NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:955.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Malam semakin larut, mas Ryu belum juga pulang sebab ada banyak pasien yang mendaftar untuk pemeriksaan di hari ini. Aku tahu dari resepsionis bahwa ada sekitar tiga puluh pasien yang mendaftar secara online.

Di klinik mas Ryu memang pendaftaran by phone, jadi mereka tak perlu mengantri terlalu lama karena sudah di beritahukan jam pemeriksaan yang di sesuaikan dengan nomor pendaftaran. Lagi pula pasien dengan usia anak-anak rasanya kurang baik jika harus menunggu antrian terlalu lama.

Mendesah pelan, ku baringkan tubuhku di atas kasur berukuran besar. Sepasang netraku terenung menatap langit-langit kamar yang di hiasi plafon pvc lengkap dengan lampu-lampu kristal.

Mungkin banyak orang yang mengira kalau aku beruntung di nikahi oleh laki-laki tampan, mapan, dan juga berasal dari keluarga terpandang. Mereka mengira hidupku bahagia, tapi yang ku rasakan justru sebaliknya, betapa perihnya aku menjalani pernikahan ini, aku tak ubahnya seperti perawat untuk mas Ryu.

Bisa ku bilang statusku adalah asisten berkedok istri, karena meski mas Ryu tak menganggapku, aku tetap melakukan kewajibanku sebagai istri, dengan imbalan gaji setiap bulan.

Ah.. Miris sekali.

Beberapa menit kemudian, untuk menghilangkan rasa jenuh, aku berinisiatif mengaktifkan ponsel yang ku gunakan untuk penyamaranku.

Baru saja menyala, pesan beruntun dari mas Ryu masuk, satu pesan membuatku mengerutkan kening, sepertinya pria itu semakin gencar membawa Jani untuk di perkenalkan pada ayah dan bunda.

Selain tekanan dari mas Tera, mungkin dia juga lelah dan merasa bersalah pada ayah bundanya karena sudah menyembunyikan hal sebesar ini dari mereka.

Karena tak berniat membalas, akupun kembali menonaktifkannya, namun sebelum menekan tombol off, panggilan dari mas Ryu keburu masuk.

Dengan sedikit ragu, ku terima panggilannya lalu ku dekatkan ponsel ke telingaku.

"Hallo, assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam. Akhirnya aktif juga ponselmu" Ucap mas Ryu di iringi desa h*n nafas lega.

"Maaf, aku baru saja pulang"

"Baru pulang? Tahu gitu aku tadi pulang ke apartemen"

"Memangnya mas sudah pulang?"

"Aku baru sampai rumah"

"Apa?"

"Kenapa, sayang" Tanyanya, lalu pintu kamar terbuka.

Melihat mas Ryu adalah sosok yang membuka pintu, dengan gerak cepat aku menggeser tombol merah.

Sejenak pandangan kami bertemu.

Karena ponsel masih berada di tanganku, akhirnya aku berpura-pura bicara sendiri seperti sedang menerima telfon

"Iya Yul, insya Allah ya" Kataku. Ku lihat mas Ryu menjauhkan gawai dari telinganya, lantas menatap layar ponsel yang tahu-tahu panggilannya terputus.

Pria itu lalu meletakkan tas kerja di atas sofa sebelum kemudian melangkah ke arah lemari.

"Sudah dulu ya, besok bisa sambung lagi. Assalamu'alaikum"

Setelah mematikan panggilan, segera aku menonaktifkan ponsel lalu ku masukkan ke dalam kantong celana piyamaku.

Beruntung mas Ryu tidak mencurigaiku, kalau tidak aku tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya mas Ryu tahu akulah di balik sosok Jani.

Karena aku masih belum mau bicara dengannya, aku berniat langsung tidur. Namun, baru saja merebahkan diri dan siap menarik selimut, mas Ryu tiba-tiba bersuara.

"Jangan tidur dulu. Kita akan bicara setelah aku mandi" Cicitnya lalu melangkah menuju kamar mandi.

Sementara pikiranku langsung di liputi kecemasan yang luar biasa.

Mas Ryu, pasti ingin membicarakan perihal foto yang bunda perlihatkan tadi pagi.

***

Aku menunggu mas Ryu dengan perasaan was-was. Ketika ku lirik jam di atas nakas, waktu sudah berada di pukul sepuluh malam.

Ku kira mas Ryu akan sampai di rumah sekitar pukul sebelas. tapi nyatanya dia pulang satu jam lebih cepat dari biasanya. Aku bahkan nyaris kepergok kalau akulah yang sedang bicara di telfon dengannya.

Menarik napas, ku alihkan pandangan pada daun pintu yang masih tertutup rapat. Pintu yang menghubungkan antara kamar dengan kamar mandi.

Sekitar satu menit kemudian, pintu itu terbuka, mas Ryu muncul dengan penampilan lebih segar dari sebelumnya. Rambutnya masih setengah basah, dengan celana pendek serta kaos tipis yang sudah melekat di badannya.

"Pertama, jelaskan padaku dari mana kamu dapat foto itu" Pertanyaan to the point sebenarnya. Ku pikir dia akan duduk sejenak setelah selesai membersihkan diri. Tapi tidak, dia justru langsung bertanya begitu keluar dari kamar mandi.

"Aku_"

"Apa dia menemuimu?" Potongnya, lalu memasang kabel hair dryer.

"S-siapa?" Aku sedikit tak mengerti. Tapi feeling ku, mungkin Jani yang mas Ryu maksud.

Suara pengering rambut ku dengar setelah mas Ryu menekan tombol power.

"Istri siriku?" Sahutnya lalu menggerakkan hair dryer di atas kepalanya.

"Tidak"

"Kalau tidak, lantas dari mana kamu dapat foto itu?"

"Aku tahu di medsos" Jawabku sekenanya.

"Apa kamu juga memberitahu bunda kalau aku sudah menikah diam-diam dengan wanita lain?"

"Enggak" Jujur aku bicara sembari mengontrol detakan jantungku. "Aku mengaku kalau yang mengambil gambar itu adalah aku"

"Kenapa begitu?" Tanya mas Ryu.

"Lalu apa lagi kalau bukan untuk menutupi kejelekan, mas"

"Apa kamu melakukan itu untuk mendapatkan simpatiku?" Mematikan hairdryer, pria itu menatapku penuh selidik melalui pantulan cermin.

"Aku tidak butuh simpati siapapun"

"Aku bahkan akan berterimakasih jika kamu memberitahu orang tuaku soal pernikahan siriku"

"Itu bukan urusanku" Sahutku cepat.

"Kalau bukan urusanmu, kenapa harus mengirim foto itu ke bunda"

"Maaf, aku hilang kendali" Kataku bergerak merebahkan diri. "Tapi sesaat setelah mengirim foto itu aku menyesal" Tambahku yang kali ini sambil menarik selimut hingga batas dada.

"Aku mau istirahat, selamat malam"

Menyalakan lampu meja, aku mengabaikan mas Ryu yang entah seperti apa ekspresinya.

Ketika hendak memejamkan mata, suara mas Ryu kembali ku dengar.

"Minggu besok aku akan membawanya ke hadapan bunda, ku harap kamu enggak terkejut saat aku tiba-tiba pulang dengan wanita lain.

Usai mengatakan itu mas Ryu melangkah ke arah saklar, kemudian mematikan lampu utama di kamar kami.

Pelan, ku tarik nafas panjang berharap bisa mengurangi rasa nyeri. Sungguh ucapannya barusan membuat hatiku teriris.

Kamu tidak akan pernah bisa membawanya ke rumah, mas.

Aku membatin sembari melirik ke arahnya yang sudah berbaring di atas sofa, tangannya dengan gesit mengetik sebuah pesan yang kemungkinan akan ia kirim ke nomor Jani.

**

Tiga hari berlalu, tiba saatnya mas Ryu membawa Jani untuk di perkenalkan pada ayah Bima dan juga bunda Arimbi.

Tapi bisa ku pastikan rencananya itu akan gagal karena Jani, tidak akan pernah membukakan pintu apartemennya. Beruntung mas Ryu tidak pernah meminta kunci serep apartemen yang ku sewa. Selain itu, aku juga selalu menolak jika mas Ryu ingin membawaku keluar untuk pergi jalan-jalan atau sekedar melihat usaha frozen food ku. Selalu ada alasan jika mas Ryu memaksaku, bahkan aku rela menyerahkan diri untuk ia tiduri supaya dia tidak lagi memintaku pergi keluar dari apartemen.

Mas Ryu, yang kini sudah berpenampilan rapi, dia benar-benar tidak akan pernah tahu kemana akan mencariku.

Benar saja, usai sarapan, pria itu berpamitan pada Ayah dan bilang kalau dia ada urusan. Padahal sebenarnya dia akan pergi menemui Jani di apartemennya.

Sementara bunda Arimbi sempat melarang mas Ryu pergi, namun dia tak mengindahi larangan bundanya, dan tetap pergi.

Sejujurnya disini aku melihat ada raut curiga di wajah bunda, tapi sayang, kali ini aku tidak bisa menebaknya.

"Bu, ada banyak bahan makanan yang habis" Kata bik Titik merujuk ke bunda selepas kepergian mas Ryu.

"Di catat saja bik, nanti saya kasih uang buat belanja"

"Baik, bu"

"Biar aku yang pergi belanja, bun" Tawarku.

"Pergi sendiri nggak apa-apa?" Tanya bunda.

"Nggak apa-apa, nanti aku bisa telfon mas Ryu supaya menjemputku kalau sudah selesai"

"Di temenin bik Titik ya, Na?"

"Nggak usah bun, bik Titik ada banyak pekerjaan, bisa sekalian jagain ayah bunda juga kan di rumah"

"Kamu ini, ayah sama bunda bisa jaga diri, sayang"

"Ya tetap saja harus ada orang lain, biar kalau bunda butuh apapun ada yang bantuin"

"Ya sudah, tapi jangan lupa hubungi Ryu, suruh dia jemput kamu"

"Iya, bun" Balasku, lalu menoleh untuk memindai wajah bik Titik.

"Di catat semua yang perlu di beli ya bik, aku siap-siap dulu"

"Baik mbak Naina"

Aku tersenyum kemudian langsung beranjak menuju kamar setelah berpamitan pada bunda.____

Satu jam berlalu, karena sibuk memilih barang-barang yang hendak ku beli, aku sampai tidak sadar kalau ada banyak panggilan tak terjawab dari bik Titik.

Terakhir sekitar satu menit yang lalu.

Karena rasa penasaran yang terus merongrong di dada, aku akhirnya menelfon balik nomor bik Titik.

Tak perlu menunggu, panggilan pun langsung terjawab, ku tangkap suara bik Titik yang terdengar aneh seperti panik atau takut.

"Akhirnya mbak Naina telfon juga"

"Ada apa, bik?" Tanyaku penasaran.

"Pulang sekarang juga ya mbak, di rumah keadaan sangat gawat"

"Apa maksud bibik?" Detik itu juga jantungku bergetar hebat, takut terjadi sesuatu pada ayah ataupun bunda.

"Pokoknya tinggalin dulu belanjaannya, dan pulang sekarang juga"

"Iya, tapi katakan ada apa?"

"Mas Ryu, mbak. Mas Ryu"

"Ada apa dengan mas Ryu?" Tanyaku semakin di buat panik.

"Itu" Ucap bik Titik tersendat nafanya sendiri "Pak Bima, di hajar. Eh menghajar. Eh bukan-bukan"

"Tenang dulu bik, terus ambil nafas pelan-pelan, baru setelah itu bicara"

"Iya mbak" Tampak sekali wanita di balik telfon ini menghirup oksigen dalam-dalam sebelum kemudian berkata "Pak Bima memukuli mas Ryu, mbak"

"A-apa? Kenapa?"

"Pokoknya mbak Naina pulang dulu sekarang, nanti bik Titik kasih tahu" Tuturnya, dengan nada panik tentunya.

"I-Iya bik, aku pulang sekarang"

Bersambung

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!