Menjadi sasaran cinta seorang gangster?
Gaby harus melewati cobaan yang lebih besar lagi ketika seorang gangster tertarik kepadanya. Namun dibalik ketertarikan Jax, si gangster kejam dan berpengalaman itu ternyata memiliki alasan lain, yaitu menuntaskan pekerjaannya dengan membawa Gaby ke pemimpin mafia bernama Salvatore Conti atas pengkhianatan yang ayah Gaby lakukan.
Jax yang diperintahkan untuk membunuh Gaby dengan diberi hadiah setimpal. Pria itu justru terjebak dalam cintanya sendiri sehingga membuat nya harus lari sejauh mungkin bersama Gaby untuk menghindari kejaran Salvatore dan anak buahnya. Dan melindungi wanita itu dari maut meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TDK — BAB 32
LAMARAN DAN KETEGANGAN
Suara desahan hingga racauan dari dua insan yang saat ini tengah bergelut di atas ranjang empuknya hingga suara gaduh dari beberapa barang yang terjatuh akibat tepisan tangan tak disengaja.
“Hahh~ Hahh~ Ahhh~ ” Gaby membuka bibirnya yang kering. Peluh membasahinya saat dia menatap lekat wajah Jax yang juga menggeram dengan bibir terbuka.
Refleks Gaby menyentuh pipi Jax hingga ke lehernya dan menuntun pria itu ke arah bibirnya.
Di saat gerakan Jax semakin cepat, ciuman mereka pun bertambah panas. Gaby menggeliat tak karuan saat pria itu menciumi lehernya.
“Ahhh~ ”
Yap! Malam yang tidak terlupakan. Gaby memejamkan matanya rapat, dan Jax menatapnya dengan senyuman puas. “Again?!.(Lagi)?!” tawar pria itu tak ada lelahnya.
Mendengar itu, Gaby tersenyum kecil dan menggeleng, lalu membuka matanya hingga Jax mencium bibirnya sebelum akhirnya dia turun dari tubuh telanjang Gaby. “Kau tidak lelah?” tanya Gaby yang manis berbaring dan menatap ke arah Jax yang mulai mengenakan balutan handuk putih di pinggangnya.
“No! Aku masih bisa bertahan, apa kau yakin tidak mau menambah ronde?!” balasnya tersenyum menoleh ke Gaby.
Wanita itu menutupi tubuhnya dengan selimut hingga Jax duduk di tepi ranjang dan menatap wanita cantik itu hingga memasangkan sebuah cincin secara tiba-tiba.
“Jax— ” Gaby terkejut saat dia melihat cincin silver melingkar di jari manisnya.
“Sudah kubilang, ucapanku tidak main-main.” Ucap Jax menatap Gaby sembari mengusap punggung tangan wanita itu.
Tentu saja Gaby menatap tak percaya namun juga senang saat seorang pria menunjukan keseriusannya. Gaby tak berhenti menatap cincin itu dengan senyuman lebar.
“Aku mencintaimu.” Ucap Jax saat menatapnya.
Mendengarnya saja Gaby rasanya tak percaya dan ingin kehabisan napas. Pria itu mengusap pipi Gaby, menatapnya lekat dan akhirnya berani mengatakan perasaannya.
“I'm serious, Gaby! Marry me! (Aku serius, Gaby! Menikahlah denganku)!” sekali lagi Jax mengatakannya.
Gaby merasa bingung, meskipun dia memiliki perasaan yang sama, namun entah kenapa dia sangat sulit menjawabnya. Namun dia memikirkannya sekali lagi— Jax sudah memiliki dirinya seutuhnya hingga mahkotanya. Dia tahu pertemuannya dengan Jax tidaklah bagus, tapi pria itu menunjukkan perubahannya.
“Istirahatlah! Kau bisa menjawabnya besok.” Ujar Jax pasrah.
Melihat pria itu pergi ke arah kamar mandi, Gaby terdiam dan mulai memikirkannya sampai terbawa tidur.
.
.
.
“Saya sudah menemukan soal pulau Lotre itu Tuan Jax. Beberapa data rahasia mengatakan bahwa pulau itu adalah pusat berdagang ilegal. Tuan Martinez ikut serta ke dalamnya, tapi... Pulau itu juga menjadi rebutan para mafia.” Jelas Jacob yang saat ini datang langsung menemui Jax di tempat keberadaannya saat ini bersama Gaby.
Jax dan Jacob duduk di sofa, sementara Gaby tertidur di atas ranjang dengan posisi membelakangi kedua pria tadi sehingga hanya memperlihatkan punggung mulusnya.
“Dan Vladimir Pushkin juga ikut serta.” Tebak Jax yang saat ini menatap ke foto pulau tersebut dengan kerutan alis.
Jacob mengangguk yakin.
“Mereka merebutkannya karena itu pusat perdagangannya.” Gumam Jax yang masih mencoba memikirkan teka-teki itu.
Hingga Jacob memberikan foto tersembunyi yang dia dapatkan dari mata-matanya. “Salvator baru saja meninggalkan New York. Dia tidak pergi ke Meksiko karena arah pesawat yang berlawanan.” Jelas Jacob.
“Menurutmu kemana dia pergi?” tanya Jax hingga mereka berdua saling menatap dengan tebakan yang sama.
“Rusia.” Jawab Jacob.
Jax beranjak dari duduknya begitu juga dengan Jacob. “Kirim Hattie ke Rusia untuk memata-matai pria itu. Aku tahu dia ahli dalam menyamar. Dan aku yakin, Salvatore dan Pushkin memiliki tujuan yang sama.” Pinta Jax dengan sangat serius.
Jacob yang sudah mendapat perintah, tentu saja dia mengangguk tegas dan pamit pergi.
Pria berkaos hitam itu pergi melewati pintu besi, meninggalkan Jax yang masih berdiri di sana dan menatap ke arah foto yang tergeletak di atas meja.
Sementara Gaby memejamkan matanya usai selesai mendengar percakapan Jax dan asistennya tadi. -‘Dan semua itu terhubung dengan ayahku juga.’ Batin Gaby yang sangat yakin dan mulai ingat akan ucapan Vegas beberapa tahun lalu tentang penangkapan para mafia di pulau Lotre.
...***...
Satu hari berlalu. Salvatore melangkah dengan jarak panjang saat dia sampai di Rusia. Pria itu duduk di dalam ruangan pribadi Vladimir Pushkin yang saat ini duduk di kursi singgahnya.
Seorang pelayan baru saja menuangkan beer, lalu melangkah pergi dari ruangan itu.
“Siapa pria itu?” tanya Pushkin dengan menatap tajam.
“Jax Martin. Aku mengenalnya sebagai gangster jalanan, tapi aku terkejut setelah tahu bahwa dia putranya Martinez.” Jelas Salvatore dengan ikut kesal sendiri.
Pushkin yang mendengarnya pun mulai meremas-remas kepalan tangan kirinya.
“Lalu apa tujuannya? Apa membalas dendam atas kematian ayahnya?”
Salvatore menatap tajam ke pria yang lebih tua darinya itu. “Maybe.” Jawabnya dengan curiga. Tentu saja karena dia yang membunuh Martinez atas perintah Pushkin namun Jax akan mengincarnya lebih dulu karena dialah yang bergerak membunuh ayahnya.
“Aku rasa dia tidak tahu tentang kegiatan Martinez di masa lalu. Jax tidak akan tahu soal pulau dan Anda Mr. Pushkin!” ujar Salvatore dengan tebakan yang asal-asalan.
Mendengar itu, Pushkin malah terlihat marah dan menatap penuh ancaman.
“Kau sudah menghabisi detektif Vegas, Martinez dan yang lainnya yang menghalangi ku. Sekarang ada lagi ancaman baru.” Ucap Pushkin tak habis pikir kalau masalahnya tak akan selesai.
“Vegas memiliki seorang putri. Dan dia dekat dengan Jax. Aku rasa ini akan semakin rumit.” Ucap Salvatore membuat Pushkin menatapnya kembali.
Pria tua dengan setelan jas rapi yang tadinya duduk santai, kini Pushkin mulai beranjak dari duduknya. “Aku ingin segera menyingkirkan para mafia yang ada di pulau itu. Selagi aku melakukannya, kau habisi Jax Martinez itu sebelum dia berulah.” Pinta Pushkin dengan tatapan lekat.
Salvatore yang mendengarnya pun tak bisa menolak. Ya! dia masih berada di genggaman Pushkin, karena sejak awal mereka sudah melakukan perjanjian itu. Why? Karena Pushkin lah yang mengangkat derajat Salvatore yang merupakan pria berandal biasa namun ingin berkuasa.
Di sisi lain, Jax sudah mulai bergerak mencaritahu informasi tentang ayahnya terlebih dahulu sebelum dia akan bertindak.