Kisah seorang gadis yatim piatu yang bernama Stella Anggraeni yang berkerja di sebuah perusahaan seorang Ceo yang bernama William.
Keduanya terlibat cinta dan mengakibatkan seorang Stella hamil di luar nikah, William tidak bisa bertanggung jawab karena sudah mempunyai seorang calon istri. William meminta agar Stella menggugurkan kandungnya.
Stella memilih meninggalkan William dan menjalani kehidupan sendiri dengan seorang anak perempuan yang di beri nama Angelica.
Bagaimana Stella menjalani hidupnya? Mari kita simak perjalanan hidup Stella!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Tuan, ayo kita pulang!" ajak Rico.
"Bagaimana keadaan Stella? apa sakitnya parah?" tanya William.
"Nanti saya jelaskan di rumah," kata Rico sebenarnya dia ragu untuk berbicara dengan William.
"Tidak usah berbelit, Rico. Cepat jelaskan sekarang juga!" kata William sedikit keras.
"Maaf, tidak bisa," kata Rico lagi.
"Ayo kita pulang!" ajak William.
William dan Rico pulang ke rumah, langsung menuju ke ruang kerjanya. Di sana mereka membicarakan tentang Stella.
"Cepat jelaskan, Rico!" ucap William. Sudah tidak sabar mendengar tentang hasil pemeriksaan dokter.
"Nona Stella tidak sakit, melainkan...
Tok... tok... tok...
"Masuk!" kata William, kesal karena ada yang mengganggu.
"Tuan, ini kopinya," ucap Rini sembari meletakkan dua cangkir kopi di meja.
"Siapa yang menyuruh, kamu? bawa keluar kopi ini!" bentak William.
Rini mengambil kedua cangkir kopi itu, lalu membawanya keluar. "Sial! gagal aku mendengarkan pembicaraan mereka," gerutunya.
Rico mengunci pintu ruang kerja William, agar tidak ada yang menganggu lagi.
"Nona Stella hamil, Tuan," ucap Rico.
"Apa kamu bilang? tidak mungkin!" kata William.
William lalu keluar dan menuju ke kamar yang ditempati oleh Stella, ia mendapati Stella sedang duduk sambil memeluk kakinya di lantai. William merasa kasihan dengan Stella, ingin rasanya ia membawa kabur Stella lalu menikah dan menjalani hidup dengan Stella.
"Stella, maafkan aku..." ucap William lirih. Duduk berlutut di hadapan Stella.
"William, kamu harus bertanggung jawab," ucap Stella seraya menghapus air mata di kedua pipinya.
"Stella, aku kurang yakin kalau janin yang kamu kandung itu anak ku," ucap William menyakiti hati Stella.
"Aku melakukan hanya dengan mu, William," kata Stella.
"Tapi, kita melakukan hanya sekali," ucap William menyangkal kalau janin yang di kandung oleh Stella bukan darah dagingnya.
"Kamu harus bertanggung jawab, William!" kata Stella.
"Aku tidak bisa menikahi mu!" kata William.
"Apa alasannya? jawab!" bentak Stella.
William pergi begitu saja meninggalkan Stella di kamarnya, pikirannya sangat kacau.
Stella menangis harapan untuk meminta pertanggung jawaban pada William menipis seketika, Stella lalu berkemas dan pulang ke rumahnya.
Stella pulang dengan berjalan kaki, dengan langkah gontai. Saat melewati sebuah jembatan ia berfikir akan mengakhiri hidupnya. Kakinya sudah melangkah, memanjat pagar besi jembatan.
"Tante!" panggil seorang anak kecil.
Stella menoleh ke belakang, ternyata dibelakangnya ada anak kecil bersama dengan orang tuanya.
"Nona, apa yang anda lakukan? turunlah!" pinta orang tua anak kecil itu.
Stella menangis tubuhnya melemah, ia pun turun lalu duduk bersimpuh.
"Menangislah Nona, kalau itu membuat tenang! ceritakan apa masalah, Nona! jangan berbuat yang merugikan diri sendiri," kata orang tua anak lagi.
"Tante, hapus air mata mu," ucap gadis kecil yang sangat lucu, seraya memberikan sapu tangan pada Stella.
Orang itu mengantarkan Stella pulang ke rumahnya, saat ini Stella sudah sedikit tenang berkat nasehat dari orang tua anak kecil tadi. Stella juga menyadari kesalahannya, wajar jika dia harus menerima hasil dari perbuatannya.
"Rico, kenapa Stella bisa hamil? kita melakukan juga sekali, itu pun tidak di sengaja," ucap William.
"Bisa saja Nona Stella sedang berada dalam masa subur, Tuan," kata Rico.
"Sok tau, kamu!" kata William.
Rico lalu menyarankan William bertanya kepada dokter, karena dokter yang lebih tau semuanya. William kemudian mengikuti saran Rico, dokter yang memeriksa Stella di suruh datang ke rumahnya.
"William, ada apa lagi? aku sedang banyak pasien," ucap Dokter.
"Apa benar hasil pemeriksaan kamu kemarin?" tanya William.
"Keterlaluan kalau tidak percaya, bawa saja ke rumah sakit!" ucap Dokter.
Dokter kesal dengan William, demi datang ke rumah William dia harus meninggalkan pasien. William benar-benar membuatnya gila saat ini.
Setelah dokter pergi, William dan Rico hendak melihat Stella, tetapi saat membuka pintu mereka kaget Stella sudah tidak berada di dalam kamarnya.
"Mbok Yem!" teriak Rico.
"Iya, Tuan," sahut Mbok Yem.
"Lihat Stella tidak? di kamarnya tidak ada?" ucap William.
"Apa mungkin Nona Stella pulang," sahut Rico.
Rico mengajak William untuk pergi ke rumah Stella, setelah sampai di sana ternyata Stella sudah tidak berada di rumahnya.
"Ini semua salah ku, Rico! aku tidak percaya kalau janin yang dia kandung adalah anak ku," jelas William.
"Tuan, harusnya memikirkan perasaan Nona Stella," kata Rico.
William mengajak pulang Rico, dia sudah lelah dan ingin segera beristirahat.
Stella saat ini sedang bersama Kiana menuju ke rumahnya, di rumah Kiana sudah ada Karin. Ternyata Karin sudah mendengar kehamilan Stella.
"Stella, aku kasih uang dan pergilah dari kota ini! selamatkan cucu ku," ucap Karin.
"Tidak, Nyonya! William harus bertanggung jawab," tolak Stella dengan tegas.
"Percuma kamu meminta pertanggung jawaban William, dia tidak akan pernah menikahi mu," jelas Karin.
"Katakan, apa alasannya?" kata Stella lagi.
"Stella, percayalah dengan ku dan Tante Karin. Terima uang dari kita," bujuk Kiana.
"Kalaupun William tidak mau bertanggung jawab, aku tetap akan membesarkan anak ku," ucap Stella.
Stella tetap pada pendiriannya, dia tidak mau menerima uang sepeserpun dari Karin. Dia sadar kelak anaknya yang akan menemaninya di saat menua nanti.
Tengah malam Rico membangunkan William, dia memberitahu kalau Helena sudah pulang. Itu artinya dia akan segera bertunangan.
"Menambah masalah saja wanita itu," gerutu William.
William sangat frustasi saat ini, belum kelar masalah dengan Stella sudah datang Helena.