"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. chapter tiga puluh tiga
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, Like dan bintang....
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
Cameli adalah ibu kandung Alifa. Semenjak Alifa mendapatkan kabar bahwa orang tuanya berpisah, Alifa sangat syok sekali. Cameli tidak menyangka bahwa Alifa akan tahu secepatnya ini. Semenjak saat itulah Alifa memutuskan hubungan dengan cameli.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" Tanya Lala.
Lala adalah sekretaris pribadi cameli, sekaligus tangan kanan cameli dalam urusan apapun. Lala telah lama mengabdi pada cameli sudah sekitar 9tahun lamanya.
Cameli menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu keluar lah. Kerahkan semua anak buah yang kamu miliki untuk mencari Alifa dan Reza." Perintah cameli.
"Baik nyonya. Hamba undur diri." Ujar Lala membungkukkan badannya, lalu beranjak pergi dari ruangan pribadi cameli.
Cameli memandangi lekat wajah Alifa dan Reza dalam sebuah bingkai foto. Foto yang diambil tepat Alifa dan Reza waktu masih kecil.
"Semoga kita semua bisa berkumpul lagi."
"Mami sangat merindukan kalian berdua."
Cameli menghapus butiran air mata yang masih tersisa di kelopak matanya.
***
Mansion dayton:
Sepanjang hari Alifa hanya bisa duduk terbaring diatas ranjang. Kakinya masih sangat sulit untuk digerakkan. Alifa hanya bisa pasrah dengan kelakuan abang-abang nya.
Pada malam ini, Alifa berlatih berjalan sendiri. Awalnya sedikit susah dan sangat sakit. Namun, Alifa tak goyah. Ia memaksakan kakinya untuk berjalan. Walaupun, langkahnya hanya kecil. Rangga, sebagai dokter pribadi Alifa tak henti-hentinya memberikan support pada Alifa.
Satu langkah...
Dua langkah....
Tiga langkah...
Keringat terus bercucuran di kening Alifa. Rangga membantu Alifa untuk mengelap keringat di kening Alifa.
"Beristirahat lah dulu." Ujar Rangga diangguki Alifa.
Rangga membantu Alifa memapah keranjang.
"Gue akan bawakan Lo susu. Itu sangat baik untuk asuman gizi." Ujar Rangga.
"Bang..." Sapa Alifa.
"Ya?"
"Apa mami masih mencari keberadaan gue?"
Rangga diam.
'pasti ini sangat berat untuk Lo, Alifa. Diusia Lo yang masih muda, Lo harus bekerja keras seperti ini. Gue salud sama lo.' batin Rangga.
"Katakan bang!"
Huh...
Rangga menghembuskan napas kasar.
"Ya. Beberapa bodyguard mami Lo sudah sampai di negara ini. Seperti nya mami Lo sangat serius untuk mencari Lo." Ujar Rangga memberi informasi pada Rangga.
"Lalu, apa yang akan Lo lakukan seandainya mami Lo berhasil menemukan Lo?" Tanya Rangga.
Alifa diam saja. Dalam hatinya ia sudah menangis. Namun, dari luarnya Alifa tak dapat mengeluarkan air matanya. Hatinya sangat sakit, perih dan pedih mengingat momen-momen itu.
Flashback on:
Pada hari ini adalah hari ulang tahun Alifa. Dikamar Alifa sudah ada banyak sekali kado-kado dimana-mana. Alifa sangat gembira sekali mendapatkan kejutan di pagi hari.
Alifa menghampiri semua kado-kado itu dengan perasaan yang penuh dengan bunga-bunga.
"Wow, kadonya banyak sekali." Alifa menepuk tangannya sendiri.
Cekrek...
Pintu terbuka menampakkan sosok baby sister Alifa. Baby sister yang selama ini telah merawat Alifa sejak bayi. Orang tua Alifa sangat sibuk bekerja, hingga tak punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama Alifa.
Alifa selalu kesepian tanpa kasih sayang orang tuanya, ia tidak punya teman dan selalu diejek teman-teman nya saat ia pergi ke sekolah. Teman satu-satunya yang dimiliki Alifa adalah baby sister nya.
"Ikhik... Ikhik..."
"Kakak Wanda kenapa menangis?"
"Apa ada yang jahat sama kakak?"
"Kalo ada katakan saja pada Alifa, Alifa akan menghukum orang itu."
Wanda memandangi wajah polos Alifa. Wanda menghapus semua butiran air matanya sendiri. Ia tak mau membuat Alifa bersedih.
'nona muda diusia anda ini, anda harus mengalami kehidupan yang pahit.' batin Wanda.
"Kakak Wanda kenapa tidak menjawab pertanyaan Alifa?"
"Apa kakak Wanda marah pada Alifa?"
Wanda menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kakak menangisi?"
"Maafkan kakak. Tadi mata kakak hanya kemasukan debu saja." Ujar Wanda bohong, ia sama sekali tak mau menyakiti perasaan Alifa.
Wajah polos Alifa, senyuman polos Alifa dan kelakuannya yang membuat semua orang tersenyum, Wanda tidak ingin semua itu hilang dari Alifa.
Prang...
Suara pecahan kaca jatuh membuat Alifa ketakutan. Alifa memeluk erat Wanda.
"Kakak, Alifa takut. Ikhik..."
"Ikhik... Ikhik... Apa mamah dan papah bertengkar lagi?"
Wanda diam.
'bagimana aku harua menjelaskan pada nona muda?' batin Wanda.
"Tidak apa-apa. Itu pasti hanya kucing."
"Kakak bohong!"
Alifa keluar dari kamar kamarnya. Alifa berlari dengan tangisan menuju ke kamar orang tua nya.
"Nona muda, nona muda Alifa..." Teriakan Wanda mengejar langkah kaki Alifa.
***
"Sekarang aku minta kamu ceraikan aku!" Titah tegas dari cameli, ibu kandung Alifa.
Mata cameli menunjukkan amarah yang berapi-api, akibat perselingkuhan yang dituduhkan pada dirinya.
"Baik. Jika itu mau kamu. Mulai sekarang kita berpisah." Titah tegas Alex, ayah kandung Alifa.
"Dan ingat hak asuh Alifa akan berada ditangan ku!" Titahnya lagi.
"Tidak! Alifa adalah putriku. Aku yang mengandung nya selama sembilan bulan! Kamu tidak berhak untuk merebut nya dari ku!" Ujar cameli tak mau kalah.
"Mami dan papi akan berpisah???" Tanya Alifa membubarkan pertengkaran antara cameli dan Alex.
Cameli dan Alex sangat terkejut dengan kehadiran Alifa. Mereka sama-sama menghampiri Alifa.
"HOS... HOS... Nyonya dan tuan besar maaf saya lalai menjaga nona muda." Ujar Wanda mengatur napasnya.
Alifa berlari meninggalkan orang tuanya. Langkah kakinya Alifa dibanjiri dengan tangisan nya. Wanda ikut berlari menyusul Alifa.
"Ini semua gara-gara kamu!" Titah tegas cameli.
Flashback off.
***
"Kakak..." Sapa Albert duduk disampig Alifa.
"Ada apa Albert?" Tanya Alifa.
"Maafkan Albert kakak. Gara-gara kakak berusaha menyelamatkan nyawa Albert, kakak harus sakit. Ikhik..."
Alifa menghapus air mata Albert. "Ini semua bukan salah kamu. Sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri yah. Kakak baik-baik saja."
"Bolehkah Albert tidak bersama kakak?"
"Tentu boleh. Sini..."
Albert berbaring dalam satu ranjang bersama Alifa. Albert memeluk Alifa dengan kuat, hingga lama-lama mereka sama-sama tertidur dalam sebuah dekapan.
Cekrek...
Kelly dan Kelvin sangat bahagia mendapatkan momen langka dikamar Alifa.
"Lihat... Alifa kecil kita sudah kembali berkat Albert." Ujar Kelly terharu.
"Semoga hubungan kakak dan beradik mereka tidak akan terpisahkan." Sambung Kelvin memeluk pinggang Kelly.
"Amin. Aku berharap begitu." Sambung Kelly.
***
Pesantren:
"Kapan kamu akan balik bocah tengil?!"
Elang sangat bosan tanpa kehadiran Alifa. Elang melampiaskan rasa bosannya dengan melempar batu di sungai. Hanya itu yang ia bisa lakukan untuk menghentikan rasa rindunya.
"Sedang apa duduk sendiri disini?" Tanya gus Rizal entah datang darimana