Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah
***
“Dengerin Mbak dulu, Dek.” Larisa menarik tangan Nurani.
Keduanya bersitatap penuh air mata.
Nenden dan Nayla ingin mendekat tapi ragu.
“Apa pun yang kamu lihat, tolong jangan beritahu siapa pun, ya. Ini rumah tangga, nggak bisa dicampuri orang luar begitu saja. Nanti masalahnya malah melebar ke mana-mana. Mbak yakin mas Bassta cuman khilaf.”
Sakit, itu yang Larisa rasakan ketika mengucapkan hal yang bertolak belakang dengan isi hatinya. Ia mana rela melihat Bassta dan juga Jema. Dia juga sakit hati, hancur juga cemburu.
Nurani mendengus, menggeleng tak setuju dengan apa yang diminta Larisa.
“Apa kamu nggak mikirin gimana perasaan ayah sama ibu kalau kamu ngasih tahu mereka? Apa kamu nggak khawatir sama kondisi ayah yang selalu drop kalau mendengar berita yang aneh-aneh. Biar Mbak selesaikan semuanya, kamu cukup doakan,” tuturnya lemah lembut dan Nurani meremas tangannya kuat-kuat begitu emosi.
“Jangan terlalu polos, Mbak, jadi perempuan!” kecam Nurani.
Larisa tersenyum dipaksakan.
“Mbak tahu apa yang sepatutnya Mbak lakukan,” kata Larisa dengan yakin dan Nurani mengusap air matanya.
“Janji sama Mbak, ya, Dek.” Larisa berbicara dengan memohon.
Nurani membisu, hanya menatap sendu.
“Sudah cukup Mbak membuat masalah dan juga malu buat keluarga kita. Mbak nggak mau nambah masalah lagi. Kalau pernikahan ini adalah jalan yang terbaik, sekuat apa pun badai yang menerpa, Mbak nggak bakalan bisa kabur ke mana-mana.”
Larisa kini mengelus rambut adiknya kemudian Nurani mencelos pergi.
“Nurani!” panggil Larisa tandas.
“Ayo,” ajak Nenden kepada Nayla. Mereka ikut meninggalkan tepian kolam renang, mengikuti Larisa dan Nurani.
Nurani tak suka dengan apa yang dilakukan Larisa. Dia merasa kedatangannya hanya sia-sia. Tidak bisa membantu apalagi menyelamatkan sang kakak dari rumah tangga penuh duka yang menyelingkupinya.
“Dek,” panggil Larisa kemudian berhasil menggapai tangan Nurani. Nurani berhenti saat berpapasan dengan Novia.
Novia mengernyit melihat kondisi wajah sembab Nurani dan juga Larisa.
Nurani terus memandang, dan Novia merasa ditantang bocah itu.
“Nggak sopan kamu ketemu Tante bukannya menyapa malah melotot!” hardik Novia.
Larisa menarik Nurani sejajar dengannya.
“Maaf, Ma. Nurani lagi kurang enak badan. Maaf,” kata Larisa dengan kepala ditundukkan.
Novia menggeleng kepala kemudian membuka mulut untuk mengeluarkan bisa beracunnya. Tetapi suara mobil milik Bassta membuat mereka semua menoleh.
Nurani yang paling antusias, kakinya melangkah meninggalkan mereka semua dan Larisa gelagapan langsung menyusul.
Bassta keluar dari mobil, heran melihat Nurani berlarian dan berhenti di hadapannya.
Bassta kemudian melirik Larisa yang sudah berhasil menyusul.
“Waduh! Apa karena di Mall itu yang bikin ini anak datang?” kata Bassta dalam hati.
Nurani mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tangannya terkepal, sangat ingin meninju wajah Bassta di hadapannya.
“Eh, Nurani.” Basa-basi Bassta berujar, Larisa menatapnya begitu juga dengan dirinya. “Kapan datang?”
Nurani mendengus, dan Larisa langsung meraih siku tangannya dengan memberikan tekanan agar Nurani tidak berbicara macam-macam.
“Belum lama, tapi dia buru-buru mau pulang. Takut kesorean,” ucap Larisa membalas.
Nurani menengok, menatap jengkel!
“Oh.” Bassta nyengir. “Mau kami antar?” tawarnya sambil menatap Larisa sejenak.
Nurani menggeleng kepala.
“Nggak usah! Aku bisa pulang sendiri.” Nurani begitu ketus menjawab ucapan Bassta.
Bassta menatap Larisa lagi dan Larisa hanya membulatkan matanya.
“Mbak pesankan taksi, ya, Dek.” Larisa menawarkan dengan tenang.
“Nggak mau,” sinis Nurani menjawab.
Bassta diam, menggenggam kunci mobilnya erat.
Nurani sekarang menepis tangan Larisa. Dia maju ke hadapan Bassta. Keduanya bersitatap dengan tatapan berbeda.
“Tolong jaga Mbak Larisa,” kata Nurani meminta.
“Pasti,” ucap Bassta sambil melirik Larisa.
“Kenapa bisa Mas Bassta menjawab dengan yakin dan malah aku yang dibuat khawatir?” ketus Nurani dan Bassta menaikkan satu alisnya. “Ini bukan cuman permintaan saudaranya. Tapi ini juga sebuah ancaman, ya, Mas!” tegasnya menyambung.
“Hmm?” Bassta pura-pura bego.
“Mas Bassta siap-siap aja berhadapan sama ayah dan mas Ganta kalau nggak berubah juga!”
Bassta menunduk kemudian Nurani melenggang pergi tanpa pamit. Larisa menahan getar bibirnya, dia sangat ingin menangis melihat kepergian Nurani setelah perdebatan mereka.
Bassta yang melihat Larisa sedih pun mendekat. Tangannya sudah refleks terangkat untuk menangkup bahu istrinya tetapi kemudian dia berhenti, mematung, dan menurunkan lengannya kembali dengan kaku.
****
Malam hari di kamar Bassta, Larisa sudah meringkuk ke kanan ke kiri, terus mengubah posisi tetapi tak kunjung pula dia mendapatkan posisi ternyaman untuk mengistirahatkan diri. Kejadian tadi siang benar-benar membuatnya gelisah dan tidak bisa tidur.
Apa tidak ada yang terjadi di rumah? Apa Nurani menuruti permintaannya? Apa perlu pula dia menelepon Nayla untuk melihat bagaimana situasi di rumahnya?
Larisa kini bangun, meraih ponsel di atas meja dekat tempat tidur. Dia mencari kontak nomor Nayla. Hendak menelpon tetapi urung saat pintu terbuka dan Bassta masuk dengan segelas susu coklat khusus ibu hamil.
“Aku yakin kamu belum tidur.” Bassta mendekat, menyerahkan gelas dan Larisa menerima.
“Makasih, Bass.” Larisa menatap genangan susu coklat di hadapannya. Kemudian wajahnya terangkat, menatap Bassta. “Mana bisa aku tidur setelah perdebatanku sama Nurani tadi siang? Dia beneran ngelihat kamu sama Jema.”
Bassta mendesah kemudian perlahan dia duduk di tepi kasur.
“Ya mau gimana lagi? Sudah terlanjur,” ucap Bassta begitu enteng dan Larisa mendelik tajam.
“Kamu kayaknya emang sengaja,” tuding Larisa dan Bassta melotot.
“Apa kamu bilang? Aku sangaja? Hah?” teriaknya emosi dan Larisa menatapnya takut.
“Hobi banget menuduh orang. Mana aku tahu dia ada di sana, perlu aku cek setiap tempat yang mau aku datangi sama Jema. Begitu?”
“Ya nggak begitu juga. Apaan, sih, kamu. Dasar emosian,” celanya kemudian menyeruput susunya perlahan-lahan.
“Emang iya, kamu tuh doyannya menuduh aku terus. Terus kamu bilang apa sama Nurani?” balasnya penasaran.
“Aku minta dia buat nggak ngomong sama siapa pun termasuk keluarga aku,” jelas Larisa menerangkan.
Bassta mengembuskan napas panjang kemudian berujar.
“Kalau dia nggak nurut?”
“Kita pikirkan jalan keluarnya nanti,” kata Larisa cepat.
“Jangan menganggap semuanya enteng, deh!”
“Bukannya kamu yang kayak begitu?”
“Kamu!”
“Kamu, dasar nggak mau ngaku.” Larisa kesal dan meletakkan susunya.
“Ribet, kan, semuanya!” bentak Bassta emosi.
“Aduuuh....Aaaaauhhhhh.” Larisa meringis, memegang perutnya.
Bassta panik dan bergeser lebih dekat.
“Kenapa?” tanyanya panik.
Larisa tersenyum dan bertatapan dengan suaminya begitu dalam. Larisa merasa ingin tertawa melihat kedua Bassta membulat saking khawatirnya.
“Ke rumah sakit aja sekarang,” kata Bassta dengan tangan yang sudah menyentuh perut Larisa tanpa dia sadari. “Ayo,” katanya lagi dan Larisa menggeleng.
“Kenapa? Kamu sakit malah senyum-senyum kayak begitu,” balas Bassta kesal. “Aaaaaaaaa, ummm.” Bassta kaget, langsung melepaskan tangan dari perut besar Larisa.
Apa itu barusan yang dia rasakan?
“Bayinya menendang cukup keras. Aku cuman kaget sekaligus geli, bukan sakit.” Larisa menjelaskan sambil mesem-mesem.
Bassta diam, menatap wajah Larisa dan perutnya bergantian.
“Kamu ngerasain, kan, tendangannya? Dia suka saat kamu mengelusnya,” kata Larisa dan Bassta membuang muka. Secepat kilat tangan pria itu melayang menoyor kepalanya.
“Bikin kaget kamu tuh!”
Larisa tersenyum dan merapikan rambut. Dia tatap Bassta yang mulai bangkit, menjauhinya.
“Bass, mau ke mana?” tanya Larisa sambil cengar-cengir.
“Tidur, lah! Kamu juga tidur jangan gangguin aku!” balas Bassta kemudian merebahkan diri di atas sofa.
Larisa memiringkan tubuh, terus menatap Bassta yang lebih memilih memiringkan tubuh dengan membelakangi.
Waktu berlalu, Larisa sudah terlelap kemudian Bassta yang belum tidur membalik tubuhnya dan memerhatikan Larisa dengan saksama.
Terus-menerus dia tatap sosok perempuan yang dia kenal sedari kecil. Masih terasa mimpi bahwa sekarang perempuan yang sering dia juluki Culun itu adalah istrinya.
Bassta mendesah, tangannya bergerak ke hadapan wajahnya. Bassta tak bisa melupakan sentuhan dari bayi yang ada di dalam perut istrinya. Pertama kali dalam hidup, dan ada perasaan bangga bercampur candu yang sekarang dia rasakan.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu