Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.
Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.
Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.
Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?
Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?
Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?
Bagaimana kelanjutannya.
Ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Doa Kalbu
Titi menuju ke ruangannya dengan Akmal mengikuti di belakang membawakan nasi kotak untuk makan siang. Sudut matanya melihat kalau Satria mengamati dirinya dan Akmal. Setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Titi, Akmal segera pamit undur diri menuju ke masjid untuk melaksanakan salat dhuhur.
Jam 13.00 WIB acara dimulai lagi. Setelah tadi mendengarkan paparan dari para ahli, sekarang giliran ada pertunjukan. Dalang cilik (kecil) sedang unjuk gigi untuk memperlihatkan kemahirannya dalam memainkan wayang kulit. Titi sangat kagum dengan bakat yang dimiliki anak tersebut. Tadi sebelum tampil ada pembukaan dari panitia yang menyebutkan kalau dalang cilik ini berumur sembilan tahun. Masih kelas tiga SD.
Pertunjukan ini diiringi waranggana atau sinden yang masih kecil juga. Tadi disebutkan juga masih berumur sembilan tahun dan masih kelas tiga SD juga. Sinden nya perempuan. Gadis kecil yang cantik dengan tatanan rambut yang disanggul dan ada kerudung yang diletakkan di atas sanggul itu. Make up nya natural, tidak tebal menyesuaikan umur gadis itu. Suaranya sangat melengking khas sinden, sepertinya sudah lumayan profesional walaupun masih berusia semuda itu.
Titi sangat menikmati acaranya. Pukul 15.00 WIB acara itu selesai. Titi menunggu peserta yang lainnya meninggalkan tempat, baru kemudian dirinya juga ingin kembali ke ruangannya. Tampak peserta yang ingin keluar sedang antri di depan lift. Titi memutuskan untuk naik tangga. Turun satu lantai tidak masalah menggunakan tangga saja, sekalian olahraga.
Masih ada waktu sebelum pulang. Titi mengerjakan salat asar terlebih dahulu. Pukul 16.00 Titi pulang, sesuai dengan jam pulang kantor. Dirinya naik lift menuju basemen untuk mengambil motor sekalian absen pulang di sana. Ketika sedang mengambil motornya ada petir yang sangat keras bunyinya. Disusul dengan guyuran hujan yang sangat deras. Titi mengurungkan niatnya untuk pulang. Walaupun dirinya membawa jas hujan di jok motor, tetapi dalam kondisi hujan sangat deras disertai petir dan kilat yang menyambar mampu membuat dirinya ketakutan juga.
"Bu Titi tidak pulang? Membawa jas hujan atau tidak? Saya antar saja ya Bu, besok pagi saya jemput. Biar motornya ditinggal di parkiran saja. Insya Allah aman," ucap Satria yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan Titi.
"Saya bawa jas hujan Pak. Biar saya tunggu saja Pak. Sebentar lagi hujannya semoga cepat berhenti, dan petir serta kilat sudah berkurang," jawab Titi.
"Langitnya gelap sekali lho Bu. Nunggu berhenti hujan sepertinya masih lama. Ayo Bu, biar segera istirahat. Ini juga sebagai ucapan terima kasih saya, karena tadi Bu Titi sudah bersedia hadir di acara workshop atas undangan saya," ujar Satria lebih meyakinkan.
"Saya yang seharusnya berterima kasih Pak, karena diundang pada acara tadi. Acaranya sangat bagus. Saya bisa dapat ilmu, bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit langsung, dapat makan siang gratis plus dapat sertifikat. Paket komplit pokoknya," ucap Titi mencoba melucu. Entahlah humornya ini garing atau tidak. Sepertinya Titi perlu ilmu untuk mengimbangi Satria yang mempunyai power untuk meyakinkan seseorang.
"Monggo Bu Titi, aman kok sama saya, dijamin masih utuh sampai rumah." Satria masih meyakinkan Titi agar ikut dengannya. Rupanya bakat marketing juga Satria.
Karena tidak enak kalau menolak niat baik seseorang. Ditambah dengan kondisi langit yang gelap. Akhirnya Titi mengangguk untuk menjawab ajakan dari Satria. Titi mengikuti Satria menuju parkiran mobil. Satria membukakan pintu mobil untuk Titi, setelah itu dirinya mengitari badan mobil untuk membuka pintu pengemudi.
"Sudah dipakai sabuk pengamannya Bu?" tanya Satria. Yang dijawab anggukan kepala dari Titi. Padahal dirinya tahu kalau Titi sudah memakai seat belt. Satria berharap bisa memakaikan sabuk pengaman seperti di novel-novel romantis gitu. Rupanya semesta belum berpihak padanya.
Dari kaca spion Titi melihat ada Si Dia yang memperhatikan dirinya dan Satria. Sejak kapan Si Dia berada di sana? Eh... bukan urusannya juga. Ya wajar kalau ada acara di Rektorat turunnya kebanyakan di basement.
"Lihat siapa Bu?" tanya Satria yang mampu membuat Titi terkejut. Satria juga melihat spion. Ternyata saingannya. Apakah Bu Titi sedekat itu dengan mahasiswanya? Sampai memperhatikan dengan sungguh-sungguh lewat spion. Bahkan kaget waktu diajak bicara.
"Tidak Pak. Itu di belakang ramai sekali. Mungkin sedang menunggu hujan reda sama seperti saya tadi," jawab Titi berdiplomasi. Tidak mungkin Titi menjawab sedang memperhatikan si Dia.
"Oke Bu. Kita jalan ya? Sudah baca doa naik kendaraan?" tanya Satria.
"Sudah Pak."
"Rumahnya di mana?" Satria masih melanjutkan pertanyaannya.
"Karangsalam. Dekat dari kampus Pak," jawab Titi.
Satria mengangguk. Dia paham daerah Purwokerto. Namanya juga Satria, sama dengan julukan untuk kota Purwokerto. Ditambah lagi dengan Kamandaka. Salah satu nama jalan di Purwokerto dan ada sejarah panjang juga dengan nama itu. Jadi sudah mendarah daging dengan Purwokerto.
"Suka musik apa Bu?" tanya Satria ketika mobil sudah melewati pintu gerbang.
"Apa saja Pak, terserah," jawab Titi.
"Waduh... jawaban terserah itu bisa multi tafsir. Apalagi yang mengucapkan seorang wanita," kata Satria dengan tersenyum. Mencoba menggoda dengan senyuman agar teman duduk di sebelahnya merasa nyaman.
"Sepertinya pengalaman pribadi ya Pak. Monggo lah, lagu yang terbaru juga boleh," jawab Titi dari pada bingung mau pilih yang mana.
"Hehehe... saya kurang pengalaman Bu mengenai wanita. Ini sedang pedekate semoga saja berhasil," ucap Satria.
"Siapa Pak. Teman seangkatan kita? Coba nanti saya bantu Pak," jawab Titi dengan serius.
"Ada deh. Orangnya kurang peka sepertinya."
Keduanya terdiam mendengarkan alunan lagu dari audio mobil.
Melukis Senja
(Budi Doremi)
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
Aku di sini
Walau letih, coba lagi, jangan berhenti
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak indah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu…
"Lagunya bagus ya Bu. Sayangnya senja sore ini tidak kelihatan karena hujan deras. Kalau ada pasti lebih romantis," kata Satria.
"Eh.... gimana Pak?" tanya Titi.
"Ya Allah, ternyata Bu Titi melamun. Ya sudahlah Bu. Tidak apa-apa," jawab Satria.
Titi merasa tidak enak karena tadi melamun. Dirinya sudah minta maaf, yang dijawab Satria dengan senyuman. Hening melingkupi keduanya di dalam mobil. Hanya terdengar suara dari audio mobil.
"Itu belok Pak. Sebentar lagi sampai," kara Titi memecahkan keheningan di antara keduanya.
Satria membelokkan kemudinya sesuai instruksi dari Titi.
"Stop di depan situ Pak," kata Titi sambil menunjuk dengan tangannya, begitu mobil sudah hampir sampai-sampai di depan rumah Mbah Uti.
"Mau mampir Pak?" tanya Titi mengucapkan tawaran sebagai sopan santun karena Satria sudah mengantar dirinya. Tetapi dalam hati berharap semoga Satria menolak tawarannya. Titi tidak ingin nanti diinterogasi Mbah Uti.
"Lain kali saja. Terima kasih," jawab Satria.
Sontak membuat Titi menghembuskan napas lega. Rupanya doanya langsung dikabulkan Allah SWT.
"Eh...kok seneng banget Saya tidak jadi mampir, berubah pikiran atau tidak ya?" ucap Satria sambil matanya melihat ke atas, seperti dilema untuk mengambil keputusan.
"Silahkan Pak. Ayo kalau mau mampir," jawab Titi.
"Lain kali saja deh. Pantang seorang Satria menjilat ludah sendiri," ucap Satria ngakak.
"Terima kasih Pak," Titi segera membuka pintu sebelum didahului Satria. Dia segera melambaikan tangan, takut kalau Satria berubah pikiran.
"Assalamualaikum Pak Satria. Sekali lagi terima kasih."
"Wa'alaikumsalam wr wb. Sama-sama Bu Titi."
Titi masuk ke dalam rumah setelah mobil Satria menjauh. Langit masih gelap. Tetapi hujannya sudah tidak sederas tadi. Titi berlari kecil menuju pintu.
"Assalamualaikum Mbak Pur," kata Titi ketika Mbak Pur membukakan pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam wr wb. Lho Mbak Titi dengan siapa? Hujan deras tadi," jawab Mbak Pur.
"Titi masuk dulu ya Mbak Pur. Tidak usah cerita sama Mbah Uti, takutnya beliau kepikiran. Titi tadi diantar teman. Motornya ditinggal di kampus. Insya Allah aman kok," kata Titi pamit kepada Mbak Pur untuk segera menuju ke kamarnya.
Di lantai dua dalam kamarnya Titi tidak langsung mandi. Baru beraktivitas, nunggu beberapa menit dulu, tidak boleh langsung mandi, biar keringatnya berkurang. Titi jadi bertanya-tanya, kira-kira tadi Satria naksir siapa ya? Titi ingin membantu karena Satria sudah baik kepada dirinya. Semoga saja doanya Satria tercapai. Eh.. bukan urusannya juga. Titi tidak ingin terlalu ikut campur urusan orang lain, karena dirinya sendiri masih perlu banyak berbenah.
Titi selonjoran di karpet dalam kamarnya kemudian mengambil remote untuk menyalakan audio. Titi ingin mendengarkan nasyid favoritnya dari audio di kamarnya agar hatinya damai dan lebih tenang. Salah satu hobinya sekarang mendengarkan nasyid.
Doa Kalbu
(Fika Mupla)
Di malam penuh bintang
Di atas sajadah yang ku bentang
Sedu sedan sendiri
Mengadu pada Yang Maha Kuasa
Betapa naif diriku ini
hidup tanpa ingat pada-Mu
Urat nadipun tahu aku hampa
Di malam penuh bintang
Di bawah sinar bulan purnama
Ku pasrahkan semua
Keluh dan kesah yang aku rasa
Sesak dadaku menangis pilu
Saat ku urai dosa-dosaku
Dihadapan-Mu ku tiada artinya
Doa qalbu tak bisa aku bendung
Deras bak hujan di gurun sahara
Hatiku yang gersang
Terasa oh tenteram
Hanya Engkau yang tahu siapa aku
Tetapkanlah seperti malam ini
Sucikan diriku
Selama-lamanya
Di malam penuh bintang
Di atas sajadah yang ku bentang
Sedu sedan sendiri
Mengadu pada Yang Maha Kuasa
Betapa naif diriku ini
hidup tanpa ingat pada-Mu
Urat nadipun tahu aku hampa
Doa qalbu tak bisa aku bendung
Deras bak hujan di gurun sahara
Hatiku yang gersang
Terasa oh tenteram
Hanya Engkau yang tahu siapa aku
Tetapkanlah seperti malam ini
Sucikan diriku
Selama-lamanya
Doa qalbuku
..
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.
keren.