Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Mungkin benar, terkadang cinta tak memandang logika, tapi itu berlaku bagi orang lain bukannya bagi seorang Lexiano Fernandez." Batin Zira. Semua ancaman Lexi sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi hubungannya bersama Leon menjadi bukti bahwa Lexi adalah sebuah pengecualian, karena faktanya pria itu menikahi dirinya hanya untuk memastikan adiknya tidak mendapatkan wanita bekasnya. Itu yang hingga kini diyakini oleh Zira tentang maksud dan tujuan Lexi hingga menikahi dirinya.
Tidak ingin terlalu larut dalam obrolan para rekannya, Zira memilih menyibukkan diri dengan memeriksa beberapa reka medis pasien yang hendak dipindahkan dari ruang IGD ke kamar perawatan.
Masih digedung yang sama namun diruangan yang berbeda, Lexi masih melayani sesi konsultasi bersama dokter Riki dan juga ayahnya. "Saya sarankan untuk segera melakukan operasi transplantasi jantung." Tutur Lexi setelah membaca tentang laporan pemeriksaan kesehatan ayahnya dokter Riki.
"Saya juga maunya begitu dokter. Tetapi, sekalipun berhasil mendapatkan donor jantung, saya belum menemukan dokter yang pas untuk melakukan operasi itu terhadap ayah saya." Jujur, untuk menemukan donor jantung bukanlah perkara yang mudah. Sehingga, di saat berhasil menemukan donor jantung nantinya, dokter Riki ingin ayahnya dioperasi oleh dokter yang sudah sangat berpengalaman demi meminimalisir gagalnya proses operasi. Dan, menurut dokter Riki, dokter Lexiano Fernandez adalah orang yang tepat. Namun, untuk meminta kesediaan dari seorang Lexiano Fernandez merupakan satu perjuangan bagi dokter Riki, mengingat kini Lexi lebih fokus mengurus perusahaannya.
Jujur, kondisi ayahnya dokter Riki saat ini mengingatkan Lexi pada kondisi ibu kandungnya. Ya, walaupun saat itu usianya masih sangat muda yakni tiga tahun, namun Lexi tahu bagaimana saat itu ibunya kesakitan membendung penyakit jantung yang dideritanya.
"Boleh saya pinjam ponsel anda?." Kata Lexi dan dokter Riki langsung menyodorkan ponselnya tanpa banyak bertanya.
Lexi lantas mengetik nomor kontak di ponsel dokter Riki kemudian melakukan panggilan telepon ke nomor tersebut.
"Itu nomor ponsel saya. Jika donor jantung untuk ayah anda sudah tersedia, silahkan hubungi saya secara pribadi!." Kata Lexi seraya mengembalikan ponsel dokter Riki.
Deg.
Dokter Riki sampai tak dapat menahan rasa harunya. Awalnya ia berpikir akan sangat sulit memohon kesediaan Lexi. Akan tetapi, dipertemuan pertama mereka, Lexi bahkan memberikan nomor kontak pribadinya. Nomor kontak yang pastinya sangat sulit untuk didapatkan. Sekelas wakil Dirut RS saja tidak memiliki nomor kontak Lexi. Jika ada janji atau semacamnya, harus berurusan terlebih dahulu dengan asisten pribadi Lexi, tapi dokter Riki berhasil mendapatkan nomor kontak pribadi Lexi.
"Terima kasih banyak, dokter Lexiano." Dokter Riki sampai berdiri dari duduknya dan menunduk singkat dihadapan Lexi sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
"Tidak perlu berterima kasih! Saya pernah berada diposisi anda saat ini. Semoga secepatnya bisa mendapatkan donor jantung." Kata Lexi sebelum pamit untuk menyudahi konsultasi bersama dokter Riki.
*
Beberapa hari kemudian.
Nampaknya doa-doa dokter Riki selama ini terijabah, ada seorang pasien yang baru saja meninggal dunia dan keluarganya menyampaikan amanah mulia almarhum yang ingin mendonorkan jantungnya kepada yang membutuhkan. Dengan tangis haru dokter Riki menerimanya dan berjanji akan menyekolahkan anak almarhum hingga mencapai cita-citanya. Bukannya ingin menghargai org-an tubuh manusia yang begitu berharga dengan materi, itu adalah bentuk rasa terima kasih dokter Riki.
Sesaat setelah mendapat telepon dari dokter Riki, Lexiano langsung mendatangi rumah sakit. Tentunya kedatangan pria itu menjadi pusat perhatian, termasuk oleh sang istri.
"Tumben dia datang ke sini." Batin Zira disela waktu luangnya usai memeriksa pasien.
"Aku turut senang, akhirnya dokter Riki mendapatkan donor jantung untuk ayahnya."
"Kamu benar. Setelah sekian lama, akhirnya Tuhan mengabulkan doa dokter Riki dengan mengirim orang berhati mulia untuk mendonorkan jantungnya."
"Aku dengar operasi transplantasi jantung pada ayahnya dokter Riki akan dilakukan oleh dokter Lexiano Fernandez."
Deg.
Zira langsung menoleh saat mendengar salah seorang rekan sejawatnya menyebut nama suaminya.
"Meskipun kita tetap harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan sang maha pemberi kehidupan, tapi setidaknya jika operasi dilakukan oleh dokter Lexiano Fernandez, besar kemungkinan operasinya akan berhasil." Timpal dokter kepala ruangan dan yang lainnya nampak mengangguk seolah setuju dengan ucapan kepala ruangan.
Bukan hanya dokter Riki, sebagai rekan sejawat, hampir semua dokter di rumah sakit itu dibuat dag-dig-dug selama operasi transplantasi pada ayahnya dokter Riki berlangsung.
Setelah hampir enam jam berkutat di dalam kamar operasi akhirnya Lexi keluar dari kamar yang cukup mendebarkan bagi anggota keluarga pasien yang menanti di depan ruangan. Bekerja selama enam jam di dalam sana tentunya cukup melelahkan bagi Lexi.
"Bagaimana operasinya, dok?." Tanya dokter Riki. Wajah datar Lexi membuat pikiran dokter Riki jadi kemana-mana.
"Alhamdulillah, operasinya berhasil."
"Terima kasih banyak, dokter Lexiano Fernandez." Dokter Riki langsung meraih tangan Lexi.
"Tidak perlu berterima kasih, dokter Riki!."
Zira yang kebetulan melintas di depan kamar operasi usai dari ruang poli tentunya dapat mendengar dan juga menyaksikan interaksi antara Lexi dan dokter Riki.
"Saat mendengar bahwa dokter yang akan mengoperasi ayahnya dokter Riki Adalah dokter Lexiano Fernandez, aku sudah yakin bahwa operasinya akan berhasil." Zira langsung menoleh ke samping saat rekan yang ada bersamanya melontarkan kalimat tersebut.
"Kenapa dokter bisa seyakin itu?." Zira jadi bingung dengan sikap para rekan sejawatnya yang begitu yakin dengan kinerja Lexi.
"Karena kenyataannya dokter Lexiano Fernandez sudah terbukti berpengalaman bahkan diluar negeri."
Zira terdiam, rupanya pria yang setiap malam disuruhnya tidur di sofa tersebut memiliki banyak kelebihan.
Sekembalinya di ruangannya bertugas, Zira dikejutkan dengan keberadaan pasien yang begitu dikenalnya, yakni sang ayah.
"Papah...." Zira menangis histeris ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri ayahnya mengalami serangan jantung dan kini tak sadarkan diri.
"Anda harus tenang, dokter Zira!." Salah seorang rekannya meminta Zira untuk tetap tenang. Sementara dokter jaga yang lainnya sibuk memberikan penanganan terhadap ayahnya Zira.
"Detak jantung pasien semakin melemah." Tangis Zira semakin pecah mendengar kalimat tersebut.
Kebetulan dokter Riki mendatangi ruangan IGD untuk mengucapkan rasa terima kasihnya atas dukungan moril yang telah diberikan oleh para rekan sejawatnya yang bertugas di ruangan tersebut. Tapi siapa sangka kedatangan dokter Riki justru disambut oleh suara tangisan Zira.
"Ada apa dengan dokter Zira?." Dokter Riki bertanya pada salah seorang perawat di sana.
"Baru saja kami kedatangan pasien dengan serangan jantung dan ternyata pasien tersebut adalah ayah dari dokter Zira."
"Ayahnya dokter Zira?." Cicit dokter Riki dengan wajah berubah cemas dan perawat tersebut pun mengangguk. Pria itu langsung berlari meninggalkan ruang IGD.
Lexi menyipitkan matanya melihat wajah panik dokter Riki, napas pria itu pun nampak tersengal-sengal. "Ada apa, dokter Riki?."
"Ayah mertua anda mengalami serangan jantung dan saat ini tengah berada diruang IGD, dokter." Masih dengan napas tersengal-sengal, dokter Riki menyampaikan informasi tersebut pada Lexi.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣