" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.
Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.
Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Ting tong.....
Nara bergegas membuka pintu begitu mendengar suara bel berbunyi. Terlihatlah nyonya Flo sudah ada di depan pintu.
" Mama, masuklah".
" Apa kabar sayang".
" Baik ma. Mama baikkan?".
" Baik".
" Mama kenapa tidak bilang kalau mau kesini. Nara bisa membuatkan sesuatu untuk mama".
" Loh memangnya Nev tidak bilang sama kamu".
" Kak Nev?".
" Iya suamimu itu menyuruh mama datang kesini. Bukannya kalian ada kencan hari ini"
“ Kencan ma??”.
“ Iya, coba deh telepon suamimu itu”. Nara terlihat ragu-ragu. “ Ya sudah mama saja yang telepon”.
“ Ma”.
Nyonya Flo mengisyaratkan agar Nara tenang.
“ Halo Nev”.
“ Iya ma”.
“ Ini Nara mau bicara”, ujar nyonya Flo memberikan ponselnya pada Nara yang masih bengong karena ucapan ibu mertuanya itu. “ Ayo ambil”. Dengan terpaksa Nara mengambil ponsel itu.
“ Halo kak”.
“ Iya”.
“ Mama bilang...mama bi..lang....”.
“ Yang mama bilang itu benar, jadi bersiap-siaplah”, sambar Nev. Nara tidak bersuara sedikitpun mendengar ucapan Nev barusan. “ Halo Nara”.
“ Iya kak”.
“ Satu jam lagi aku jemput, jadi bersiap-siaplah”.
“ Iya kak”. Nara memberikan ponsel itu pada ibu mertuanya sesaat Nev menutup teleponnya. Nara masih tidak percaya apa yang didengarnya ini. Apa penyebab Nev mengajaknya pergi. Apa karena ia merasa bersalah karena kejadian itu. Sungguh ia tidak mengerti dengan semua ini.
Satu jam kemudian Nev menjemput Nara dirumah. Nara sudah berdandan secantik mungkin karena ini pertama kalinya mereka jalan berdua.
Nev membawa Nara kesebuah restoran terkenal disana. Ia sudah memesan makanan yang paling enak di tempat itu. Nara begitu terkesan dengan makanan yang disantapnya itu.
" Kak Nev terima kasih sudah membawaku ke tempat ini".
" Tidak perlu sungkan".
" Kakak membawaku kesini karena tidak enak padakukan?", tanya Nara to the point tanpa basa-basi. Nara menatap Nev menunggu jawaban dari bibir Nev.
" Pertama yang kamu katakan itu benar, aku membawamu kesini juga karena ingin berbicara padamu, kedua aku membawamu kesini karena sejak menikah aku tidak pernah membawamu kemana-kemana selain saat kita bulan madu itu. Aku minta maaf tentang malam itu".
" Jangan meminta maaf kak, itu malah membuatku merasa aneh. Kesannya yang kita lakukan seperti sebuah kesalahan".
" Bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak ingin kamu merasa takut dan canggung padaku".
" Aku hanya perlu waktu, hanya itu. Maaf jika waktu itu aku bereaksi berlebihan saat kakak tidak sengaja menyentuhku. Aku bukan takut pada kakak tapi itu hanya gerakan spontan dariku".
" Aku lega, aku pikir kamu takut padaku. Aku terus memikirkan hal itu".
" Itu pengalaman pertamaku dan mungkin yang terakhir walaupun itu terjadi karena kejadian yang tidak terduga. Akhirnya aku bisa berguna untukmu sebagai seorang istri".
" Kenapa kamu berkata seperti itu".
" Karena kita tidak akan pernah menjadi pasangan normal lainnya. Kakak masih menyukai dan tidak bisa melupakan kak Kamira. Aku masih berusaha untuk melupakan kak Hwan. Kita seperti boneka untuk Deril".
" Kamu ingin aku melupakan kakakmu?".
" Apa kakak bisa?". Nev terdiam. Itu sudah cukup memberikan jawaban atas pertanyaannya. " Aku hanya bercanda, tidak perlu dipikirkan. Lupakan apa yang terjadi anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi diantara kita".
" Kamu sangat aneh hari ini, Nara".
Nara menghela napas panjang.
" Kakak tahu, malam itu aku tidak berhenti meminta maaf pada kak Kamira. Aku merasa bersalah padanya. Selama ini aku menempatkan diriku hanya sebagai pengganti untuk menjaga Deril. Tapi.....". Nara mengambil napas dan membuangnya berusaha untuk menenangkan dirinya. " Maafkan aku kak sepertinya aku terbawa emosi. Kita pulang saja, kasihan mama terlalu lama menunggu kita", ujarnya beranjak dari kursinya.
Nev hanya memandangi Nara yang keluar dari restoran. Ia lalu beranjak dan mengikutinya keluar. Nara terlihat berdiri didepan mobil. Nev mendatanginya lalu membukakan pintu untuknya.
" Terima kasih kak", ujar Nara.
Nev melajukan mobilnya sampai kerumah. Di sepanjang jalan mereka hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun. Nev melirik Nara yang terlihat memejamkan matanya.
Tidak lama akhirnya mereka sampai dirumah. Mobil itu berhenti tepat didepan rumah.
Saat Nara akan membuka pintu mobil, Nev mencegahnya.
" Apa kamu menyukaiku". Nev tampak ragu menanyakan hal itu karena takut ia salah menafsirkan kata-kata Nara tadi. Nara hanya diam mendapati dirinya ditanya seperti itu tiba-tiba. Lama Nev menunggu tidak ada jawaban darinya. " Nara....".
" Sedikit, perlahan demi perlahan", ujarnya. " Maafkan aku kak, aku bicara egois tadi. Tolong jangan berubah karena kejadian hari ini. Kita lakukan seperti dulu lagi, semua hanya untuk Deril. Tidak ada yang lain". Nara membuka pintu mobil lalu bergegas keluar.
Nev mengejar Nara lalu menarik tangannya. Nara terhempas ke tubuhnya, Nev memeluknya. Nara kelimpungan karena Nev memeluknya tiba-tiba.
" Kenapa kalian peluk-pelukkan disini", celetuk nyonya Flo yang tiba-tiba membuka pintu. Nev dan Nara terlonjak menjaga jarak. " Lihat papa dan mama Deril, mereka malah romantis-romantisan disini".
" Mama", ujar Nara lalu mengambil Deril dari gendongan ibu mertuanya itu.
" Kamu kenapa tersipu malu seperti itu", ujar nyonya Flo, Nara langsung menggelengkan kepalanya. " Kamu lagi Nev kalau tidak tahan langsung ke kamar sana".
" Apaan sih mama", ujar Nev meninggalkan mamanya sendiri karena malu dengan ucapan mamanya yang vulgar.
" Kalian berdua ini, begitu saja malu-malu sama mamanya sendiri. Mama juga pernah muda loh".
-----
" Nara", panggil ibu mertuanya. Nara pun bergegas menemuinya. Ia pun terkejut mendapati ibu mertuanya berada dikamarnya yang selama ini ia tempati.
" Ma..ma".
" Ini kenapa pakaian kamu masih disini".
" Itu....Nara belum sempat memindahkannya ma".
" Sudah hampir setahun". Nara hanya tersenyum kecut karena tidak tahu harus berkata apa. " Atau jangan-jangan kalian tidur terpisah".
" Tidak ma, bukan seperti itu".
" Kalau begitu biar mama yang membantu kamu memindahkan barang-barangmu kesana".
" Mama.....".
Nara hanya bisa pasrah melihat kelakuan ibu mertuanya itu. Satu per satu pakaian serta barang milik Nara di masukkan kedalam koper. Ia lalu membawanya ke kamar Nev. Nev yang membuka pintu kaget melihat mamanya dan juga Nara ada didepan pintu. Lebih kagetnya lagi melihat koper-koper yang ada ditangan mereka.
" Terima kasih sudah dibuka", ujarnya. Nev melirik Nara meminta jawaban apa yang sedang terjadi disini. Nara hanya menaikkan bahunya karena dia sama sekali sudah kehilangan kata-kata saat ini.
" Mama mau apa?".
" Membantu Nara memindahkan barang-barangnya kesini. Nara bilang dia tidak sempat, seharusnya kamu membantunya. Dia harus menjaga Deril sehabis pulang kuliah, jadi tidak sempat beberes".
Mereka hanya bisa diam mendengar ocehan nyonya Flo. Satu persatu pakaian itu dimasukkannya ke dalam lemari. Pakaian Kamira yang masih tersusun rapi di masukkannya ke dalam kotak.
" Mama itu pakaian kak Kamira".
" Iya mama tahu".
" Lalu kenapa mama memindahkannya?".
" Kamira sudah tiada sayang, tidak mungkin pakaian ini terus berada dilemari ini. Lagipula mama hanya memindahkannya ke lemari yang satunya. Mama tidak membuangnya kok". Nara bernapas lega. " Mama sayang kalian berdua, saat ini kamulah istri dari anak mama. Kalian juga harus bahagia".
" Mama".
" Ayo cepat selesaikan, sebentar lagi Sarah datang menjemput mama".
" I..iya ma".
" Wah, ada apa ini". Sarah tiba-tiba muncul masuk kedalam kamar kakaknya yang terbuka lebar karena melihat didalamnya begitu riuh. Mereka hanya menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Sarah. Sarah melihat mamanya dan juga Nara terlihat sibuk dengan pakaian-pakaian ditangan mereka. " Akhirnya pindah juga barang-barang Nara".
" Iya, mama tadi terkejut melihat pakaian Nara ada dikamar sebelah. Ya sudah mama bantu saja Nara untuk memindahkannya".
" Nice ma". Sarah mengacungkan jempol. " Iyakan kak", ujarnya menyenggol kakaknya. Nev hanya pasrah melihat tingkah mama dan juga adiknya ini.
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹