"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukungan dari Haikal.
Malam semakin larut, Yusuf masih duduk termenung di ruang kerjanya. Pikirannya kacau balau setelah pertengkaran tadi siang. Terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu pintu terbuka perlahan. Haikal berdiri di ambang pintu, menatap ayahnya yang tampak sangat lelah dan hancur.
“Pa… masih belum tidur?” tanya Haikal pelan.
Yusuf menoleh, tersenyum tipis yang terlihat menyedihkan. “Belum, Nak. Kamu sendiri kenapa belum istirahat?”
Haikal melangkah masuk, lalu duduk di kursi di hadapan ayahnya. “Aku dengar semua yang Papa sama Mama bicarakan tadi. Maaf, Pa… aku tidak sengaja mendengarnya.”
Yusuf menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. “Tidak apa-apa, Nak. Maafkan Papa ya, membuatmu harus melihat dan mendengar hal-hal seperti itu. Papa gagal menjadi ayah dan kepala keluarga yang baik.”sesal lelaki itu.
Haikal menggeleng pelan, sorot matanya yang dingin mulai melembut. “Bukan Papa yang gagal. Tapi mungkin memang kita tidak pernah menjadi keluarga yang utuh sejak awal. Papa selalu memikirkan orang lain, Mama selalu marah dan kecewa, dan aku… aku hanya ada di sini tapi rasanya seperti tidak ada.”
“Jangan bicara begitu, Haikal. Papa sayang padamu, sungguh. Hanya saja… hati Papa memang sudah terbagi dan terasa berat sekali,” ucap Yusuf dengan suara bergetar.
“Aku tahu, Pa. Aku sudah besar, aku sudah mengerti banyak hal. Papa tidak benar-benar bisa mencintai Mama sepenuhnya, dan Mama juga tahu itu. Jadi wajar kalau dia mencari kebahagiaannya sendiri. Hanya saja… rasanya sakit sekali melihat rumah ini hampa dan dingin begini,” kata Haikal jujur.Matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.
Yusuf menatap putra sulungnya dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa…”
“Papa… apakah waktu tante Siti hamil, itu benar-benar anak papa? Dan apakah papa juga mencintai Tante siti?”tanya Haikal tiba-tiba, pertanyaan yang selama ini terpendam di hatinya.
Yusuf tertegun sejenak, lalu mengangguk mantap. “Iya, Nak. Daffa adalah darah daging Papa, anak kandung Papa. Dan Tante Siti… dia adalah wanita yang paling tulus dan paling baik yang pernah Papa kenal. Papa tidak bisa membohongi perasaan papa sendiri, dan Papa sangat menyesal telah melepaskan mereka berdua pergi.”
“Kalau begitu… kenapa Papa tidak mencarinya sampai ketemu? Kenapa Papa diam saja di sini dan hanya memendam rasa?”
“Papa sudah mencari ke mana-mana, Nak. Sudah empat tahun ini Papa tidak berhenti mencari. Tapi mereka seolah lenyap ditelan bumi. Dan satu-satunya pesan yang Tante Siti tinggalkan, dia meminta Papa membiarkan mereka pergi dan hidup tenang. Papa bingung, Haikal. Di satu sisi Papa ingin sekali bertemu, di sisi lain Papa tidak ingin membuat mereka menderita lagi karena kehadiran Papa,” jelas Yusuf dengan suara yang penuh kepedihan.
Haikal diam sejenak, lalu berkata pelan, “Kalau memang itu yang membuat Papa bahagia dan tenang, teruslah mencari, Pa. Aku tidak akan marah atau cemburu. Aku hanya ingin melihat Papa tersenyum dan hidup dengan tulus, bukan seperti sekarang yang setiap hari terlihat menderita begini.”
Yusuf tersentak, lalu segera bangkit dan memeluk tubuh putranya itu erat-erat. “Terima kasih, Nak… Terima kasih sudah mengerti Papa. Kamu memang anak yang hebat dan bijaksana.”
Di sebuah hotel mewah, Raka dan Nora sedang duduk berhadapan di ruang santai yang tertutup dan sepi. Wajah Nora tampak bersinar, berbeda jauh dengan dirinya yang dulu.
“Kamu mau minum apa, Sayang? Aku pesankan,” tanya Raka lembut, tangannya membelai lembut punggung tangan Nora.
“Apa saja, yang penting ada kamu di sini,” jawab Nora tersenyum manis.
Raka tertawa kecil. “Kamu ini… semakin lama semakin pandai bicara manis ya. Padahal dulu kamu wanita yang paling tegas dan sulit didekati.”
“Itu dulu, saat aku masih berusaha keras mencintai seseorang yang hatinya tidak pernah ada untukku. Sekarang… aku baru tahu rasanya dicintai dan dihargai dengan tulus,” ucap Nora lembut.
Raka menatapnya lekat. “Nora… kalau saja dulu aku berani bicara lebih awal, kita pasti sudah bersama sejak lama. Kamu tidak akan merasakan sakit hati selama bertahun-tahun itu.”
“Jangan menyesali masa lalu ya, Raka. Yang penting sekarang kita saling memiliki. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku sekarang. Rasanya aku seperti menemukan kembali diriku yang dulu, diriku yang ceria dan penuh semangat,” kata Nora dengan mata berbinar.
“Begitu juga aku, Sayang. Sejak kamu ada di hidupku, hari-hariku terasa lebih berwarna dan bermakna. Aku berjanji akan selalu menjagamu, selalu membuatmu bahagia, dan tidak akan pernah membiarkanmu merasa kesepian lagi,” ucap Raka dengan sungguh-sungguh.
“Tapi… bagaimana dengan keluarga kita masing-masing, Raka? Suatu saat nanti kebenaran ini pasti akan terungkap. Aku takut…” suara Nora perlahan melemah.
Raka mengusap pipinya dengan lembut. “Jangan takut, Nora. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Kita tidak menyakiti siapa pun dengan sengaja, kita hanya berusaha menyelamatkan diri kita sendiri dari kesepian dan penderitaan. Kalau saatnya tiba, kita akan hadapi bersama-sama. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian menghadapi apa pun.”
Nora mengangguk pelan, lalu bersandar lembut di bahu Raka. “Terima kasih… Aku merasa sangat beruntung pernah bertemu denganmu lagi.”
Di pedalaman Kalimantan, sore itu langit terlihat sangat indah dengan warna jingga yang memukau. Siti sedang duduk di beranda rumah sambil memeluk Daffa yang sudah mulai mengantuk.
“Bunda… Ayahku itu orang yang sangat hebat dan gagah sekali ya?” tanya Daffa dengan suara yang mulai samar karena kantuk.
Siti tersenyum haru, mengecup kening putranya. “Iya, sayang. Ayahmu adalah lelaki yang paling hebat, paling baik, dan paling gagah di seluruh dunia ini. Kamu sangat mirip dengannya, tahu? Setiap kali Bunda melihatmu, rasanya seperti sedang melihat Ayahmu sendiri.”
“Benarkah? Kalau begitu… nanti kalau aku sudah besar, aku ingin menjadi seperti Ayah. Aku ingin menjadi orang yang kuat dan bisa melindungi orang yang aku cintai,” ucap Daffa dengan penuh semangat meski matanya sudah terpejam.
Siti menahan air matanya agar tidak jatuh. “Tentu saja, Nak. Bunda yakin sekali kamu akan tumbuh menjadi lelaki yang jauh lebih hebat dan lebih baik daripada Ayahmu. Kamu adalah kebanggaan terbesar Bunda, dan juga kebanggaan terbesar Ayahmu.”
“Kapan ya Ayah pulang, Bunda? Aku ingin sekali memeluknya dan bilang kalau aku sangat merindukannya…” bisik Daffa perlahan, akhirnya terlelap dalam pelukan ibunya.
Siti membelai rambut hitam legam putranya itu dengan penuh kasih sayang. “Sebentar lagi, sayang… Sabar ya. Jarak dan waktu tidak akan bisa memisahkan ikatan darah dan kasih sayang selamanya. Bunda juga sangat merindukan Ayahmu, percayalah. Kita sama-sama menunggu, sampai suatu hari nanti takdir mempertemukan kita kembali.”Jawab siti. Entah kenapa kata-kata itu terucap begitu saja.
Di kota besar yang jauh, Yusuf sedang memegang selembar foto lama milik Siti yang berhasil ia temukan kembali. Ia menatap foto itu dengan tatapan yang dalam dan penuh kerinduan.
“Siti… di mana pun kamu berada, apa pun yang sedang kamu lakukan, ketahuilah bahwa aku tidak pernah berhenti merindukanmu dan tidak pernah berhenti mencari. Daffa… anakku sayang, maafkan Ayah yang belum bisa datang menjemput dan memelukmu. Tunggulah Ayah sedikit lagi. Ayah berjanji, Ayah akan terus berusaha sampai akhirnya kita bisa bersatu kembali menjadi satu keluarga yang utuh,” gumam Yusuf pelan, air matanya menetes membasahi foto yang sedang dipegangnya.
Terdengar ketukan pintu, lalu Haikal masuk kembali membawa secangkir teh hangat.
“Minumlah dulu, Pa. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Seperti yang aku bilang tadi, kalau itu memang yang membuat Papa hidup dan bernapas, teruslah berjuang. Aku akan selalu mendukung Papa, apa pun keputusan yang Papa ambil nanti,” ucap Haikal lembut, meletakkan cangkir itu di meja.
Yusuf menoleh, menatap putranya dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Nak. Kamu benar-benar anugerah yang luar biasa buat Papa. Maafkan Papa yang selama ini mungkin kurang memperhatikanmu.”
Haikal tersenyum tipis, senyum yang tulus dan meneduhkan hati. “Sudah, Pa. Tidak perlu minta maaf lagi. Sekarang Papa harus istirahat. Besok adalah hari yang baru, dan semoga saja besok membawa kabar yang lebih baik dari hari ini.”
“Terima kasih, Haikal… Terima kasih banyak,” ucap Yusuf, menatap putranya yang perlahan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Hati Yusuf terasa jauh lebih ringan dan tenang sekarang. Meski perjalanannya masih sangat panjang dan penuh rintangan, setidaknya ia tahu bahwa ia tidak berjuang sendirian. Ia memiliki dukungan dari putranya sendiri, dan harapan untuk bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang ia rindukan masih terus menyala terang di dalam dadanya.
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣