THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Malam Terakhir yang Tenang
Markas Tim Aurora kembali terasa seperti benteng yang tak tertembus saat mereka mendarat. Lampu-lampu koridor menyala dengan cahaya putih steril, menyambut mereka dengan keheningan yang menenangkan setelah ketegangan di Hutan Data Lama. Namun, bagi Raka, keheningan itu tidak membawa kedamaian. Ia justru terasa seperti jeda napas sebelum teriakan terakhir. Setiap langkah kakinya di atas lantai metalik terasa berat, seolah-olah gravitasi bumi telah berlipat ganda khusus untuknya.
Malam itu, markas sangat sepi. Tidak ada alarm, tidak ada laporan darurat, tidak ada suara sirine yang memecah ketenangan. Hanya dengungan halus dari server pusat dan desisan sistem pendingin udara yang menjadi soundtrack malam tersebut. Bagi Bimo, Kai, dan Elara, ini adalah tanda bahwa bahaya telah berlalu. Mereka menganggap insiden di Sektor 9 sebagai kejadian aneh yang sudah selesai, sebuah misteri kecil yang akan mereka pecahkan besok pagi dengan kepala dingin.
Tapi bagi Raka, ini adalah malam perpisahan.
Setelah memastikan semua sistem keamanan aktif dan melaporkan "misi selesai" dengan status hijau palsu ke pusat komando—sebuah kebohongan administratif terakhir yang ia lakukan agar tidak ada pertanyaan lanjutan—Raka memutuskan untuk berkeliling. Ia tidak langsung menuju kamarnya. Ia memiliki agenda tersendiri, sebuah ritual pamit yang harus ia jalankan sendirian.
Langkah pertamanya mengarah ke dapur umum. Aroma rempah-rempah masih tersisa samar-samar di udara, sisa dari eksperimen masak Bimo tadi siang. Raka berjalan pelan, jari-jarinya menyentuh permukaan meja dapur yang bersih mengkilap. Di sudut ruangan, ia melihat secarik kertas catatan tempel berwarna kuning yang ditempelkan di kulkas. Tulisan tangan Bimo yang besar dan berantakan terbaca jelas: "Jangan lupa makan sayur! - Chef Bimo."
Raka tersenyum tipis, senyum yang penuh rasa sakit. Ia mengingat bagaimana Bimo selalu khawatir tentang asupan gizi mereka, bagaimana pria besar itu bisa marah jika mereka melewatkan sarapan, dan bagaimana dia selalu menyembunyikan kecemasannya di balik lelucon tentang masakan gosongnya.
Raka berjalan menuju kamar asrama Bimo. Pintunya tertutup rapat. Dari balik pintu, terdengar dengkuran nyaring yang khas, diselingi dengan gumaman tidur tentang "bumbu rahasia". Raka mengangkat tangannya, hendak mengetuk, tapi urung. Ia tidak ingin membangunkan sahabatnya. Ia hanya ingin menyampaikan pesan terakhirnya, meski hanya pada kayu pintu.
"Masakanmu tadi enak banget, Bim," bisik Raka pelan, suaranya serak. "Terima kasih ya. Terima kasih sudah selalu menjaga perut kami tetap kenyang dan hati kami tetap hangat. Maaf kalau aku jarang bilang... kau adalah jantung dari tim ini, Bim. Tanpa kau, kami cuma sekumpulan prajurit yang kelaparan dan kesepian."
Raka menempelkan dahinya sebentar pada pintu itu, menutup matanya, membiarkan kenangan tawa Bimo mengisi pikirannya. Lalu, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Kamar Kai berada di ujung koridor sebelah kiri. Berbeda dengan kamar Bimo yang berantakan, pintu kamar Kai terlihat rapi, dengan stiker kode biner kecil yang ditempel di gagang pintu. Raka membuka pintu itu sedikit. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya biru lembut dari beberapa monitor komputer yang masih menyala dalam mode sleep. Kai terbaring di kasurnya, selimut ditarik hingga dagu, kacamata augmented reality-nya diletakkan rapi di meja samping tempat tidur.
Raka masuk perlahan, menghindari kabel-kabel yang berserakan di lantai. Dia berdiri di sisi tempat tidur Kai, menatap wajah teman mudanya itu. Kai terlihat begitu muda, begitu polos dalam tidurnya. Tidak ada kerutan di dahinya, tidak ada beban di bahunya. Dia hanyalah seorang jenius musik dan kode yang mencintai kebebasan.
Raka ingat bagaimana Kai selalu mengeluh tentang protokol keamanan yang kaku, bagaimana dia selalu mencari celah untuk memasang lagu-lagu retro di sistem komunikasi mereka, dan bagaimana dia selalu menjadi penengah ketika Bimo dan anggota lain bertengkar.
"Game tadi seru," bisik Raka, suaranya hampir tak terdengar di antara dengungan kipas komputer. "Lanjut besok ya, Kai. Menang atau kalah, itu bukan masalah utamanya. Yang penting kita memainkannya bersama. Jangan pernah berhenti bermusik, Kai. Dunia ini butuh melodi kamu lebih dari yang kamu kira. Jaga diri, kawan."
Raka meraih bahu Kai轻轻, sebuah sentuhan singkat dan ringan, sebelum akhirnya mundur keluar kamar dan menutup pintunya dengan hati-hati. Hatinya terasa semakin sesak. Satu lagi teman yang ia tinggalkan. Satu lagi janji yang ia biarkan menggantung.
Sekarang, hanya satu pintu yang tersisa.
Pintu kamar Elara.
Raka berdiri di depan pintu itu untuk waktu yang lama. Tangannya gemetar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa sakit di seluruh tubuhnya. Glitch di tangannya kambuh lagi, kali ini lebih parah. Jari-jarinya berkedip-kedip, berubah menjadi piksel abu-abu selama beberapa detik sebelum kembali normal. Rasa nyeri di dadanya menjalar ke lehernya, membuatnya sulit bernapas.
Dia ingin masuk. Dia ingin menerobos pintu itu, memeluk Elara erat-erat, dan menceritakan semuanya. Dia ingin menangis di bahu Elara, mengakui kelemahannya, mengakui ketakutannya, dan meminta maaf atas kebohongan-kebohongannya. Dia ingin menghabiskan malam terakhir ini dalam pelukan wanita yang dicintainya, merasakan kehangatan tubuhnya, mendengar napasnya, dan mencetak memori itu sedalam-dalamnya ke dalam jiwanya.
Tapi dia tidak bisa.
Jika dia masuk, Elara akan tahu. Elara akan melihat air mata di matanya, akan merasakan getaran di tubuhnya, akan mencium bau kematian yang mulai menyelimutinya. Dan jika Elara tahu, dia akan hancur. Dia akan mencoba menyelamatkan Raka, akan memanggil dokter, akan melakukan segala hal untuk menunda yang tak bisa ditunda. Dan itu akan merusak kenangan indah terakhir mereka. Itu akan mengubah cinta mereka menjadi tragedi yang penuh keputusasaan, bukan kisah romantis yang manis dan pahit.
Raka menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangan hingga berdarah, menggunakan rasa sakit fisik itu untuk mengendalikan emosi yang meledak-ledak.
Dia tidak mengetuk.
Sebaliknya, Raka membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke celah bawah pintu. Ia berbicara dengan suara yang begitu halus, begitu penuh cinta, hingga kata-katanya seolah-olah adalah doa.
"Jaga diri baik-baik, El," bisiknya, suaranya pecah oleh isakan yang ditahan. "Aku sayang kamu. Lebih dari apapun di dunia ini. Lebih dari nyawaku sendiri. Maafkan aku... karena aku harus pergi duluan. Tapi percayalah, cintaku padamu tidak akan pernah mati. Itu akan hidup di setiap angin yang berhembus, di setiap sinar matahari yang terbit, di setiap lagu yang Kai mainkan, dan di setiap masakan Bimo. Aku akan selalu ada di sana, menjagamu, bahkan ketika kamu tidak bisa melihatku."
Air mata akhirnya lolos, jatuh menetes ke lantai karpet koridor. Raka mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghapus jejak kesedihannya. Ia berdiri tegak, merapikan seragamnya, dan mengambil napas terakhir sebagai "Raka yang utuh".
Dia berbalik, meninggalkan pintu kamar Elara tanpa pernah membukanya. Dia berjalan menjauh, langkah kakinya gontai namun pasti, menuju ruang rekreasi di lantai dasar. Dia tidak kembali ke kamarnya. Dia tahu dia tidak akan bisa tidur.
Raka duduk di sofa usang yang sama seperti di Bab 28, tetapi kali ini, ia tidak sendirian dalam pikirannya. Ia membawa serta wajah-wajah teman-temannya, suara tawa mereka, dan janji-janji yang telah ia ucapkan. Ia mengambil foto grup dari saku jaketnya, menatapnya sekali lagi di bawah cahaya remang-remang.
Di foto itu, mereka semua tersenyum. Bahagia. Utuh.
Raka menyentuh wajah Elara di foto itu dengan ujung jarinya yang masih sedikit bergetar. "Selamat tinggal, cintaku," bisiknya pada foto itu. "Sampai kita bertemu lagi di fajar yang baru."
Di luar jendela, langit malam masih tenang. Bintang-bintang buatan berkedip-kedip, seolah-olah mengedipkan mata pada pria yang sedang mempersiapkan dirinya untuk akhir segalanya. Markas itu hening, damai, dan aman. Tidak ada yang menyadari bahwa di dalam dinding-dindingnya, seorang pahlawan sedang mengucapkan perpisahan terakhirnya.
Malam itu berlalu dengan lambat, setiap detiknya terasa seperti abadi bagi Raka. Ia duduk di sana, menunggu matahari terbit, menunggu takdir yang sudah ia terima, menunggu badai yang akan menghancurkan segala ketenangan ini.
Dan ketika fajar akhirnya datang, Raka sudah siap. Topengnya sudah terpasang sempurna. Senyumnya sudah siap dikibarkan.
Namun, ia tidak tahu bahwa fajar kali ini tidak akan membawa cahaya emas. Fajar kali ini akan membawa warna darah.
Bersambung