Seralina Lexander adalah seorang wanita yang bekerja sebagai pengantar bunga dan dia anak yatim. Di siang hari Sera sangat terburu" pergi ke alamat tujuan, sebab dia hampir terlambat gegara membaca buku di perpustakaan, saat di perjalanan Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang membuat mobil tersebut menabrak Sera. darah mengalir dan bunga-bunga berserakan.
Li Qiang Xu adalah seorang wanita cantik, sebelumnya ia pernah di tidurin oleh Kaisar saat Kaisar mabuk, dan Qing di kabarkan hamil membuat permaisuri membencinya sebab dia seorang permaisuri tapi belum mempunyai keturunan. sedangkan Qiang hanya satu malam bersama Kaisar, sudah di kabarkan hamil.
semenjak Qiang sudah berstatus Selir, Kaisar menyanyangi Qiang dari pada permaisuri begitupun Selir lain. Ibu Suri pun terus menerus menemui Qiang membuat permaisuri semakin murka. Permaisuri pun membayar pelayan dapur untuk mencampurkan obat fiktif kepada makanan Qiang, hingga beberapa hari Qiang di kabarkan mengalami keguguran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Qiang Xu Di Fitnah
Qiang Xu baru menyadari perubahan sikap Xing Jin yang begitu aneh, namun ia belum benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mengangkat sedikit tangannya, tapi masih tetap menyentuh lembut bulu ekor itu.
"Kehilangan kendali?" tanyanya semakin bingung, polos sekali. "Apa rasanya sakit? Tapi aku mengelusnya pelan saja..."
Xing Jin menggeleng pelan, napasnya masih memburu dan pandangannya terasa berat menatap gadis itu. "Bukan sakit..." suaranya hampir berbisik, penuh dengan getaran yang tidak biasa. "Rasanya... panas, menjalar ke seluruh tubuh, membuat kepalaku pening dan pikiranku menjadi kacau... karena kau adalah orang yang ku..."
Kalimat terakhir itu hampir lolos begitu saja, membuatnya buru-buru menutup mulutnya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menahan rasa malu yang meluap-luap.
Ming yang memperhatikan di samping akhirnya berdeham keras, memecah suasana yang mulai canggung itu. "Cukup, Qiang Xu. Berhentilah menggoda dia yang tidak tahu diri. Bagi bangsa rubah, membiarkan orang menyentuh ekornya sama saja dengan memberikan izin masuk ke bagian paling dalam dari hati dan hidupnya. Dia belum siap jika kau belum mengerti maknanya."
Mendengar penjelasan Ming, Qiang Xu akhirnya tertegun dan perlahan menarik kembali tangannya.
Saat sentuhan tangan Qiang Xu hilang, Xing Jin perlahan menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Tubuhnya yang tadi menegang perlahan kembali rileks, meski napasnya masih sedikit tidak beraturan.
"Maaf..." gumam Qiang Xu pelan, merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Ming. "Aku tidak tahu maknanya sedalam itu."
Xing Jin mendongak, menatapnya dengan pandangan yang masih lembut meski ada sisa rasa malu yang tersisa. Ia menggeleng pelan, lalu mendekatkan kepalanya untuk mengusapkan pipinya ke lengan Qiang Xu dengan sangat hati-hati—kali ini tidak meminta sentuhan balik, melainkan memberikan usapan itu sendiri.
"Bukan salahmu..." suaranya terdengar pelan dan penuh perasaan. "Simpanlah sentuhan itu, hanya untuk saat kau benar-benar mengerti artinya nanti."
Ming yang melihat itu hanya tersenyum tipis, tahu bahwa benih perasaan itu semakin hari semakin tumbuh kuat di antara mereka berdua.
Qiang Xu mengangguk pelan, mencoba mencerna makna mendalam di balik ucapan Xing Jin. Ia mengusap lembut kepala rubah itu—di bagian yang aman dan biasa—dengan perasaan sayang yang tulus.
"Aku mengerti," ucapnya lembut. "Aku akan berhati-hati mulai sekarang."
Xing Jin memejamkan mata menikmati sentuhan di kepalanya yang terasa jauh lebih tenang, namun hatinya tetap berdesir hebat. Di dalam keheningan itu, ia berjanji dalam batinnya. "Suatu hari nanti... saat kau sudah sepenuhnya mengerti perasaanku, aku akan membiarkanmu menyentuhku di mana saja sesukamu. "
Ming hanya menatap ke arah jendela, membiarkan momen hangat itu berlangsung, meski ia tetap waspada menjaga agar tidak ada orang lain yang melihat keakraban mereka yang luar biasa ini.
Belum lama berselang, Xing Jin segera mengubah wujudnya menjadi gelang di pergelangan tangan Qiang Xu, tepat saat langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan dua orang prajurit istana berdiri di sana dengan sikap tegak dan hormat.
"Nyonya Li Qiang Xu," ucap salah satu prajurit dengan suara lantang. "Atas perintah Yang Mulia Kaisar, kami datang untuk menjemputmu. Beliau ingin menemui engkau saat ini juga."
Qiang Xu sedikit terkejut mendengarnya, namun ia segera menata wajahnya menjadi tenang. "Baiklah, aku mengerti. Aku akan ikut kalian segera."
Ming yang masih berbentuk kucing hitam melirik ke arah gelang di tangan Qiang Xu, seolah saling memberi isyarat, sementara Ruyi yang mendengar itu segera keluar dari ruangan untuk mengambilkan jubah luar bagi tuannya.
Qiang Xu segera mengenakan jubah luar yang disiapkan Ruyi, lalu berbalik menatap pelayannya. "Jaga diri baik-baik di sini sampai aku kembali," pesannya tenang.
"Baik, Nyonya," jawab Ruyi sambil menunduk hormat, sedikit cemas melihat tuannya dipanggil tiba-tiba seperti ini.
Qiang Xu pun berjalan keluar mengikuti kedua prajurit itu. Di pergelangan tangannya, gelang tempat Xing Jin berada terasa hangat perlahan—sebuah isyarat diam bahwa ia tetap ada di sana, selalu bersiap melindunginya kapan pun dibutuhkan. Ming berjalan santai mengikuti dari belakang, lalu dengan cekatan melompat ke atas atap dan bergerak menyusuri jalan yang berbeda, memastikan bisa mengawasi dari kejauhan tanpa menarik perhatian siapa pun.
"Qiang Xu, aku ingin memberitahu sesuatu, nanti jika ada apa-apa katakan bahwa kau punya bukti. Aku sudah mempersiapkannya sejak semalam. " ucap Xing Jin
"Baiklah," ucap Qiang Xu lewat batin
Sesampainya di hadapan aula utama istana, Qiang Xu melihat Kaisar Yao Chong sudah duduk di singgasananya dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Di sampingnya, berdiri Permaisuri Xun Sin yang menatap ke arahnya dengan senyum samar yang penuh muslihat.
"Mari mendekat," perintah suara Kaisar terdengar dingin dan bergema di ruangan yang luas itu.
Di sana juga tampak Ibu Suri duduk di kursi yang tidak jauh dari singgasana, wajahnya tampak tenang namun matanya menatap tajam menilai setiap gerak-gerik Qiang Xu.
Qiang Xu melangkah maju dengan tenang, lalu memberi hormat dengan sopan sesuai aturan istana. "Salam hormat, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Ibu Suri, Yang Mulia Permaisuri."
"Bangkitlah," ucap Kaisar Yao Chong dengan suara datar, tanpa menyebutkan alasan mengapa ia memanggilnya. Keheningan sesaat menyelimuti aula besar itu, membuat suasana terasa semakin menegangkan. Ibu Suri masih diam saja, menatap Qiang Xu lekat-lekat seolah sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di wajah gadis itu, sementara sudut bibir Xun Sin terangkat sedikit membentuk senyum penuh rencana yang belum terungkap.
Tiba-tiba tangan Kaisar bergerak, selembar kertas surat dilempar melayang jatuh tepat di depan kaki Qiang Xu dengan suara yang kering dan keras.
"Bacalah," ucapnya dingin, lalu menoleh tajam ke arah samping. "Prajurit! Bawa masuk tabib istana sekarang juga!"
Tidak lama kemudian, dua orang prajurit menuntun seorang pria tua berjanggut putih yang memegang kotak obat, berjalan masuk dengan langkah tertunduk hormat. Suasana di dalam aula seketika menjadi semakin mencekam, seolah semua orang sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—kecuali Qiang Xu yang masih berdiri tegak, menahan debar jantungnya sambil menatap kertas di hadapannya.
Qiang Xu membungkuk mengambil kertas itu, dan saat matanya melirik isinya, napasnya tertahan seketika. Itu adalah surat dengan tulisan yang sangat mirip dengan tulisan tangannya—berisi perintah untuk meracuni Permaisuri Xun Sin sejak awal saat beliau baru saja mengandung.
"Ini... fitnah!" seru Qiang Xu menatap tajam ke arah Kaisar. "Ini bukan tulisanku, aku tidak pernah mengirim surat seperti ini!"
"Diam!" hardik Kaisar Yao Chong dengan amarah yang meledak. "Bukti sudah ada di tangan, dan sekarang tabib ini pun sudah mengaku bahwa kau yang menyogoknya untuk melakukan kejahatan keji itu! Sekarang... biarkan tabib ini memeriksa dirimu, untuk membuktikan apakah kau benar-benar bersih atau membawa racun di dalam tubuhmu sebagai bukti kejahatanmu!"
Permaisuri Xun Sin yang duduk di samping tersenyum tipis penuh kemenangan, sementara Ibu Suri hanya mengerutkan keningnya, menatap ke arah Qiang Xu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Lepaskan pakaian yang dia pakai, agar tabib bisa memeriksa tubuhnya," perintah Kaisar Yao Chong dingin kepada para pelayan di sampingnya, tanpa sedikit pun rasa ragu atau belas kasihan.
Wajah Qiang Xu seketika pucat mendengar perintah itu. "Yang Mulia! Jangan terlalu berlebihan! Aku tidak bersalah!" serunya, matanya menatap tajam menyiratkan kemarahan dan penghinaan.
Namun perintah Kaisar mutlak. Beberapa pelayan wanita segera melangkah maju hendak melaksanakan tugas itu. Di pergelangan tangan Qiang Xu, gelang yang adalah Xing Jin terasa semakin panas—tanda bahwa dia menahan amarah yang luar biasa, hampir saja berubah wujud untuk melindungi Qiang Xu, namun masih menahan diri karena tahu situasi ini sangat berbahaya.
Permaisuri Xun Sin tersenyum puas melihat hal itu terjadi, sementara Ibu Suri tetap diam menonton, matanya menyipit menilai segala sesuatu yang sedang berlangsung.
...Bersambung......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...