Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGKHIANATI, LALU DIKHIANATI
Siang harinya, Nafisa masih berkutat dengan laptop di dalam kamar. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, sesekali berhenti untuk memperhatikan detail desain yang tengah ia kerjakan.
Baru saja ia hendak memperbaiki bagian sudut desain, ponsel di atas ranjang bergetar.
Drrrtt ... Drrrtt ...
Nafisa melirik layar ponselnya. Nama Dewangga tertera di sana.
Ia segera meraih benda itu, lalu mengangkat panggilan.
“Sedang apa?”
Suara Dewangga terdengar begitu panggilan tersambung.
Nafisa mengerjap. “Assalamualaikum, Pak.”
“Oh. S-sorry. Waalaikumsalam. Sedang apa?”
“Merangkai desain.”
“Serahkan saja kepada timmu, Naf.”
“Tidak bisa, Pak. Desain ini saya yang paling paham.” Nafisa kembali melirik layar laptopnya. “Kalau dikerjakan orang lain, saya harus menjelaskan detailnya dari awal lagi. Malah bisa lebih lama.”
Helaan napas terdengar dari seberang.
“Terserah kamu saja, Nafisa.”
Nafisa tersenyum tipis. Ia sudah menduga laki-laki itu akan menyerah setelah mendengar alasannya. Namun, senyumnya perlahan memudar ketika teringat percakapannya dengan sang ibu pagi tadi.
“Pak, tadi saya menghubungi Ibu untuk mengundangnya datang besok. Tapi, sepertinya ada yang aneh.”
“Aneh bagaimana?”
Nafisa terdiam sesaat, berusaha mengingat kembali suara Yulia yang terdengar berbeda di telepon. Belum lagi teriakan Damar yang tanpa sengaja tertangkap telinganya.
“Entahlah, Pak. Saya takut kalau ternyata saya hanya salah menuduh.” Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, “Kalau Bapak berkenan, izinkan saya menjemput Ibu sendiri.”
“Waktunya mepet, loh, Naf. Besok acaranya sudah dimulai.”
“Justru karena itu, Pak. Izinkan saya pergi hari ini.”
Beberapa detik tak ada jawaban. Nafisa menunggu sambil memainkan ujung jarinya di atas seprai.
“Oke. Tunggu sebentar. Saya jemput kamu.”
“Eh—”
Tut!
Panggilan terputus sebelum Nafisa sempat mengatakan apa pun.
Ia menatap layar ponselnya dengan bibir sedikit terbuka. Dewangga benar-benar memutuskan panggilan begitu saja.
“Ya ampun, Pak Dewangga,” gumamnya, menggeleng pelan.
Nafisa meletakkan ponselnya kembali di atas ranjang. Ia kemudian membuka laptop untuk menyimpan sekaligus mematikan pekerjaannya sementara.
. . .
Kini, Nafisa sudah berdiri di teras rumah.
Tak lama kemudian, sebuah mobil yang terasa familiar berhenti tepat di hadapannya. Nafisa segera melangkah mendekat. Setelah pintu belakang terbuka, ia masuk dan duduk di samping Dewangga yang sudah menunggunya.
Dewangga melirik sekilas ke arahnya, lalu mengalihkan pandangan ke depan. “Kal, jalan.”
“Baik, Pak.”
Mobil itu perlahan meninggalkan kediaman Nafisa.
Sementara itu, wanita yang sejak tadi memenuhi pikiran Nafisa justru sedang sibuk menjemur pakaian di halaman belakang rumah minimalis milik seorang lurah.
Yulia merentangkan sehelai pakaian, lalu menjepitnya pada tali jemuran. Tangannya bergerak cekatan, menyelesaikan satu per satu pakaian yang masih menumpuk di dalam keranjang.
“Ayah, nanti acaranya harus besar, ya. Aku gak mau kalau cuma dirayakan sederhana!”
Suara seorang gadis terdengar dari dalam rumah, disusul nada manjanya yang seolah tak ingin dibantah.
Yulia tersenyum tipis. Bahkan suara gadis itu mengingatkannya pada putrinya sendiri. Setiap kali menginginkan sesuatu, anaknya juga selalu menggunakan nada manja seperti itu untuk meluluhkan hati sang ayah.
“Memangnya kamu mau mengadakan acara sebesar apa?” sahut suara seorang pria dari dalam rumah.
“Pokoknya harus meriah! Aku mau semua orang tahu kalau aku menikah dengan pria yang tepat.”
Yulia menggeleng kecil, lalu kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari arah depan rumah.
Yulia spontan menoleh. Dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat sebagian bodi mobil yang baru saja berhenti di halaman rumah.
Ia sempat memperhatikan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menghadap jemuran.
Setelah memastikan semua pakaian tergantung rapi, Yulia mengangkat keranjang kosong dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Baru saja ia melewati ruang tengah, Bu Juleha, istri sang lurah menghampirinya.
“Yulia, tolong buatkan teh untuk tiga orang, ya. Ada tamu penting yang mau melamar putri saya.”
Langkah Yulia terhenti sejenak. Ia kemudian mengangguk sopan.
“Iya, Bu. Saya buatkan sekarang.”
“Jangan lupa siapkan camilan juga.”
“Baik, Bu.”
Setelah Bu Juleha berlalu menuju ruang tamu, Yulia segera berbelok ke dapur. Ia mengambil tiga cangkir, menyiapkan teh, lalu meletakkannya di atas nampan bersama sepiring camilan.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara beberapa orang berbincang. Sesekali, tawa mereka pecah.
Namun, ketika Yulia hendak menuangkan air panas ke dalam teko, tangannya mendadak berhenti.
Suara tawa itu terdengar begitu familiar di telinganya.
Yulia mengerjap beberapa kali, mencoba mengingat siapa pemilik suara tersebut. Namun, ia tak kunjung menemukan jawabannya.
'Mungkin cuma perasaanku saja.'
Ia kembali menuangkan air panas, lalu mengaduk teh di setiap cangkir. Meski begitu, telinganya masih menangkap percakapan dari ruang tamu.
. . .
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan ketiga cangkir teh tersusun rapi di atas nampan, Yulia mengangkatnya dengan kedua tangan. Ia melangkah keluar dari dapur, menyusuri lorong menuju ruang tamu.
Namun, semakin dekat dengan ruangan itu, semakin jelas pula suara pria yang sejak tadi mengusik pikirannya.
Langkah Yulia melambat.
Yulia menelan ludah. Jemarinya mencengkeram sisi nampan, sementara matanya tertuju pada pintu ruang tamu yang terbuka lebar.
Ia berusaha menepis firasat buruk yang sejak tadi mengganggunya.
Setibanya di dekat meja, Yulia segera menundukkan kepala dan meletakkan nampan dengan hati-hati.
“Silakan, Bu. Pak,” ucapnya pelan.
Perlahan ia mengangkat wajahnya. Namun seketika dunianya terasa seperti berputar saat melihat Damar, dua sepasang suami istri yang merupakan mertuanya kini duduk di hadapannya.
Tatapan mereka menatap ke arahnya dengan dingin. Namun Damar, tatapan pria itu seakan asing.
“Kamu kenapa berada di sini?” tanya Bu Suci.
Yulia tersadar dari keterdiaman nya.
“loh, yu. Sampean kenal Bu Yuli?” tanya Bu Juleha.
“Enggak, kami gak kenal. Hanya saja dia pernah kerja di rumah saya. Terus ikut dengan putra saya di desa buat bantu-bantu.”
‘A-apa? Pembantu?’
Suara Bu Suci kembali melanjutkan.
“Padahal sudah saya hentikan karena beliau ini sedang hamil. Tapi Bu Yulia justru memohon pada saya buat gak menghentikannya bekerja, karena saya orangnya gak tegaan, Bu Jul.”
Yulia mendengar itu pun segera menatap ke arah Damar yang hanya diam, dirinya pun menuntut penjelasan dari pria yang berstatus sebagai suaminya.
Namun pria itu membuang pandangannya ke arah lain.
“Damar,” panggilnya lirih. “Kamu gak mau membantah ucapan ibumu?”
“Kamu ngomong apa sih?” tanya Damar.
Tatapannya pun masih menatap ke arah lain.
“Jelasin kalau apa yang di katakan ibumu gak benar.”
“Damar,” panggil Bu Suci dengan lembut. “Coba deh ajak Bu Yulia keluar. Dia sepertinya penyakit pikunnya kambuh karena efek di tinggal suaminya.”
Kening Yulia mengernyit. Kenapa teganya wanita itu mengatainya pikun?
Yulia menggeleng pelan. “Kamu—“
Ucapannya terpotong saat suara Damar terdengar.
“Ayo kita bicarakan ini di luar, Bu Yulia.”
Damar menarik tangannya paksa, membuat Yulia berusaha untuk melepaskan cengkeraman pria itu.
“Lepasin!”
Cengkeraman justru Damar semakin erat.
. . .
Saat di halaman yang sedikit jauh. Damar akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya.
“Jelasin, kenapa kamu di sini?” tanya Yulia. “Apalagi ada Ibumu, Ayahmu dan kamu?”
Ekspresi Damar tampak terlihat santai. Hingga suara kekehan kecil terdengar.
“Kalau gitu, aku gak perlu bersembunyi lagi darimu.”
Tatapan Damar kini menatapnya. “Aku dan Laras akan menikah. Sudah tiga minggu kami pacaran.”
“A-apa?”
“Laras teman kecilku waktu aku berlibur di desa. Kami pernah berjanji buat menikah. Tapi janji itu pupus saat aku bertemu dengan putrimu dan menikah, lalu aku menikahimu. Sekarang, karena aku sudah ada di sini, aku harus menempati janji itu.”
“Tapi aku istrimu.”
“Hanya istri di atas kertas dan tekanan warga. Lagian, siapa yang mau sama kamu?” tanya Damar. “Lihatlah.”
Tatapan Damar terlihat mengabsennya dari atas kebawah.
“Sudah keriput, longgar, sok kepedean,” ujar Damar.
Sudut bibirnya terangkat. “Aku hanya menjadikanmu pemuasku.”
Deg.
Dada Yulia terasa seperti di hantam oleh ribuan batu saat mendengar ucapan Damar.
‘Pemuas nafsu?’
“Bahkan aku ingin mengakhiri ini dan meninggalkanmu,” lanjut Damar. “Tapi, kamu selalu menempel padaku seperti permen karet. Aku malu punya istri tua sepertimu, bahkan usiamu saha sama seperti ibuku.”
Yulia menatap Damar dengan bibir bergetar.
“Sekarang kamu sudah tahu, kan?” jawabnya enteng. “Kalau kamu masih mau menjadi istriku, tutup mulutmu dan terima kenyataan bahwa aku akan menikahi wanita yang seumuran denganku.”
Yulia menggeleng pelan. Air matanya mulai menggenang, tetapi ia masih berusaha mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria itu.
“Aku janji akan tetap memberikan nafkah untukmu dan anak itu,” lanjut Damar. “Jadi, kamu gak perlu khawatir soal uang.”
Yulia refleks meletakkan tangan di atas perutnya. Sebegitu tidak berhargai anak yang sedang dikandungnya hingga Damar bahkan tak sudi menyebutnya sebagai anak mereka?
“Damar ....” Suara Yulia terdengar serak. “Ini balasanmu setelah aku berani mengkhianati putriku sendiri dan merusak kepercayaannya demi kamu?”
Damar mengangkat sebelah alis.
Yulia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
“Lalu, ini alasanmu hampir dua minggu jarang pulang?” tanyanya lagi. “Selama ini kamu bersama Laras?”
Damar tidak berusaha menyangkal.
“Tentu saja.”
Yulia mematung.
“Orang tuaku juga sudah setuju aku menikah dengan Laras. Buktinya, hubunganku dengan mereka sekarang sudah membaik.”
Untuk beberapa saat, Yulia hanya bisa menatap suaminya.
Sementara dirinya?
“Mulai sekarang, jangan ganggu hidupku lagi,” ucapnya tanpa menoleh. “Aku tidak mau masalah ini menjadi panjang.”
“Da-Damar!”
Pria itu tidak berhenti. Punggungnya semakin jauh, meninggalkannya sendirian di halaman.
Bibir Yulia melengkung tipis. Sebuah tawa getir keluar dari tenggorokannya.
“Mengkhianati, lalu dikhianati ....”
Ia menunduk, menatap jemarinya yang masih menempel di perut.
Dulu, ia mengira pengkhianatan yang dilakukannya terhadap Nafisa adalah harga yang pantas dibayar demi kebahagiaannya sendiri. Ia berpikir, selama bisa bersama Damar, semuanya akan baik-baik saja.
Ia bahkan tega mengabaikan luka putrinya sendiri. Namun, sekarang ia justru merasakan sakit yang sama.
Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipi yang mulai memucat.
Menyesal?
Tentu saja.
Yulia menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha meredam isak yang akhirnya tak mampu lagi ia tahan. Bahunya berguncang kecil, sementara tangannya yang lain tetap mengusap perutnya.
“Maafin Ibu, Nafisa .... Ibu salah.”
Yulia menunduk semakin dalam. Air matanya jatuh membasahi punggung tangan yang menutupi perutnya.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.