Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.
Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.
"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."
Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.
Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.
"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Keluarga
Selesai acara HUT TNI, Aditya harus menghadap Danrem, Pria itu mendapat kenaikan pangkat atas keberhasilan satuannya membawa nama baik TNI di acara latihan gabungan di laut Natuna.
Sebagai Dandim, Komando Distrik Militer tingkat dua Aditya memimpin langsung acara latihan gabungan yang di utus Kodam. Pangkat Aditya naik satu tingkat menjadi Letnan Kolonel, Pria itu juga memiliki banyak gelar di belakang namanya.
Sebelum menikahi Hira, Aditya baru saja menyelesaikan tugas negara untuk memimpin latihan gabungan, Sekarang dia mendapat kenaikan pangkat berkat kegigihan dan tekad yang kuat menjaga keutuhan NKRI.
"Selamat ya Abang....Aku senang atas kenaikan pangkat baru Abang... sayangnya aku udah menikmati di saat Abang sudah sukses...berbeda dengan aku...memulai dari nol." Hira memandang takjub pada jas yang digunakan Aditya, lambang pada bagian bahu Aditya bertambah, dia kagum dengan sosok pria ini.
"Kesuksesan seorang pria di balik peran seorang wanita....walau kamu terlambat datang dalam hidup saya...saya tetap bersyukur atas apa yang saya raih." Aditya mengaitkan tangannya ke jari Hira. "Saya terpesona melihat kamu memakai kebaya ini...kita jemput Kihana dulu...lalu langsung ke studio foto...acara wisuda kemaren ga jadi...kita malah asyik fran-ce kiss di belakang gedung."
"Ingat juga Om....aku udah lupa." Hira langsung menatap malas Aditya, selalu mengungkit cara ciuman yang masih kaku itu.
"Arinta....lihat soVia Falen lagi beli bakso malang itu." Aditya menggoda Hira yang kesal dengan ucapannya.
"Mana......." Mata Hira membulat sempurna, Aditya dengan kuat menekan bibirnya pada bibir basah Hira.
Cup.... cup.. Suara kecupan bibir kedua terdengar jelas, Aditya berhenti tepat di lampu merah. Si Om memakai kaca gelap sehingga kaca mobilnya tidak terlihat dari luar.
"Viaaaa...aaa Valen Abang Aditya....bukan Sovia Falen." Hira menghapus jejak bibir Aditya di bibir tipisnya.
"Saya jarang nonton televisi... Sekarang kan udah ada istri....tayangan tegah malam lebih menggoda dari pada tontonan sinetron ikatan Cendol." Aditya mengarahkan persneling menuju sekolah Kihana.
"Om...om ini kok mesum sekarang sih...Kemaren aja di tawari susu murni ga mau... padahal jakun udah naik turun." Hira teringat peristiwa dia pertama kali tampil polos di hadapan Aditya.
"Ih...gemas....nanti malam Saya kenyot tuh... susu murni...biar tambah gede." Aditya dengan usilnya mere-mas salah satu buah dada Hira.
"Astaghfirullah." Hira mengusap wajah melihat tingkah Aditya yang jauh berbeda ketika awal bertemu.
"Alhamdulillah mungkin Sugar... Dapat Om...Om genteng....jantan lagi....Abang lebih cepat si Ucok untuk bergerak.....Si Inang ga tahan dengan goyangan Ucok....saking bahagianya kamu kawin dengan Saya." Aditya melihat wajah Hira yang mulai keruh akibat godaannya.
"Sugar tatap saya dong." Aditya menggoyang lengan Hira, perempuan mudah sekali merajuk. Melihat wajah Hira yang cemberut, hiburan tersendiri bagi Aditya.
"Kamu kok kenal dengan kolonel Angin Ribut ...umur dia ga jauh dari saya." Aditya akhirnya mengubah topik agar suasana hati Hira kembali membaik.
"Dia teman main Kakak Avin...Kami pernah tinggal dua tahun di Kabanjahe lalu bapak ambil doktoral di Airlangga."
"Dia sama senasib dengan saya.... karirnya bagus tapi tidak dengan hubungan percintaan." ucap Aditya mengenang teman satu kesatuan itu.
"Maksudnya?" Sepertinya Hira Tertarik dengan cerita Angin.
"Angin Ribut menemukan istrinya berkianat di atas ranjang mereka....dan yang lebih menyakitkan selingkuhan istrinya adalah kakak tiri Istrinya."
"Dia sebaik itu kok bisa ya dapat istri yang jahat..Aku pernah merasakan kebaikannya...dulu waktu sekolah di kampung...anak seumuran aku selalu mencaci aku yang kurus katanya seperti busung lapar." Hira mengambil tissue yang berada di dashboard mobil Aditya. " Mereka bilang aku anak pungut...mereka tidak mau berteman dengan aku...lalu si beliung itu datang menyelamatkan aku dari tindakan pembullyan." Hira menghapus air matanya yang terkenang kebaikan Angin Ribut.
"Sejak itu aku selalu diajaknya ke rumah Angin...di sana aku dapat kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.... Mamak si Ribut selalu menyuapkan makan untuk aku dan si Angin.... Bapaknya seorang penyanyi gereja mengajarkan aku teknik bernyanyi...di sana aku mendapat kasih sayang walaupun beda keyakinan."
"Jika Bapak mengurung aku di luar rumah....Bapak Joseph Nasution langsung datang ke rumah aku...dia berani menentang bapak...bahkan dia tidak segan untuk adu mulut dengan bapak... Istrinya ibu Maria selalu menangis kalau melihat bekas cubitan bapak di kulit aku...mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi ekonomi yang jauh dari keluarga Johan Siregar."
Aditya terdiam, ternyata Hira sangat mengenal wakil komandan kesatuan Infanteri itu. Banyak yang tidak diketahui Aditya di kehidupan masa lalu Hira.
"Maafkan saya membuka lama kamu." Lirih Aditya berucap karena Hira harus mengigat luka lamanya.
"Aku hanya ingin jujur...agar Abang ga berprasangka buruk kepada Si Angin...Aku tahu Abang cemburu..aku bisa merasakan dari tatapan Abang kepada si Angin."
Ucapan Hira langsung menohok Aditya, dia tadi sudah berusaha untuk tidak cemburu melihat Hira begitu akrab dengan Angin Ribut.
"Itu Kakak Kihana...aku jemput dulu." Hira membuka pintu mobil Aditya, dia berjalan ke arah Kihana.
Banyak pasang mata yang menatap Hira memakai kebaya modern, Aditya terjerumus dengan pesona Hira, pandangannya tidak lepas dari Hira.
"Bunda...serius kita mau foto keluarga...aku belum punya foto orang tua lengkap...Mama udah duluan pergi ke surga." Ucap Kihana yang mengganti baju sekolahnya dengan baju yang disiapkan Hira dengan warna senada.
"Iya dong....Tapi kamu tetap doakan Mama Olivia...doa anak yang Sholeh yang selalu di nantikan Mama Olivia di Surga." Hira sudah selesai merapikan baju sekolah Kihana, lalu mengepang rambut Kihana.
Wajah Aditya mengeras, matanya menatap dingin ke arah luar, Hira berbesar hati berbagi rasa di hati anaknya. Perempuan itu mengalah agar Kihana tidak melupakan sosok ibu kandungnya.
"Kakak udah cantik belum...nanti kalau besar juga mau seperti Bunda Arin." Kihana memeluk tubuh Hira, perempuan memilih duduk di kursi belakang menemani Kihana.
Aditya menyetir dalam diam, terbuat dari apa hati istrinya. Perempuan itu selalu mengalah dari apapun, ditatapnya dari kaca spion Hira memalingkan wajahnya ke sisi jendela.
"Bunda...kita udah sampai...ayo ikut aku." Kihana menarik Hira menuju studio foto.
Aditya mengikuti dari belakang, dia tadi sudah meminta fotografer untuk stand by di ruangan pemotretan.
"Pasangan serasi....kakak kapan nih punya teman...masa masih sendiri terus." Sang fotografer menggoda Kihana yang selalu menempel di dekat Hira dan Aditya.
"Segera Om... Papa dan Bunda lagi berusaha...aku selalu berdoa agar adik aku segara datang." Kihana menatap kedua orangtuanya untuk meminta jawaban pasti.
"Kita mulai ya...Satu...dua... tiga." kilatan cahaya putih merekam peristiwa yang dilalui Aditya Hira dan Kihana.
BPK nya