Meninggalnya Sang Istri saat melahirkan membuat Tama Wijaya enggan membuka hati untuk wanita lain, termasuk gadis bernama Kinara Larasati, wanita yang baru saja dirinya nikahi beberapa saat yang lalu.
"Kamu hanya ibu sambung untuk kedua anakku. Jadi, jangan pernah berharap kalau aku akan menganggapmu istri. Ingatlah! Pernikahan kita hanya sebuah kesepakatan. Aku sudah membantumu melunasi semua hutang tante dan pamanmu. Sebagai gantinya kamu sudah setuju untuk menjadi ibu dari kedua anak kembarku. Jadi, jangan pernah berharap lebih dari itu!" Tama memberi peringatan keras kepada wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.
Derai air mata yang jatuh di kedua pipi Nara-wanita itu biasa disapa, tak lantas membuat hati Tama luluh. Laki-laki itu semakin kokoh membangun dinding pembatas antara dirinya dan Nara.
Bagaimana kelanjutan rumah tangga Tama dan Nara disaat tujuan keduanya hidup berumah tangga itu berbeda? Dan mampukah Nara mengambil hati Tama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Kinara segera turun dari dalam mobil dan meninggalkan Tama yang masih mematung. Dia segera ke kamar rawat Taki dan Maki.
Benar saja, saat Kinara tiba disana kedua bocah itu sedang merengek kepada Mirna untuk meminta bertemunya.
"Selamat sore anak-anak," sapa Kinara kepada kedua putra sambungnya.
"Mama." Taki dan Maki tampak bahagia melihat keberadaan Kinara.
Kinara berjalan mendekat ke ranjang kedua putranya yang sedang berbaring. "Gimana keadaan kalian? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Kinara.
Taki dan Maki segera bangun dari tempat tidurnya dan memeluk Kinara.
"Kami sudah baikan, Ma. Mama kemana saja tadi?" jawab Taki sambil bertanya. Anak itu mendongak menatap wajah ibu sambungnya.
"Tadi mama ada sedikit urusan, makanya pergi sebentar," jawab Kinara. Dia mengusap rambut kedua putranya.
"Jangan pernah tinggalkan kami ya, Ma! Apapun yang terjadi kami ingin Mama terus bersama-sama dengan kami." Kini giliran Maki yang berbicara.
Kinara mengangguk. "Pasti. Mama akan terus berada di sisi kalian," jawab Kinara.
"Janji!" ucap Taki dan Maki. Kedua bocah itu mengulurkan satu jari kelingking mereka.
"Mama janji." Kinara mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking kedua putra sambungnya.
"Jangan asal berjanji, Nyonya." Tiba-tiba Mirna ikut menyahut. Wanita yang wajahnya ditekuk itu tampak sebal dengan kehadiran Kinara.
"Memang kenapa, Mbak? Lagian aku nggak asal janji kok, aku memang nggak akan pernah ninggalin mereka." Kinara mengecup pucuk kepala kedua putranya.
"Harapan Nyonya sih begitu, tapi gimana kalau suatu hari nanti Tuan Tama mengusir Nyonya? Apalagi gara-gara Nyonya Den Taki dan Den Maki harus dirawat disini."
Kinara mengernyit. "Kenapa aku merasa justru Mbak Mirna ya yang mengharapkan aku pergi? Mbak Mirna tidak suka denganku?" tanya Kinara.
Pengasuh Taki dan Maki itu tidak menjawab dan hanya membuang muka.
"Ada apa lagi ini?" tanya Tama yang baru saja masuk ke kamar rawat si kembar. Dia menatap Mirna dan Kinara bergantian.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Aku hanya merasa kalau pengasuh anak Pak Tama ini tidak menyukaiku," jawab Kinara.
"Mirna kamu boleh pulang sekarang! Malam ini aku dan Kinara yang akan jaga anak-anak!" suruh Tama.
"Tapi, Pak.... "
"Ini perintah! Kamu tahu kan kalau aku paling tidak suka dibantah!" sela Tama.
"Saya tahu, Pak. Tapi, bukankah Pak Tama tahu kalau anak-anak begini karena bekal yang Nyonya berikan? Kenapa Pak Tama tidak mengusir Nyonya?" ungkap Mirna. "Saya memang hanya pengasuh mereka disini, tapi saya nggak rela kalau ada orang yang menyakiti mereka berdua."
"Mengenai hal itu kita bicarakan nanti saat anak-anak kembali ke rumah. Saat ini yang diinginkan mereka adalah Kinara, jadi tidak ada alasan buatku untuk mengusirnya," jelas Tama. "Pulanglah, aku sudah suruh supir untuk menjemputmu!"
Dengan terpaksa Mirna pergi meninggalkan kamar rawat Taki dan Maki.
"Aku harus melaporkan hal ini pada Nyonya Dewi. Aku akan bilang pada Nyonya Dewi bahwa Kinaralah penyebab anak-anak dirawat di rumah sakit. Aku yakin, kalau Nyonya Dewi yang menyuruh Tuan Tama mengusir wanita itu, Tuan Tama tidak akan bisa menolaknya. Setelah wanita itu pergi, aku akan merayu Pak Tama dan membuatnya mau menikah denganku. Aku yakin, aku pasti bisa melakukankanya. Pak Tama i love you." Mirna berbicara dalam hati. Dia tersenyum senang saat membayangkan Kinara diusir oleh Tama dan semua rencananya berjalan dengan baik.