Pada kehidupan pertamanya, Lu Yuan mati sebagai Kaisar Yangle yang digulingkan dan dibunuh oleh adiknya sendiri. Di kehidupan keduanya, dia menjadi Nona Ketiga Perdana Menteri yang tidak berguna.
Lu Yuan bertekad membalas kejahatan keji yang dilakukan oleh adiknya dan para menteri yang bersekongkol membunuhnya, namun dia diganggu oleh Marquis Yongping yang terus berkata ingin menikahinya. Dia juga dihadapkan pada drama keluarga yang memuakkan serta intrik berkepanjangan.
Kontrak pernikahan dan keinginan balas dendam menjeratnya di dua sisi. Akankah Lu Yuan berhasil membalaskan kematiannya atau justru terjebak pesona Marquis Yongping dan merelakan masa lalunya?
***
"Istri, jangan marah. Tidak apa-apa bila reputasimu rusak, aku tidak keberatan menikahi seorang istri yang tidak bermoral," Marquis Yongping berkata jujur.
"Berhenti memanggilku istri! Siapa yang mau jadi istrimu?" Lu Yuan berseru marah.
"Lalu apakah aku harus memanggilmu Kaisar Yangle?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32: Kunjungan Terakhir
Kain-kain merah cerah, yang menjadi simbol kebahagiaan di dinasti ini sudah mulai menghiasi kediaman Perdana Menteri. Bagaimanapun, yang akan menikah esok hari adalah putri sah Perdana Menteri. Meskipun dia tidak dapat membalikkan posisinya dalam sekejap dan menjadi nona yang sejati, pernikahannya tidak bisa dibuat ala kadarnya.
Yah, Perdana Menteri akhir-akhir ini menaiki status sosial yang tinggi lagi. Menantunya adalah Marquis Yongping, yang gelar dan prestasinya diperoleh di usia muda tanpa melalui pewarisan.
Ini adalah berkah, jadi bagaimana mungkin dia tidak menaati tradisi leluhurnya untuk memanjakan anak gadisnya yang akan menikah dengan pria mapan dan menjanjikan.
Tetapi, pengurus utama kediaman itu tetap tidak tahu diri. Meski tahu Nona Ketiga akan menikah, namun sampai semua kediaman dihiasi kain merah cerah, kediaman utama tidak juga mengirim orang untuk merenovasi kediaman utara. Lu Yuan berpikir Zhao Yun pasti ingin mempermalukan dirinya sendiri.
Mereka sibuk dengan kegiatan mereka dan tidak memedulikan siapa tokoh utama dari kehebohan dan acara besar ini. Lu Yuan, sejak pagi hanya bermalas-malasan di kursinya. Tidak ada yang diizinkan mengganggunya kecuali hal mendesak. Selebihnya, dia berbaring sambil mengemil biji kuaci.
Pikirannya tiba-tiba terganggu oleh sesuatu. Apakah Gong Zichen sudah menemui Jiang Lezhi dan bernegosiasi dengannya?
Pernikahan mereka tinggal satu hari lagi, dan pemilihan selir empat hari lagi. Kalau Gong Zichen tidak berhasil bernegosiasi, Lu Yuan hanya bisa menanganginya sendiri.
Matahari di atas kepalanya masih hangat dan udara masih segar. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berpikir untuk berhenti berbaring. Duduk tegak di kursinya, dia memandangi beberapa pelayan yang memasang kain merah dengan dahi mengernyit. Ada satu pertanyaan di dalam otaknya: untuk apa mereka memasangnya di sini juga?
Upacaranya dilaksanakan di kediaman mempelai pria. Lu Yuan benci hal-hal tidak berguna yang membuang uang dan tenaga. Meski kamarnya dihias, dia tidak akan memakai dan tinggal di sana, kan?
Tapi, sudahlah. Dia malas ribut dengan sekumpulan pelayan yang hanya menerima perintah dari Cao Wenyu. Ibu tirinya itu adalah seorang pendengki yang dendam padanya. Di hari menuju pernikahannya ini, emosinya pasti sudah terkuras habis dan dia pasti sangat dongkol.
Lu Yuan tidak jadi berbaring lagi. Dia bangun dari sana dan masuk ke dalam kamarnya. Gaun pengantin merah yang tempo hari diantar ke kediaman ini tersampir di gantungan kayu.
Jubahnya yang panjang menjuntai hingga ke lantai. Benang emas yang membentuk pola sulaman di beberapa bagian berkilau saat cahaya dari luar memantul.
Huh, benar-benar seperti mimpi. Pernikahan, mungkin hanya terjadi pada kehidupan ini saja. Setelah menjadi istri orang, Lu Yuan akan langsung menyuruh Gong Zirui menceritakan semuanya, termasuk tujuan dan alasan lain mengapa pria itu menikahinya. Mengingat, mereka menikah dengan dekret kekaisaran yang tentu sulit ditolak.
Setelah memandangi gaun pengantin, Lu Yuan duduk di depan meja rias dan mengeluarkan beberapa kotak perhiasan. Sebagian perhiasan ini adalah mahar miliki Zhao Yue. Lu Yuan berhasil mengambilnya kembali dari tangan Cao Wenyu tanpa kurang satu pun. Rupanya setelah Xiao Tao menyampaikan revisinya, Zhao Yun langsung menyuruh Cao Wenyu memberikan semua maharnya tanpa pengurangan.
“Jika kau masih menempati tubuh ini, A-Yue, apa yang akan kau lakukan?”
Dia bicara pada dirinya di depan cermin. Bayangan kejadian belasan tahun lalu saat dia duduk di pojok istana sendirian sambil menangis kembali muncul di benaknya.
Anak kecil itu – Lu Yuan kecil, yang dipaksa menjadi Pangeran Mahkota oleh mendiang Kaisar Terdahulu, sedang menangis sambil memeluk lututnya. Lalu anak kecil lainnya – Zhao Yue kecil, mendatanginya dan bertanya padanya dengan mata dan nada yang polos.
Benar-benar sebuah pertemuan alami yang tidak disengaja. Pertemuan itu, lalu menjadi salah satu alasan yang mengikat Lu Yuan kembali ke dunia setelah mati.
Semua mahar itu, dia sama sekali tidak tertarik memilikinya, apalagi menggunakannya. Setelah menikah nanti, Gong Zichen bisa menghidupinya dan memberinya uang untuk menjamin kehidupannya. Semua mahar ini, dia berencana menguburnya bersama sebuah nisan kayu untuk Zhao Yue secara diam-diam.
Lu Yuan menyimpan kembali kotak-kotak tersebut di tempat semula. Sudah jam berapa sekarang? Mengapa orang-orang itu masih belum selesai juga?
Ketika dia mengintip kegiatan di luar melalui jendela, dia menghela napas. Orang-orang itu masih menghiasi halaman kediamannya dengan kain merah dan entah kapan akan selesai.
“Xiao Tao!”
Xiao Tao yang sedang mengomando kegiatan menghias halaman tersebut menyahut, “Nona, ada perintah apa?”
“Minta mereka untuk bergegas. Aku mau tidur.”
“Baik, Nona.”
Lalu, Lu Yuan bermalas-malasan lagi dan berbaring di tempat tidurnya.
***
Makan malam sudah dihidangkan di meja sejak setengah jam yang lalu. Lu Yuan yang seharian ini bermalas-malasan, baru saja selesai berganti pakaian setelah berendam di air hangat yang ditaburi seember kelopak mawar merah. Entah apa maksudnya, tapi kediaman marquis telah mengirim seseorang untuk memandikannya dengan air mawar dan wewangian.
Xiao Tao memberikan sumpi padanya dan mengisyaratkan agar Lu Yuan segera makan. Namun, dia menggelengkan kepalanya. “Tidur seharian membuat kepalaku pusing. Simpan saja makan malamnya untukmu.”
“Tapi, Nona bisa sakit. Nona, makanlah walau hanya satu suap.”
“Tidak makan sehari tidak akan membuatku mati.”
Bahkan Lu Yuan pernah tidak makan dua tiga hari berturut-turut saat membantu Jenderal Besar Kong berperang di perbatasan barat bertahun-tahun yang lalu.
Demi menjaga moral prajurit, dia mengencangkan ikat pinggangnya dan mengikat perutnya sampai bantuan pangan dari pengadilan sampai ke kamp militer. Lalu, dia perlahan mulai terlatih dan lambungnya jadi terbiasa. Makanan di istana juga tidak semuanya ia makan.
Xiao Tao tidak berdaya. Dia membereskan piring-piring yang belum tersentuh tersebut ke dalam kotaknya dan membawanya pergi. Lu Yuan memijat pelipisnya. Kepalanya agak pusing. Mungkin, dia terlalu banyak tidur hari ini.
Telinganya yang sensitif menangkap suara langkah kaki yang diam-diam mendekat. Itu bukan suara langkah kaki Xiao Tao. Langkah itu memiliki ketegasannya sendiri meski terkesan sangat berhati-hati, seolah pijakan yang akan diinjaknya adalah kertas yang sangat rapuh dan mudah robek.
Lu Yuan jadi waspada. Dia mengambil sebuah belati di tangannya dan mendekat ke arah pintu. Siapa itu? Apakah itu adalah orang suruhan Zhao Lin yang ingin membunuhnya? Atau dia adalah suruhan Lu Zheng yang ingin mengacaukan hubungan Marquis Yongping dengan Perdana Menteri?
Saat sosok itu muncul membuka pintunya, Lu Yuan melompat dan menekannya ke tembok sambil mendekatkan belati ke leher sosok tersebut. Cahaya remang-remang, namun dia bisa merasakan keterkejutan yang besar tergambar dari bayangan samar-samar wajahnya.
“Istri, apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuh suamimu sebelum pernikahan?”
Sesaat kemudian, ekspresi Lu Yuan berubah jadi jelek dan dia menurunkan belatinya, melepaskan sosok tersebut. “Mengapa kau kemari?”
Gong Zichen melompat dan duduk tidak jauh darinya. Malam-malam begini, dia hampir saja jadi sesosok mayat di tangan Lu Yuan kalau dia tidak bersuara. Kewaspadaan wanita ini benar-benar sangat tinggi. Padahal, Gong Zichen sudah menggunakan ilmu beladirinya untuk meringankan langkahnya dan menyamarkan suara langkahnya agar tidak ketahuan.
“Aku datang untuk memastikan kau tidak kabur di malam sebelum pernikahan.”
“Omong kosong! Aku tidak pernah mengingkari perkataanku,” Lu Yuan mendengus.
“Aku tidak percaya. Terakhir kalu kau bilang akan mempertimbangkanku, tapi sampai beberapa hari kau juga tidak mengonfirmasinya. Jika aku tidak memohon langsung kepada Kaisar, kau pasti akan terus menghindariku.”
“Itu karena aku lupa.”
“Istri, penyakit lupamu itu aneh.”
Jelas-jelas mereka akan menikah besok. Jelas-jelas mereka akan bertemu dan tinggal bersama setelah upacara pernikahan.
Mengapa Gong Zichen sangat tidak sabar? Dia bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu Lu Yuan. Yang lebih parah, dia berani menyelinap ke kamarnya di malam hari!
Jika ketahuan, reputasi Marquis Yongping akan rusak!
Gong Zichen bisa tahu apa yang dipikirkan oleh Lu Yuan hanya dari tatapan matanya. Dia terkekeh dan berkata, “Istri, aku datang untuk kunjungan terakhir. Hatiku tidak bisa menahan rindu kalau tidak bertemu denganmu.”
Dua alasan berbeda yang diucapkan oleh pria itu, mana yang harus Lu Yuan percaya? Dia jelas berkata ingin memastikan Lu Yuan tidak kabur, tapi kemudian mengatakan dia merindukannya. Perkataan pria memang tidak bisa dipercaya begitu saja.
“Aku tidak akan lari. Jika kau masih di sini, penjaga kediaman Perdana Menteri akan mudah menangkapmu.”
“Aku baru saja datang. Istri, apakah kau bahkan tidak memberiku secangkir teh?”
Lu Yuan sungguh tidak sanggup menanggapi ocehan Gong Zichen malam ini. Kepalanya terasa sangat pusing. Ketika dia menuangkan teh untuk Gong Zichen, air panas dari poci teh tersebut tumpah dan melebar ke meja. Gong Zichen segera merebut poci tersebut dan sedikit panik.
“Kenapa kau malah ingin memenuhi seluruh meja? Istri, apa kau begitu tidak ingin memberiku secangkir teh?”
“Jangan banyak bicara. Kepalaku sakit!” Lu Yuan menggeram. Dia juga tidak tahu kepalanya akan sesakit ini sampai tidak sadar menumpahkan teh.
Gong Zichen menatapnya dan dahinya berkerut. Calon istrinya terus memegangi kepala dan memijat pelipisnya. Ketika dia menyentuh dahinya, panasnya melebihi suhu normal.
“Kau sakit. Kau demam,” ucap Gong Zichen.
“Tidak mungkin. Aku jelas-jelas baik-baik saja.”
“Masih saja pura-pura.”
Gong Zichen gemas dengan sikap sok kuat dan tangguh yang dimiliki Lu Yuan. Pria itu tiba-tiba menggendongnya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.
Lu Yuan tidak sempat bereaksi, tidak sampai tubuhnya menyentuh lembutnya tempat tidur. Dia bertanya, “Apa yang kau lakukan?”
Tapi, Gong Zichen mengabaikan pertanyaannya. Pria itu seperti sibuk mencari sesuatu. Dia kembali ke sisi tempat tidur Lu Yuan sambil membawa tempat pembakar dupa yang masih menyala.
“Istri, siapa yang menyalakan dupa ini di kamarmu?”