NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHIDUPAN SETELAH SATU TAHUN

Satu tahun sudah setelah kejadian tersebut. Rohmat yang kini masih setia mendampingi Sulis, walau dia tau Sulis tidak pernah menghargainya sebagai seorang suami. Namun, baginya apa pun yang terjadi, menikah hanya cukup satu kali. Walau tidak di pungkiri, dia sering merasa kesepian, dan menginginkan perhatian dari seorang istri.

Sedangkan Beni, setelah lulus SMA dia memutuskan melanjutkan study nya ke kota.

Dan sedangkan Laela, kini dialah yang menguasai semua aset keluarganya. Semua pengeluaran dan keputusan di rumah itu, semua harus atas ijinnya. Dia pun kini telah menikah dengan Rendi, setelah membujuk dan meyakinkan Ibunya, kalau Rendi sangat bisa di andalkan untuk keluarganya. Sedangkan Fitri dan Fika, oleh Laela, mereka di jadikan sebagai asistennya.

"Fika! Kamu nanti ambil baju saya di tempat bu Yati, tempat laundry biasa. Baju itu mau saya pake besok lusa."

Titah Laela dengan nada ketus.

Fika mengangguk sopan. "Iya, Embak."

Lalu Laela pun melenggang masuk ke kamarnya.

"Kak! Kapan sih, kita itu tidak di perlakukan semena-mena. Sudah 4 bulan, sejak Kak Rendi, menikah dengan Laela itu. Kan kita juga sebagai adik ipar dia. Kok perasaan kita ini malah kayak pesuruh setiap harinya. Aku kira, saat Kak Rendi di suruh menikah dengan Laela, hidup kita makin makmur. Karena mengingat jasa orang tua kita juga sangat setia melayani mereka sewaktu beliau hidup. Tapi nyatanya..?!" Fitri mendengkus bosan.

Fika yang sebenarnya sudah tau akan Ibunya Laela menyuruh Rendi menikahi Laela, hanya menanggapi datar. "Sudahlah, Fik. Toh nyatanya, hidup kita sejak dulu bergantung kepada keluarga ini."

"Ya nggak bisa gitu juga, Kak. Aku juga bisa kok cari kerja-an di ko-ta." Suaranya di lirihkan, karena teringat sejak kepergian orang tua mereka, mereka sering kelaparan, karena mereka tidak tau bagaimana cara bekerja. Sempat bergantung dengan pacar-pacar mereka, malah berakhir mereka di campakkan. Fitri menghembuskan napas kasar.

"Sudahlah. Jangan mengeluh. Di sini juga enak kok. Mau makan apa aja ada. Ngapain kita harus repot-repot bekerja. Lagi pula, sejak dulu Ibu kita nggak pernah ngajarin kita bekerja kan?" Fika berbalik hendak melaksanakan tugasnya.

Fitri terdiam.

***

Di dalam kamar, Laela yang sangat senang bisa setiap hari bersama Rendi, terus saja bersandar di lengan Rendi.

"Mas Ren. Aku seneng banget! Akhirnya aku bisa juga

memiliki kamu. Kamu tahu nggak, sudah sejak dulu, aku menyukai dan mengagumimu, tapi aku malu mengatakan nya. Jadi aku sering main ke rumahmu hanya ingin bertemu denganmu saja."

Rendi tersenyum senang. "Aku pun nggak nyangka, bakal nikahnya sama kamu. Aku ini sangat beruntung, Laela. Aku janji nggak akan menghianati kamu."

Laela tersenyum bahagia. Semua berkat Ibunya yang selalu mendukung dan menuruti semua kemauannya. Dia pun berjanji akan mengikuti semua perintah Ibunya.

Kedua insan yang di mabuk cinta itu pun memulai adegan suami istri kembali.

"Sayang, aku besok berangkat kerja pagi sekali ya?

Untuk mengawasi pekerja di perkebunan teh kita. Mandor Yanto, lagi ijin sakit, jadi aku menggantikannya berkeliling untuk sementara, mengawasi mereka. Kamu di rumah baik-baik, jaga diri."

Ucap Rendi penuh kasih sayang di sela-sela percintaan mereka.

Laela mengangguk. "Kalau ada yang membantahmu, kasih tau aku ya, Mas. Biar aku pecat dia."

Rendi mengangguk. Keduanya kembali melakukan hubungan terpanas mereka.

***

Keesokan harinya, sepasang suami istri baru itu terlihat begitu romantis. Laela mengantarkan suaminya ke depan pintu. Sambil terus bergelayut di lengan, Rendi.

"Mas, pulangnya jangan lambat ya? Nanti aku kangen."

Pinta Laela manja.

"Iya, aku pun nggak mau lama-lama di sana sayang.

Aku nggak bakal kuat menahan rinduku kepadamu. Kamu di rumah rawat diri supaya tetap cantik ya? Ya sudah aku berangkat dulu." Rendi mengecup kening Laela lembut.

Membuat Laela makin kasmaran.

Rendi pun pergi dengan mengendarai mobil milik Laela.

"Jangan terlalu mencintainya, La. Ingat! Kita membutuhkannya hanya sebagai alat." Sulis berdiri di samping, Laela.

"Iya, Bu. Aku tau kok. Tapi, apa salahnya kalau aku mencintai suami sendiri. Toh selain sebagai alat untuk pertanian kita, dia juga suami yang harus kita sayangi, supaya dia tidak akan pernah berani menghianati kita. Lagian aku memang beneran cinta sama dia." Jawab Laela santai. Sulis hanya bisa pasrah. Toh dia yakin, semua hal bisa di takhlukannya.

"Baiklah. Tapi, ada apa-apa kasih tau, Ibu."

Laela tersenyum mengangguk lalu memeluk, Sulis.

Dari kejauhan, seorang wanita berjalan melintasi rumah itu, dengan matanya yang terus menatap ke dalam rumah tersebut. Lalu ia melanjutkan kembali jalannya.

Namun, baru beberpa meter melangkah, tiba-tiba motor mengerem mendadak membuatnya jatuh terduduk karena kaget.

"Walla...! Maaf, Neng. Tadi buru-buru sampe lupa nggak bawa sarung tangan. Kamu nggak apa-apa, Neng?"

Ucap Rohmat yang saat itu akan menuju kebun.

"Eh, Pakde. Nggak apa-apa." Ucapnya.

"Eneng orang baru ya, di kampung ini? Saya baru lihat." Tanya Rohmat.

"Iya, Pakde. Saya dari kota. Rencana mau belajar bertani di kampung ini. Saya tinggal di rumahnya Bi Supri, tepatnya nyewa kamar di sana."

"Oh..., Supri! Wah, nggak takut kulitnya gosong, Neng?" Rohmat yang sepertinya terpikat oleh gadis ayu di hadapannya pun sampai lupa tujuannya berhenti mendadak barusan.

"Nggaklah, Pakde. Kan ini bidang saya juga.

Kebetulan, saya sudah melamar bekerja di kebun teh nya, Embak Sulis. Dan Bi Supri juga yang menyarankan saya praktek di sana langsung."

Rohmat makin berbunga. "Wah, itu perkebunan milik istri saya, Neng. Kalau begitu, kita barengan saja berangkatnya. Saya mengurus sebelah utaranya sih, tapi nggak apa-apa jalan utamanya sama kok, nanti tetap saya antar sampai tujuan, Neng nggak usah khawatir. Oh iya, Eneng cantik, namanya siapa?"

"Terimakasih, Pakde. Nama saya Winarti, Pakde." Winarti membungkuk sopan.

"Wah, nama yang cantik dan kalem. Tunggu kita berangkat bareng ya? Saya ambil sarung tangan dulu."

Winarti tersenyum mengangguk setuju. Rohmat pun begitu bahagia bertemu gadis cantik dan penurut. Sudah lama dia tidak pernah merasakan rasa berbunga-bunga di hatinya, setelah sekian lama. Tepatnya, setelah ia menikahi Sulis, istrinya.

Rohmat pun berlalu. Winarti menyeringai menakutkan. Tatapan tajam seakan penuh dendam begitu membara, terlihat jelas dari sorot matanya.

Tak selang beberapa lama, Rohmat kembali. "Ayo, Neng." Ajak Rohmat sambil mengisyaratkan Wina, menaiki motor di belakangnya. Wina pun segera naik. Rohmat melajukan motornya dengan suasana hati begitu ceria.

***

Rendi terus memeriksa pekerja di kebuh teh dengan sangat teliti. Ada pekerja yang agak lamban saat itu. Lalu ia segera tegur.

"Kerjanya yang cekatan dong! Lambat banget! Kayak kebun milik sendiri saja."

"I-iya, maaf, Pak! Saya lagi nggak begitu sehat." Ucap Ibu itu yang terlihat wajahnya begitu pucat.

"Kalau nggak sehat, ya nggak usah kerja saja.

Mengganggu pekerja lain saja kamu!"

"Tapi, Pak. Anak saya butuh uang buat bayar sekolah,

dan saya seorang janda. Kalau saya tidak bekerja, nanti anak saya di keluarkan dari sekolah. Karena saya sudah nunggak hampir satu tahun, Pak." Ibu itu menangis tersedu.

"Itu bukan urusan saya! Pake curhat segala. Ada-ada saja. Pokoknya saya tidak mau tau, kamu harus sama seperti yang lain. Kerja yang cekatan, kalau tidak, saya laporkan kamu sama istri saya, biar di pecat!" Tegas Rendi yang membuat semua para pekerja ketakutan. Langsung focus dengan memetik daun teh kembali.

"Jangan, Pak! Baik-baik." Si Ibu itu pun berusaha bekerja normal seperti biasanya. Baru saja menguatkan diri, beberapa menit kemudian dia ambruk. Tidak ada yang berani bergerak untuk menolong. Semuanya takut akan terlihat oleh, Rendi. Bos galak yang tanpa ampun. Namun, gadis cantik yang baru saja masuk kerja itu segera berlari untuk menolong.

"Astaga! Bu, Ibu. Bangun!" Di ceknya denyut nadi si Ibu itu.

Semua mata terlihat begitu khawatir melihat gadis itu. Yang pasti di pikiran mereka adalah, gadis itu pasti bakal kehilangan pekerjaan, hari itu juga. Kasian. Batin mereka.

Dan benar saja, Rendi segera datang mendengar teriakan dari, Wina.

"Ada apa lagi ini? Ribut-ribut di tempat kerja!" Teriaknya dengan suara sangat keras membuat semuanya kembali focus lagi memetik. Walau ujung mata mereka masih mencuri-curi pandang ingin tahu akan seperti apa kejadian selanjutnya.

"Maaf, Pak! Ada pekerja yang pingsan. Sepertinya dia darah rendah, dan demam. Dan suhu badannya sangat tinggi. Dia sakit parah, Pak. Kita harus segera membawanya ke klinik terdekat." Jelas Wina, sopan dan selalu di barengi dengan senyuman dengan tatapan ke bawah, sesekali melirik Randi, namun dengan lirikan yang menggoda.

Rendi yang awalnya sangat marah, tiba-tiba wajahnya yang merah, kini berubah tersipu-sipu menatap gadis itu. Dia begitu terpana melihat keayuan gadis yang berkulit putih bersih, matanya bulat hitam, dengan bulu mata yang lentik. Rambutnya kehitaman bercahaya terkena sinar matahari. Membuat siapa pun pasti tergoda.

"Eh, si-siapa kamu? Perasaan sejak aku bekerja di sini sejak 3 bulan lalu, aku tidak pernah melihatmu." Tanya Rendi gugup.

"Oh iya, maaf, Pak. Saya sudah mendaftar di sini sejak kemarin, dan yang menerima saya, Pak Mandor Yanto. Dan saya belum sempat menyapa anda. Mohon maafkan saya, Pak." Wina membungkuk sopan, dan tak sengaja, ikatan rambutnya terlepas yang membuat rambut panjang terurai dan berkibar oleh terpaan angin yang lumayan kencang. Membuat jantung Rendi sukses berdegup kencang.

"Oh, oh! Ya sudah. Nggak apa-apa." Icap Randi agak gugup.

"Terimakasih Pak. Oh iya, bisa antar ibu ini ke klinik dulu, Pak? Kasian. Ini juga bisa menambah citra Bapak di masyarakat tambah baik lo." Bujuk Wina sambil mengedipkan sebelah matanya.

Jantung Rendi serasa hendak lompat saja dari tempatnya. "Eh, Eh! Iya, ayo!" Tanpa menunggu lama, Rendi segera menggendong Ibu Itu, menuju ke mobilnya.

Semua yang menyaksikan terheran-heran.

"Wah! Sudah ketemu penakhluknya. Syukurlah."

"Iya, semoga kedepannya pak Rendi lebih memperhatikan keselamatan kita. Masa sejak pengelolaan di ambil alih, Embak Sulis, lalu Laela, anaknya, sampai kepada Pak Rendi. Peraturan semakin nggak jelas. Nggak ada tunjangan nggak ada bonus, kerja lembur pun nggak di bayar."

"Iya, masih enak saat di urus oleh, Dek Beni, sama Pak Anwar, ya? Yah, semoga aja ya? Kali ini bisa berubah."

"Halah...! Nggak yakin saya. Istrinya itu lo setan! Dan Pak Rendi lo manut banget sama si setan itu."

"Husst! Jangan kenceng-kenceng! Takut di dengar orangnya, Laela." Mereka pun kembali diam. Harapan peraturan berubah pun, kembali pupus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!