NovelToon NovelToon
Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Dosen
Popularitas:826.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shofia Hanina

Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.

Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.

Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.


Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?


Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?

Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?


Bagaimana kelanjutannya.

Ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Kalbu

Titi menuju ke ruangannya dengan Akmal mengikuti di belakang membawakan nasi kotak untuk makan siang. Sudut matanya melihat kalau Satria mengamati dirinya dan Akmal. Setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Titi, Akmal segera pamit undur diri menuju ke masjid untuk melaksanakan salat dhuhur.

Jam 13.00 WIB acara dimulai lagi. Setelah tadi mendengarkan paparan dari para ahli, sekarang giliran ada pertunjukan. Dalang cilik (kecil) sedang unjuk gigi untuk memperlihatkan kemahirannya dalam memainkan wayang kulit. Titi sangat kagum dengan bakat yang dimiliki anak tersebut. Tadi sebelum tampil ada pembukaan dari panitia yang menyebutkan kalau dalang cilik ini berumur sembilan tahun. Masih kelas tiga SD.

Pertunjukan ini diiringi waranggana atau sinden yang masih kecil juga. Tadi disebutkan juga masih berumur sembilan tahun dan masih kelas tiga SD juga. Sinden nya perempuan. Gadis kecil yang cantik dengan tatanan rambut yang disanggul dan ada kerudung yang diletakkan di atas sanggul itu. Make up nya natural, tidak tebal menyesuaikan umur gadis itu. Suaranya sangat melengking khas sinden, sepertinya sudah lumayan profesional walaupun masih berusia semuda itu.

Titi sangat menikmati acaranya. Pukul 15.00 WIB acara itu selesai. Titi menunggu peserta yang lainnya meninggalkan tempat, baru kemudian dirinya juga ingin kembali ke ruangannya. Tampak peserta yang ingin keluar sedang antri di depan lift. Titi memutuskan untuk naik tangga. Turun satu lantai tidak masalah menggunakan tangga saja, sekalian olahraga.

Masih ada waktu sebelum pulang. Titi mengerjakan salat asar terlebih dahulu. Pukul 16.00 Titi pulang, sesuai dengan jam pulang kantor. Dirinya naik lift menuju basemen untuk mengambil motor sekalian absen pulang di sana. Ketika sedang mengambil motornya ada petir yang sangat keras bunyinya. Disusul dengan guyuran hujan yang sangat deras. Titi mengurungkan niatnya untuk pulang. Walaupun dirinya membawa jas hujan di jok motor, tetapi dalam kondisi hujan sangat deras disertai petir dan kilat yang menyambar mampu membuat dirinya ketakutan juga.

"Bu Titi tidak pulang? Membawa jas hujan atau tidak? Saya antar saja ya Bu, besok pagi saya jemput. Biar motornya ditinggal di parkiran saja. Insya Allah aman," ucap Satria yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Titi.

"Saya bawa jas hujan Pak. Biar saya tunggu saja Pak. Sebentar lagi hujannya semoga cepat berhenti, dan petir serta kilat sudah berkurang," jawab Titi.

"Langitnya gelap sekali lho Bu. Nunggu berhenti hujan sepertinya masih lama. Ayo Bu, biar segera istirahat. Ini juga sebagai ucapan terima kasih saya, karena tadi Bu Titi sudah bersedia hadir di acara workshop atas undangan saya," ujar Satria lebih meyakinkan.

"Saya yang seharusnya berterima kasih Pak, karena diundang pada acara tadi. Acaranya sangat bagus. Saya bisa dapat ilmu, bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit langsung, dapat makan siang gratis plus dapat sertifikat. Paket komplit pokoknya," ucap Titi mencoba melucu. Entahlah humornya ini garing atau tidak. Sepertinya Titi perlu ilmu untuk mengimbangi Satria yang mempunyai power untuk meyakinkan seseorang.

"Monggo Bu Titi, aman kok sama saya, dijamin masih utuh sampai rumah." Satria masih meyakinkan Titi agar ikut dengannya. Rupanya bakat marketing juga Satria.

Karena tidak enak kalau menolak niat baik seseorang. Ditambah dengan kondisi langit yang gelap. Akhirnya Titi mengangguk untuk menjawab ajakan dari Satria. Titi mengikuti Satria menuju parkiran mobil. Satria membukakan pintu mobil untuk Titi, setelah itu dirinya mengitari badan mobil untuk membuka pintu pengemudi.

"Sudah dipakai sabuk pengamannya Bu?" tanya Satria. Yang dijawab anggukan kepala dari Titi. Padahal dirinya tahu kalau Titi sudah memakai seat belt. Satria berharap bisa memakaikan sabuk pengaman seperti di novel-novel romantis gitu. Rupanya semesta belum berpihak padanya.

Dari kaca spion Titi melihat ada Si Dia yang memperhatikan dirinya dan Satria. Sejak kapan Si Dia berada di sana? Eh... bukan urusannya juga. Ya wajar kalau ada acara di Rektorat turunnya kebanyakan di basement.

"Lihat siapa Bu?" tanya Satria yang mampu membuat Titi terkejut. Satria juga melihat spion. Ternyata saingannya. Apakah Bu Titi sedekat itu dengan mahasiswanya? Sampai memperhatikan dengan sungguh-sungguh lewat spion. Bahkan kaget waktu diajak bicara.

"Tidak Pak. Itu di belakang ramai sekali. Mungkin sedang menunggu hujan reda sama seperti saya tadi," jawab Titi berdiplomasi. Tidak mungkin Titi menjawab sedang memperhatikan si Dia.

"Oke Bu. Kita jalan ya? Sudah baca doa naik kendaraan?" tanya Satria.

"Sudah Pak."

"Rumahnya di mana?" Satria masih melanjutkan pertanyaannya.

"Karangsalam. Dekat dari kampus Pak," jawab Titi.

Satria mengangguk. Dia paham daerah Purwokerto. Namanya juga Satria, sama dengan julukan untuk kota Purwokerto. Ditambah lagi dengan Kamandaka. Salah satu nama jalan di Purwokerto dan ada sejarah panjang juga dengan nama itu. Jadi sudah mendarah daging dengan Purwokerto.

"Suka musik apa Bu?" tanya Satria ketika mobil sudah melewati pintu gerbang.

"Apa saja Pak, terserah," jawab Titi.

"Waduh... jawaban terserah itu bisa multi tafsir. Apalagi yang mengucapkan seorang wanita," kata Satria dengan tersenyum. Mencoba menggoda dengan senyuman agar teman duduk di sebelahnya merasa nyaman.

"Sepertinya pengalaman pribadi ya Pak. Monggo lah, lagu yang terbaru juga boleh," jawab Titi dari pada bingung mau pilih yang mana.

"Hehehe... saya kurang pengalaman Bu mengenai wanita. Ini sedang pedekate semoga saja berhasil," ucap Satria.

"Siapa Pak. Teman seangkatan kita? Coba nanti saya bantu Pak," jawab Titi dengan serius.

"Ada deh. Orangnya kurang peka sepertinya."

Keduanya terdiam mendengarkan alunan lagu dari audio mobil.

Melukis Senja

(Budi Doremi)

Aku mengerti

Perjalanan hidup yang kini kau lalui

Ku berharap

Meski berat, kau tak merasa sendiri

Kau telah berjuang

Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah

Biar ku menemanimu

Membasuh lelahmu

Izinkan kulukis senja

Mengukir namamu di sana

Mendengar kamu bercerita

Menangis, tertawa

Biar kulukis malam

Bawa kamu bintang-bintang

'Tuk temanimu yang terluka

Hingga kau bahagia

Aku di sini

Walau letih, coba lagi, jangan berhenti

Ku berharap

Meski berat, kau tak merasa sendiri

Kau telah berjuang

Menaklukkan hari-harimu yang tak indah

Biar ku menemanimu

Membasuh lelahmu

Izinkan kulukis senja

Mengukir namamu di sana

Mendengar kamu bercerita

Menangis, tertawa

Biar kulukis malam

Bawa kamu…

"Lagunya bagus ya Bu. Sayangnya senja sore ini tidak kelihatan karena hujan deras. Kalau ada pasti lebih romantis," kata Satria.

"Eh.... gimana Pak?" tanya Titi.

"Ya Allah, ternyata Bu Titi melamun. Ya sudahlah Bu. Tidak apa-apa," jawab Satria.

Titi merasa tidak enak karena tadi melamun. Dirinya sudah minta maaf, yang dijawab Satria dengan senyuman. Hening melingkupi keduanya di dalam mobil. Hanya terdengar suara dari audio mobil.

"Itu belok Pak. Sebentar lagi sampai," kara Titi memecahkan keheningan di antara keduanya.

Satria membelokkan kemudinya sesuai instruksi dari Titi.

"Stop di depan situ Pak," kata Titi sambil menunjuk dengan tangannya, begitu mobil sudah hampir sampai-sampai di depan rumah Mbah Uti.

"Mau mampir Pak?" tanya Titi mengucapkan tawaran sebagai sopan santun karena Satria sudah mengantar dirinya. Tetapi dalam hati berharap semoga Satria menolak tawarannya. Titi tidak ingin nanti diinterogasi Mbah Uti.

"Lain kali saja. Terima kasih," jawab Satria.

Sontak membuat Titi menghembuskan napas lega. Rupanya doanya langsung dikabulkan Allah SWT.

"Eh...kok seneng banget Saya tidak jadi mampir, berubah pikiran atau tidak ya?" ucap Satria sambil matanya melihat ke atas, seperti dilema untuk mengambil keputusan.

"Silahkan Pak. Ayo kalau mau mampir," jawab Titi.

"Lain kali saja deh. Pantang seorang Satria menjilat ludah sendiri," ucap Satria ngakak.

"Terima kasih Pak," Titi segera membuka pintu sebelum didahului Satria. Dia segera melambaikan tangan, takut kalau Satria berubah pikiran.

"Assalamualaikum Pak Satria. Sekali lagi terima kasih."

"Wa'alaikumsalam wr wb. Sama-sama Bu Titi."

Titi masuk ke dalam rumah setelah mobil Satria menjauh. Langit masih gelap. Tetapi hujannya sudah tidak sederas tadi. Titi berlari kecil menuju pintu.

"Assalamualaikum Mbak Pur," kata Titi ketika Mbak Pur membukakan pintu rumah.

"Wa'alaikumsalam wr wb. Lho Mbak Titi dengan siapa? Hujan deras tadi," jawab Mbak Pur.

"Titi masuk dulu ya Mbak Pur. Tidak usah cerita sama Mbah Uti, takutnya beliau kepikiran. Titi tadi diantar teman. Motornya ditinggal di kampus. Insya Allah aman kok," kata Titi pamit kepada Mbak Pur untuk segera menuju ke kamarnya.

Di lantai dua dalam kamarnya Titi tidak langsung mandi. Baru beraktivitas, nunggu beberapa menit dulu, tidak boleh langsung mandi, biar keringatnya berkurang. Titi jadi bertanya-tanya, kira-kira tadi Satria naksir siapa ya? Titi ingin membantu karena Satria sudah baik kepada dirinya. Semoga saja doanya Satria tercapai. Eh.. bukan urusannya juga. Titi tidak ingin terlalu ikut campur urusan orang lain, karena dirinya sendiri masih perlu banyak berbenah.

Titi selonjoran di karpet dalam kamarnya kemudian mengambil remote untuk menyalakan audio. Titi ingin mendengarkan nasyid favoritnya dari audio di kamarnya agar hatinya damai dan lebih tenang. Salah satu hobinya sekarang mendengarkan nasyid.

Doa Kalbu

(Fika Mupla)

Di malam penuh bintang

Di atas sajadah yang ku bentang

Sedu sedan sendiri

Mengadu pada Yang Maha Kuasa

Betapa naif diriku ini

hidup tanpa ingat pada-Mu

Urat nadipun tahu aku hampa

Di malam penuh bintang

Di bawah sinar bulan purnama

Ku pasrahkan semua

Keluh dan kesah yang aku rasa

Sesak dadaku menangis pilu

Saat ku urai dosa-dosaku

Dihadapan-Mu ku tiada artinya

Doa qalbu tak bisa aku bendung

Deras bak hujan di gurun sahara

Hatiku yang gersang

Terasa oh tenteram

Hanya Engkau yang tahu siapa aku

Tetapkanlah seperti malam ini

Sucikan diriku

Selama-lamanya

Di malam penuh bintang

Di atas sajadah yang ku bentang

Sedu sedan sendiri

Mengadu pada Yang Maha Kuasa

Betapa naif diriku ini

hidup tanpa ingat pada-Mu

Urat nadipun tahu aku hampa

Doa qalbu tak bisa aku bendung

Deras bak hujan di gurun sahara

Hatiku yang gersang

Terasa oh tenteram

Hanya Engkau yang tahu siapa aku

Tetapkanlah seperti malam ini

Sucikan diriku

Selama-lamanya

Doa qalbuku

1
Djoko Prasetyanto
bagus ceritanya..
Cupetong Cupetong
Mungkin malah sekilas tentang kehidupannya yg dibumbui biar tambah makin menarik👍
Fitra Smart
serasa kuliah sambil dengarin dosen jelasin ini🤣🤣
Nining Nuraningsih
bab ini aku lewatin semua ga dibaca maaf ya
Nining Nuraningsih
terlalu bertele tele ya,jadi bosen jarang komunikasinya
Heny Febti
Si Othor udah pernah ikut tes CPNS ya? tau banget. 😀💪
Alia Santi
sangat menarik tapi sudah lama gak up novel e
Ahmad Faudzan
hahh satria enggak mau kalah nieh 🤔🤔🤔
Ahmad Faudzan
super karyanmu Thor ! banyak informasi penting tambah ilmu jadinya
Ahmad Faudzan
God job kak author terusin
Ahmad Faudzan
bau minyak nyong-nyong tu mbak'e 🌹🌹🌹
Ahmad Faudzan
semangat Thor ceritanya menarik
Apariani
super skli novel y sgt menginspirasi dan byk mnanamkn nilai2 akhlak dn aqidah islam yg kental
Alia Santi
lama
re
Suami idaman
AbhiAgam Al Kautsar
terimakasih kak Thor.. yg sudah menceritakan kisah berlokasi di Rembang.. tempat tanah kelahiran ku.
..
komentar terbaik
huh seriusan legalisir sejak sd?
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
komentar terbaik
ini keren detail banget, lokasi, situasi, kronologisnya juga. kebetulan beberapa lokasi yang disebutkan aku pernah ke situ jadi tahu persis sesuai yang digambarkan.

sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.

keren.
Alia Santi
kok 2 bln gak up kak
Apariani
sgt menginspirasi skli,muatn moral akhlakul karimah dn ilmu pwngetahuan y byk skli.sukses sllu saya sgt suka novel ini
Djoko Prasetyanto: setuju sekali
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!