, sungguh aku bisa kehilangan akal jika terus mendapat pemandangan liar seperti ini. Dia pria tampan yang sangat seksi.
"Sampai kapan kau akan terus berdiri di sana? Sssttt...." Mr. CEO mendesis menahan sakit memegangi lengannya.
Kuletakkan kemeja miliknya yang tadi ia lempar padaku di sofa, lantas aku segera mengambil kotak obat p3k.
***
"Kenapa tidak dibawa ke Dokter saja? Biar lebih cepat sembuhnya, takutnya nanti malah infeksi." ucapku saat melepas perban lama, perban yang kemarin aku balutkan.
Tidak ada komentar, begitulah dia, jika tidak ingin bicara maka orang yang sedang berbicara dengannya hanya akan dianggap angin lalu, benar-benar menyebalkan, aku menghela nafa kasar mencoba lebih bersabar.
"Ini sudah lumayan mengering, tidak seperti kemarin," ucapku yang lagi-lagi tak mendapat tanggapan, sudahlah, itu sudah menjadi hak biasa bagiku sekarang.
Setelah kuberikan obat, aku kembali membalut luka di lengan Mr. CEO dengan perban yang baru.
"Anda tahu? Saya merasa penasaran dengan luka yang anda dapatkan, sejak kemarin saya menanyakannya tapi anda sama sekali tidak memberikan jawaban,"
"Luka itu adalah hasil karyaku, Aretha!"
Sontak aku mendongak, melihat orang yang entah sejak kapan ia datang, namun tiba-tiba sudah berada di dalam ruang CEO dan berjalan mendekat ke arah kami.
***
Bersambung.