NovelToon NovelToon
Misteri Kampung Pesisir

Misteri Kampung Pesisir

Status: tamat
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Penyeberangan Dunia Lain / Horor / Tamat
Popularitas:120.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Imamah Nur

Lisa, Tata, Topan dan Aldi mendapat tugas dari dosennya untuk mengamati salah satu desa baik dari segi kehidupan, budaya, lapangan pekerjaan dan pandangan hidup masyarakat.

Namun, siapa sangka desa yang mereka datangi banyak mengandung misteri dan ada cerita horor di dalam. Mampukah mereka menyelesaikan tugas mereka di desa yang menantang adrenalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Mendarat

"Pak itu dia Pak, mereka sedang menuju kemari!" teriak Aldi dengan girang sambil menunjuk dua perahu yang mengarah ke tempatnya duduk padahal dalam mulutnya roti yang dikunyah nya belum ditelan seutuhnya.

"Iya sepertinya benar mereka."

"Oiii kami di sini!" teriak Pak Hasan sambil melambaikan tangannya ke arah dua perahu yang datang.

Seperti orang dalam perahu-perahu itu tidak mendengar teriakan Pak Hasan.

Arah perahu itu mulai berbelok padahal Pak Hasan sudah menjelaskan posisinya tadi kepada putrinya untuk diberitahukan kepada para nelayan yang akan menjemput dirinya dan Aldi.

"Pak mereka sepertinya tidak melihat kita," ucap Aldi khawatir. Dirinya lalu ikut berteriak membantu Pak Hasan.

Angin berhembus kencang menambah dinginnya suasana dan mungkin karena itu pula suara Aldi dan Pak Hasan hanya menguar di tempatnya saja, sama sekali tidak terdengar oleh mereka.

Pak Hasan tidak kehilangan akal, dia mengambil bendara yang tidak dia kibarkan dan mulai mengibarkan bendera tersebut sambil memanggul teman-temannya agar kembali. Aldi pun mengikuti jejak Pak Hasan dengan mengibarkan bendera yang lainnnya dan ikut berteriak.

"Tolong! Tolong kami di sini!"

"Hei teman-teman kembalilah! Arah kalian sudah benar tadi kenapa harus kembali!" teriak Pak Hasan.

"Sepertinya mereka tidak mendengar Pak," ucap Aldi pada Pak Hasan.

"Ayo teriak lagi lebih kencang!"

"Woi! Woi kami di sini!"

"Hei lihatlah kibaran bendera kami!"

"Tolong! Tolong kami!"

"Bagaimana ini Pak?" Aldi ketakutan tatkala melihat ikan hiu berjalan ke arah perahunya.

"Bagaimana kalau dia memakan aku," ucapnya dalam hati dan dia tidak menunjukkan kekhawatirannya kepada Pak Hasan agar tidak dikatakan penakut.

Aldi kadang bingung dengan dirinya sendiri. Ada saatnya dia menjadi pemberani dan ada saatnya pula dia menjaga penakut. Apakah Aldi berkepribadian ganda? Tentu saja tidak, itu semua hanya menyesuaikan dengan kondisi hatinya. Saat dia bisa berusaha untuk tenang dia akan menjadi orang yang berani. Namun, disaat dia panik atau gusar kemungkinan besar dia akan menjadi orang yang penakut, tapi jujur saja basic Aldi memanglah seorang penakut.

"Telepon saja putri bapak lagi dan minta nomor mereka langsung," ide Aldi disambut baik oleh Pak Hasan.

Aldi langsung menghubungi nomor putri dari Pak Hasan dan langsung meminta nomor nelayan yang sekarang sedang ditugaskan menjemput keduanya.

Setelah dapat Aldi langsung menghubungi nomor nelayan tersebut dan setelah tersambung Aldi langsung memberikan ponselnya kepada Pak Hasan.

Pak Hasan mengambil ponsel tersebut dari tanggal Adi lalu berbicara dengan temannya melalui sambungan telepon tersebut.

"Kenapa berbalik arah? Kalian tadi sudah benar dan mendekati posisi perahu kami. Saya sampai berteriak memanggil kalian, tapi tidak ada yang mendengar malah berbalik dan semakin menjatuh," protes Pak Hasan melalui sambungan teleponnya.

"Jangan matikan hapenya kami akan memutar haluan untuk berbalik kembali."

"Oke siap," ucap Pak Hasan dengan tangan kanannya yang memegang ponsel dan tangan kirinya masih menggerak-gerakkan bendera.

"Hei itu dia!" Akhirnya nelayan dalam perahu yang ingin menjemput Pak Hasan dan Aldi itu pun melihat bendera yang digerak-gerakkan oleh Pak Hasan dan juga Aldi.

Mereka pun langsung mendekati pernah milik Pak Hasan.

"Akhirnya kalian sampai juga," ucap Pak Hasan menyambut kedatangan mereka dengan menghela nafas lega.

"Ini Pak solarnya." Seseorang menyodorkan satu derigen yang berukuran agak besar pada Paj Hasan.

Pak Hasan menerimanya lalu mengisi bahan bakar perahunya. Seorang nelayan dari perahu lain itu melompat ke perahu Pak Hasan dan membantu menghidupkan mesin lalu meng engkol perahu sehingga perahu itu bergerak kembali.

"Alhamdulillah makasih banyak atas pertolongannya," ucap Pak Hasan dengan tulus.

"Sama-sama Pak dan tidak perlu berterima kasih karena ini adalah kewajiban kami sebagai sesama nelayan."

Pak Hasan mengangguk mantap sedangkan Aldi tampak mencerna keadaan. Ternyata sikap perduli dan saling tolong-menolong masih melekat di hati para nelayan di kampung tersebut. Aldi benar-benar salut pada mereka semua.

"Terima ya Pak sudah berkenan menolong kami," ucap Aldi pada para nelayan yang telah tiba di sana.

"Sama-sama Nak, ini saya bawakan pisang untuk kalian." Seorang nelayan memberikan satu sisir pisang kepada Aldi dan Aldi menerimanya dengan senang hati.

"Kamu makan saja dulu pisangnya Pak Hasan biar Pak Jamal yang mengkondisikan laju perahu."

"Baiklah," sahut Pak Hasan karena perutnya memang sudah kelaparan sejak tadi. Dia pun memetik pisang dari sisir nya kemudian memakan buah tersebut bersama Aldi.

"Saya kembali ke perahu ya Pak Hasan biar Pak Jamal yang menemani kalian saja," ucap bapak yang memberikan pisang tadi dan langsung melompat ke perahu tempat awal tadi dia menumpang.

"Baiklah terima kasih." Rasanya tidak cukup dengan satu kali saja bagi orang-orang yang telah menolongnya menurut Pak Hasan dan Aldi makanya keduanya sedari tadi tidak pernah lupa untuk mengucapkan terima kasih untuk setiap kebaikan orang-orang terhadapnya. Kalau bukan karena mereka mungkin saja kini Pak Hasan dan Aldi masih merana di atas perahu macet.

"Pak Jamal semakin mengencangkan kecepatan perahu mengingat hari sudah malam dan keadaan sekitar sudah terlihat gelap di mana-mana. Begitupula dengan kedua perahu yang lainnnya. Mereka berpacu dengan waktu seolah sedang mengadakan lomba kecepatan perahu.

Tiga jam mengarungi lautan akhirnya mereka semua sampai di darat dengan selamat.

Para keluarga sedang berdiri di atas saung yang terletak di pinggir pantai itu saat melihat perahu-perahu berjalan ke arahnya.

Putri dan istri Pak Hasan menyambut kedatangan mereka dengan tangis haru karena masih diberikan kesempatan untuk hidup bersama dengan sang ayah atau sang suami setelah tiga kali perahunya macet di tengah laut. Barangkali bukan takdir Pak Hasan meninggalkan di laut mengingat nelayan yang lainnya malah banyak yang mati di tengah laut bahkan dari beberapa orang ada yang tidak pernah ditemukan jasadnya hingga saat ini. Para keluarga hanya bisa meratapi sebab ayah atau suami mereka tidak memiliki kuburan.

Para nelayan turun dan langsung menautkan perahu pada tali tambat agar perahu tidak terseret arus ataupun terbawa angin saat ditinggalkan oleh pemiliknya.

Setelah berbincang-bincang sebentar Aldi langsung pamit pulang karena mengkhawatirkan Tata yang ia tinggal sendirian. Entah mengapa tiba-tiba firasatnya buruk mengenai gadis itu.

Aldi berlari ke rumah yang tidak begitu jauh dari perahu itu ditambat.

"Ta! Ta buka pintunya!"

Tak ada jawaban dari dalam dan Aldi malah kaget menyadari pintu rumah itu tidak terkunci, tetapi kelihatan sepi. Aldi masuk dan mengganti pakaiannya yang sudah basah sedari tadi.

Bersambung.

1
Apalah Arti Sebuah Nama
ga seru 🙏🏽
🌸ALNA SELVIATA🌸: Baca Novel "Suami di Alam Mimpi"
di jamin mata batin kamu akan terbuka, dan melihat keindahan alam dunia berbeda..
total 1 replies
Andini marlang
belum selesai dunk Thor ...kan si Aldi blm nikahin tata.....yukkkk ada cerita lanjutannya lagi
🌸ALNA SELVIATA🌸: Baca Novel "Suami di Alam Mimpi"
di jamin mata batin kamu akan terbuka, dan melihat keindahan alam dunia berbeda..
total 1 replies
Nina Kurnia Dewi
ceritanya bagus bgt
🌸ALNA SELVIATA🌸: Baca Novel "Suami di Alam Mimpi"
di jamin mata batin kamu akan terbuka, dan melihat keindahan alam dunia berbeda..
total 1 replies
laras hati
tersesat koq denger adzan trs
Poetri Ammor
Lumayan
🌸ALNA SELVIATA🌸: Baca Novel "Suami di Alam Mimpi"
di jamin mata batin kamu akan terbuka, dan melihat keindahan alam dunia berbeda..
total 1 replies
Poetri Ammor
Kecewa
Rara Aida
topannya dimana kok nggak ada
Rara Aida
tata mungkin sudah kerasukan
Rara Aida
emang tata melihat apalagi di dalam kamar mandi , penampakan lagi
Umar Muhdhar
y
Umar Muhdhar
6
Umar Muhdhar
y
Noer Maulidha
adub itu kan tata aldi...cpt tolongin
Noer Maulidha
ceritanya bagus..cukup menarik
Noer Maulidha
ceritanya bagus..kok sedikit peminat.klo sy suka yg horor2.si tata ini indigo ya thor.apa krn setelah mati suri kmrn.jd bs meliaht yg orang gak bs lihat
Noer Maulidha
maemunah...ga ada nm laen apa thor..aq mampir kyknya menarik
Imamah Nur: Nama yang banyak di kampung🤭 Terima kasih 🙏
total 1 replies
Shyfa Andira Rahmi
ngeyel kmu diajak balik si tata malah ngga mau...
Shyfa Andira Rahmi
si putri ngotot bnget siihh...😠
Shyfa Andira Rahmi
kasian si tata sport jantung terus😁
Shyfa Andira Rahmi
seruuuu.....💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!