NovelToon NovelToon
DENDAM MAWAR

DENDAM MAWAR

Status: tamat
Genre:Thriller / Roh Supernatural / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Muzu

Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.


Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.


Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.


Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!


Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukit Petir 1

Mawar berdiri di depan rumah minimalis yang terlihat cantik dan dikelilingi banyak tanaman hias yang begitu elok dipandang mata.

“Permisi!” Suara Mawar cukup nyaring untuk didengar penghuni rumah. Namun, tak kunjung ada sahutan dari dalam rumah ataupun seseorang yang membukakan pintu untuknya. Mawar kembali berseru mengucapkan salam. 

Sekali lagi, tidak ada sahutan dari penghuni rumah. Mawar memberanikan diri memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu berwarna coklat. 

“Permi ….”

Belum selesai ucapannya, pintu terbuka dan seseorang keluar dari sana dengan tatapan menyelidik memperhatikan Mawar dari atas sampai terhenti pada gundukan besar yang membuat kedua bola matanya melebar.

“Ananda siapa dan cari siapa?” tanya orang itu yang tak lain ibunya Solihin terus menatap sesuatu yang membusung indah.

“Aku Mawar temannya Solihin. Apa benar ini rumah Solihin, Bu?” balas Mawar dengan sikap santun.

Bu Ijah mengangkat wajah memandang Mawar sambil mencongkel sisa makanan yang terselip di gigi depannya yang kuning. Setelah sisa makanan berhasil tercongkel keluar, Bu Ijah langsung memakannya kembali. Mungkin saja masih ada rasa gurih yang sayang untuk dibuang.

“Solihin? Anak kurang ajar yang sering buang-buang anak itu,” kata Bu Ijah mendumel.

Mawar mengernyit mendengarnya. Ia masih belum memahami maksud perkataan dari sang penghuni rumah di hadapannya.

“Maaf, Ibu. Bukankah itu tindakan melanggar hukum? Kenapa Solihin harus membuang anaknya?” tanya Mawar sedikit berhati-hati mengatakannya.

Si ibu mendadak pucat mendengar pertanyaan Mawar yang terlampau jauh.

“Bukan begitu, Neng,” kata si ibu gugup, “aduh, gimana ya? Ya sudah, mari masuk!” Ditarik tangan Mawar memasuki rumah lalu ditinggalkannya di ruang tamu.

“Silakan duduk, Neng! Ibu akan panggilkan si Ucrit bin Selamat Dunia Wal Akhirat,” pintanya sambil berlalu pergi.

Mawar hampir tersedak menahan tawa mendengar kata “ucrit” disebutkan. Ia kemudian duduk manis menunggu kedatangan sang pujangga algoritma yang mungkin sedang merapikan rambut belah tengahnya yang selalu lepek.

“Solihin, ngapain lu di kamar terus? Ada lubang noh … eh, maksud gue ada temen lu. Cepetan lu keluar! Jangan ngocok batang mulu!” teriak si ibu begitu nyaring memenuhi udara.

“Iya, Nyak, iyaa!” sahut Solihin tak kalah nyaring dari ibunya.

Mawar tersenyum kecut mendengar teriakan dari kedua penghuni rumah yang tak seharusnya ia dengar. Apalagi perkataan si ibu mengandung kata-kata tak senonoh yang diarahkan kepadanya.

Tak lama berselang, Solihin keluar dari kamar dengan pesona bak seorang bintang.  Tampilan cupunya tak lagi nampak, kacamata tebalnya tak lagi dipakai, rambutnya tak lagi lepek, dan pastinya ia tampil dengan lebih segar dan membuat sang tamu menatapnya takjub.

“Selamat datang di istanaku, Bunga!” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.

“Lumayan,” sahut Mawar menilainya, “tapi aku bukan Bunga. Aku hanyalah sekum mawar yang dingin.”

“Akan kuhangatkan dirimu, ha-ha! Ayo kita jalan!” ajak Ucrit seraya menyodorkan tangan.

Mawar menyeringai dingin dan menyambut jemari kurus sang pujangga.

“Eh buset, anak emak bisa romantis juga! Moga lu kagak buang-buang anak lagi, Crit,” seru si ibu yang memperhatikannya.

“Apaan sih, Nyak. Udah ah, Ucrit pamit dulu. Assalamualaikum,” sahut Ucrit seraya mencium punggung sang ibu diikuti oleh Mawar setelahnya.

“Tangan lu dingin banget, Neng. Lu sakit?” Bu Ijah langsung meletakkan punggung tangannya di kening Mawar.

“Aku baik-baik saja kok, Bu,” balas Mawar sambil menjauhkan wajahnya.

“Ya sudah kalau gitu, kalian hati-hati di jalan!” timpal Bu Ijah penuh harap.

Setelah itu, Ucrit menyodorkan helm kepada Mawar yang menatapnya bingung.

“Lu ga usah bengong gitu, gue kan ga mungkin ajak lu naik angkot,” kata Ucrit menatap lucu sang gadis di depannya. Ia kemudian memakaikan helm di kepala Mawar dan tersenyum lebar melihat sang gadis yang nampak begitu imut.

Deru mesin menyala dan kepulan zat polutan mengotori udara di teriknya mentari yang membakar kulit. Mawar menaiki jok motor dan menggeser pinggulnya agak menjauh dari posisi duduk sang pengemudi yang berharap punggungnya terkena sesuatu yang kenyal. Namun harapan tinggal harapan, Mawar mengetahui maksud terselubung yang dipikirkannya.

Motor tua sang pujangga itu pun meluncur meninggalkan rumah dan meninggalkan pekatnya gas buang yang mengotori udara, melaju cepat menuju tempat yang belum diketahui.

“Lu mau bawa gue ke mana?” tanya Mawar mulai penasaran laju motor tua mengarah ke area perbukitan.

“Bukit Petir,” jawab Ucrit yang membuat Mawar terkejut mendengarnya.

Bukit Petir merupakan tempat yang dipenuhi aura mistis dan konon kabarnya menjadi tempat yang dikultuskan oleh beberapa kalangan terutama dari para pencari kekayaan instan.

“Kenapa harus di sana?” tanya Mawar semakin penasaran, namun tidak ada pikiran buruk yang ditangkapnya dari Ucrit.

“Ada satu tempat yang ingin aku tunjukkan kepadamu, dan di sana kita bisa membahas tujuan kita,” sahut Ucrit menjelaskan. Intonasi suaranya terdengar datar.

Mawar mendengus pelan. “Apa tujuan lu sebenarnya?”

Ucrit tersenyum mendengar pertanyaan Mawar yang mulai emosi. “Aku tidak bisa bicara banyak di sini. Kamu percayakan saja padaku.”

“Oke.”

Motor tua bermanuver ke jalan setapak, melintasi tanah berbatu dan bergelombang yang membuat harapan si Ucrit kembali mencuat. Mawar tersenyum kecut melihat kondisi jalan yang memaksanya harus memegang erat pundak si Ucrit. Namun, sepertinya sang pengendara motor tidak menyukai cara Mawar memegangnya.

“Jangan seperti itu, nanti kamu jatuh,” kata Ucrit berharap Mawar mau memeluknya. 

“Modus lu!” sahut Mawar ketus.

“Aku hanya tidak ingin kamu terjatuh berguling-gulingan di tanah lalu membentur batu. Aku takut tertawa melihatnya,” timpal Ucrit mengejek.

Pletak!

Mawar memukul helm yang dipakai Ucrit hingga terbelah. Ucit yang terkejut langsung panik mengendarai motornya. Laju motor menjadi tak karuan, ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya menabrak pohon lalu keduanya terjatuh bersamaan. 

“Kyaaa!” Ucrit menjerit keras, terjatuh bergulingan hingga keningnya membentur batu besar.

“Sialan, jadi jatoh kan gue!” gerutu Ucrit lalu berdiri sambil memegang keningnya.

Mawar yang ikut terjatuh pun meringis kesakitan setelah membentur pada sebatang pohon. Ucrit meliriknya lalu mendekati Mawar dengan langkah-langkah ragu, tangannya disodorkan untuk membantunya bangkit. Namun, begitu matanya menangkap sesuatu yang menyembul dari balik kain yang longgar, ia menarik kembali tangannya secara refleks.

“Mantap!” bisik Ucrit, salivanya terasa tertelan kering ketika melihat sesuatu yang membusung indah di balik kain yang menutupinya. 

Mawar menyadari adanya tatapan mesum dari Ucrit, dan seketika langsung menutupi kedua bukit kembarnya. Ia kemudian mendongak dengan tatapan dingin yang langsung membuat Ucrit merasa terguncang.

Napas Mawar terdengar berat dan berdesir, meskipun dia berdiri dengan mantap. Tatapannya yang dingin menusuk jauh ke dalam jiwa Ucrit, membuatnya gemetar ketakutan di tempatnya.

"Apa masih jauh lokasinya?" desak Mawar, suaranya terdengar menyentak, memecah keheningan sekitar.

Ucrit memutar badannya, menunjuk ke arah sebuah rumah kayu yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Kita bisa jalan kaki," ucap Mawar tegas, langkahnya mantap menuju arah yang ditunjuk.

Mengangguk, Ucrit mengikutinya dari belakang. Pandangannya yang tadinya sayu seketika berbinar begitu melihat bongkahan bulat menari-nari dalam ayunan langkah menggoda dari Mawar di depannya.

"Indahnya," gumam Ucrit pelan, matanya terus terpaku pada bongkahan yang membulat indah di depannya.

Mawar mengetahuinya dan langsung menghentikan langkah. Dengan wajah semakin pucat dan sorot mata yang tajam, ia berbalik mendadak.

"Jangan tatap gue seperti itu atau lu bakal menyesal," ancam Mawar dengan suara yang begitu serius, memancarkan aura yang menakutkan.

"I-ya, maaf," ucap Ucrit terbata-bata, dan langsung menundukkan wajahnya dengan cepat.

1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe_👻ᴸᴷ
Org menerka² belum tentu benar padahal ya 🚶
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
ambil paket sekolah bisa juga mawar
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Paket C ya 😁
total 1 replies
Hartini Donk
namanya lucu banget thor violeta van tjoeran sama dengan kran dong pancuran...🤣🤣🤣
Hartini Donk
mengerikan
Hartini Donk
bahasamu kayak puisi ....halus menggetarkan jiwa
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Terima kasih sudah berkenan membacanya
total 1 replies
Hartini Donk
gambaran terlalu nyata utk dibayangkan sadis thor perih perutku...
falea sezi
othor nya cwek apa cwok
falea sezi
anjirr mual bacanya
falea sezi
tolol harusnya lu sembunyi bukan malah menjerit tolol
falea sezi
kaya tp g punya satpam atau bodyguard hadeh bodohnya lu harusnya sewa bodyguard bayangan
neng ade
ayah nya Gavin target selanjut nya..
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..
neng ade
ngeri .. sereemm bikin merinding
neng ade
ayah dan anak sama2 bejad nya
neng ade
karya yang luar biasa.. cerita nya bagus tapi horor juga
neng ade
disini nama2 tokoh nya bikin ngakak padahal cerita nya tegang 😂
neng ade
Brama blm tau siapa Mawar sebenar nya dia bisa membaca rencana licik mu itu
neng ade
Mawar masih bisa sekolah meski pun dipindahkan.. apakah Mawar akan melanjutkan sekolahnya
neng ade
Paijo.. Paijo .. 😂
neng ade
dalam suasana tegang dan mencekam gitu jadi ketawa juga pas dengar nama nya Paijo Icikiwir..
neng ade
dendam Mawar semoga dapat terbalaskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!