"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"
"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"
"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."
"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"
"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."
Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA BAHAGIA
Jangan lupa vote karya author ini ya. Hehehe, InsyaAllah akan tetap di upload lagi.
Sepulang dari kantor, yang biasanya menemukan orang-orang di rumahnya. Apalagi sekarang ini perusahaannya semakin maju. Ditambah lagi dengan anaknya yang semakin lucu dengan tingkahnya yang memang membuat rasa lelah Raka sedikit hilang setiap pulang dan menemukan anaknya sedang bermain di ruang keluarga bersama dengan pengasuhnya.
Hari itu dia sengaja pulang lebih awal karena itu adalah hari sabtu yang di mana dia ingin sekali berkumpul dengan anak dan juga istrinya. Namun, baru saja dia masuk ke ruang utama. Dia mengedarkan pandangannya tidak menemukan Adelia yang biasanya menyambut kedatangannya. Akan tetapi hari ini dia merasa sangat kesepian tidak bertemu dengan putrinya itu. Karena setiap kali terbangun dari tidurnya dan berangkat ke kantor, anak itu kadang masih tidur. Hanya bertemu ketika pulang bekerja dan hari libur.
Raka langsung pergi ke kamar untuk mencari anak dan juga istrinya. Baru saja dia membuka pintu, dia menemukan istrinya tengah jongkok di depan meja sambil mengulurkan tangan. “Ma, ngapain di situ?”
Perempuan itu memberikan kode kepada Raka dengan tatapannya. Anak yang sudah berusia tiga tahun itu seringkali membuatnya pusing dengan tingkah anak tunggalnya.
Raka meletakkan tasnya dan langsung menengok ke bawah meja. Di sana anaknya sedang memeluk lututnya dan merajuk. “Loh sayang, kenapa sembunyi di sana?”
Terlihat anak itu sedang cemberut dan menatap Fania dengan tatapan tidak suka. “Nggak mau sama Mama?”
Raka sekilas menatap istrinya dan langsung mengarahkan pandangannya kembali kepada anaknya itu. Barangkali ada masalah dengan kedua perempuan ini yang membuat Raka menghela napas panjang. “Dia nggak pernah makan dari tadi siang, Pa. Cuman sarapan tadi pagi,”
Raka menarik napas dan berusaha merayu anaknya yang masih di sana. “Ayo keluar sayang!”
“Nggak,”
“Mama marahin?” tanya Raka karena anaknya tidak mungkin akan bertingkah seperti itu jika memang tidak dimarahi.
“Nggak,” perempuan itu berdiri. “Mama suruh dia makan, tapi dia lari-larian dari tadi. Tanya tuh pengasuhnya kalau memang Mama marahin. Mama nggak pernah marahin, cuman Mama suruh makan,”
“Nggak mau sama, Mama,” teriak anaknya lagi.
Raka mengulurkan tangannya. “Mau makan di luar?”
Anak itu menatap Raka dan mengangguk. “Iya, Pa,”
Pria itu tersenyum ketika anaknya merangkak keluar. kebiasaan Adelia ketika ngambek memang seperti itu. Selalu sembunyi dan kadang keduanya sulit menemukan anak itu. Tidak seperti anak lain yang menangis, tetapi sering bersembunyi seperti itu.
“Mau makan apa?”
“Apa aja, Pa,”
“Dari tadi dia main lari ke sana kemari. Belum lagi dia nggak pernah tidur, dia main terus,”
Raka mengelus kepala anaknya saat mendengar penjelasan istrinya. Tidak mungkin hanya karena masalah itu dia memarahi istrinya. Karena dia juga tahu bahwa mengurus anak itu tidaklah mudah. Apalagi jika Adelia susah untuk makan seperti sekarang ini. “Nggak boleh ngambek kayak tadi. Apalagi sampai bilang nggak mau sama, Mama. Nanti kalau sayang sakit, kan Mama juga yang sakit,” jelas Raka kepada anaknya. Meskipun belum terlalu mengerti, tetapi dia berusaha memberikan pengertian kepada anaknya.
“Maaf,”
Raka menggeleng. “Bukan minta maaf sama Papa. Tapi minta maaf sama, Mama,”
Anak itu mengulurkan tangannya meskipun sedang berada di gendongan Raka. “Maaf, Ma,”
Perempuan itu justru menoleh ke arah lain. “Nggak ah,”
Raka menarik hidung istrinya hingga membuat perempuan itu meringis kesakitan. “Kebiasaan ya kalau anak udah minta maaf jangan digituin, nanti kebiasaan. Gimana anaknya nggak jadi anak ngambekkan kalau Mama dia kayak gini,”
Perempuan itu langsung mengerucutkan bibirnya, “Pa,” keluh anaknya.
“Mama bercanda. Mama maafin kok,” ucapnya langsung ketika anak itu mengadu kepada Raka.
“Ayo kita pergi makan, Mama juga belum makan, kan?” Perempuan itu menyeringai. “Tuh, kan kalau dijawabnya nyengir itu pasti belum makan,” sambung Raka.
“Gimana Mama mau makan kalau anak Papa aja nggak mau makan,”
“Ini juga si kecil kalau disuruh makan susah banget. Nanti Papa suntik loh, mau,” ucapnya kepada si kecil dan anak itu langsung menutup mulutnya dan menggeleng. “Makanya kalau nggak mau, dengerin Papa ngomong!”
“Iya, Papa,”
Pria itu sekarang lebih bahagia dengan tingkah lucu anaknya yang setiap hari membuatnya harus benar-benar bersabar. Kadang dia dan istrinya bertengkar hanya karena masalah spele, akan tetapi sekarang mereka mengerti bagaimana susahnya merawat anak.
“Karena ini belum sore banget ya, kita makan. Udah gitu langsung pulang,” ucap Raka.
“Kita nggak main, Pa?”
“Nggak. Besok kita jalan-jalan sampai Adelia puas, mau main apa aja Papa turutin. Tapi sekarang kita pergi makan. Terus sampai rumah, Adelia mandi terus bobok. Papa nggak mau kalau Adelia nggak mau dibilangin,”
Sementara itu istrinya tengah sibuk untuk mencarikan pakaian ganti untuk suaminya. “Papa ganti baju dulu ya! Nggak mungkin kan Papa pakai itu,” ucap istrinya dan dia langsung menurunkan Adelia di atas ranjang.
“Sayang di sini dulu! Papa mau ganti baju, oke?”
“Siaaap Papa,” anak itu tertawa dan menampilkan gigi susunya. Suatu kebahagiaan yang hingga saat ini dia syukuri adalah bisa merawat dan membesarkan Adelia. Membahagikan kedua wanita itu sekaligus. Meski sudah memiliki dua wanita baru di dalam hidupnya. Raka tidak pernah lupa terhadap Mamanya yang sudah membesarkannya itu. Dia masih sering ke sana.
Setelah dia selesai mengganti pakaian. Dia keluar dan menyemprotkan sedikit parfum. “Papa, kapan kita ke rumah Nenek?” dia langsung berbalik ketika anaknya berkata demikian.
“Bagaimana kalau kita jemput Nenek dulu? Kita makan bareng?” tawarnya.
Istrinya setuju dengan hal itu. Meski itu adalah mama kandung Raka. Tapi perempuan itu begitu menghargai Mama Raka seperti orang tuanya sendiri.
Mereka bertiga pun keluar dari kamar untuk berangkat menjemput sang Mama terlebih dahulu sebelum pergi ke restoran.
Beberpa lama kemudian mereka telah tiba di rumah sang Mama. Raka yang turun untuk mengajak sang Mama. Baru saja dia keluar, dia menemukan mamanya sedang memberi makan kucing. “Ma,” panggil pria itu langsung bersalaman kepada sang Mama.
“Raka, kamu sama siapa?”
“Ini mau ngajakin si Adelia makan. Dari tadi siang dia nggak mau makan. Baru pulang kerja, aku lihat mamanya ngebujuk dia. Tiap kali ngambek sembunyi terus,”
“Sekarang dia di mana?”
“Aku suruh nunggu di mobil. Dia pengin ketemu sama Mama, Mama ikut ya!”
“Ke mana?”
“Ngajakin dia makan. Ohya, Mama nginap di rumah yuk!”
Perempuan paruh baya itu tersenyum kemudian menatap Raka. “Nggak bisa, Nak,”
“Ma, Mama tahu sendiri kan kalau aku nggak pernah berantem sama istri aku. Mama kenapa selalu nolak tiap kali aku ajak nginap di rumah?”
“Bukan masalah itu,”
“Terus?”
“Mama pengin sendiri,”
“Ma, please. Jangan buat aku khawatir. Mamanya Adelia juga pengin banget Mama tinggal sama kita,”
“Raka, kalau kamu mau tinggal bareng sama Mama. Kamu yang tinggal di sini, bukan Mama yang ikut kamu,”
Raka mengerti dengan maksud mamanya yang tidak ingin meninggalkan kenangan di rumah itu. “Ya udah, nanti aku ngomong sama mereka berdua ya, Ma,”
“Raka, Mama ngerti banget niat baik kamu sama istri kamu. Tapi kamu tahu sendiri, kan?”
Raka mengangguk. “Ma, aku ngerti. Ya udah ayo, Ma. Kasihan Adelia udah lapar banget,”
“Bentar, Mama mau ngasih tahu Bibi dulu,”
“Tapi, please ya kali ini Mama nginap! Adelia besok mau jalan-jalan,”
“Itu hari keluarga kamu,”
“Mama harus ikut pokoknya,”
“Iya deh iya. Kamu sama Adelia nggak ada bedanya. Kalau udah mau itu ya harus di turuti,”
Raka tersenyum ketika mendengar persetujuan dari mamanya. Dia akan merawat perempuan paruh baya yang tinggal sendirian itu. Raka hanya punya itu, tidak punya yang lainnya lagi.
aku cuman ingin Reza sadar Thor
FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,
FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬