Siapa yang tidak menginginkan harta berlimpah. Segala keinginan dapat diraih dengan mudah. Tak heran banyak orang berfoya-foya dengan harta.
Berbeda dengan keluarga Cherika. Mereka menggunakan hartanya untuk menolong sesama dan keluarga.
Tapi tidak disangka, karena harta lah Cherika kehilangan harta keluarganya. Orang tuanya menghilang sejak mendapatkan kecelakaan. Hanya Cherika yang selamat.
Cherika kemudian tinggal bersama saudara ibunya. Dan tanpa sengaja, Cherika mendengar penyebab tentang kecelakaan orang tuanya.
Kabar apakah itu?
Ikuti jalan ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Laudya Terluka
CRAAAAANG!
Laudya berhasil memecahkan kaca besar. Dengan tongkat bisbol Laudya menyingkirkan pecahan kaca. Tapi, Laudya tidak bisa keluar karena kaca itu dipasangi teralis. Laudya berusaha menghancurkan teralis itu tapi Laudya kurang kuat.
"TOLOOOOOOONG! TOLOOOOOOONG!" Laudya terus berteriak.
Orang-orang mulai berdatangan ke rumah Laudya. Mereka memanggil pemadam kebakaran. Mereka juga berusaha menolong Laudya dengan mencoba mematahkan teralis. Mereka kemudian menyuruh Laudya mencari jalan keluar yang lain karena mereka juga tidak bisa menolong Laudya.
Laudya tidak bisa melihat dengan jelas. Laudya mencoba menuju samping rumah. Laudya hanya bisa mengandalkan cahaya kobaran api yang semakin lama semakin panas membara. Api sudah membakar seluruh dapur dan juga ruang tamu.
Laudya melihat pintu samping rumahnya. Perlahan Laudya melangkah, Laudya hampir sampai. Laudya dengan hati-hati menghindari percikan api yang jatuh berterbangan. Laudya berhasil menggapai pegangan pintu yang panas.
Laudya menjerit kepanasan. Laudya tanpa sengaja menarik kuat kain gorden yang ada di samping pintu. Tiang gorden patah dan jatuh menimpa kepala Laudya.
Percikan api jatuh dan membakar kain gorden yang menutupi tubuh Laudya. Api langsung menyambar rambut Laudya.
"TOLOOOOOOONG!"
Laudya menjerit kepanasan. Tanpa menghiraukan rasa panas dan sakit, Laudya membuka pintu samping rumahnya. Pada saat itu terjadi ledakan besar. Laudya terlempar ke luar rumah.
Laudya jatuh berguling-guling di depan pagar rumahnya. Tubuh Laudya terbakar kobaran api yang menyala. Laudya juga dihujani pecahan kaca rumahnya. Laudya berteriak meminta pertolongan.
Terdengar bunyi sirine pemadam kebakaran. Orang-orang panik berteriak meminta pertolongan kepada pemadam kebakaran. Petugas melihat Laudya yang tiarap di tanah. Petugas segera menyemprot air ke tubuh Laudya.
Api berhasil dipadamkan, Laudya tidak bergerak. Petugas pemadam kebakaran memeriksa kondisi Laudya. Laudya masih bernapas, tubuhnya panas banyak terdapat luka bakar. Laudya segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Dhika kaget saat hendak memasuki area rumahnya. Terlihat kobaran api besar di sana. Jalanan tidak bisa ditembus oleh penuhnya massa.
Dhika memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Dhika berlari mencari tahu apa yang terjadi. Dhika menerobos kerumunan. Dhika melihat rumahnya yang masih terbakar api. Dhika juga melihat seseorang dimasukkan ke dalam ambulans.
"Permisi, Pak Dhika, rumah Anda terbakar dan istri Anda ada di dalam ambulans!" Teriak tetangga Dhika.
Dhika syok. Dhika ke mobil ambulans. Dhika masuk ke dalamnya. Dhika melihat kondisi Laudya yang begitu mengenaskan. Dhika teringat akan perbuatan Laudya di masa lalu yang dengan sengaja membakar Cherika hidup-hidup.
Dhika merasa jijik. Laudya mengeluarkan bau gosong. Dhika keluar dari mobil ambulans. Dhika meminta tolong kepada perawat agar Laudya dibawa ke rumah sakit. Dhika akan menyusul secepatnya. Mobil ambulans pun pergi membawa Laudya.
Dhika kembali ke rumah. Dhika meneteskan air mata. Rumahnya hangus terbakar api. Petugas pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api.
Dhika menangis. Karena di rumah itu banyak sekali kenangan bersama Cherika. Kenangan saat Cherika tinggal bersamanya. Walaupun cuman sebentar, tapi Dhika masih bisa merasakan aroma Cherika di sana.
Dhika menyalahkan semuanya kepada Laudya. Laudya lalai sehingga rumahnya terbakar.
Setelah api berhasil dipadamkan, petugas pemadam kebakaran menemukan penyebab kebakaran. Terjadi ledakan di salah satu peralatan elektronik di rumah Dhika.
Rasakan Laudya, semua ini karma atas perbuatanmu, umpat Dhika dalam hati.
...----------------...
Beberapa hari pun berlalu. Dhika pergi ke rumah sakit menjenguk Laudya. Susi yang ada di sana marah kepada Dhika. Sebagai seorang suami, Dhika sama sekali tidak perduli dengan Laudya.
"Ke mana saja kamu? Sejak di pemakaman kamu menghilang!" Susi memandangi Dhika dengan emosi.
"Kenapa? Apa urusan saya? Sorry, saya tidak mau berhubungan dengan penagih utang," jawab Dhika.
"Laudya perlu di operasi, kamu sebagai suaminya harus bertanggung jawab."
"Maaf, sejak hari ini, Laudya bukan lagi istri saya."
"Dhika, apa maksudnya?" Laudya susah payah membuka mulutnya.
"Laudya, mulai hari ini, lu bukan lagi istri gue. Tante Susi yang terhormat, Laudya saya serahkan kepada Anda. Jangan khawatir saya akan mentransfer sejumlah uang untuk Laudya terakhir kalinya."
"Dhika, maafin Mama. Mama tidak bermaksud kasar. Tapi Laudya, sangat memerlukan biaya pengobatan. Dari mana Mama punya uang sebanyak itu?" Susi memohon.
"Aku tidak akan bercerai!" Satu kata yang sebelumnya sangat ditunggu-tunggu Laudya. Tapi dalam keadaannya yang seperti itu, Laudya masih memerlukan Dhika di sisinya.
Dhika tidak menghiraukan Laudya dan Susi. Dhika dengan perasaan puas meninggalkan kamar Laudya.
Seorang perawat pria berpapasan dengan Dhika. Perawat itu diam-diam mengambil foto Dhika. Perawat itu kemudian masuk ke dalam ruangan Laudya. Dia menggantikan infus Laudya yang hampir habis. Perawat itu melihat Susi dan Laudya yang mulai gelisah.
Laudya tidak henti-hentinya menangis. Laudya sakit hati melihat wajahnya yang sekarang. Wajahnya penuh dengan luka bakar. Dokter menyarankan untuk operasi plastik. Tapi dari mana biayanya.
Susi baru saja mengalami musibah kebakaran. Suaminya juga baru meninggal dunia. Dan sekarang Laudya sakit parah dan rumahnya juga terbakar. Tidak hanya itu, Laudya juga ditinggalkan suaminya.
Satu-satunya harapan Susi untuk meminta pertolongan adalah kepada Rian. Susi mengambil ponselnya dan mencari kontak Rian. Setelah sekian lamanya Rian meninggalkan kota Zamrud, inilah pertama kalinya Susi menelpon Rian.
Sudah beberapa kali Susi menghubungi tapi belum dijawab oleh Rian. Dan setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Rian menjawab teleponnya.
Susi mengabarkan berita duka meninggalnya Cakra kepada Rian. Terdengar Rian sangat kaget mendengarnya. Suara Rian terdengar menahan tangis. Susi juga cerita toko karpetnya terbakar, barang-barangnya tidak ada yang bisa diselamatkan.
Susi mendapatkan musibah bertubi-tubi. Kali ini Laudya berada di rumah sakit karena rumahnya habis terbakar. Laudya mengalami luka bakar yang parah, Dhika tidak mau membiayai pengobatan bahkan menceraikan Laudya.
Susi minta tolong kepada Rian untuk mengirimkannya sejumlah uang. Rian menanyakan perhiasan Susi dan Laudya. Bukannya mereka punya banyak perhiasan. Jual perhiasan untuk biaya operasi Laudya.
Rian bilang, dia masih pengangguran di kota orang. Rian sekarang menjadi gelandangan.
Susi dengan kesal menutup teleponnya. Susi bingung harus minta bantuan kepada siapa.
"Laudya, mengapa musibah tidak henti-hentinya menimpa kita," Susi duduk lemas di atas kursi.
"Mungkin ujian karena kita orang baik," jawab Laudya.
"Dulu, kita mentertawakan Cheri. Apa bedanya kamu dengan Cheri. Kalian sama-sama gosong tapi beruntung kamu tidak busuk."
Laudya ingat bagaimana kondisi Cherika terakhir kali. Tapi Cherika lebih beruntung, Vian masih setia. Sungguh berbeda dengan kondisi yang dialaminya. Nampak dengan jelas Dhika sangat jijik melihatnya.
Laudya sakit hati. Dhika sudah tidak bisa dijinakkan lagi. Laudya teringat akan Nyai. Untung Laudya menyimpan nomor kontak Nyai di ponsel Susi.
"Ma, pinjam hp sebentar," Laudya mengulurkan tangannya.
Susi memberikan ponselnya. Laudya mencari kontak Nyai dan segera menghubunginya. Saat itu, Nyai dengan nada penuh emosi menjawab telepon Laudya. Laudya sombong, setelah memberikannya tumbal, Laudya tidak pernah lagi menghubungi Nyai. Laudya bahkan memblokir nomor kontak Nyai.
"Nyai, tolong," mohon Laudya.
"Ada apa?" Nyai masih memberikan kesempatan kepada Laudya.
Laudya cerita semua rentetan kejadian mulai dari Cakra sampai dirinya. Laudya sekarang sudah tidak punya apa-apa. Laudya bingung minta bantuan kepada siapa.
"Aku bisa bantu. Tapi kali ini bayarannya sangat mahal," Nyai masih terdengar kesal.
"Apapun itu, aku sanggup," kata Laudya.
"Baiklah, di rumah sakit mana kamu dirawat?" tanya Nyai.
"Rumah sakit Bhayangkara," jawab Laudya.
Panggilan telepon berakhir.
"Siapa Nyai?" tanya Susi.
"Orang yang akan membantu kita membalas dendam."
"Balas dendam pada siapa?" Susi mengernyitkan keningnya.
"Pada Dhika dan Nayyara."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...